
Terkadang jodoh itu datang dengan cara yang aneh. Jika kita mencintai siapa maka yang datang siapa. Jika kita menikahi siapa tapi bahagianya dengan siapa. Namuj jangan pernah menjadi duri dalam pernikahan siapapun cukup jodoh itu datang dengan cara yang unik.
Pagi ini rangga kedatangan keluarga izdi dari pesantren. Dia, istri dan anak-anaknya akan berkunjung kemari setelah sekian tahun. Rangga sangat antusias sekali menyambut kedatangan sahabatnya itu. Dia sangat merindukan sahabat dekatnya itu. Semenjak dia memutuskan mendampingi umi di pesan kami terpaksa berpisah baik tempat maupun ruang yang terbiasa kami gunakan untuk bertukar pendapat. Meakipun jika tentang pasangan kami pernah menyukai perempuan yang sama itu tak membuat hubungan keduanya ambruk begitu saja. Dia hanya kecewa sesaat namun kembali lagi jodoh adalah rahasia Allah.
Tin. Tin. Tin.
Nampak klakson mobil berbunyi nyaring di halaman depan rumah rangga. Nasya menatap rona bahagia di wajah suaminya. Rangga menatap istrinya.
" Turunlah mas! Jika kau sangat merindukannya," ucap nasya yang diikuti anggukan suaminya. Nasya mendapat kecupan singkat darinya sebelum keluar.
" Ck. Seperti menemui kekasihnya saja bahagia sekali," nasya terkekeh saat melihat tingkah suaminya yang gemes itu.
Rangga memanggil bibi ...
" Bi ... Siapkan camilan untuk mereka!" serunya
" Siap den," jawab bibi sambil berjalan kembali ke dapur.
Rangga sudah membingkai kerinduannya selama ini. Berkunjung ke sana pun waktunya yang tak bisa. Rasanya aneh jika merindukan lawan jenis seperti ini.
Bodoh. Dia bukan kekasihmu ngga. Ck memalukan sekali. Batinnya mengesal.
Ketika berada di depan kediamannya dia melihat putra-putra izdi nampak sangat tampan dan berwibawa. Si Adzkan yang sangat cool menghampiri Rangga. Nampak Zafindra sangatlah cuek dan Zea yang tersenyum cantik padanya.
" Pagi paman! Miss you," sapa Adzkan yang memang sudah mengenal Rangga sejak kecil. Nampak zafindra tak suka dengan cara adzkan yang menyapa ala logat barat menurutnya.
" Ck. Gunakan salam untuk menyapa seseorang!" serunya dengan dingin. Rangga menoleh pada si tampan kedua Zafindra. Pemuda itu tak senyum namun auranya sangat memuaskan di pandang oleh kaum hawa.
" Assalamualaikum paman," ucap zafindra sambil menjabat tangan. Rangga memeluknya dan menjawab salam Zafindra.
" Waalaikumsalam ... Nak. Tampan sekali putramu iz. Paman sangat merindukan kalian," jawaban itu tercekat sementara saat suara cempreng Flo masuk ke pelataran rumah sambil berlari. Dia habis berolahraga pagi untuk menjaga staminanya. Gadis itu mengikuti olimpiade olahraga kesukaannya. Jadi rangga biarkan dia mengeksplore bakatnya untuk saat ini.
" Hai ... Pa! Kok banyak orang?" tanyanya sambil menatap mereka semua. Si cantik Flo terlihat sangat kebarat-baratan.
__ADS_1
" Hai Flo sayang!" sapa Wardah padanya sambil tersenyum.
" Bibi ... !" teriak Flo dan berlari ke arah wardah sambil memeluknya. Dia pun tak sengaja menabrak Zafindra si cuek itu.
Ya ... Allah anak oneng! Main tabrak-tabrak saja. Udah rabun kali matanya yang lebar itu, Mana baju kayak bajunya lepet seperti itu. Mataku bisa-bisa harus mandi 7 kali gara-gara ulah manusia yang bernama perempuan ini. Benar-benar menggelikan. Ogah banget lihatnya. Umi kenapa coba menyapanya? Perempuan gak jelas. Zafindra gedumel dalam hatinya. Meracau kesal pada putri paman di depannya ini.
" Gimana kabarnya Flo?" tanya wardah melepaskan pelukan Flo. Flo senyum senang.
" Flo baik bibi. Doakan Flo sukses! Besok Flo ada Olimpiade tingkat nasional bi," ucapnya sambil berbinar. Wardah mengelus rambut panjang Flo yang lurus itu.
" Tentu sayang ... Semoga sukses !" seru wardah. Flo melirik gadis cantik di samping wardah.
" Hai cantik ... Putri bibi ya?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. Gadis cantik yang bernama Zea it menerima uluran tangan Flo cantik.
" Hai kak Flo ... Aku Zea," jawabnya dengan sangat manis.
Setelah ramah tamah di depan pintu mereka pun masuk dan segera bercengkrama di ruang keluarga. Adzkan nampak serius dengan ponselnya karena dia sedang mengerjakan tugas. Zafindra mengamati sekeliling rumah paman rangga yang nampak mewah. Kini mata tajamnya menemukan istri paman rangga turun dari tangga di bantu pelayan rumah ini.
" Iya ... Sayang. Kenapa?" tanya rangga ingin tahu.
" Gapapa ... Cantik," jawabnya enteng. Rangga jadi terkekeh mendengarnya. Izdi dan wardah apalagi. Ternyata seleranya lumayanlah untuk anak sekecil itu.
Saat mereka tengah asik bersenda gurau. Flo yang sedari tadi sudah bersiap berpamitan di ruang keluarga.
" Mami, Pi .. Hai Aunty, paman! Flo berangkat sekarang! By ... Assalamulaikum!" serunya dan lagi-lagi tangannya menabrak pundak Zafindra. Namun pemuda itu nampak acuh dan dia di buat terkejut oleh Flo.
" Jutek!" bisiknya yang membuat Zafindra melirik. Namun para orang tua tak meliriknya bahkan tak melihat interaksi si kecil itu. Flo pergi dengan lir8kan sinisnya setelah berbisik.
Dasar Kanebo kering! Serunya dengan kesal.
Dasar gadis Gelo! Tingkah kok biyayak an. ( tidak aturan) batin Zafindra marah dan kesal.
Mereka seakan membalas umpatan lewat tatapan mata tajam. Adzkan sedari tadi mwmperhatikan adiknya dan Flo. Mereka nampak tak bersahabat. Adzkan menepuk pundak adiknya.
__ADS_1
" Jangan pasang wajah dingin! Jodoh entar berat lu," ujar adzkan. Zafindra berdecak dan tersenyum meremehkan.
" Siapa yang mau nikah sama nenek penyihir. Lu aja kali aku gak," jawan Zafindra meradang.
" Penyihir siapa nak?" tanya wardah dengan mewanti-wanti putranya agar tak brpacaran.
" Tuh... Pacar kak adzkan umi ," seketika adzkan membola pada adiknya yang memberikan jawaban jumawa pada uminya itu
" Adzkan ... Jelaskan pada umi!" seru umi wardah dengan tatapan tak bersahabat.
" Umi ... Zafin bercanda. Habis dia mengatakan bahwa Flo cantik," kali ini giliran Zafin mendapat tatapan uminya. Zafin menghela nafas dan memberikan jawaban yang logis.
" Ya ... Cantikkan umi? Kan perempuan," jawabnya namun dalam hati amit-amit.
" Kalian ini ada - ada saja. Sudah ayo kita sarapan dulu yuk!" ajak Rangga pada semua orang di sana. Wardah dan izdi saling menggelengkan kepala. Mereka tahu bahwa adzkan sedang mengerjai adiknya itu. Wardah paham tidak semudah itu Zafin mengatakan seorang perempuan cantik.
Mereka semua berdiri menuju ruang makan. Rangga menjamu dengan baik keluarga sahabatnya itu. Nasya sesekali menatap Zafindra si Twins yang sama seperti dirinya. Wardah pun sesekali menatap nasya dan menanyakan melalui tatapan mata tapi nasya tersenyum sambil menggeleng.
" Zafin tak ingin mencicipi hidangan penutup yang tante buat?" tanya Nasya pada putra Izdi itu. Zafin tersenyum mengangguk. Ya tuhan senyumannya benar-benar melelehkan hati.
Tampan sekali.
Nasya pun menyuruh bibi untuk mengeluarkan hidangan penutup. Akhirnya hidangan penutup pun di sajikan dengan cantiknya.
Zafindra terpesona dengan tampilannya dan segera mencicipinya.
" This is Delecious Aunty ... Thank you," Zafin langsung memujinya. Nasya tersenyum bahagia. Rangga nampak melirik istrinya.
" Sayang ... Antusias amat sih sama putra Izdi satu ini?" tanyanya penasaran. Nasya dan yang lain terkekeh.
" Karena dia mengingatkanku akan si twins kita kelak bagaimana jika dewasa," jawabnya realistis. Pemuda tampan itu lagi-lagi tersenyum mematikan.
__ADS_1