Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
35


__ADS_3

Sudah beberapa hari setelah malam itu hubungan Bella dan Elang semakin merenggang. Bella sudah kembali ke rumahnya sedangkan Elang juga tidak ada niatan untuk menemui Bella.


Bella susah masa bodoh tentang hubungannya dengan Elang, tapi ia lupa jika kembali ke rumahnya juga harus berhadapan dengan manusia-manusia terlicik di dunia ini.


"Bagaimana? Sudah kau pikirkan tentang tawaranku?" Mirna tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Bella.


"Tapi ada satu syarat!!" Ucap Bella tanta menatap wajah Mirna yang menurut Bella begitu menjijikkan.


"Katakan!!"


"Aku hanya ingin rumah ini, terserah jika kau mau mengambil semuanya" Bella menahan rasa kecewa di hatinya karena tidak bisa mempertahankan harta peninggalan orang tuanya.


"Itu hal kecil. Aku juga tidak butuh rumah ini!!" Mirna melemparkan satu buah map berisi surat perjanjiannya dengan Bella.


"Cepat tanda tangani surat itu, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi!!" Mirna menatap Bella dengan jengah.


Tanpa banyak kata lagi Bella dengan yakin membubuhkan tanda tangannya setelah menuliskan dengan tangannya sendiri hak atas rumahnya itu.


"Bagus, kau manis jika penurut seperti ini" Mirna merebut map itu kembali. Membaca kembali isi surat itu dengan wajah sumringah karena tujuannya selama ini sudah tercapai.


"Ingat!! Jagan pernah sentuh mereka, apalagi Dito!!" Ucap Bella dengan tatapan tajamnya.


"Kau tenang saja, selama anak itu tidak berbuat ulah maka dia akan aman. Tapi sekali saja dia mengusikku maka kau tau sendiri apa yang akan aku lakukan!!" Mirna tersenyum dengan liciknya.


"Dasar iblis!!" Bella menyambar tasnya lalu pergi meninggalkan Mirna yang masih berada di dalam kamarnya.


Sungguh sial bagi Bella saat baru saja terlepas dari induk iblis kini dia harus di hadapkan dnegan anaknya. Terlebih lagi saat ini dia sedang bersama Elang, seseorang yang sangat ia hindari beberapa hari ini.


Bella menuruni anak tangga dengan tenang, berusaha untuk tak peduli dengan kedua orang yang sedang bermesraan di sofa ruang tamu itu.


Tanpa sepatah katapun Bella melewati mereka berdua. Bella tak ingin melihat Elang yang sedang mencumbu wanita murahan itu.


"Kenapa sayang?" Marisa kaget karena Elang tiba-tiba melepaskan ciumannya setelah tadi Elang jiga tiba-tiba menciumnya.


"Sorry Ca, aku pergi dulu!!" Elang tak menghiraukan Marisa yang terus memanggilnya ia terus mengejar Bella.


BRAKK..

__ADS_1


Elang menutup kembali pintu mobil yang telah di buka Bella. Tangannya masih menghalangi Bella untuk membukanya kembali.


Bella hanya diam tertunduk tak mau menatap Elang. Ia juga tidak mau mendebatnya seperti biasa.


"Kamu menghindari ku?" Elang lekas bersuara.


"Bukankah ini yang kamu mau?" Ucap Bella dengan suaranya yang lembut.


"Hahaha.. kenapa sekarang kamu jadi wanita lemah seperti ini? Kamu mau menutupi keburukan mu dengan berpura-pura menjadi wanita lemah lembut dan baik hati begitu?" Ucap Elang dengan sinis.


"Terserah mau bilang apa, yang jelas aku sudah menuruti permintaanmu" Bella mencoba menyingkirkan tangan Elang dadi pintu mobilnya namun sia-sia karena tangan itu begitu kuat.


"Jadi itu bukan mimpi? Aku benar-benar mengatakan itu sama Bella?" Batin Elang yang mengingat kilasan saat dia meminta Bella untuk pergi darinya. Elang kira itu hanyalah mimpi belaka.


"Lalu apa mau mu sekarang?" Tanya Elang.


"Terserah, jika kau ingin menceraikan ku juga terserah. Yang jelas sekarang biarkan aku pergi!!" Ucap Bella sekali lagi tanpa melihat Elang yang berada di sebelahnya.


"Kalau bicara yang sopan, lihat aku!!" Tegas Elang.


Bella sungguh tidak tau apa maunya pria satu ini. Bukankah dia sendiri yang menyuruhnya pergi, tapi kenapa saat ini justru Elang yang merecokinya lagi.


Bella sudah mulai jengah dengan sikap Elang yang berubah-ubah. Tapi hanya satu yang tak pernah berubah darinya, yaitu selalu menghina dan beranggapan buruk tentang Bella.


"Kenapa sekarang kau berubah pasrah seperti ini? Apa tujuanmu itu sudah tercapai?" Tanya Elang tak pernah menghilangkan tatapan tajamnya dari Bella.


"Itu bukan urusanmu!! Minggir!!" Bella mendorong badan Alam dengan sekuat tenaga agar menjauh dari pintu mobilnya.


Dengan cepat Bella memasuki mobilnya, meninggalkan Elang yang mengeram menahan amarahnya.


Elang tak putus menyerah, dia memilih mengikuti Bella daei jarak cukup jauh agar Bella tidak menyadarinya.


Ini untuk pertama kalinya mereka saling berhadapan setelah lebih dari satu minggu Bella menghindarinya. Dan parahnya adalah mereka tetap berdebat seperti biasanya.


Elang terus mengikuti Bella hingga mobil milik Bella itu berhenti di sebuah restoran yang tidak asing bagi Elang. Karena Elang ingat jika pernah bertemu Bella di sana.


Elang turun dari mobilnya, tetap mengawasi Bella dari kejauhan. Dia ingin tau siapa orang yang akan di temui Bella. Elang mengatakan jika dia tidak pernah peduli dengan Bella, tapi nyatanya hatinya berbeda dan Elang tidak pernah menyadari itu semua.

__ADS_1


Elang duduk agak jauh dari Bella, ia bisa melihat dengan jelas Bella duduk sendirian di sana. Tapi untuk suara, Elang tidak bisa mendengarnya dari jarak sejauh itu.


Tak lama kemudian ada seorang pria yang mendekat lalu duduk di depan Bella. Pria berkacamata yang masih asing menurut Elang. Pria itu adalah......


"Dito, aku mohon sama kamu jangan nekat Dit!!"


"Terus aku harus gimana lagi Bell? Apa tujuan kita harus hancur begitu saja?? Sementara kamu teman satu-satunya yang menemaniku berjuang sudah menyerah, lalu aku harus diam begitu saja??" Dito mengusap wajahnya frustasi.


"Dit, dia___"


"Sudahlah Bella, apapun yang terjadi, mau dia mem***uhku atau apapun itu aku sudah tidak peduli lagi. Lagi pula tidak ada yang aku perjuangkan lagi di hidupku selain keadilan untuk Ayahku. Lalu mau apa lagi?" Ucap Dito putus asa.


"Dasar keras kepala!!" Bentak Bella.


"Walau kamu hanya hidup sendiri di dunia ini kamu masih punya aku, ada Mita juga. Kita sahabatmu Dit!! Jangan pernah merasa hidup sendirian di dunia ini!!" Ceramah Bella yang di tanggapi sinis oleh Dito.


"Kamu nggak ngaca Bell? Bukannya kamu juga sering menyerah sama hidup kamu?? Kamu sok kasih nasehat tapi hidup kamu sendiri hancur!!


Perkataan Dito sungguh memukul keras hati Bella, bukan marah tapi Bella lebih membenarkan ucapan Dito itu. Seolah-olah dia kuat dalam menghadapi semua masalahnya tapi nyatanya? Bella juga sama-sama lemah dalam hal itu.


Sementara Elang yang masih fokus memperhatikan dua orang yang sedang berdebat itu sama sekali tidak tau apa yang mereka bicarakan.


"Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Kenapa Bella terlihat membentak laki-laki itu? Dan siapa dia?" Elang bermonolog dalam hatinya.


Namun Elang membelalakkan matanya, seperti menemukan sesuatu.


"Apa dia laki-laki yang sama yang menabrak ku waktu itu? Apa dia yang berinisial D itu?"


-


-


-


-


-

__ADS_1


Happy reading, jangan lupa tinggalkan like untuk selalu mendukung kara ini😊😊😊


__ADS_2