Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 57


__ADS_3

Setelah insiden pengiriman bunga itu. Rangga menyelesaikan tugasnya sebagai dosen pembimbing di angkatan XXVII dia tak ingin berlama-lama menjadi dosen. Bukan karena serangan cinta dari beberapa kalangan remaja dewasa tapi karena dirinya ingin mengoptimalkan waktu dengan si kembar dan Flo yang sebentar lagi menjadi remaja.


" Bimbingan pada angkatan ini sudah bapak selesaikan sesuai waktu yang di targetkan. Terima kasih karena sudah melakukannya dengan baik tanpa berbelit-belit. Dengan ini bapak juga mau berpamitan bahwa setelah ini yang melanjutkan pembimbingan dokter rahman. Misalkan ada yang belum beres skripsinya. Adakah yang masih mengambang?" tanya Rangga.


" Anda tidak bisa kabur begitu saja pak! Milik saya belum selesai saya tidak mau di bina dokter Rahman," protesnya dengan antusias sehingga mahasiswa lain jadi menyorot wajahnya.


" Sudah aaya katakan target saya sampai kemarin! Jika tak selesai maka harus ke dokter rahman dan itu sudah jelas sekali," ujarnya tanpa mengedepankan ego. Karena sudah ada perjanjian itu sebelumnya dengan para mahasiswa bimbingannya.


" Iya pakkkkk!" seru mereka bersama. Liora nampak di buat geram oleh teman-temannya.


" Kamu lelet sih! Lagian awalnya kamu kan bukan anak bimbingan dokter rangga ngapain juga pindah sini! Bikin team kita tercemar dengan tidak selesainya tugas kamu," celetuk mahasiswi terpinter di team ini. Sontak saja membuat mata liora membola. Dia merasa dirinya di hina.


" Sudah! Liora lanjutkan ke dokter Rahman. Terima kasih kerja samanya dan permisi! Semoga sukses teman-teman mahasiswa!" serunya pada mereka semua. Namun saat rangga mau keluar Naira ketua kelompok memanggil.


" Pak permisi! Ini dari kami terima kasih sudah membimbing kami dengan sabar. Lain waktu kami akan berkunjung untuk melihat si kembar. Salam untuk baby dan mamanya," ucap Naira dengan sopan. Senyuman terbit di wajah Rangga. Dia bahagia ada mahasiswi yang tak mengedepankan perasaan.


" Terima kasih. Saya terima ! Thank you," jawab rangga sambil mengangguk dan menerima hampers dari mahasiwi dan mahasiswanya.



Liora nampak tak terima dengaj senyuman dokter rangga kepada temannya naira. Bahkan dokter rangga tak berterima kasih atas buket bunga yang dia kirim. Akhirnya Liona memilih untuk bermain licik.


Dia merencanakan hal yang membuat Rangga datang ke apartemen miliknya. Saat rangga melintas Liora dengan nekatnya melintas sehingga Rangga membaku hantam mobil miliknya. Rangga yang melintas di buat terkejut. Liora terlihat sakit saat tangannya tergores.


" Kau baik-baik saja?" tanya rangga.


" Saya baik pak. Tapi untuk pulang sendiri sepertinya tidak bisa," jawabnya dengan nyengir yang di buat-buat.


" Baiklah saya antarkan! Lain kali lebih hati-hati membawa kendaraan," ucap rangga diikuti anggukan liora.


Mereka pun bergegas ke apartemen liora. Rangga tak ingin berlama-lama karena dia ingin bertemu istri dan anak-anaknya. Nampaknya kaki liora terkilir dengan terpaksa Rangga menggendong mahasiswinya itu karena tak mungkin baginya membiarkan liora berjalan dingklang.


Sesampainya di dalam ...


" Terima kasih pak," ucap Liora. Rangga mengangguk dan akan pergi.


" Apakah aku harus membantu kakimu yang terkilir?" tanya rangga.

__ADS_1


" Jika tidak keberatan pak," jawabnya sebiasa mungkin. Sebenarnya dia sudah ingin menerkam pak rangga sedari tadi.


" Kemarikan kakimu!" pinta Rangga. Liora meluruskan kakinya di paha dosennya itu. Rasanya hati berbunga-bunga melihat dia seperhatian ini.


" Aaahhhh!" Liora memekik kala kakinya di tarik.


" Sudah selesai ... Aku harus pulang! Permisi," namun tangan liora dengan lancang memelek pinggang dosennya. Rangga membeku dengan perlakuan Liora.


" Pak .... Jadikan aku yang kedua ku mohon! Aku tak bisa seperti ini terus menerus aku mencintai bapak," memeluknya dengan erat.


Rangga mencoba untuk menetralisir keadaan. Menghela nafas dengan panjang dan mencoba melepaskan pelukan Liora dan berbicara dengan tenang.


" Lio ... Aku tidak bisa. Tidak mungkin bagiku menyakiti istri yang paling aku cintai. Aku yakin perasaanmu semu," jawabnya setenang mungkij dalam keadaan yang tidak biasa.


" No ... Pak aku benar-benar mencintaimu,"ucapnya lagi dengan lancang menyambar bibir Rangga. Tanpa basa basi lagi rangga mendorong mahasiswinya itu.


" Liora!!!!!! Tidakkah kamu berfikir bagaimana di posisiku jika aku adalah ayahmu dan wanita lain berusaha menggoda ayahmu dan memintanya menduakan ibumu. Bagaimana perasaanmu!!!! Tidakkah kamu merasa iba pada ibumu," bentak pak Rangga membuat Liora tergugu.


Deg.


Liora menggelengkan kepala. Pak Rangga membuatnya bersibaku pada ingatannya pada sang mama. Dia tak ingin apa yang di katakan pak rangga kejadian pada mommynya. Dia terduduk dan menangis.


" Lio ... Kamu masih muda. Jangan membuat hidupmu berantakan karena menjadi yang kedua. Kamu cantik bahkan memiliki segalanya takkan ada pria yang menolakmu," jawab Rangga dengan menatap mahasiswinya ini.


" Tapi bapak menolakku ... " lirihnya lagi.


" Karena aku sudah memiliki istri dan 3 anak tidak mungkin bagiku untuk menyukaimu," jawab rangga lagi.


" Pergilah pak! Sebelum aku melakukan hal-hal aneh lagi. Maafkan aku meresahkanmu setiap hari," liora berlari ke kamarnya. Rangga pun menghela nafas dan keluar dari apartemen liora.


Gadis zaman now. Main - main serobot bibir laki orang. Liora ... Liora harusnya yang kamu lakukan adalah belajar bukan seperti ini. Aneh-aneh saja," gumamnya sambil keluar dari pelataran apartemen mewah milik Liora.


Rangga mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Dia tak menyangka jika ini adalah kesan terakhir dalam pembimbingan skripsi sungguh meresahkan jiwa. Tapi setidaknya permasalahannya dengan liora sudah selesai. Tak akan ada lagi mahasiswi yang menaruh perhatian segila liora. Dia pun memutuskan resign dari kampus dan di gantikan oleh rahman. Dia ingim fokus pada rumah sakit dan keluarganya.


Sesampainya di kediaman ...


Mata Rangga menangkap sosok perempuan cantik yang dia kenal sedang bermain dengan Flo dan anak-anak. Rangga tersenyum saat bisa melihatnya kembali normal.

__ADS_1


" Dokter Disya!" serunya pada gadis cantik berhijab itu. Gadis itu tersenyum manis sekali.


" Dokter Rangga! Sudah datang, maaf saya lancang menemani anak-anak nasya sedang menyiapkan makan malam untukmu," jawabnya dengan menunduk. Rangga tersenyum.


" Tidak apa-apa .... Lanjutkan saja! Mulai minggu depan kembalilah bekerja di rumah sakit," ucap rangga yang membuat Disya membelalak tak percaya.


" Bolehkah dok?" tanyanya dengan mata berbinar.


" Tentu saja boleh. Ayo anak-anak kita masuk! Ajak tante Disya masuk," jawab rangga membuat Disya terharu. Setelah banyak yang dia lakukan bagi keluarganya nyatanya pemuda beranaak tiga itu tak membencinya.


" Terima kasih," lirihnya hampir tak terdengar. Namum telinga Rangga mrespon dengan baik.


" Sama-sama ... Maafkan aku beberapa waktu lalu," jawabnya sambil pergi melenggang menghampiri istrinya.


Di dapur ...


" Hai sayang ... !" sapanya. Nasya tersenyum bahagia sekali saat melihat suaminya datang.


" Hai ... Mas. Sudah bertemu Disya?? Aku membawanya kemari tadi. Tapi sebentar lagi pasti di jemput Dokter Habibie," jawabnya sambil mengerucut karena Disya harus segera pergi.


" Sejak kapan mereka?" tanya rangga sambil memakan salad buah di meja dapur.


" Entahlah mas ... ! Tapi Disya nampak bahagia. Tapi Disya belum memberikan statement apa-apa," jawabnya lagi. Rangga tersenyum.


" Setidaknya biarlah mereka mencoba hal baru. Mereka perlu PDKT satu sama lain sayang," ucap Rangga sambil mencium mesranya dan segera berlalu.


Dia bahagia berarti dia sudah memutuskan sesuatu yang besar di kampus dan gadis itu. Baguslah mas setidaknya kamu tak terbebani.


Baik Disya maupun Nasya akhirnya mereka sama-sama bahagia dengan kehidupan masing-masing.


Rangga pun dapat menyikapi semuanya dengan sikap tenang dan dewasa. Liora mungkin salah satu alasan rangga untuk menjadi pribadi yang bersikap tegas tanpa menyakiti fisik. Mungkin kasar tapi iti setidaknya lebih baik daripada sikapnya pada Disya terdahulu.


Rangga yang memutuskan untuk Quality time bersama keluarganya dan mengelola rumah sakit. Serta nasya pun ikut andil dalam mengelola rumah sakit. Butik yang dia tangani saat ini di kelolah sahabatnya penuh karena dirinya ingin fokus pada si kembar dan Flo. Kebahagiaan mereka adalah tujuan rangga dan Nasya.


Disya pun memilih untuk membuka jalan bagi Habibie untuk mendekatinya dan menerima tawaran Rangga untuk kembali ke rumah sakit sebelum tragedi terjadi.


Wah ... Sudah end ini yah !!! makasih yang sudah mengikuti kisah dokter rangga dan Nasya. Semoga bisa menghibur. Thank you dukungan kalian untuk author semoga di balas dengan kebaikan yang lainnya.

__ADS_1


Untuk serial berikutnya kita akan mengikuti kisah Cinta klasik pemuda desa. Kisah dari putra gus izdi dan Flo putri dari dokter rangga. Ikutiiii terus yaaaa maksih loh.


__ADS_2