
Rangga menyanyi dengan merdunya di kamar mandi. Nasya yang sudah lelah tak sengaja tertidur dengan posisi bersandar di kepala ranjang. Dia tidur dengan damainya. Wajahnya yang terkena bias lampu kamar terlihat sangat rupawan. Rangga yang keluar dari kamar mandi jadi menatap istrinya. Hatinya tiba-tiba menghangat.
" Cantik," lirihnya sambip memindahkan anak rambut yang menutupi sebagian mata indah istrinya.
" Kamu benar- benar membuatku menyentuhmu Nasya. Bahkan hasratku sudah semenjak lama tapi aku menahannya karena sangat kesal padamu. Sudah membuatku mencintaimu sebelum aku menikahi rubi. Wajahmu itu benar-benar jahat membuatku jadi orang lebih jahat. Selama menikah dengan rubi pikiranku selalu traveling pada dirimu. Bahkan Aku merasa menyakitimu. Gila bukan ya? Padahal kamu bukanlah siapa-siapa," lirih rangga sambil menatap wajah cantik istrinya itu.
Rangga pun merebahkan dirinya di samping istrinya. Hari ini mungkin adalah sejarah baru bagi rangga. Bukan dia tak mau mengakui jika istrinya cantik. Tapi setelah melihat sikapnya sore tadi membuatnya tambah gemes. Disya bukanlah perempuan yang dia sukai, hanya saja dia kasihan saat Disya di bully oleh teman-temannya jadi bantuan itu dia anggap wajar bagi rangga. Tapi beda dengan Nasya saat melihat gadis itu pertama kalinya dengan badan yang basah sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Saat rangga susah menelan salivanya sendiri. Bahkan saat itu hari dimana saat sahabatnya izdi kecelakaan. Itulah pertemuan pertamanya dengan nasya.
Tanpa rangga sadari tangannya melingkar di pinggang istrinya. Nasya yang tadi tidur sambil duduk coba dia benahi agar istrinya itu nyaman saat tidur.
...****************...
Keesokan harinya mata itu kembali memancarkan cahaya yang silau. Nasya bangun dengan mengambil rencana untuk menggeliatkan tubuhnya yang lelah. Dia tak percaya dengan apa yang dia lakukan semalam. Suaminya itu benar-benar telah membuatnya jadi istri sungguhan. Tapi nasya segera menggeleng tak boleh terlena.
" Kenapa menggeleng? Masih teringat saat tongkat itu masuk?" pertanyaan rangga sukses membuat hati dan pikiran nasya ingin kabur dari sana.
Sumpah. Malu.
Nasya merasa sudah dipermalukan dengan kata-kata itu. Dia ingin segera beranjak. Saat dia sudah mau berdiri rangga menariknya dengan cepat.
" Tidak merasa bersalah sudah membuatku tak tahan untuk tidak menyentuhmu?" tanya rangga dengan mengernyitkan alisnya.
" Aku sudah memperingatkanmu mas sebelum melakukannya," jawab nasya menunduk.
" Terus untuk apa pakai mengunci diri di kamar Flo? Cemburu pada Disya," jawab rangga mencoba menggoda istrinya.
" Enggak mas ... Emang lagi malas tidur di kamar aja mas," jawab nasya jujur. Karena dia merasa belum bisa menjadi istri yang berguna. Tak bisa membahagiakan kesedihan rangga dengan kepergian rubi.
__ADS_1
Dia juga merasa belum pantas bersanding dengan suaminya itu. Karena dirinya hanyalah di datangkan untuk flo.
" Yakin? jika tidak cemburu berarti sengaja menggodaku? Apa sudah sangat tidak tahan," lagi-lagi rangga membahas malam panas mereka. Tapi jujur saja sentuhan rangga semalam bukan sentuhan orang marah atau yang sangat kasar. Sentuhannya benar-benar seperti di liputi kasih sayang. Dia memperlakukan Nasya dengan lemah lembut.
" Cukup mas! Jangan membicarakannya lagi," kali ini nasya cemberut dan segera ingin bergegas pergi. baru saja dia berdiri rangga menariknya kembali dan menjatuhkannya di ranjang. Kali ini sangat dekat.
" Jangan pernah mencemburui diriku karena sejatinya aku sudah mencintai sebelum aku menikah dengan rubi. Untung saja ini sudah siang jika tidak aku akan memakanmu lagi," kemudian rangga pergi ke kamar mandi. Nasya masih dalam mode yang bingung.
Mencintaiku dari sebelum menikah dengan mbak rubi. Ini maksudnya bagaimana? Sepertinya otaknya agak bergeser semenjak mbak rubi meninggal. Dokter ini sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Bahkan aku ingat betul bagaimana mesranya mereka dulu sebelum berangkat berbulan madu. Hatiku patah sepatah-patahnya waktu itu. Jelas-jelas dia berciuman di depan rumah sakit. Apakah yang seperti itu tidak cinta.
" Hmmm ... Antara modus dan cinta kayaknya makin beda tipis. Hmmm ... " lirihnya sambil mengheka nafas.
Nasya segera keluar dari kamar dan melihat dapur. Dia terkejut saat makanan sudah siap di meja. Dia bertanya sama di mbak.
" Loh ... Embak siapa yang masak?" tanya nasya bingung karena tinggal makan saja.
" Kenapa tiba-tiba sweet gini. Sudah salah makan kali ya kemarin di rumah mbak wardah," lirih Nasya saat menatap semua makanan itu. Tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan sentuhan rangga.
" Sya ... Lusa wardah dan izdi harus pindah ke pesantren. Mereka akan meninggalkan kota ini," ucap rangga. Tak mungkin dia menutupinya terus menerus.
Deg.
Mbak wardah akan meninggalkan aku di kota ini. Selama ini dia yang mensupport - ku tanpa batas. Tiba-tiba saja mataku mengembun saat mendengar ucapan mas rangga.
" Apakah mbak wardah marah padaku mas? Sehingga dia pergi dari kota ini," suara nasya tiba-tiba serak seperti orang ingin menangis. Bibirnya sudah bergetar. Rangga sudah menduganya. Gadisnya ini memanglah sangat dekat dengan wardah. Wajar jika dia bersedih.
" Bukan begitu sayang ... Hei dengarkan aku. Kapanpun kita bisa berkunjung ke sana hanya saja tak seintens dulu. Wardah memang pergi tapi dia tak marah padamu. Umi sedang butuh mereka untuk meneruskan pesantren itu.
__ADS_1
Mendengar itu nasya yang sangat merasa kehilangan menundukkan wajahnya dan membenamkan kepalanya di atas meja. Rangga segera memeluk istrinya.
" Jangan seperti ini. Aku merasa tidak berguna jadinya," acap rangga berdecak. Nasya pun menanggapinya dengan sesenggukan.
" Aku menganggapnya kakakku mas. Dia berharga bagiku," lirihnya dengan diiringi sesenggukan.
" Aku akan mengajakmu ke sana jika waktuku longgar," jawabnya untuk menghibur istrinya. " Tenanglah," ucapnya kemudian.
Drama pagi ini membuat rangga berfikir keras. Dari kemarin dia memikirkan cara agar ketika menyampaikan itu tak membuatnya menangis. Tapi nihil sepertinya dia lebih menyayangi wardah.
" Ck. Dia keterlaluan sekali apakah wardah lebih menarik daripada suaminya sendiri. Keterlaluan sekali istriku itu. Hmmm," keluh rangga saat berada di ruangannya. Tiba-tiba saja Disya membuyarkan lamunannya.
" Lagi ngelamun apa kak?" tanya Disya.
" Oh Disya ... Gak ada sih hanya memikirkan Nasya hari ini dia menangis membuatku ikutan berfikir," jawab rangga sengaja untuk memicu menimbulkan pertanyaan pada Disya.
" Nasya siapa kak?" tanya Disya menatap dokter rangga. Dia berharap itu bukan Nasya saudaranya. Dia tak mungkin kalah sekali lagi darinya.
" Nasya adiknya mas azzam," jawabnya memperjelas. Betapa tidak Disya sangat kaget dengan ucapan rangga. " Kamu kenal Disy?" tanya rangga pura-pura tak melihat.
" Kayaknya gak kak," jawaban Disya membuat mengernyitkan alis.
.
.
Jangan lupa like ya sayangggg thank youm
__ADS_1