Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 39


__ADS_3

" Kamu malu? Punya suami seganteng aku sya? Aku masih kelihatan muda loh sya," jawabannya membuat nasya terkejut dan menatapnya intens.


Suami Gak jelas. Bisa-bisanya ngomong tampan di depan umum. Dasar mantan duda aneh. Kok betah sih mbak rubi hidup dengan orang nyebelin kayak dia. Hadehh. Batin nasya saat ini.


" Jangan ngomong aneh-aneh deh. Ini di depan umum loh!" serunya sambil mencebik. Rangga mengernyitkan alis.


" Hanya istri kongslet yang menganggap suaminya yang ganteng ini jelek," rangga berjalan mendahului. Nasya langsung mendongak.


" Lohhh ... Kok marah!" seru Nasya tanpa sengaja dia menarik tangan suaminya dengan kuat. Tetapi karena rangga yang kurang siap saat di tarik akhirnya tubuhnya menjatuhi nasya yang berada di belakangnya. Spontan rangga mencium nasya di depan umum.


Deg.


Ya ampun ini di tempat umum. Kenapa bisa berciuman di sini. Bodoh kamu sya. Ngapain kamu sya tadi narik-narik rangga. Batinnya merutuki kebodohannya.


" Kenapa jadi seagresif ini? Bukankah lebih erotis jika di kamar kita berdua? Apa sudah tidak sabar?" tanya rangga membrondong sikap Nasya kali ini. Rangga pyur tak paham apa yang di lakukan oleh istrinya.


" Diamlah dokter Rangga! Tidak perlu menoleh ke sana kemari. Langsung menuju kasir," jawaban Nasya benar-benar menggelikan. Bisa-bisanya dia tak tahu malu. Rangga pun mengikuti interupsi istrinya dengan bodohnya.


Ini yang bodoh aku apa dia sih? Bukankah dia yang beradegan tidak jelas di depan umum. Kenapa jadi aku yang diperintah. Shitt ... Istri durhaka. Batinnya mengesal pada nasya yang nampak diam dengan kejadian yang baru saja terjadi.


" Nona ... Suaminya tampan! Bagus jika kamu menandainya supaya ank-anak muda di sana itu berhenti memandangi suamimu," seru bibi yang berada di kasir sampingnya. Mau tidak mau nasya hanya tersenyum getir. Malu dong iya jelas. Dia bukan ingin mencium suaminya tapi mau menghentikan langkah suaminya. Mana tahu dia jika rangga tak siap di tarik ke belakang.


Oh ... Ya Allah malunya aku kali ini. Hati ini rasanya ambyar meluber gak jelas. Batim nasya sambil mengetok jidadnya sendiri.


" Are you Okey?" tanya Rangga dengan menyentuh pipi nasya. Nasya jadi melotot lagi dengan perlakuan rangga.


Ya ampun laki-laki ini paham gak sih. Gue malu pake banget. Malah di ulangi lagi jadi adegan mesranya. Hadeh dokter rangga gak jelas. Kakak bantuin nasya dong. Ini gimana dengan dokter satu ini. Pinter apa gak sih sekolahnya. Jika nasya bodoh banget seharusnya dokter satu ini gak ikutan bodoh. Ya Allah salah lagi aku-nya. Batin nasya dengan lemas.

__ADS_1


" Okey," jawabnya dengan menghirup nafas sepanjang-panjangnya tanpa jeda.


Makanya nona idiot berhenti melakukan pola simpul. Jangan mengulangi kebodohan yang sama. Seharusnya tadi kamu tidak perlu menarikku. Jiwa usilku itu selalu timbul di waktu yang tepat. Kamu sebenarnya pandai dalam hal desaian. Tapi hal-hal kecil kayak gini suka ceroboh. Hahahaha. Batinnya menertawakan istrinya yang suka di kerjai olehnya.


seusai membayar belanjaannya rangga mengambil mobil miliknya di parkiran. Ada 3 gadis cantik yang sedari tadi memperhatikannya semenjak di dalam supermarket. Kali ini dengan beraninya menyapa rangga.


" Eh ... Ada kakak tampan Guys. Kenalan dong kak! Mumpung istrinya gak ada. Mau dong jika di kasih nomor ponselnya," ucap salah satu dari mereka.


" Datang saja ke rumah sakit! Saya dokter kejiwaan. Nanti saya tangani jika kalian datang," sontak saja jawaban rangga membuat ketiga gadis itu malu.


Ternyata lelaki yang di kira hangat perlakuannya itu adalah lelaki terdingin yang mereka temui sepanjang jalan. Biasanya laki-laki sering memberikan nomor ponselnya. Yang ini malah menyuruh mereka datang ke rumah sakit.


" Gila ... Kita di pikir pasien rumah sakit jiwa apa ya? Aduh tampan-tampan ngeselin," gerutu gadis yang tadi menggoda rangga.


" Lah ... Loh ngapain nona godain dia kayak kurang kerjaan aja. Impulsif sih lo-nya. Pasti itu laki setia banget sama isrtinya. Ya gak sih? Wajahnya mana udah berubah jadi jutek amat," ucap salah seorang lagi.


Rangga yang sudah di dalam mobil menggeleng saat mendengar gadis muda-muda itu menggodanya. Nasya memang tak tergantikan. Meskipun gadis itu tak menggodanya tapi malah tubuhnya itu yang menggodanya. Otaknya memang tidak pandai dalam menggoda tapi bahasa tubuhnya lebih pintar daripada otaknya. Bahasa tubuhnya lebih cepat bertindak daripada otaknya yang melamban dan melandai.


" Cepatlah masuk! Jika tidak aku akan di goda kembali oleh mereka. Menjijikkan!" seru rangga dari dalam mobil. Nasya mengerutkan dahi dan melihat para gadis itu tertawa. Entah apa yang sedang mereka tertawakan.


" Kenapa marah - marah sih?" tanya nasya menatap suaminya setelah di dalam mobil. Rangga meliriknya dengan intens.


" Kamu ngajak aku belanja membuat diri ini ilfeel. Bagaimana bisa perempuan-perempuan masih muda kayak tadi ganjen sekali. Hah .. Benar-benar muak," keluh rangga membuat nasya tertawa mengejek.


" Bukankah kamu bahagia?" tanya nasya dengan mimik wajah yang menggoda.


" Ku suruh mereka datang ke rumah sakit! Ku katakan bahwa aku dokter jiwa," jawab rangga membuat nasya berhenti tertawa.

__ADS_1


" Lalu?" tanya nasya singkat padat jelas.


" Datanglah ke rumah sakit aku akan menangani kalian," jawab rangga dingin. Tanpa ada ekspresi d tiba-tiba.


" Buuuahahahahahhahaah ... Ya ampun dokter rangga kamu menggelikan sekali. Pantas saja mereka tertawa. Suami sayang ... Jangan jahat-jahat gitu dong sama nona-nona manis itu," goda nasya mulai muncul sufat aslinya yang ngeselin. Rangga segera mengghidupkan mobilnya dan melesatkannya.


" Ngeselin ya! Lama-lama gue yang gila karena kamu. Mana ada coba suaminya di godain malah ketawa bahagia. Kamu ini kayaknya perlu perawatan," jawab rangga.


" Enak aja. Masih normal aku dong dokter rangga," jawab nasya dengan mencebik.


Mereka pun keluar dari pelataran supermarket menuju ke rumah makan dimana putrinya dan si mbak sedang menunggu. Tadinya mereka bersama putri dan si mbak karena mereka kasihan di supermarket yang rame akhirnya si mbak di minta tolong ke rumah makan dekat dari sana naik taxi.


" Sorry ya mas. Tadi di supermarket beneran gak sengaja. Bukan maksud membuatmu menciumku di depan umum tapi aku beneran ingin menghentikanmu," jelas nasya pada suaminya.


" It's no problem. I like it," jawabnya yang membuat nasya tadinya serius jadi tidak percaya dengan yang di katakan suaminya.


" Mas ... Itu di depan umum," jawab nasya.


" Tapi ... Aku suka jika kamu posesif padaku seperti itu.


" Wah .... Mulai gila beneran rupa-rupanya semenjak mengaku jadi dokter jiwa," jawab nasya ambigu.


" Hahahaha ... " tawa rangga pecah saat itu juga.


.


.

__ADS_1


Like komen suscribe vote dan dukungan lainnya. Thank you so much.


__ADS_2