Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 52


__ADS_3

Tak bisa di pungkiri jika putra Izdi yang bernama Zafindra memiliki pesonanya sendiri. Dia terlihat berbeda dengan saudaranya. Lebih banyak diam dan belajar, namun ketika berbicara ucapannya itu langsung pas pada sasarannya.


Nampak Zafin berkeliling rumah. Dia mendapati satu ruangan dimana di sana terjejer rapi piala dan penghargaan serta medali milik Flo. Zafindra berkeliling melihat-lihat penghargaan itu.


Berbakat. Tapi sayang sekali kenapa dia tak menggunakan hijab. Tingkahnya pun sangatlah agresif. Tapi bibi yang cantik itu tidak mirip dengan gadis ini. Dia sangat cantik, memiliki paras berbeda. Zafindra mengingat-ingat Flo yang tadi pagi menyapa dengan suara cemprengnya.


" Kau menyukainya Zafindra?" tanya rangga kini sudah berada di ruangan yang sama. Rangga duduk di ruangan itu sambil menyeka air matanya. Zafindra menatapnya penuh dengan rasa penasaran.


" Tentu. Paman kenapa?" tanya zafindra balik. Dia duduk di sebelahnya.


" Flo tumbuh dengan sangat cerdas. Dia beruntung memiliki Mami Nasya sebagai ibu sambungnya. Paman awalnya takut Nasya akan merasa berbeda ketika ada Flo," ucapnya menggantung. Zafindra mengernyitkan alis.


" Apakah dia bukan putri kalian?" tanya Zafindra menatap rangga dengan dewasanya. Padahal masihlah anak kecil. Tapi sikapnya itu seperti orang dewasa.


" Putriku lebih tepatnya. Mama Flo meninggal saat melahirkannya. Flo hanya memiliki mami nasya dari lahir hingga saat ini. Om berharap dia tak bersedih kelak jika mengetahuinya," rangga bercerita banyak oada pemuda kecil di hadapannya. Zafindra pun mulai tahu kemana alur pembicaraannya saat ini. Dia menatap wajah cantik Flo kembali. Dimana ada sebuah keceriaan di sana.


Itulah mengapa aku melihat hal berbeda pada dirimu nona gesrek. Ternyata bibi bukanlah mama kandungmu. Ku harap setelah beranjak dewasa kamu lebih baik dari saat ini.


" Istirahatlah ! Atau mau jalan-jalan lagi silahkan. Paman ingin menemui ayahmu," ucap rangga. Zafindra tersenyum dan mengangguk. Dia pemuda kecil yang aneh. Namun rangga senang saat berinteraksi dengannya.


Pemuda kecil ini sangatlah unik. Wibawanya sangat khas. Pantas saja jika izdi sangat berbeda dalam mendidiknya. Dia sopan dan tahu menempatkan diri. Di kala usianya yang masih dini. Batin rangga sambil meninggalkan tempat itu.


Ya rangga ingin menemui sahabatnya itu di taman belakang rumah. Sedangkan wardah sudah bercengkeramah dengan istrinya di kamar. Rangga yamg melihat izdi menatap taman rangga dengan takjub.


" Sehat iz?" tanya rangga di sampingnya.


" Alhamdulillah sehat. Bagaimana keadaanmu ngga? Sudah lebih baik?" tanyanya dengan senyum.

__ADS_1


" Semenjak hari itu aku benar-benar menjadi orang bodoh iz. Aku merasa sangat kehilangan nasya," sesalnya dengan binar mata yang sudah tak sendu lagi.


" Bagaimana keadaan gadis itu sekarang?" tanya izdi mempertanyakan wanita itu.


" Dia sudah dalam masa pemulihan. Seharusnya aku juga tak sekeras itu. Tapi kehilangan nasya membuatku kehilangan jati diriku kala itu. Sakit. Tapi gadis itu datang pada waktu yang salah," sesalnya dengan nada berat. Izdi tersenyum bahagia.


" Cobaan pasti datang sesuai takarannya sob. Jangan khawatir semua sudah di sesuaiakan kemampuan oleh sang pencipta. Oh, iya apakah nasya tahu keadaannya?" tanya izdi kemudian. Rangga mengangguk dengan pasti.


" iya aku harus memberi tahunya. Karena jika tidak maka suatu hari aku takut dia tak mau bertemu denganku lagi karena saudarinya ku buat gila. He," gelak Rangga ngeri.


Kenapa bisa oramg sepandai Disya dan secerdas dia gila karena sebuah cinta yang tak kunjung mendapat balasan. Bukankah harus mencari yang lain. Hallo ... Ini bukan telenovela jadi jangan terlalu baper. Disya benar-benar kena prank film korea. Batin rangga dengan mengejek perempuan itu.


" Ngga ... Sekarang apa lagi?" tanya izdi dengan melirik sahabatnya. Rangga kini menatap sahabatnya serius.


" Ada salah satu mahasiswaku yang agresif dia begitu ingin memiliki. Tapi aku tak pernah memberikan perhatian dalam bentuk apapun karena aku takut salah kembali. Banyak memang dari mereka yang menembakku tapi hanya satu yang sampai ke dasar hati," ucap rangga dengan kesal. Izdi jadi terkekeh.


" Jika mau ambillah mereka semua! Aku tidak berminat," jawab rangga dengan wajah kesal sekali. Akhirnya izdi bersuara kembali.


" Itu dia jawabannya ngga ... Karena kau tidak berminat pada mereka dan itu artinya kamu setia pada istrimu. itulah mengapa kamu di uji lewat jalan ini. Jika kali ini lolos berarti kamu hebat," ujar izdi menyemangati.


" Bisakah aku mengundurkan diri saja jadi dosen?" tanyanya nampak lesu.


" Itu namanya kabur. Hahahah. Di jalani dululah sambil di bicarakan baik-baik pada istrimu dan jika ada waktu dengan gadis itu," jawab izdi mulai agak memberikan jalan.


" Ehmmm ... Rasanya aku masih takut jika harus bicara baik-baik pada gadis modelannya seperti itu," jawab rangga asal keluar.


" wih ... Banyak dong. Bener-bener ya temenku ini laris manis. Selaris kacang," tawa izdi pecah begitu saja..

__ADS_1


" Kau ini ... Sungguh sialan. Meledek atau memberi saran padaku?" tanya rangga dengan bersungut-sungut.


" Kagum aja ... Masih tua ada aja yang masih suka. Lihatlah dirimu yang di sukai daun muda! Ck apa yang mereka lihat," izdi berdecak meremehkan. Rangga jadi terkekeh.


" Buram mungkin ... kali aja yang tua lebih menarik daripada yang muda," jawab rangga dengan tertawa receh.


" Bukan Tua bung .... Tapi matang," tawa mereka berdua menggema di taman belakang.


...****************...


Hari terlihat mulai petang mereka beranjak ke dalam rumah. Rumah mewah ini sengaja rangga khususkan untuk keluarga tercintanya. Gurat bangga di tautkan oleh izdi. Dia bahagia saat melihat rangga sudah menemukan jati dirinya.


Wardah dan Nasya juga nampak asyik sambil menggendong kedua baby twins. Si Adzkan juga sedang menemani Zea belajar di depan. Tapi lihatlah Zafindra dia tertidur dengan buku majalah menutup wajahnya dengan kaki satu naik ke kaki yang lainnya. Rangga menoleh ke arah izdi.


" Dia keren sekali," puji Rangga pada putra sahabatnya itu. Izdi menggelengkan kepala.


" Pemuda kecil itu terlalu dingin. Aku kadang tak bisa mengajaknya mengobrol. Terlalu irit bicara ngga," keluh izdi saat tak bisa mengajak putranya menjadi sahabat.


" Ya ... Salah anda. Itu kan sikap anda zaman masih muda dulu bos," mereka kembali terkekeh.


Saat mereka asik bercengkeramah dari pintu depan terdengar suara tapak kaki berlari. Suara cempreng Flo kembali menggema setelah seharian menghilang.


" Mom! Dad! To be winner!" teriaknya yang membuat semua orang menoleh. Rangga mendekat dan memeluknya.


" Selamat ... Darl," papi rangga kali ini tak bisa menutupi kebahagiaannya.


Semua orang mengucapkan selamat paman Izdi, mom, bibi wardah, zea,adzkan tapi tidak dengan Zafindra. Pemuda itu masih menutup wajahnya. Tatapan sinis dari Flo tak terlihat oleh siapapun.

__ADS_1


Dasar bocah menyebalkan. Sok dewasa sok paling bener sok cool sok ganteng. Tapi emang ganteng .... But it's no. Tidak sebanding.


__ADS_2