Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 29


__ADS_3

Bagus ya udah kasih notif buruk ke flo tentang papanya. Mana ada mami yang kayak gitu. Flo ... Boleh ya papi hukum mamimu ini dengan cara papi," seloroh rangga yang tiba- tiba datang ke ruangan itu. Nasya jadi kaget dengan sahutannya.


" Eh .... !" seru nasya saat mendapat tatapan tajam dari suaminya.


Rangga berjalan mendekat ke arah putrinya. Kini rangga mengangkat gadis kecil itu dan menimangnya. Nasya kembali berdiri dan berada di sampingnya.


" Apakah kamu menyukai mami sepertinya sayangku? Dia tidak cantik juga kurang menarik bukan?" tanya rangga pada putrinya. Seketika mata nasya membulat.


" Ngga ... Udah dong jangan ngebuli aku gitu juga sih. Maaf deh tadi hanya sekedar mengajak putrimu berinteraksi saja," jawab nasya agak jengkel. Dia pun menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.


" Mamimu merajuk sayang. Nak ... meskipun dia bukan ibu kandungmu tapi dia begitu menyayangimu flo. Papi harap kamu juga menyayanginya," lirih rangga pada putrinya.


Nasya sengaja pergi membiarkan mereka berdua bersama. Selama ini rangga selalu sibuk dengan pekerjaannya. Nasya mulai memotong sayuran tapi saat dia memotong sayur karena sibuk dengan lamunannya juga tanpa di sengaja dia mengiris tangannya sendiri. Darah itu jadi mancur.


" Astaga ... Gak darah ini gak boleh tercecer biaa-bisa kambuh traumatikku," lirihnya sambil mata berkaca-kaca takut. Nasya mencari apapun untuk membersihkan lukanya. Rangga memperhatikan asa yang aneh. Dia melangkah ke dapur betapa terkejutnya jemari istrinya terluka. Rangga langsung menariknya.


" Nasya ! Apa yang kamu lakukan?" tanya Rangga dengan membentak. Nasya yang berkaca-kaca akhirnya menjatuhkan air matanya.


" Aku akan membersihkannya ngga," jawabnya sambil terisak. Rangga langsung melihatkan lukanya.


" jangan bodoh nasya ... Lukamu bisa infeksi jika kamu hanya fokus pada noda darah itu! Ikut aku," Jawab rangga dnwgan marah sekali padanya.


" Tapi ngga ... " jawab nasya mencegah suaminya itu.


" No .. Tidak ada penolakan jika kamu tidak ingin mengalami hal lainnya. Sudah ku katakan jangan mengerjakan apapun di rumah ini jika kamu masih sakit," rangga kembali mengingatkan istrinya.


Nasya terdiam.


" Sebenarnya kamu mencintaiku apa tidak? Peehatianmu membuatku salah paham," ucapan nasya membuat rangga kembali pada masa lalunya. Antara istrinya dan nasya yang selalu mengusik hatinya. Saat rangga menyelesaikan pengobatan pada luka nasya dia segera berdiri dan beranjak pergi.


" Kenapa harus pergi? Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaan semudah itu" tanya nasya kembali sebelum suaminya itu menutup pintu.


" Jangan menanyakan hal yang tidak ada jawabannya. Sudah jelas aku mencintai rubi mana mungkin aku melirikmu," jawabnya dengan ketus dan pergi.


Sakit. Pasti sakit hati jelas sekali. Istri mana yang tak sakit jika suaminya mengatakan mencintai perempuan lain dan itu pun madunya yang sudah tak ada di dunia.

__ADS_1


" Bukankah ini menyedihkan mbak rubi. Aku menikahi suamimu seperti menemukan pialaku yang dulu hilang terbawa seseorang tapi aku merasa bersaing denganmu secara real padahal kau pun tak ada di sisinya. Bahkan ini menyedihkan dari hal yang ku perkirakan," monolog nasya dengan senyum sumbangnya yang terlihat mengerikan karena tersenyum sendiri. Ngomong-ngomong sendiri seperti orang tidak waras.


Mungkin jika orang tidak waras mereka tak memiliki beban. Tapi ini jelas sangat terbebani secara nasya bukan orang gila.


...****************...


Malam ini rangga tak masuk sama sekali ke kamarnya. Dia lebih memilih berada di ruang kerjanya. Dia khawatir menemukan titik untuk kembali khawatir pada gadis itu.


" Aku bisa gila jika terlalu dekat dengannya. Aku tak bisa berpikir jernih saat bersamanya. Dia selalu membuat hatiku tergerak saat sesuatu terjadi padanya. Aku tidak paham takdir apa yang membawaku bertemu dengannya," monolog rangga dalam ruang kerjanya.


Sedangkankan nasya di kamarnya sudah bersiap-siap untuk tidur di kamar putrinya. Dia akan mencurahkan kasih sayangnya untuk si kecil flo saja. Daripada dia makan hati karena suaminya lebih baik menemani si kecil saja.


Ketika sampai di kamar flo.


" Nyonya kenapa kemari? Tidak di carikah sama tuan," tanya si mbak pada nasya. Nasya tersenyum sambil mengangguk.


" Malam ini mbak tidur di kamarnya saja. Saya ingin tidur bersama flo. Tuan sibuk kok mbak gapapa sekali-kali saya tidur sini," jawab nasya sambil menimang putrinya.


" Baik ... Nyonya. Terima kasih," jawab si mbak sambil tersenyum bahagia.


" Loh mbak ... Kok dari kamarnya? Flo dengan siapa?" tanya rangga ketika tengah malam si mbak ambil minum.


" Sama nyonya tuan. Katanya karena tuan sibuk nyonya tidur sama nona flo malam hari ini," jawab si mbak sebelum pergi. Rangga mengangguk paham.


Dia pun menyelinap ke kamar putrinya. Tenyata benar bahwa istrinya berada di sana. Dia menatap kedua penghuni kamar itu. Mereka suh tertidur pulas.


" Kalian sama-sama berharga. Tapi aku sedang menjaga diri dari mamimu flo. Maafkan papi ya flo. Papi belum bisa menggantikan posisi mamamu dengan orang lain," monolog rangga sambil mengelus pipi putrinya. Tak berselang lama dia kembali ke kamarnya.


Rangga menidurkan dirinya di ranjang king size miliknya itu. Sebenarnya bukan seperti ini yang dia inginkan. Tapi biarkan saja dengan begini rangga lebih menikmati ketenangannya.


Keesokan pagi harinya ...


Nasya memasuki kamarnya perlahan supaya rangga tak bangun. Dia segera bergegas merapikan diri. Ketika dia memakai parfum seketika rangga duduk.


" Mau kemana?" tanyanya dengan dingin.

__ADS_1


" Mau ke butik," jawabnya singkat.


" Siapa yang mengizinkanmu pergi?" tanyanya dengan nada flat.


" Aku harus pergi sudah 3 bulan aku tak berkunjung sama sekali," jawabnya tak kalah dingin. Nasya kemudian berdiri. Ketika mau membuka pintu.


" Jika kamu keluar dari kamar ini, kamu bahkan tidak akan pernah bisa kembali kemari. Pergilah sesukamu!" seru rangga dengan berdiri dan menyilangkan tangan di depan dada.


Nasya menoleh ...


Dia mendekati rangga dan terjadilah.


Cup.


Tiba-tiba saja mencium rangga yang marah-marah tidak jelas. Nasya menatap suaminya dengan lekat.


" Sudah ku katakan. Berkunjung ke butik bukan mau selingkuh darimu," nasya kemudian pergi. Sedangkan rangga mematung di tempat yang sama.


Sedangkan nasya sudah berlalu saja dari kamarnya. Hari ini dia membawa putri dan si mbak ke butik.


" Sayang ... Flo ku bawa ya! Selamat bekerja. Aku duluan," teriak nasya dari luar ruangan. Kali ini dia memanggil sayang padanya. Membuat rangga frustasi dengan sikapnya itu.


Maaf suamiku. Aku harus berlaku seperti ini. Jika tidak kamu akan memperlakukanku dengan sikap dingin. Maka aku harus menyikapinya dengan agresif namun tetap dengan cara yang cool. Batin nasya sambil menghela nafas.


" Kita jalan-jalan ya sayangku," ucap nasya pada flo.


Sedangkan di kamar ...


" Perempuan itu mengerikan. Agresif sekali," ucapnya sambil mengusap bibir karena sudah di cium nasya. Dia pun memutuskan untuk membersihkan diri dan swgwra berangkat.


.


.


Likeee yaaaa. Up jam 9 nih,,,, menempilkan waktu untuk kalian. Makasihhhhhh.

__ADS_1


__ADS_2