
3 jam berlalu membuat Rangga mondar mandir ke sana kemari. Jantungnya berdegup kencang seakan ikut lari maraton. Mulutnya komat kamit seperti membaca mantra. Itulah kekhawatiran seorang rangga. Jika tragedi rubi membuatnya emosi kali ini dia takut terjadi sesuatu.
Lampu di depan kamar sudah mati. Itu artinya yamg di dalam telah menyelesaikan proses persalinannya.
" Oeekkkk. Oeekkk. Oeekk.
Suara tangisan bayi sangat kencang dari arah dalam ruangan itu. Rasanya kaki rangga lemas dia terduduk. Dari kejauhan azzam melangkah lebar dan panjang karena panik adiknya mau melahirkan. Dia tambah gugup saat melihat rangga terkulai lemas.
" Ngga ... Gimana Nasya?" Tanya azzam panik. Rangga menoleh sambil tersenyum.
" Mereka sudah menangis mas, semoga istriku juga baik. Dokternya belum keluar," jawab rangga sekenanya. Nampak fatimah pun mendekat seusai jam praktek pagi sudah di gantikan dokter jaga lainnya. Istri azzam itu ikut panik saat melihat dua lelaki itu di depan ruang bersalin.
Tak berselang lama suara pintu terbuka. Rangga melangkah mendekati dokter Ryan.
" Bagaimana istriku?" tanya rangga khawatir.
" Mereka semua sehat dan selamat mas. Selamat bayimu laki-laki dan perempuan. Permisi!" serunya dengan tersenyum. Rangga pun masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat istrinya yang tersenyum padanya. Dia mengecup dahi nasya dengan mesra.
" Thank you sayang ... Ini sangat luar biasa," ucap rangga sambil menciumi punggung tangan istrinya. Nasya hanya mengangguk dan tersenyum.
Rangga nampak sangat bahagia dengan kehadiran kedua buah hatinya. Kali ini dia di beri kesempatan untuk menjadi seorang ayah yang benar dan suami yang baik. Azzam dan fatimah sebagai seorang kakak sangatlah bahagia melihat sikap rangga yang sudah tidak stabil seperti dulu.
" Semoga kalian selalu bahagia sya," ucap fatimah sebagai kakak ipar sekaligus orang tua nasya. Nasya mengangguk bahagia saat rangga begitu puas akan kedua balita di hadapannya itu.
" Makasih mbakk. Semoga mbak segera menyusul kami. Semoga ada benih mas azzam yang akan bersemayam di sana!" seru nasya dengan memegang perut kakak iparnya.
" Aamiin. Makasih doanya sya," azzam nampak terharu melihat interaksi kakak adik itu. Tak sedikit pun fatimah minder akan dirinya yang belum di karunia seorang anak. Namun tak bisa di pungkiri kehadiran seorang anak adalah perihal yang di takdirkan Allah hidup dalam rahim seorang ibu. Bukan karena keinginan manusia itu sendiri.
__ADS_1
Fatimah melangkah ke arah box bayi dia menggendong si Twins dengan bahagia dan menitikkan air mata.
" Selamat datang di dunia ini Twins. Jadilah anak yang berbakti. Lucunya kalian ini!" seru Fatimah sambil menatap ke arah bayi perempuan yang di gendongnya.
" Mas ... Tidakkah kalian ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri?" tanya Nasya pada kakaknya. Azzam duduk dan memegang tangan adiknya.
" Aku pernah mengajak kakakmu itu ke dokter kandungan. Namun dia tak ingin mendengar kabar tak baik. Dia bilang biarkan saja seperti ini mas. Andaikata kita di takdirkan punya keturunan pasti akan ada waktunya. Ya sudah kakak tidak bisa memaksanya," jawab azzam sambil menatap istrinya yang nampak bahagia saat menggendong putri nasya.
" Dia sangat baik mas. Mungkinkah mbak fatimah sangat merindukan kebahagiaan memiliki seorang anak? Lihatlah dia begitu menikmati gendongannya," ucap nasya. Azzam mengangguk mengiyakan.
" Pasti ... Kakak akan berusahaa menyusul kalian. Heheheh," jawab azzam sambil nyengir kuda.
Tiada hari tanpa kebahagiaan si twins. Mulai dari rahim hingga hari kelahirannya. Semua begitu menyenangkan bagi nasya. Entah mulai dari perhatian suaminya maupun dari nikmatya menjadi ibu hamil.
Beberapa hari kemudian ....
" Baiklah mas .... Lanjutkan pekerjaanmu dulu!" seru nasya dengan senyuk. Rangga pun memegang pipi suaminya itu. Rangga paham dan segera pergi melanjutkan pekerjaannya.
Kepergian rangga dari sana tak mengacaukan kebahagiaan nasya. Gadis muda itu merawat putri dan putranya dengan senang hati tanpa kurang satu apapun. Saat Nasya sibuk dengan baby-nya tiba-tiba saja beberapa nona-nona cantik mengucapkan salam masuk ke ruangannya.
" Assalamualaikum ... " ucap mereka. Nasya menoleh menatap ke arah mereka.
" Waalaikumsalam ... Iya. Ada yang kalian ingin jenguk?" tanya nasya pada mereka yang saling berpandangan. Mereka hanya menatap wajah cantik nasya itu.
" Hai ... Nona-nona ada yang kalian cari?" tanya nasya kembali karena tak kunjung dapat jawaban.
" Kami ... Mencari pak Rangga! Maksud kami mau menjenguk putranya," ucap mereka bingung. Nasya tersenyum pada mereka.
__ADS_1
" Masuklah! Itu putranya pak Rangga. Sudah bilang sama pak dosen kalau kalian mau kemari?" tanya nasya dengam menatap mereka. mereka pun berjalan masuk ke arah nasya.
" Pak dosennya cuek sekali bu," jawab mereka nyengir. Membuat nasya jadi tergelak. Nasya tersenyum pada mereka semua tanpa terkecuali. " Apakah ibu ini suaminya dokter rangga?" tanya salah seorang memberanikan diri. Nasya tersenyum sambil mengangguk.
" Wah ... Pantas saja pak Rangga tidak minat pada mahasiswinya. Lah ibu cantik begini, kalian mah lewat meskipun daun muda. Hahahah," celetuk salah satu dari mereka yang membuat nasya jadi ikut tertawa pada akhirnya.
" Hahahahahah .... Kalian ini ada-ada saja," jawab nasya. Mereka pun membaur dengan nasya karena memang nasya bersikap seperti anak muda. Biar mereka nyaman saat berkunjung padanya. Nasya sembunyi-sembunyi mengirim pesan pada suaminya.
♤ Hai suami .... Di sini ada beberapa mahasiswimu yang berkunjung. Mereka merindukanmu. Segerah datang jika sudah Free ya! Goda nasya pada suaminya itu.
♤ Untuk apa mereka kemari? Ck. Aku sudah melarangnya.
♤ Ya rindu padamulah suami ... Sudah kemarilah jika ada waktu luang!
Semua yang berada di kamar rawat nasya jadi berkumpul mengerumuni baby twins. Ada satu perempuan yang mendekati nasya dan mengajaknya mengobrol.
" Bu ... Apakah tidak cemburu jika setiap hari banyak yang menembak pak rangga ? Pak rangga itu dosen tertampan di kampus dan masih muda juga bu," ucapnya dengan rona penasaran. Nasya kini tersenyum padanya dan memegang tangan gadis di hadapannya.
" Jika dulu mungkin ibu akan cemburu. Tapi saat ini tidak mungkin karena pak rangga kalian suami yang luar biasa. Jadi, ketika kalian menikah nanti carilah suami yang baik. Jangan hanya tampan," ucap nasya memberikan jawaban .
" Apakah sesimple itu ibu?" tanyanya dengan sangat penasaran. Nasya tersenyum sambil mengangguk pasti.
Mereka semua yang awalnya serius kini menatap ke arah pintu yang tiba-tiba saja terbuka.
Krak.
Mereka semua melihat pak dosen dengan jas putihnya. Mereka semua terpana dengan ketampanan pengajarnya itu. Nasya jadi tersenyum saat mereka melongo melihat suaminya iti. Tampan sih tapi mereka terlalu berlebihan menurut nasya.
__ADS_1