Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
66


__ADS_3

Nasib dan masa depan Marisa kini sudah benar-benar hancur. Di masa mudanya kini seharusnya dia sedang menikmati hasil kerja kerasnya, hidup penuh cinta dengan pasangannya. Tidak seperti sekarang ini.


Duduk termenung di dalam sel berbaur dengan orang-orang yang tercatat sebagai pelaku kejahatan.


Menyesal pun tiada guna. Memang sesal selalu datang di akhir. Dia marah dengan Mirna, karena sebagai seorang Ibu, dia telah menjerumuskan Marisa ke dalam lubang yang sama dengan Mirna. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Marisa menyalahkan dirinya sendiri karena menuruti hasutan Ibunya itu.


Hingga saat ini Marisa masih menolak untuk bertemu dengan Mirna. Ada rasa benci di dalam hatinya. Dia tidak ingin kebencian itu semakin bertambah jika bertatap muka dengan Mirna.


"Semua ini gara-gara Mama, aku harus mendekam di penjara ini karena ulah Mama. Aku benci, aku benci, BENCIIIIIIII" Teriak Marisa mengacak rambutnya.


"AKU BENCI MAMA!!" Marisa semakin histeris di dalam sel itu.


Dia menyesali semua kejahatannya. Bayang-bayang dia menyakiti Bella juga selalu menghantuinya.


Dia kini sendirian di dunia ini. Walau kelak dirinya di bebaskan pasti tidak akan menerimanya lagi. Mirna sudah pasti mendekam seumur hidup bersama Santoso. Dua orang yang hanya di miliki Marisa di dunia. Rasa ketakutan itu yang kini Marisa rasakan semakin menekan hatinya.


"AKU BENCI MAMA!! MAMA JAHAT!!" Teriak Marisa semakin histeris.


Rekan satu selnya pun ketakutan dengan Marisa yang mulai tidak terkendali.


"TOLONG!! TOLONG DIA MENGAMUK!!" Teriak salah satu napi yang bersama Marisa.


Tak kama kemudian dua orang sipir perempuan datang utuk mengeluarkan Marisa dari sel itu. Mereka membawa Marisa ke ruangan khusus agar Dokter memeriksa kejiwaannya.


Karena ini sudah ke dua kalinya Marisa berteriak seperti itu. Menurut pemeriksaan awalnya, Marisa dinyatakan mengalami depresi. Namun jika kejadian ini terus berulang maka Marisa akan di masukan ke sel isolasi atau yang lebih parah rumah sakit jiwa.


-


-


Setelah 5 hari berada di rumah sakit Elang sudah di ijinkan pulang. Walau dalam masih duduk di kursi roda, Bella tetap setia menemani Elang di rumah sakit.


"Maafkan aku Kak, niatnya aku ingin menemanimu tapi aku justru menyusahkan yang lain. Ini yang aku takutkan, dengan keterbatasanku ini aku tidak bisa merawat mu"


Duduk berdua di ranjang dan saling bertukar cerita dengan pasangannya adalah impian Bella sejak dulu. Dan hari ini impiannya itu terwujud.


Elang orang yang dicintainya berada disampingnya, menemaninya dengan penuh cinta.


"Jangan bilang begitu, kamu sama sekali tidak merepotkan siapapun. Aku senang kamu selalu ada di sampingku" Ucap Elang. Dia tidak ingin Bella patah semangat lagi dengan keadaannya saat ini.


"Kakak yang minta maaf karena kemarin tidak bisa menemani kamu terapi" Sesal Elang.

__ADS_1


Kemarin memang jadwal Bella melakukan terapi, tapi Mita yang menggantikan Elang untuk menemani Bella.


"Tidak papa Kak. Besok kalau kamu sudah sembuh, kamu boleh kok temenin aku lagi" Ucap Bella dengan lembut.


Elang tersenyum senang memandangi istrinya itu. Hubungannya dengan Bella kian membaik. Apalagi Bella sudah benar-benar menerima Elang lagi. Dia sudah bertekad untuk tetap menjalani rumah tangganya dengan Elang.


"Kak, masalah Marisa dia___"


"Kamu tidak usah pikirkan. Dia sudah ada yang mengurusnya. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka lepas lagi. Mereka tetap akan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya" Jelas Elang pada istri tercintanya itu.


"Iya Kak" Jawab Bella patuh.


"Apa ada perkembangan pada Kakimu??" Elang bergeser dan duduk bersila di depan Bella. Menyibak selimut yang menutupi Kaki Bella itu. Lalu memijatnya pelan.


"Sedikit, sekarang aku sudah bisa merasakan pergerakan Kakiku. Bahkan sudah bisa merasakan kebas sebelumnya kan tidak terasa apa-apa" Jawab Bella dengan antusias.


"Loh itu kemajuan yang bagus dong"


"Tapi kayaknya butuh waktu lama untuk bisa jalan normal lagi" Tiba-tiba wajah Bella berubah sendu.


"Hey jangan sedih kaya gini, kamu harus tetap semangat. Selama apapun itu yang penting kamu jangan patah semangat, kamu harus yakin untuk sembuh. Ya??" Hibur Elang pada Bella.


Hatinya seperti tercubit saat melihat wajah sendu milik Bella itu.


"Aku kenapa?? Kamu tidak usah berpikir yang aneh-aneh, aku tetap setia sama kamu aku nggak akan aneh-aneh" Ucap Elang memotong ucapan Bella.


"Ih siapa juga yang punya pikiran kaya gitu" Bantah Bella dengan bibirnya yang mengerucut.


"Terus apa dong??" Elang terkekeh ternyata tebakannya salah.


"Tapi kamu harus temenin aku terapi terus!!" Ketus Bella karena kesal dengan Elang yang malah tertawa.


"Kalau itu kamu nggak usah khawatir sayang. Aku bakalan temenin kamu terus sampai kamu sembuh" Ucap Elang dengan tegas.


"Ya kamu harus sembuh dulu kalau gitu" Balas Bella, karena Elang sendiri juga sedang merasakan sakit pada punggungnya.


"Kamu tenang sayang, ini udah nggak sakit kok" Ucap Elang menggerak-gerakan punggungnya.


"Bohong, kamu pakai baju aja kesakitan" Ejek Bella tidak terima.


Elang kalah telak dengan ucapan Bella itu. Memang tadi Bella melihatnya yang mengaduh kesakitan saat memakai bajunya.

__ADS_1


"Sedikit kok" Ucap Elang lagi tak mau kalah.


"Kenapa kamu lindungi aku dari peluru itu?? Kalau sampai peluru itu kena jantung kamu gimana?? Kalau kamu kenapa-kenapa gimana??" Suasana yang tadi penuh canda tiba-tiba berubah karena Bella yang mengeluarkan pertanyaannya dengan bibir yang bergetar.


"Aku cuma mau melindungi orang yang aku cintai" Jawab Elang menatap Bella dengan intens.


"Tapi kenapa harus mempertaruhkan nyawamu??" Kesal Bella.


"Sekarang aku tanya sama kamu, apa saat kamu melihatku dalam bahaya kamu masih berpikir dua kali untuk menyelamatkanku??" Tatapan Elang berubah teduh dan menghanyutkan.


Bella hanya menggeleng lemah.


"Begitupun denganku, saat aku melihat orang yang berpakaian hitam itu menarik pelatuk pada pistolnya. Tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk memikirkan cara lain selain memelukmu"


"Aku yakin kamu lebih paham tentang hal itu sayang" Elang kembali bergeser ke samping Bella.


Elang menarik Bella ke pelukannya. Tangan Elang melingkar di pinggang Bella dari samping dengan bahunya sebagai sandaran kepala Bella.


"Sekarang aku tau betapa bahagianya hati ini saat bisa menyelamatkan orang yang kita cintai. Apa kamu juga merasakan hal itu??" Tanya Elang pada Bella.


"Iya, dulu aku sangat senang saat dulu kamu tidak melakukan pengobatan menyakitkan lagi. Aku senang saat melihat kamu bisa sembuh dari penyakit kamu. Dan aku juga senang bisa melihat kamu masih bisa berdiri saat kecelakaan itu" Jujur Bella dengan perasannya.


"Terimakasih, lagi-lagi kamu membuatku merasa kecil di sampingmu saat ini" Elang mengecup pucuk kepala Bella.


"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu" Bella merutuki dirinya sendiri karena telah menyinggung perasaan Elang.


"Tidak papa sayang" Elang mengurai pelukannya. Meraih dagu Bella agar mau menatapnya.


"Aku mencintaimu Bella, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu"


Elang memiringkan kepalanya, mengikis jarak di antara mereka. Bibir yang pernah Elang rasakan itu kini kembali menyapanya. Kelembutan yang Elang rindukan dari bibir itu terbayar sudah.


Elang mulai memperdalam c*ummanya saat merasakan Bella juga mulai mengherankan bibirnya.


Tanpa rasa malu lagi Bella mulai mengimbangi p**utan yang yang di lakukan Elang. Tapi semakin lama Bella tampak kewalahan untuk menyeimbangkan pergerakan bibir Elang yang semakin brutal itu.


Tangan yang sedari tadi diam kini mulai menyusup ke dalam piyama yang di kenalan Bella. Piyama yang seharusnya sebatas paha itu kini mulai tersingkap hingga perut rata Bella. Tangan Elang sangat aktif menjangkau titik-titik sensitif milik Bella.


"Kak" Bella mendorong dada Elang agar pria itu menghentikan aksinya.


"Kenapa sayang??" Tanya Elang sedikit kesal karena aksinya harus terhenti.

__ADS_1


"Kamu lupa kakiku belum bisa bergerak. Aku belum bisa melakukan itu" Bella merasa kasihan melihat Elang yang sudah terbakar g*irah.


"Maaf aku lupa sayang" Ucap Elang dengan rasa bersalah. Tapi sesuatu di bawah sana tidak juga mengerti jika aksinya itu harus berhenti.


__ADS_2