
Dua wanita itu berjalan mendekati ranjang Bella. Raut kesedihan tergambar jelas di wajah kedua orang itu.
Elang semakin bingung, kenapa dua orang asing itu terlihat bersedih untuk keadaan Bella.
"Kak, apa Kak Bella sedang tidur?? Kenapa dia tenang sekali??" Tanya wanita berhijab itu pada Mita.
Mita memberikan tatapan sendunya. Dia sebenarnya tidak mampu untuk menjelaskan keadaan Bella yang seperti itu.
"Tidak Sit, Bella saat ini sedang koma" Jawab Mita dengan suaranya yang samar-samar.
"Apa mbak, koma??" Kaget wanita satunya lagi. Mita mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.
"Sebenarnya kalian itu siapa?? Kenapa mengenal istri saya?? Setau saja istri saya tidak mempunyai sanak saudara dan teman selain Mita" Tanya Elang dengan rasa penasarannya yang tinggi
"Jadi ini suaminya Mbak Bella?" Batin salah satu wanita itu.
"Saya Sintia dan ini Siti, kami berdua memang bukan sanak saudara dari Mbak Bella. Tapi kami hanya dua orang yang hidup dari belas kasihan istri Bapak ini"
Jelas wanita bernama Sintia itu, namun itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Elang.
"Dia Sintia, dia adalah penanggung jawab di restoran baru milik Bella. Dia baru dikenal Bella beberapa bulan yang lalu" Mita membantu menjelaskan.
Elang ingat jika Bella sempat membuka restoran baru-baru ini.
"Tapi kenapa Bella memberikan tanggung jawab padamu kalau dia baru saja mengenalmu??" Selidik Elang karena merasa ada yang aneh dengan sikap sintia.
"Sebenarnya saya hanya sampah yang tak berguna sebelum bertemu dengan Mbak Bella" Ucap Sintia dengan sendu.
"Cukup Sintia. Jangan berkata seperti itu lagi. Bella akan marah jika mendengarnya!!" Tegas Mita.
"Lanjutkan, aku hanya ingin tau semua tentang istriku. Dulu aku begitu bodoh karena melewatkan begitu banyak hal" Perintah Elang.
Elang rasa, dia memang harus menggali sebanyak mungkin dari orang-orang di sekitar Bella. Agar dia bisa menghadapi Bella dengan segala keistimewaan yang dia sembunyikan.
"Baiklah kalau Bapak ingin mendengarkan cerita kelam saya. Dan ini juga untuk mengingatkan saya betapa berjasanya Mbak Bella untuk saya"
Sebelum mulai menceritakan kehidupannya yang pahit, Sintia melihat satu persatu orang yang ada di sana termasuk Nadia yang memberikan senyum tulus untuknya.
__ADS_1
"Dulu saya hanyalah perempuan yang bekerja di rumah bordir"
Satu kalimat itu mambu membuat Elang terkejut. Tapi dia masih tetap diam untuk mendengar kelanjutan cerita wanita itu.
"Saya masuk ke sana karena di jual oleh Bibi saya demi melunasi semua hutangnya. Di sana saya di paksa merawat diri berhari-hari agar siap di jual pada lelaki hidung belang. Selama beberapa hari itu saya di kurung di sebuah bangunan yang ketat dengan penjagaan dan jauh dari keramaian. Hingga tiba waktunya saya akan di antar ke salah satu penikmat wanita malam. Saya di sana terus berusaha untuk menghindari pria-pria tua bangka yang haus belaian itu. Berbagai cara saya lakukan agar mereka tidak menyentuh saya"
Sintia tak sanggup jika mengingat masa-masa kelamnya itu.
"Saya berpikir keras bagaimana caranya untuk melarikan diri dari sana. Mungkin satu dua kali saya bisa lolos dari pria-pria itu. Tapi tidak mungkin akan seterusnya seperti itu. Kemudian saya punya satu kesempatan saat para penjaga lengah. Saya pergi dari sana tanpa mau menoleh ke belakang, yang saya pikirkan saat itu hanya bagaimana caranya saya pergi jauh dari sana"
"Saya terus berlari hingga kaki saya lecet karena saya membuang sepatu ber hak tinggi itu. Saat saya sudah tidak mampu lagi berdiri, di saat itulah Tuhan mengirimkan malaikatnya. Saya tidak tau datang dari mana tiba-tiba Mbak Bella sudah ada di depan saya. Saya masih ingat dengan jelas sekali dia tersenyum dengan cantik sambil mengulurkan tangannya untuk membantu saya berdiri"
FLASHBACK ON
"Terimakasih Mbak" Sintia menerima satu botol air mineral yang di berikan Bella.
"Kamu sebenarnya mau kemana?" Kini mereka berdua duduk di depan sebuah minimarket setelah Bella membawa Sintia pergi jauh dari tempat Sintia terjatuh.
"Sebenarnya saya...."
Semua pesakitan Sintia lepas begitu saja dari bibirnya di hadapan Bella. Sintia bahkan sama sekali belum mengetahui siapa nama wanita yanga ada di depannya itu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tanya Bella.
"Saya tidak tau Mbak, mungkin saya akan pergi sejauh mungkin agar tidak bertemu dangan orang-orang itu. Saya tidak ingin menyerahkan harga diri saya begitu saja pada mereka"
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberimu uang agar kamu bisa pergi jauh dari sini" Bella membuka tasnya untuk mengambil dompet.
"Tidak Mbak. Saya memang butuh uang. Tapi saya tidak ingin mengemis. Saya akan berkerja dulu agar saya mendapatkan uang untuk pergi jauh" Sintia merasa sedih jika ada orang yang ingin membantunya dengan cuma-cuma. Dia bukan orang yang semenyedihkan itu.
"Kalau begitu, coba ceritakan padaku. Apa keahlian yang kamu miliki?? Pekerjaan seperti apa yang akan kamu dapatkan jika kartu identitas saja kamu tidak punya"
"Saya pandai memasak Mbak, saya bisa berbagai macam masakan yang di ajarkan ibu saya dulu. Saya juga sempat ikut sekolah memasak sebelum ibu saya meninggal dan jatuh ke tangan Bibi saya Mungkin saya bisa menjual keahlian saya itu" Cerita Sintia dengan mata berbinar
FLASHBACK OFF
"Kemudian Mbak Bella membuatkan saya sebuah restoran yang saya kelola saat ini. Mbak Bella membantu saya tanpa menjadikan saya seorang pengemis. Saya bekerja dan saya di gaji dengan semestinya. Bahkan saja bisa mengajak adik-adik saya yang saya temui di rumah bordir itu untuk bekerja di sana"
__ADS_1
Cerita Sintia itu membuat mereka semua tersenyum haru dengan kebaikan yang di lakukan Bella.
Elang semakin bangga dengan apa yang dilakukan Bella. Memang benar apa kata Mita, jika apa yang kita lihat belum tentu sebuah kebenaran. Bella memang terlihat angkuh dan tak tersentuh. Tapi sesungguhnya hatinya bagaikan malaikat yang tak segan menolong siapapun.
"Lalu kamu siapa??" Perhatian Elang kini beralih pada wanita berhijab yang terlihat masih muda itu.
"Saya Siti Pak. Saya Anak jalanan yang sejak dulu di biayai sekolah oleh Kak Bella hingga saat ini saya kuliah juga karena bantuan Kak Bella" Jawab Siti menunduk karena takut dengan tatapan tajam itu
"Ahhh aku ingat dia. Dia gadis yang berada di perkampungan kumuh itu. Bella juga sempat memberikannya sejumlah uang" Batin Elang.
"Lalu, apa Bella melakukan semua itu dengan cuma-cuma??" Tanya Elang lagi.
"Kak Bella memang tidak meminta saya mengembalikan semua uang yang diberikannya untuk biaya sekolah saya, tapi Kak Bella meminta saya agar menyalurkan ilmu yang saya dapat dari sekolah untuk anak jalanan seperti saya. Maka dari itu, Kak Bella selalu memberikan uang lebih untuk membeli buku dan alat tulis yang di bagikan untuk anak-anak jalanan di sana"
Cerita siti itu membuat Nadia menangis terharu, dia bahkan berkali-kali mencium kening Bella.
"Tapi kenapa Bella tidak membawa anak-anak itu ke panti sosial saja. Mereka bisa lebih terurus di sana"
"Itu karena mereka masih punya orang tua yang menjadi wali mereka" Ucap Mita.
"Rencana Bella akan membuka sekolah gratis di sana. Yang nantinya akan di khususkan untuk anak-anak tidak mampu terutama anak jalanan. Tapi semua itu hanya tinggal rencana karena semua uangnya sudah di ambil Mirna. Usaha miliknya hanya tersisa restoran dan butik miliknya saja" Jelas Mita dengan sedih.
Elang tidak lagi banyak bertanya. Dari cerita mereka saja sudah cukup membuktikan betapa baiknya wanita yang selalu dihinanya itu.
Elang kembali mendekati Bella, berbisik di telinga yang pemiliknya masih tertidur dengan damai itu.
"Bangunlah sayang, banyak orang yang mendoakan mu. Sudah banyak kejutan yang aku terima saat baru dua hari kamu terbaring seperti ini. Mau berapa banyak lagi kebaikanmu yang harus aku dengar??"
"Berhentilah membuat aku semakin malu. Dan cepatlah bagun agar aku bisa membalas mu"
-
-
-
-
__ADS_1
Happy reading😊