
Hari sudah semakin gelap dan dua insan manusia yang kelelahan memadu cinta itu belum juga berniat untuk keluar dari selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Kak" Panggil Bella yang berada di pelukan Elang.
"Hemm" Elang hanya menggumam dengan matanya yang masih terpejam.
"Kakak nggak mau mandi dulu?" Tanya Bella, menoel-noel dada Elang yang tak tertutup kain itu.
"Mau, tapi sama kamu" Ucapan Elang itu membuat Bella menyesali pertanyaannya tadi.
"Kalau gitu aku yang mandi dulu" Bella berusaha melepaskan tangan Elang di pinggangnya.
"Mau kemana kamu??" Elang membuka matanya dan menatap Bella dengan tajam.
"Mandi" Jawab Bella tanpa mau melihat Elang yang sedang menatapnya.
"Aku bilang mandi berdua" Tegas Elang.
"Kak, aku bisa kok mandi sendiri" Elak Bella, dia memang sudah melakukan itu dengan Elang, tapi untuk mandi berdua dia masih malu.
"Iya kamu mandi sendiri tapi aku juga ikut mandi sama kamu" Tanpa aba-aba tubuh Bella sudah melayang karen Elang menggendongnya dengan tiba-tiba.
"Kaaakkk!!!" Teriak Bella karena terkejut.
Elang tidak menghiraukan teriakan Bella itu, dia terus saja membawa Bella ke kamar mandi. Entah mereka benar hanya mandi atau lebih dari itu hanya mereka yang tau.
-
-
Setelah selesai dengan ritual mandi berdua mereka yang memakan waktu satu jam itu, kini Bella duduk di balkon kamarnya tanpa kursi roda. Dia sudah bisa berjalan dengan berlahan meski harus mencari pegangan sebagai tumpuannya.
"Boneka itu untuk siapa??" Elang datang membawa dua cangkir teh hangat untuk Bella dan dirinya sendiri.
Sejak kemarin Elang melihat Bella merajut boneka kecil berwarna putih.
__ADS_1
"Mungkin kamu nggak percaya ceritaku ini, tapi saat aku terbaring di rumah sakit aku mimpi ketemu sama Mama dan Papa" Bella menatap Elang yang ternyata serius mendengarkan ceritanya.
"Iya, lalu apa yang mereka katakan??" Elang menanggapi cerita Bella. Dia percaya mimpi Bella itu nyata karena dia juga bermimpi bertemu Bella sebelum Bella dinyatakan meninggal waktu itu.
"Mereka bilang kalau aku harus hidup bahagia, jangan terpuruk pada masa lalu karena mereka juga sudah bahagia di sana"
"Bukankah itu pesan yang bagus, tapi boneka ini??" Tanya Elang lagi.
"Iya tentu saja, aku jadi lebih mengikhlaskan kepergian mereka. Dan boneka ini" Bella menjeda kalimatnya, dia merasakan kesedihan menyeruak di dalam hatinya.
"Papa dan Mama menggandeng anak perempuan berambut panjang yang masih sangat kecil. Dia cantik sekali, dia membawa boneka kecil seperti ini" Tangan Bella meraih wajah Elang.
"Dan kamu tau nggak?? Dia miriiiiipppp banget sama kamu. Matanya, hidungnya, bahkan bibirnya juga mirip denganmu" Bella menyentuh satu persatu yang disebutkannya tadi. Matanya sudah berair mengingat dengan jelas wajah gadis kecil itu.
"Apa mungkin dia itu......??" Elang merasakan hatinya pedih mendengar penuturan Bella itu. Dia juga sangat merasa kehilangan janin yang di kandung Bella itu.
"Aku tidak tau. Mama hanya bilang, kelak dia yang akan menjemput ku di pintu surga" Elang langsung meraih Bella ke dalam dekapannya. Air mata mereka sudah tidak bisa di sembunyikan lagi. Rasa kehilangan itu benar-benar menyiksa perasaan mereka.
"Itu pasti anak kita sayang, dia menunggu kita di sana" Ucap Elang dengan tangisan tanpa suaranya.
Elang mengurai pelukannya setelah merasakan Bella sedikit tenang.
"Sudah sayang, kita ikhlaskan dia ya?? Biarkan dia bahagia di sana. Kalau kamu sedih begini pasti dia juga merasakan hal itu" Elang mengusap air mata Bella dengan jarinya.
"Kalau kamu mau aku bisa kamu lagi, bahkan dua atau lebih juga bisa. Yang sama cantiknya kaya kamu atau sama gantengnya kaya Papanya" Elang berusaha menghibur Bella dengan candaannya itu. Sebenarnya juga bukan seratus persen bercanda, Elang juga sungguh-sungguh menginginkan hadirnya anak di antara mereka.
"Apaan sih Kak, pede banget sih" Bella menepuk paha Elang dengan pelan.
"Kamu jangan menggodaku lagi sayang, kalau kamu nggak mau lemas di tempat tidur sampai pagi" Ancam Elang karena tepukan Bella di pahanya ternyata membangunkan hiu paus di bawah sana.
Bella bergidik ngeri mendengar ancaman Elang itu. Dia sedikit menggeser duduknya menjauh dari Elang.
"Kenapa jauh-jauh hemm??" Bella kalah cepat dengan Elang. Pria itu sudah lebih dulu menarik kembali Bella ke dalam dekapannya.
"Sayang, apa kamu nggak ingin ada sesuatu yang tumbuh di sini lagi??" Tanya Elang mengusap perut Bella yang rata itu.
__ADS_1
"Itu sudah pasti. Aku ingin sekali merasakannya tumbuh di sini, aku ingin menebus kesalahanku dulu yang tidak sempat mengetahui kehadirannya. Tapi" Tangannya menggenggam erat tangan Elang yang berada di perutnya. Bella tampak ragu dengan ucapannya itu.
"Tapi apa??"
"Melihat kondisiku seperti ini apa aku mampu Kak??" Tanya Bella dengan sedih.
"Sayang, lihat perkembangan kamu sekarang ini. Kamu sudah bisa berjalan meski masih pelan. Tidak akan ada yang membatasi kemampuan seseorang sayang. Jika Allah mengizinkan kamu untuk memilikinya, Allah pasti memberikan kamu kemampuan untuk merawat dan menjaganya. Lagi pula aku selalu ada di sampingmu. Aku akan melindungi dan menjaga mu. Jadi jangan ragu untuk melakukan apapun" Lagi-lagi Elang yang selalu menghilangkan keraguan di hati Bella itu.
"Kamu janji?? Janji akan selalu di sampingku apapun yang terjadi?? Misalnya aku sama sekali tidak bisa berdiri saat hamil besar kamu mau jadi kakiku??" Bella menatap suaminya itu dengan begitu dalam.
"Bahkan aku bersedia menjadi kedua tangan dan kakimu sekaligus" Ucap Elang dengan tegas.
Tak ada jawaban lagi dari Bella. Dia hanya menghambur ke pelukan Elang dengan penuh haru karana terlalu bahagia. Bella tidak menyangka hubungannya dengan Elang akan berakhir seperti ini.
"Jadi apa kamu mau punya baby lagi sayang??" Tanya Elang pada Bella yang masih menyandarkan kepalanya pada dadanya.
Bella mengangguk pasti di dalam pelukannya itu. Membuat Elang tersenyum lebar kemudian mengecup kening Bella berkali-kali.
"Sayang, setalah ini aku harus selalu menjaga kesehatan ku karena aku akan ada proyek yang sangat besar dan aku pasti akan sangat sibuk dengan itu" Ucap Elang dengan serius membuat Bella melepaskan pelukannya.
"Proyek?? Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu menemaniku?? Kalau kamu sibuk dengan proyek kamu, terus aku gimana??" Bella sudah ingin menitikkan air matanya. Elang barus aja berjanji untuk selalu menjaganya malah kini berkata akan sibuk dengan proyeknya.
"Kenapa kamu sedih?" Elang mencakup kedua pipi Bella.
"Aku sedih karena kamu pasti akan jarang ada waktu untukku karena pekerjaanmu itu kan??" Tanya Bella dengan sendu.
"Heyyy kata siapa?? Itu tidak mungkin. Justru aku akan selalu di dekat kamu, melekat padamu 24 jam" Elang tau istrinya itu tidak paham dengan apa yang dia maksud.
"Maksud kamu??" Bella mengernyitkan keningnya kebingungan.
"Proyek aku itu, proyek bikin anak" Bisik Elang di telinga Bella.
"Ihhhhh!!" Bella mencubit pinggang Elang yang berotot itu dengan keras membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Awwwww sakit sayang!!"
__ADS_1