Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 30


__ADS_3

Perempuan itu mengerikan. Agresif sekali," ucapnya sambil mengusap bibir karena sudah di cium nasya. Dia pun memutuskan untuk membersihkan diri dan segera berangkat.


Namun saat di dalam kamar mandi pun rangga masih mengingatnya.


" Sial ... Kenapa kecupannya tadi tak bisa di lupakan begitu saja. Agaknya ini akan membuatku aneh seharian ini. Huft," lirih rangga.


Rangga pun ke rumah sakit setelah beberapa hari mengambil cuti. Nampaknya di rumah ada perekrutan pegawai baru. Rangga mendapati ada interview beberapa perawat dan dokter spesialis. Dia mengenali seseorang.


" Disya!" sapa rangga.


" Eh ... Kak Angga," itulah panggilan disya pada rangga.


Disya Dimitri Seina adalah adik kelasnya di perkuliahan kedokteran. Gadis itu adalah pelajar terbaik di angakatannya. Gadis cantik, pendiam, humble.


" Sedang apa? Ikut perekrutan?" tanya rangga menatapnya.


" Eh ... Iya kak. Sepulang dari Australia tidak tahu mau ngapain," jawabnya sambil tersenyum.


" Baiklah .. Lanjutkan. Saya permisi dulu!" pamitnya.


Di dalam ruangan rangga sibuk menyiapkan peralatan medis karena sebentar lagi pemeriksaan akan segera di mulai jam dinasnya.


" Dokter ... Pasiennya sudah penuh. Bolehkah kita mulai sekarang?" tanya sang asisten.


" Oke," jawab rangga.


Pemeriksaan pagi ini akhirnya dia mulai. Rupa- rupanya hari ini pasiennya full boked. Rangga tak bisa beristirahat bahkan menengok hanphone-nya. Dia fokus pada pasien-pasien yang terus mengantre.


" Sudah dokter ... Anda bisa beristirahat," ucap sang asisten.


" Oke. Thank you," jawabnya. Kemudian merebahkan punggungnya di kursi kebanggaannya selama ini.


Rangga menatap ponselnya yang sedari tadi dia anggurkan.


Bukankah tadi aku kirim pesan ke si mbak untuk mengirimkan foto-foto kegiatan nasya bersama putrinya dengan alasan khawatir. Karena istrinya itu baru sembuh. Rangga tersenyum saat nasya merawat bayi itu dengan baik.


" Terima kasih. Setidaknya kamu bisa membuat putriku tak kehilangan sosok ibu," lirih rangga. Saat rangga tengah asik menatap dua perempuan cantik di ponselnya tiba- tiba saja sang asisten masuk.


" Dokter ... Ada dokter perempuan yang ingin menemui anda," ucap sang asisten.


" Suruh dia masuk!" perintah rangga.


Gadis itu pun masuk ke ruangannya.


" Silahkan masuk!" seru rangga tanpa menatap ke arah datangnya langkah kaki.


" Kak ... " ucapnya.

__ADS_1


" Eh, Disya ... Ada apa?" tanya rangga.


" Jadi ... Dokter rangga itu kakak? Aku memberikan surat magang yang diberikan bagian perekrutan," ucapnya sambil menyodorkan suratnya. Rangga menerimanya sambil tersenyum.


" Baiklah ... Saya baca dulu ya! Duduklah," ucap rangga padanya.


Rangga membaca surat itu dengan seksama. Dalam surat itu tertera bahwa Disya akan menjadi partner kerjanya selama 3 bulan sebelum dia di angkat menjadi pegawai tetap rumah sakit.


" Okeh ... Baiklah aku akan membantumu untuk mendapatkan identitas di rumah sakit ini," jawab rangga sambil tersenyum.


" Makasih kak," jawabnya sambil tersenyum pula.


" Oh iya ini sudah jam makan siang. Mau ikut makan siang bersama?" tanya rangga menawari Disya. Gadis itu tersenyum bahagia.


" Boleh kak," jawabnya antusias.


Jika rangga menawarinya karena kenal tapi tidak bagi Disya. Gadis itu dari zaman kuliah sudqh menaruh perhatian pada rangga. Gadis itu sering di tolong oleh rangga dari bullyan teman-temannya ketika ospek.


Ketika mereka menikmati makan siangnya. Rangga mendapat telpon dari si mbak.


" Ya mbak ... Kenapa?"


" Tuan ... Nyonya di datangi pemuda yang kurang baik perilakunya. Dia tidak sopan sekali. Nyonya mencoba untuk tenang tapi saya khawatir trauma nyonya menghampiri," ucap si mbak. Rangga terlihat panik.


" Disya ... Kakak tinggal ya. Sepertinya istri kakak ada sedikit masalah barusan si mbak yang nemeni telp. Permisi!" pamit rangga tanpa basa basi pada disya yang melongo namun menyempatkan tersenyum kecut.


Dia sudah menikah. Tapi kenapa masih se-hamble itu pada perempuan. Aku rupanya terlalu berharap padanya.


" Bodoh," pekik Disya pada dirinya sendiri.


" Disya ... Semuanya sudah ku bayar! Terima kasih sudah menemani! Selamat bergabung dengan rumah sakit kami," serunya dari jauh. Disya hanya mengangguk sambil tersenyum.


...****************...


Rangga yang sudah sampai pada pelataran butik segera memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk.


" Lepaskan tanganmu dari istriku anak muda!" teriak rangga dari pintu masuk. Nampak pemuda itu melepaskan cekalannya.


" Sejak kapan dia menjadi istrimu tuan? Dia bahkan tidak pernah membalas surat cintaku bertahun-tahun," jawabnya sambil tersenyum miring. Rangga jadi menatapnya dengan sorotan tajam.


" Pergilah jangan mengganggu istri orang!" seru rangga. Dia melihat nasya sudah tak fokus. Tapi dia tetap bertahan dengan sikapnya yang tenang.


" Sya ... Kapan-kapan aku kemari lagi. Suamimu galak!" ejek Dion. Nasya menepis tangan itu. Nasya segera berlari ke ruangannya dan minum air dalam gelas sambil bergetar.


" Sudah ku katakan jangan keluar dari rumah! Traumamu itu belum sembuh," ucap rangga sambil meninggi.


" Untuk apa kamu kemari? Aku baik-baik saja," jawab Nasya membelakangi suaminya. Dia tak ingin menunjukkan wajahnya yang takut saat ini.

__ADS_1


" kita pulang sekarang sya!" perintah rangga.


" Baiklah sebentar lagi aku akan pulang bersama si mbak," jawabnya tenang.a


" Pulanglah bersamaku!" ajak rangga sambil membawa tas bayi dan tas nasya.


" aku bisa pulang sendiri," jawabnya dingin.


" Sya ... Jangan mengajak aku berdebat," jawab rangga sudah mencoba sabar padanya.


" Baiklah. Ayo!" jawabnya kemudian.


Mereka pun keluar dari butik dengan tatapan pegawai di sana. Nasya memberikan kode pada pegawainya supaya tetap berjalan seperti biasanya. Mereka mengangguk semua.


" Tampan ya suami mbak nasya. Mana khawatir banget gitu senengnya punya suami perhatian begitu," ucap mereka saat nasya dan suaminya keluar dari sana.


Ketika dalam perjalanan pulang ...


" Lain kali jangan gegabah untuk memutuskan keluar," ucapnya dengan lemah lembut karena ada si mbak.


" Bosan di rumah sayang," jawaban nasya mengejutkan suaminya. Tapi rangga tetap di kode santai. Untuk menghilangkan rasa keterkejutannya.


" Besok ketika aku libur kita jalan," jawab rangga.


Si mbak yang di belakang hanya senyum mendengar obrolan majikannya itu. Dingin tapi saling lempar perhatian satu sama lain. Hubungan yang sangat unik. Jika pada umumnya pasangan suami-istri itu mesra beda dengan kasus majikannya itu yang hanya menjalani dengan sikap dingin tapi tetap saling melemoar perhatian.


" Mbak ... Tolong belikan minuman dingin untu istri saya!" pinta rangga padanya. Si mbak menurut dan pergi ke indomaret.


" Untuk apa minuman dingin?" tanya nasya.


" otakmu nampak panas sedari tadi pagi. Agresif sekali sesekali harus di guyur air dingin," jawab rangga. Nasya jadi kesal dia pun melayangkan satu kecupan pada pipi suaminya dan hal itu di saksikan di mbak.


" Sa... Yang apa yang kamu lakukan ada si mbak. Malu kan!" seru rangga. Nasya menang. Dia yakin pemuda itu sangat marah.


" Maaf ya nyonya tuan. Gak sengaja lihat," ucap si mbak.


" Gapapa mbak," jawab nasya menang.


Emang enak mau marah gak bisa. Mau panggil nasya eh belok panggil sayang. Hahahahah. Kasihan. Batin nasya senang.


.


.


Jangan lupa likenya dong yaaaaa. Di usahakan tiap hari up syaang thank you.


.

__ADS_1


__ADS_2