Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 38


__ADS_3

Rangga menatap Disya yang tidak mengakui saudaranya. Ada apa sebenarnya diantara mereka. Rangga hanya tersenyum menanggapi semua itu. Dia anggap juga tak mengetahui apa yang sedang terjadi.


Ting.


Ada pesan masuk di ponsel rangga yang membuat lamunannya tentang Disya di hadapannya jadi buyar alias lewat. Rangga tersenyum sambil membuka pesan masuk itu. Dia membaca isinya sehingga mengernyitkan alis.


" Mas ... Nanti belanja buat makan sahur ya? Di dapur bahan makanannya banyak yang kosong," pesan itu masuk membuat rangga merasa punya istri sungguhan.


Saat rangga menanggapi pesan via whatshapp itu Disya menatapnya dengan cemburu.


" Jam berapa belanjanya?" balas rangga dengan mode dingin.


" Sepulangnya mas saja," jawab Nasya lagi.


" Manisnya kalau sudah dapat jatah. Mau lagi ya nanti?" goda Rangga sambil senyum-senyum yang membuat disya kian memanas.


" Eh .... " Nasya tak menanggapi lebih dari ini.


Rangga hanya menggeleng dia yakin kali ini istrinya cantiknya itu malu. Wajah kayak kepiting rebus. Karena semenjak tadi pagi dia selalu menggodanya habis-habisan. Namuj senyumannya terhenti saat Disya menyapanya.


" Kok ... Senyum sendiri kak?" tanyanya.


" Oh ... Ini. Istri saya di romantisin malah gak bisa balas. Mungkin saat ini dia udah malu banget,"ucapnya bersemangat.


Gemuruh di hati Disya rasanya membuncah. Dia merasakan cemburu pada rangga dan kecemburan lebih pada sepupunya itu. Dia merasa kali ini Nasya mencuri hatinya kembali. Dia selalu menang dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Disya merasa tersungut dan memilih keluar dari ruangan dokter rangga.


Rangga tak begitu menghiraukannya. Hari ini dia merasa power pull up untuk pekerjaannya. Di tambah lagi wajah malu Nasya terbayang-bayang di benaknya. Seakan-akan rangga ingin kembali menggodanya dan segera pulang. Sàat rangga di parkiran ...


" Buru-buru amat pak!" sapa dokter Ryan sambil senyum menggoda.


" Iya dong nyamperin istri. Masak kayak loh jomblo akut," sungut rangga pada Ryan dokter spesialis saraf. Ganti dari izdi sahabatnya.


" Ya ... Elah jangan gitu dong bro. Beneran lagi malas nikah ribet banget kayaknya," keluh dokter Ryan. " Melihat kalian yang seperti ini rasanya kenyang hidup gue. Hahahah," tawa ryan pecah. Membuat rangga menggeleng.

__ADS_1


" Sialan Loh yan ... Udah ah gue balik!" pamit rangga yang tergesa-gesa. Ryan hanya menggelengkan kepala saat dia melihat rangga bahagia. Sudah lama laki-laki itu hidup dalam sebuah keseriusan.


" Kenapa dok?" tanya Disya pada Ryan.


" Oh, dokter Disya. Itu dokter Rangga akhirnya bisa kembali tersenyum seperti sudah lama dia tak seperti itu. Duluan ya dok permisi!" pamit Ryan pada Disya. Gadis itu hanya mengangguk dan terlihat mengepalkan tangannya.


" Nasya ... Kamu keterlaluan," lirihnya dengan mata berembun saat mengetahui orang yang di cintainya nampak bahagia dengan saudaranya sendiri.


Dalam perjalanan pulang rangga menikmati sorenya sambil menatap senja dan lampu merah. Entah mengapa semenjak menyentuh Nasya rasanya hati rangga berbunga-bunga. Pernikahan ini bukanlah yang pertama. Dulu saat bersama rubi setiap hari rangga berusaha membahagiakan istrinya tanpa memperdulikan kebahagiaannya. Saat ini bahkan dia tak membalas banyak kebahagiaan pada nasya tapi rangga-lah yang justru mendapatkan kebahagiaan itu.


Sesampainya di apartemen miliknya.


" Hai .. Flo!" sapa rangga pada si kecil yang kemudian mendekati rangga.


Gadis kecil itu nampak bahagia saat di gendong oleh papinya. Nasya yang baru saja membuatkan makan sore untuk si kecil memberikannya pada si mbak.


" Mau keluar jam berapa mas?" tanya Nasya pada rangga.


" Sekarang gapapa sya. Mbak nitip Flo ya saya sama maminya flo mau belanja sebentar," ucap Rangga. Namun nasya malah mengatakan sesuatu yang membuatnya meng-wow dengan ucapannya.


Saat berada di kamar dia menatap istrinya yang sedang membersihkan wajahnya. Nasya yang merasa di lihat langsung mengutarakan isi hatinya.


" Mandilah mas! Tidak mungkinkan kamu keluar dengan capek dari rumah sakit di bawah keluar lagi," ucap nasya sambil melihat cermim karena sedang berias.


" Kenapa ya? Aku merasanya kamu lagi jahil sama aku bahkan merintah-merintah lagi. Benar gak sih? Jangan hanya karena semalam sudah jadi di manfaatin," ucap rangga sambil mengernyitkan alisnya.


" Ya ... Enggaklah. Uang kamu kan di keluarkan untuk membahagiakan anak dan istri. Ntar uangnya juga balik lagi. Mau dapat pahala kan? Ya gini caranya mas," jawabnya dengan enteng. Rangga menggeleng dan beranjak ke kamar mandi namun rangga tiba-tiba saja meng-kiss pipi nasya.


" Cari pahala!" serunya pada nasya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Nasya membeo di buatnya.


Sebenarnya apa yang dia lakukan. Sinting kali ya suamiku. Ya Allah baru juga sehari lihat aneh. Hari ini makin aneh apalagi nanti.


" Jangan mengutukku! Hatimu sajaa bisa ku baca. Suruh hatimu diam suaranya sampai ke dalam sini!" serunya di dalam kamar mandi.

__ADS_1


" apa iya ... Kedengaran. Wah, ndak bener ini dia pasti punya hal Ghaib kenapa bisa-bisanya baca hati orang," keluh Nasya di luar kamar.


1 jam berlalu kini rangga dan keluarganya bersiap untuk pergi ke supermarket. Si mbak dan flo yang di ajak turut bahagia sekali. Bahkan kedua orang tua itu bisa menghembuskan kembali udara segar.


" Mbak tunggu di tempat permainan ini ya? saya ke sana dulu. Nanti kalau ada apa-apa kabari mbak," Ucap rangga dengan tegas.


Beda halnya nasya dengan rangga. Kedua orang itu sangatlah perfect baginya. Pertanyaanny mereka berdua sudah saling bertukar saliva tidak? Jika tidak !atau bahkan pura-pura tidka tahu.


Rangga mengekor kemana pun istrinya melangkah. Nasya nampak lihai memilih sayuran. Mulai dari lobak dan perintilannya. Dia juga mengambil daging segar dan buah-buahan.


" Masih lama?" tanya rangga.


" Tinggal beberapa mas. Capek ya?" tanya Nasya dengan menatap suaminya. Rangga mengangguk tiba-tiba saja jiwa kekanakannya muncul begitu sajaa.


" Istirahat sana ya mas! Jangan capek-capek," ucap nasya sambil memegang tangan suaminya. Tapi malah perhatian nasya membuat hati rangga berdesir.


" Gak ada tempat duduk," jawabnya singkat.


Nasya menghela nafas saat rangga nampak mencebik.


" Ada mas sebelah sana!" tunjuk nasya sambil menggandeng suaminya. Rangga mencegah tangan Nasya.


" Aku baik-baik saja. Ayo kita lanjut belanja!" rangga menggandeng istrinya kembali. Dia memeluk pundak istrinya. Sebenarnya nasya malu tapi dia mencoba menetralisirnya sendiri supaya tak kelihatan canggung.


" Kenapa?" tanya rangga saat melihat nasya nampak kaku.


" Malu mas," jawabannya membuat rangga berhenti.


" Kamu malu? Punya suami seganteng aku sya? Aku masih kelihatan muda loh sya," jawabannya membuat nasya terkejut dan menatapnya intens.


Suami Gak jelas. Bisa-bisanya ngomong tampan di depan umum. Dasar mantan duda aneh. Kok betah sih mbak rubi hidup dengan orang nyebelin kayak dia. Hadehh. Batin nasya saat ini.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya ya thank you.


__ADS_2