
Tatapan mata mereka yang berlebihan pada suaminya itu mendapatkan dehemen dari sang istri yang tak lain Nasya. Rangga pun juga yang tadinya terdiam ikut tersadar.
" Ehmmm ... Sudah datang mas!?" tanya nasya dengan membagongkan. Sudah jelas-jelas suaminya di depan mata masih saja di pertanyakan kedatangannya. Benar-benar melontarkan makna tersirat. Mereka semua yang terbengong pun jadi tersadar.
" Sudah ... Sayang," jawab rangga ikutan aneh. Dia masuk melewati mereka semua dan mengecup mesra puncak kepala istrinya itu.
Para mahasiswi Rangga tercengang kembali melihat kemesraan mereka berdua. Rangga tak menyapa mereka sama sekali. Akhirnya nasya pun mencoba untuk menengahi mereka.
" Mas ... Kau mengenali mereka kan?" tanya Nasya dengan memegang tangan istrinya. Rangga mengangguk mengiyakan.
" Mereka mahasiswiku di universitas," jawabnya singkat. Nasya melirik mahasiswi suaminya itu untuk memberikan sapaan pada dosennya.
Mereka terlihat sungkan karena suaminya itu nampak sangat dingin sekali. Wajar jika mereka tak berani bersitatap dengan dosen tampannya itu.
" Pak ... Maaf kami memaksa datang," ucap salah seorang yang pernah menembak rangga. Aqillah messary gadis belia yang sangat tergila-gila ingin menjadi pendamping dosennya. Bahkan dialah yang tadi mengajak ngobrol nasya di atas ranjang ruang rumah sakit itu.
" Sudah saya katakan tidak perlu kemari? Jika sudah terlanjur silahkan. Mau lihat baby kan? Silahkan saja," jawab rangga terdengar ngeseli di telinga nasya. Tapi dia biarkan hal itu terjadi karena dia pasti memiliki alasan mengatakan hal itu.
" Dokter ini saya letakkan dimana?" suster datang membawa beberapa camilan untuk tamu mereka. Rangga menoleh dan tersenyum padanya.
" Letakkan di sana sus. Makasih!" ucap rangga dengan ramah. Mereka juga kembali wow dengan sikap sang dosen yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Hidangan siang ini terasa sangat nikmat di hadapan mereka semua. Rangga kini menatap istrinya sambil berbisik.
" Aku ada jam operasi 15 menit lagi. Jamulah mereka dengan dessert yang ku siapkan secara dadakan. Miss you cantik!" kemudian dia mengecup bibir nasya singkat. " By sayang!" serunya pada sang istri.
" Wahhh ... Mataku ternoda dengan kemesraan pak dosen!" pekiknya secara tak sengaja.
" Menikahlah kalian jangan hanya berani pacaran. Jika tidak ingin menyesal di kemudian hari," ucap rangga sedikit tersenyum.
Semua mata mahasiswa terpesona melihat sikap dokter rangga pada istrinya terkecuali aqilla. Dia merasa cemburu padanya. Kenapa mereka sebahagia ini. Kenapa bukan dia yang bertemu dulu dengan sang dosen.
Aahhh. Aku cemburu bu Rangga. Aku tahu anda cantik tapi aku sangat suka pada suamimu.
__ADS_1
Rangga berbalik menghadap pada mahasiswinya yang berada di sana.
" Maaf ... Tidak bisa menemani saya ada operasi sebentar lagi. Selamat menikmati hidangannya dan terima kasih sudah berkunjung," pamit rangga pada mereka semua.
" Terima kasih pak!" seru mereka semua saat ini. Rangga mengangguk dan pergi begitu saja.
Nasya melihat mereka semua dengan tersenyum.
" Nikmatilah! Setelah ini kita bisa berbincang lagi. Maafkan dosen kalian itu ya! Dia memang memiliki jadwal yang padat," ujar nasya pada mereka semua.
Mereka semua mengangguk dan mulai menikmati hidangannya. Ada salah seorang mendekat dia asisten dosen rangga.
" Ibu tak ingin mencicipinya?" tanyanya dengan lembut.
" Makanlah! Itu khusus kalian karena sudah baik menjenguk baby twins. Terima kasih," jawabnya dengan lembut. Gadis itu mengangguk paham. Sedang aqilla hanya memandang wajah cantik nasya yang sedari tadi nampak berbinar. Tak sedikit pun lewat dari pandangannya bahwa sedari tadi pak Rangga bersikap mesra. Bahkan dia terang-terangan di hadapan mahasiswinya itu.
Kebersamaan mereka sangatlah lama. Hingga mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Ketika melewati lorong rumah sakit serta akan melewati ruang operasi yang sudah terbuka. Di sana terlihat dokter rangga keluar dengan manik wajahnya yang tampan denga masker yang sudah dinturunkan ke leher. Aqilla tanpa malu mendekat.
" Pulanglah! Kalian ajaklah aqilla pulang ke rumahnya. Hati-hati di jalan!" seru rangga pada mereka semua. Rangga tak memggapai tangan yang ingin menjabatnya. Itu dia lakukan untuk kebaikan bersama. Rangga tahu siapa aqilla dan hatinya. Dia tak mungkin memberikan sebuah kemanisan pada mahasiswinya. Mereka bisa mendapatkan lebih dari apa yang sekarang mereka lihat.
" Baik pak," jawab mereka semua.
" Permisi!" pamit rangga melewati mereka semua dengan dinginnya dan sikap tegasnya masih nampak jelas.
Bahkan dia mengabaikanku tak menjabat tanganku seakan aku adalah virus baginya. Kenapa tak sehamble pada orang lain. Keterlaluan.
" Aqilla ... Ayo! Jangan pikirkan omongan pak dosen. Dia mau berbicara dengan kita itu sudah bagus," ajak temannya yang lain.
Mereka semua memang menyukai pak Rangga namun aqilla menyukainya seperti seorang perempuan pada lelaki dewasa. Iya itulah yang terjadi padanya saat ini.
...****************...
" Boy ... Sudah pulang dari rumah sakit?" tanya seseorang di seberang sana.
__ADS_1
" Sudah di rumah ustadz," jawab rangga pada sahabatnya itu.
" Insyaallah besok kami ke sana ingin melihat baby twins kalian. Istriku juga merindu pada istrimu," jawabnya dengan semangat.
" Apakah kau juga meridukanku ustadz? Hahahah," tanyanya dengan gelak tawa yang bahagia.
" Antum ini benar -benar sialan. Tentu saja aku sangat merindukan sahabatku ini," jawabnya dengan haru.
" Iz ... Aku benar-benar merindukanmu. Banyak hal yang ingin saya sampaikan padamu. Ini benar-benar melelahkan," keluhnya.
" Rumah tangga kalian lagi?" tebak Izdi.
" No ... Tentang ilmu yang bermanfaat," jawab Rangga sekilas.
" Baiklah ... Kita akan melepas rindu selama 3 hari marilah kita bercengkeramah," jawab izdi dengan meyakinkan sahabatnya.
" Thank's ya," jawabnya dengan lega.
Perbincangan mereka berakhir dan membuat rangga sadar bahwa istrinya sudah terlelap di sampingnya. Dia menatap wajah istrinya yang kian hari semakin cantik.
" Cantik," celetuk rangga.
Saat rangga ingin melepas lelah. Dia mendengar putranya menangis.
Oek. Oek. Oek.
Rangga menghampiri bayi mungil itu dan menggendongnya. Rangga mengayunkannya dalam gendongan supaya nasya tak terbangun lagi. Saat rangga di rumah fokusnya hanya untuk si twins.
" Hai ... Boy! Gantengnya papa. Kangen gak sih sama papa? Papa rindu berat nih boy," lirih rangga. Bayi mungil tersenyum manis sambil tertidur di pelukannya.
Rangga kembali menaruh putranya di box bayi. Dia tersenyum bahagia. Flo yang beberapa hari ada Olimpiade terpaksa tak bisa melihat adiknya dahulu. Dia harus menyelesaikan tugas sekolahnya.
Rangga menutup jendela dan tirai kamarnya. Dia benar-benar lelah dengan aktivitas hari ini. Kerja double bukan karena dia butuh uang tapi tenaganya memang di butuhkan. Seharusnya setelah ini ada yang menggantikannya.
Sayang. Aku sudah rindu padahal kamu baru saja melahirkan. Huft joroknya pikiranku. Bisa-bisanya berucap yang tak seharusnya. Gila kamu ngga. Batinnya sambil melihat istrinya yang terlelap. Dia pun memberanikan diri mengecup keningnya tanpa membangunkan sang istri.
__ADS_1