Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 48


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dengan bahagia. Usaha nasya yang kian meroket dan rangga pun sebagai pemilik rumah sakit kini memegang penuh atas kendali rumah sakit. Nasya yang juga sedang mengandung twins membuat rangga bahagia. Betapa tidak bahagia twins di prediksi adalah laki-laki dan perempuan. Mereka bersiap menyambut kedatangan twins yang kini tinggal menghitung hari saja.


" Sayang ... Twins apa membuatmu kesusahan tidur?" rangga melihat Nasya nampak pucat dan terlihat sangat lelah. Mama Flo itu kini tersenyum mendengar perhatian dokter rangga.


" Uh ... Manisnya papa Twins. Perhatian banget sihhh sayang? Hayo ada apa?" tanya Nasya menaik turunkan alisnya. Rangga jadi menggelengkan kepala.


" Apa ada yang bilang lagi I Love You pak rangga! Coba aku tebak bener gak ya?" goda nasya pada suaminya. Tak di nyanah suaminya itu mengangguk.


" Kau selalu benar dan aku selalu salah. Hmmm," jawab rangga nampak lesu. Karena semenjak menjadi dosen mengikuti jejak izdi terdahulu membuatnya kewalaham meladeni mahasiswinya yang nyeleneh. Katakan cinta, godain, ngajak nge-date dan lain sebagainya yang membuat suami Nasya itu capek pengen pulang.


" Jika bukan karena ingin mengamalkan ilmu udah resign aku dari sana. Ya Tuhan lelah tiap hari harus bertemu mereka. Apa pikirannya itu selalu cinta? Kapan lulusnya sekolah dokter jika benar begitu. Hadehhh," keluhnya pada Nasya. Nasya mengelus pundak suaminya.


" Sabar dong mas! Namanya daun muda. Istrimu juga pernah muda loh," jawaban Nasya membuat rangga menatap intens istrinya.


" Jangan bilang kamu pernah nembak dosenmu?" tanya rangga menebak. Namun nasya menggeleng.


" Aku mau nembak kamu tapi malah patah hati duluan. Alhasil, tidak berminat pada pemuda manapun. Fokus bisnis doang akhirnya yang," jawaban nasya membuat rangga terbelalak. Mana mungkin istrinya itu patah hati karena dirinya.


" Jangan bercanda dong yang ... Kapan kamu mau nembak aku?" tanya rangga tak percaya. Nasya menghela nafas dan menatap suaminya dengan tersenyum.


" Dulu .. Ketika mas akan berbulan madu dengan mbak rubi. Aku datang ke rumah sakit. Tapi sayangnya aku tak bertemu denganmu di dalam. Namun saat di luar aku melihat kalian berciuman dengan mesra. Sakit mas rasanya .... Maaf ya mas sudah pernah mencintaimu di waktu yang salah," jawab nasya sambil mengenang masa itu. Ranga termenung sesaat.


" Apakah aku setampan itu yang ... Sampe kau tak berminat dengan lelaki mana pun?" tanya rangga merasa senang jika Nasya seperti menunggu dirinya.


" Kenapa di perjelas? Mau meledekku ya yang ... Males," nasya cemberut. Namun rangga malah terkekeh dengan perasaan bahagia. "Makasihh yang Love you," bisik rangga.


" love you too mas," jawab nasya dengan bergelayut manja sebisanya. Karena perut gendutnya tak mengizinkan dia kembali untuk memeluk suaminya dengan leluasa.

__ADS_1


Dari arah pintu suara Flo yang cempreng tersengar sangat riang.


" Pi, mi ... !" teriaknya dengan bahagia sekali. Nasya dan rangga tersenyum padanya karena Flo begitu menikmati kesibukannya.


" Ya ... Sayang?" tanya mami Nasya pada Flo.


" Mi ... Lihatlah nilaiku hampir sempurna!" teriaknya kegirangan. Nasya mengambil raport putrinya.


Tak ayal jika Flo menjadi gadis cerdas di usianya. Dia sangat rajin dan tekun. Tapi papa dan mama-nya memang orang-orang pintar jadi Flo mendapatkan titisan itu. Nasya menatap putrinya itu dengan bahagia. Semoga kelak Flo tak menjauhi dirinya ketika tahu bahwa nasya bukanlah mami kandungnya. Bahkan nasya sudah sangat mencintai putri mbak rubi itu. Nampak nasya menitikkan air mata. Mungkin karena hormon ibu hamil jadi mengkhawatirkan yang tidak-tidak.


" Loh ... Mami kenapa?" tanya Flo menatap mami nasya begitu pun rangga dia menatap heran istrinya.


" Gapapa sayang ... Mami bahagia lihat flo ceria seperti ini," jawab nasya sambil membelai Flo.


" Nilainya kurang bagus ya mi?" tanya Flo dengan polosnya. Nasya seketika menggeleng khawatir putrinya salah paham.


" Flo sayang sama mami. Maafin Flo jika nakal ya mi," gadis kecil itu membuat rangga ikut menitikkan air mata namun ia sembunyikan. Bagaimana tidak putrinya dengan rubi itu sangat menyayangi nasya yan notabene-nya hanya ibu sambung baginya. Namun tak ayal jika flo sangat menyayangi Nasya karena sedari keluar dari rahim nasya-lah merawatnya hingga saat ini. Wajar jika yang dia sayangi adalah nasya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya setelah shubuh berkumandang. Nampak nasya merintih menahan sakit. Rangga yang baru selesai sholat mendekati istrinya.


" Sayang ... Kenapa? Sudah terasa kontraksinya. Nasya tak menjawab dia hanya menganggu sambil menghirup udara dan membuang nafas perlahan untuk mengurangi rasa sakitnya. Rangga paham dan segera menelpon penjaga gerbang agar membuka pintu dan menyiapkan mobil.


" Pak siapkan sekarang!" perintah rangga. Kemudian dia membantu istrinya. Dia gendong nasya meskipun bobotnya sudah tak normal seperti biasanya.


" Mbak ... Bawakan itu ke mobil. Nanti tolong flo di antar ke sekolah dulu baru ke rumah sakit," ucap rangga.

__ADS_1


" Iya tuan," jawab sang pengasuh Flo yang selama ini menemani nasya merawat buah hati mereka. Rangga pun bergegas turun dengan agak panik. Nasya memegang dada suaminya.


" Pelan-pelan mas ... Nasya gak papa. Efek kontraksi kan memang seperti ini," ucapnya menenangkan suaminya. Rangga mengangguk pasti.


Sesampainya di mobil ...


" Pak tolong bawakan mobilnya. Saya sama nyonya di belakang!" seru pak penjaga gerbang. Dia terpaksa membawa satu penjaganya mengendarai mobil. Karena tidak mungkin dia membiarkan istrinya duduk di belakang sendirian.


" Baik pak," mobil pun melaju ke arah rumah sakit di mana milik mereka berada. Rangga pun tak henti membelai perut istrinya. Nasya nampak berpeluh. Mungkin rasanya sangat sakit. Namun nasya tak menampilkannya. Dia tak ingin membuat suaminya itu panik.


Di rumah sakit ...


" Cepat sus bawa dia!" seru dokter Ryan spesialis Obgyn di rumah sakitnya.


" Tangani istriku dengan baik sebagaimana kakakmu bekerja!" seru rangga. Dokter Ryan mengangguk paham. Rangga menatap istrinya.


" Bagaimana sayang ... " tanya rangga sudah terasa agak panik.


" Sudah lebih sering mas sakitnya," jawabnya terbata. Rangga mengangguk paham.


" Kita bawa ke ruang bersalin sekarang!" seru dokter Ryan memimpin jalannya persalinan. Rangga memegang tangan istrinya. Seaampainya di dalam nasya memegang tangan suaminya.


" Mas ... Keluarlah! Aku akan berusaha menuntaskan kelahiran twins kita," ucap nasya pada rangga yang terlihat khawatir.


" Tapi ... " protes rangga.


" Percayalah pada dokter ryan. Ku mohon... Jika ada mas di sini aku semakin ikut bingung," jawab nasya sambil nyengir kesakitan.

__ADS_1


" Baiklah. aku terpaksa melakukan ini demi kalian," keluhnya sambil menciuk dahi istrinya dan keluar dari ruang bersalin. Nasya tersenyum setidaknya suaminya itu lebih tenang jika berada di luar ruangan.


__ADS_2