
Ngga ... Sekarang!" seru izdi tanpa senyuman.
Namun rangga masih menggeleng. Izdi yang nampak geram segera melotot dan mendekati sahabatnya itu. Dia membisikkan sesuatu ke telingannya.
" Lakukan sekarang atau aku berikan istrimu pada orang lain," bisiknya yang diikuti tatapan rangga yang intens.
" Aku tidak bisa ... " jawaban itu akhirnya lolos juga dari tenggorokan Rangga. Izdi jadi terkekeh namun lirih.
" Lakukanlah ngga ... Dia istrimu menyentuhnya pun jadi ladangnya pahala. Kalau kamu gak melakukan aku biarin kamu gak bisa kerja hari ini," ucap izdi.
Dengan agak kesal dan terpaksa dia mulai mendekati istrinya dan mengulurkan tangannya pada nasya. Gadis itu menerimanya dengan senang hati dan menciumnya namun detik berikutnya Rangga mengecup kening dan bibir istrinya.
Deg.
Rasanya nasya seperti tidak menginjakkan kaki di bumi lagi. Dia merasa sangat bahagia dengan sentuhan suaminya itu. Sedangkan izdi dan wardah membelalakkan mata dengan perlakuan rangga.
" Kita berangkat iz!" ajaknya pada izdi yang membeo tapi mengikuti sahabatnya.
Ketika mereka di dalam mobil ...
" Sebentar ngga ... Memangnya ada ya di skenario tadi untuk kiss bibir?" tanya izdi sengaja. Rangga mengedikkan bahunya.
" Kan udah malu sih nyamperin dia pake sayang kening ya sekalian saja di serobot. Biar malunya jadi satu. Kepalang tanggung iz jadi di semuakan aja beres sudah. Toh kata lo pahala kan ya udah sih," cerocos rangga yang membuat izdi lebih terkejut lagi. Karena itu ternyata idenya sendiri bukan dalam skenario pamitan.
" Wah ... Keren jadi dari malu jadinya malu-maluin ya!" ejek izdi pada sahabatnya.
" Sialan loh ... Semua kan gara-gara elo juga kali iz," jawabnya dengan kesal tapi ketawa bareng.
" Eh ... Fatimah gimana kabarnya?" tanya rangga kemudian.
" Eh ... Ngapain loh tanya milik orang," jawab izdi penuh tanda tanya.
" Kangen aja sama senyumannya iz. Cantik," goda rangga pada sahabatnya itu.
" Wah ... Bener-bener sial loh ya dokter mesum. Masih aja piktor loh! Udah ah males lama-lama ikutan gila kayak loh. Turunin gue," perintah izdi yang di sambut gelak tawa sahabatnya.
" Nanti gue jemput iz!" seru rangga yang kemudian berlalu saat izdi sudah memberikan jempol.
__ADS_1
Saat ini sahabatnya itu tak bekerja di rumah sakitnya lagi. Karena insiden beberapa tahun silam. Namun hal itu tak lantas membuat rangga kehilangan sosok sahabatnya itu. Dia tetap menemukan sosok sahabat dalam diri izdi.
" Makasih iz tak pernah lelah bersahabat denganku," lirih rangga dalam perjalanan ke rumah sakit.
Sedangkan izdi mengumpat sahabatnya itu dengan tersenyum bahagia.
" Anak sialan ... Mencari kesempatan dalam kesempitan. Apanya coba terpaksa? Terpaksa kok sampai ke bibir. Skenario yang tak di planning tapi mulutnya yang enak. Hahahah," gelak tawa izdi di ruangannya.
Ranga yang sudah sampai di ruangan masih terngiang-ngiang akan hal yang dia lakukan tadi. Rangga menepuk jidadnya sendiri tatkala memikirkan hal itu.
Ngapain coba. Malu-maluin aja. Itu para bini di sana pasti sedang ghibah karena ciumanku tadi. Secara aku tak pernah menyentuhnya. Bodohnya kamu rangga. Batinnya dalam ruangan.
Namun saat asik memikirkan hal itu. Suara seseorang mengalihkan pemikirannya itu.
" Dokter ... Sedang repot ya?" tanya Disya padanya.
" Masuklah ... Aku baru saja sampai Dis," jawab rangga yang masih dalam keadaan tak memakai jas. Dia hanya memakai kemeja garis-garis berwarna monokrom. Hal itu membuatnya semakin terlihat tampan di mata Disya. Gadis itu juga tak kunjung menjawab karena terpesona.
" Dis ... Hai? Kenapa?" tanya rangga melambaikan tangannya itu. Gadis itu tersadar bahwa dirinya baru saja melamun. Dia tersenyum ke arah rangga dan mendekat.
" Ganggu ... Gak kak?" tanya Disya.
" Ngopi bareng nanti yu kak!" ajak Disya pada rangga dengan berani. Tak sungkan pada istrinya bahkan pada rangga sendiri.
" Nanti ya? Kayaknya gak bisa Dis. Nanti pulang dari rumah sakit harus jemput istri soalnya. Tadi dia gak bawa mobil kasihan," jawab Rangga dengan tersenyum ramah pada gadis muda di depannya ini.
" Gak bisa naik taxi saja ya kak?" tanya Disya yang membuat kerutan di wajah rangga kentara karena aneh dengan pertanyaan itu.
" Dia dengan putri kami Dis. Tidak mungkin aku menyuruhnya pulang sendirian," jawab Rangga lagi-lagi sambil tersenyumm. Disya kaget saat tahu mereka memiliki anak juga.
" Sudah punya anak kak?" tanya Disya. Rangga kembali tersenyum dan kali ini berdiri.
" Sudah waktunya jam praktek," ucap rangga sambil menunjuk arlojinya. Disya emngangguk paham.
Perbincangan hari ini pun tak dapat di hindari oleh rangga. Tapi obrolan Disya membuat rangga geli karena terlalu detail. Namun rangga berusaha menepis perasaan aneh yang menjalar. Bisa saja itu hanya perasaannya dan mungkin saja Disya butuh waktu dan teman serta ruang yang cukup.
Seharian ini rangga berkutat dengan pasien. Dia baru ingat jika belum memberi tahu bahwa hari ini bermalam di sini izdi.
__ADS_1
" Lelah sekali .... Tadi sepertinya aku belum menghubungi nasya," rangga segera merogoh sakunya dan menelpon.
Drrrttt. Drrrt.
Suara ponsel Nasya berdering. Ku pikir siapa yang menelpon. Wardah menatap adiknya azzam seperti adiknya sendiri.
" Sebentar ya kak ... Suamiku telpon!" pamit nasya. Wardah mengangguk paham.
" Iya mas kenapa?" tanya nasya pada rangga.
" Bagaimana putriku?" tanyanya nada khawatir.
" Dia sudah tidur mas," jawab nasya membuat rangga merasa lega sekali.
" Nanti pulang sekalian bareng jangan naik taxi. Tunggu saja di sana," ucap rangga lagi.
" Ya ... Mas," jawab nasya yang kemudian mengakhiri sambungannya.
Saat rangga berlalu ke kamar mandi. Disya masuk ke ruangannya dia menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan seseorang yang dia kagumi. Namun dia tak mendapatinya. Dia masuk untuk membawakan makan siang untuk sang dokter. Entah angin mana yang membuat disya berani membawakan makanan untuk suami orang. Tapi apalah daya perasaan itu terus saja menghantuinya setiap hari. Setidaknya dia tak bisa memiliki namun bisa mengagumi dengan cara memberikan perhatian-perhatian kecil. Saat Disya mau melangkah keluar. Rangga menyembul dari balik pintu kamar mandi.
" Dis ... Ada apa?" tanya rangga sambil tersenyum.
" Itu dokter ... Saya tadi kelebihan membawa makanan. Untuk kakak saja saya lihat tadi pasiennya banyak. Saya yakin belum makan siang," jawab Disya sambil tersenyum.
" Makanlah di sini! Bawalah makananmu kemari," ucap rangga sambil tersenyum manis sekali.
" Baik kak," jawabnya kemudian mengambil kotak makannya di meja luar.
Saat mereka sedang makan bersama. Tiba-tiba Disya menyeletuk yang membuat rangga sebenarnya ingin menolak tapi kasihan pada gadis itu.
" Kah ... Bolehkah kita berswafoto? Sedang ingin berfoto denganmu buat caption lama tak jumpa," ucap nasya yang membuat rangga agak tercengang.
.
.
.
__ADS_1
Baru bisa up nihhhh. Kak author kemarin full ujian plus rapat Koordinasi dan akhirnya tak fokus. Jangan lupa likeee ya gift juga sebagai bentuk dukungannya.