
Elang menatap Bella dengan lembut. Tidak ada lagi tatapan kebencian dari sana. Saat ini tatapan itu sudah berubah menjadi tatapan teduh penuh cinta.
"Bella, terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan ku berulang kali. Dan aku harap kemarin menjadi yang terakhir. Aku tidak sanggup melihatmu terbaring seperti kemarin lagi"
"Tidak papa, itu juga atas kemauanku sendiri. Tidak ada yang memaksaku sama sekali" Senyum Bella pad Elang.
"Apa itu karena kamu mencintaiku??" Tanya Elang dengan menelisik lebih jauh pada mata Bella.
Bella tersenyum lalu menunduk.
"Mungkin juga karena itu" Bella mungkin menjawab pertanyaan itu dengan mudah namun berbeda dengan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan.
"Apa hanya karena cinta kanu rela mengorbankan nyawamu??"
"Aku juga tidak tau, tapi bukankah cinta itu buta?" Mereka berbicara seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Elang menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana ada seorang perempuan yang berkali-kali bertaruh nyawa hanya demi nama cinta.
"Bella, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu" Elang sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini pada Bella. Dia takut akan semakin menyakiti hati Bella. Tapi biar bagaimanapun, Bella harus tau karena dia yang paling berhak.
"Apa itu?" Bella kembali mengangkat kepalanya.
Tangan Elang terulur menyentuh perut Bella, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Sebenarnya, saat kecelakaan itu terjadi, kamu sedang mengandung anak kita. Di dalam sini sudah ada anak kita. Tapi Allah lebih menyayanginya. Kita belum di beri kesempatan untuk merawatnya"
"A-apa??" Bella benar-benar merasa terpukul di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Maaf sayang, hanya karena menyelamatkan aku. Kita harus kehilangan calon anak kita" Elang sudah menangis tertunduk di kaki Bella yang di luruskan itu.
Bella masih terdiam tapi air matanya terus menetes dengan derasnya. Suasana malam di dalam ruangan itu menjadi penuh dengan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan Mama sayang, kamu pergi karena keegoisan Mama" Batin Bella. Dia meremas perutnya yang rata itu, berharap bisa merasakan kehadiran anaknya di dalam perut itu.
"Maaf" Lirih Elang di sela tangisnya.
Mereka terdiam cukup lama, Elang membiarkan istrinya itu meluapkan kesedihannya dengan tangisan yang diam itu.
Bella menyeka air mata di pipinya. Seolah dengan mudah menyingkirkan rasa sakit di hatinya yang baru saja dia terima.
__ADS_1
"Jangan minta maaf, itu semua salahku. Aku yang terlalu ceroboh. Bahkan aku tidak menyadari sudah ada kehidupan yang tumbuh di dalam perutku" Bella berusaha menghentikan tangisannya. Meski isakan masih sesekali terdengar.
"Tapi, jika saja aku tidak terhasut dengan surat itu. Aku pasti tidak akan menuduh dan memarahiku waktu itu. Dan aku juga tidak akan mengucapkan kata-kata yang di laknat Allah itu"
Elang mengangkat kepalanya. Menatap istrinya itu penuh sesal.
"Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi saat di depanmu selain kata maaf. Bahkan sampai ribuan kali pun rasanya tidak cukup untuk mengobati luka di hati mu"
"Bahkan dengan tidak tau dirinya aku masih mengharapkan kamu tetap disisi ku. Masih menjadi istriku seperti ini, aku sudah banyak menyakitimu tapi aku juga tidak ingin melepaskan mu"
Dua manusia yang beberapa hari yang lalu masih terlibat adu mulu. Mengatakan kebencian, umpatan, dan caci maki. Sekarang justru hanyut dalam perasaan cintanya masing-masing.
"Kak" Panggil Bella dengan lembut setelah mengatur napasnya agar tak kembali terisak.
"Iya"
"Aku akui kalau aku memang mencintaimu, dan aku juga sudah memaafkan mu" Elang mendengarkan dengan benar apa yang ingin istrinya itu sampaikan.
"Tapi maaf aku tidak bisa tetap bersamamu" Lirih Bella tak mau mantap Elang.
"Tapi Kenapa Bella, bukankah kamu mencintaiku?? Aku pun begitu, aku juga mencintaimu"
Deg..
Kini Elang benar-benar termakan oleh omongannya sendiri, menjilat ludah sendiri.
"Bella aku sungguh mengutuk mulutku sendiri karena telah berkata seperti itu. Bahkan jika bisa aku ingin bertemu dengan Tuhan untuk menarik sumpahku itu"
Kini ketakutan Elang benar terjadi. Ketakutan yang sedari kemarin ia rasakan. Saat Bella benar-benar menolak untuk kembali bersamanya. Terlebih sebelum kecelakaan itu terjadi, Elang sempat menginginkan perpisahan.
"Aku mohon Bella, beri aku kesempatan sekali lagi. Ijinkan aku memperbaiki rumah tangga kita. Ijinkan aku melindungi mu sebagai istriku. Aku janji aku tidak akan menyakitimu. Dan sekali lagi aku tegaskan, aku mencintaimu bukan karena kasihan atau balas budi. Tapi aku tulus mencintaimu"
"Perasaan itu sudah ada sejak dulu tapi terkubur oleh keegoisanku. Aku mohon Bella, percayalah padaku"
Segala kata-kata manis Elang keluarkan untuk mendapatkan kepercayaan Bella. Ia akan melakukan apa saja demi mempertahankan Bella. Mempertahankan rumah tangganya yang berantakan itu.
"Aku sudah terbiasa sendiri dari kecil. Jika kita berpisah pun tidak papa. Lagipula ini juga sesuai dengan permintaan mu waktu itu kan?? Aku akan mengabulkannya. Tapi maaf aku tidak bisa pergi jauh, karena aku tidak ingin meninggalkan rumah ku itu. Silahkan saja kalau kamu semakin membenciku karena masih melihatku di sekitarmu"
Wussshhhh...
__ADS_1
Seakan ada angin yang berhembus di ruangan tertutup itu. Angin yang membawa ucapan Bella, Elang juga mendengar semua itu di mimpinya.
"Tidak, apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan mu. Tidak ada kata perpisahan di dalam pernikahan kita. Biarkan saat ini aku yang egois. Dulu kamu yang menarik ku ke dalam pernikahan ini. Dan kamu juga yang akan membuang ku??"
"Tidak, tidak akan pernah aku biarkan Bella!! Dan untuk kata-kata ku saat mabuk itu, kembali lagi aku hanya bisa mengucapkan kata maaf. Aku sungguh minta maaf"
Bella menatap ke dalam manik mata pria yang gigih tidak akan melepaskannya itu. Bukannya dia tidak suka mendengar cintanya terbalaskan. Namun Bella ragu, Bella tidak mau perasaan Elang hanya sebatas yang dia takutkan selama ini. Dia tidak mau membuat Elang terpaksa menjalani hidup penuh rasa hutang budi dengan Bella.
"Sudahlah Kak, saat ini aku tidak ingin membahas ini karena masih banyak yang harus aku selesaikan" Lirih Bella.
"Apa yang harus kamu selesaikan?? Apa masalah Mirna??"
Bella mengerutkan keningnya.
"Apa merek sudah bercerita semuanya pada Kak Elang. Sebenarnya sejauh apa mereka membongkar rahasiaku??" Tanya Bella dalam hati.
"Kamu tidak udah khawatir. Aku sudah menangkap Santoso. Dan aku sudah dapatkan bukti-bukti yang kuat untuk menjebloskan mereka ke penjara. Hanya tinggal menunggu anak buah ku mendapatkan bukti tetang keracunan yang pernah kanu alami" Jelas Elang.
"Santoso sudah tertangkap?? Kenapa mudah sekali?? Sedangkan aku butuh bertahun-tahun untuk menemukannya" Bella terheran-heran dengan Elang, karena begitu mudahnya bisa menangkap orang yang seperti belut itu. Entah cara apa hang Elang gunakan untuk itu.
"Iya, kamu tenang saja. Aku akan memberikan mereka pelajaran yang setimpal. Aku akan melanjutkan tujuanmu menjebak ku"
Bella langsung menatap Elang begitu mendengar kalimat Elang ini.
"Kenapa?? Bukankah ini tujuanmu??" Tanya Elang karena Bella menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku akan membantumu. Aku juga akan merebut kembali apa yang sudah menjadi hak mu!!" Ucap Elang dengan tegas.
"Apa??"
-
-
-
-
Lanjut besok yaa😊
__ADS_1