
"Hemmm"
Suara seseorang menghentikan keberingasan Marisa.
Elang secara spontan mendorong Marisa agar menjauh darinya.
"Bella!!" Gumam Elang yang melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan datarnya.
"Bella?" Terbit senyuman miring di bibirnya meski tidak terllau jelas karena begitu tipis.
Marisa ternyata dengan sengaja melakukan semua itu karena ia mendapatkan telepon dari resepsionis jika Bella datang untuk bertemu dengan Elang.
"Maaf Bella, aku dan Elang tidak___"
"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan!!" Sergah Bella dengan tatapan jengah pada dua orang tidak tau malu itu.
"Ada apa Bella?" Tanya Elang yang terlihat gugup dan canggung karena perbuatan tak senonoh yang baru saja di lakukan Marisa.
"Saya hanya ingin meminta tanda tangan Pak Elang untuk dokumen kerja sama anda dengan Mr.X. Silahkan di periksa dulu" Bella berjalan menuju meja milik Elang dan meletakkan map berisi beberapa lembar kertas itu di sana.
Bella bersikap sangat tenang seolah tidak terjadi apapun, sedangkan Elang tak bisa memalingkan wajahnya dari Bella. Entah apa yang Elang cari di wajah cantik itu sehingga ia enggan utuk beralih.
"Maaf Pak Elang, bisa anada cepat sedikit saya tidak punya banyak waktu" Bella bukannya tak tau jika sedari tadi Elang terus memandanginya. Namun Bella mencoba tak peduli.
Marisa menahan kekesalannya karena rencananya tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Awalnya Marisa ingin membuat Elang dan Bella bertengkar hebat namun nyatanya Bella malah bersikap acuh tak acuh, sedangkan malah membuat Marisa jengah dengan terus menatap Bella penuh arti.
"Anda tidak membacanya terlebih dahulu Pak Elang?" Tegur Bella karena Elang yang sudah menandatangani dokumen itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
"Tidak perlu!" Elang menyerahkan kembali map itu pada Bella masih dengan tatapannya yang tak dapat ia artikan.
"Terimakasih Pak Elang, kalau begitu saya permisi" Bella sempat memberikan sebuah senyuman tipis sebelum ia berbalik mulai meninggalkan Elang.
"Bella tunggu!!" Bella tidak peduli lagi dengan panggilan Elang. Wanita yang sudah penuh luka di hati maupun tubuhnya itu tetap melangkah dengan tegas meninggalkan ruangan yang cukup membuatnya gerah itu.
"Lang!!" Marisa menahan Elang yang tampaknya ingin mengejar Bella.
"Sudahlah Elang, Bella tidak mang tidak pernah peduli padamu. Aku sudah berpikir ingin melepaskan kamu, tapi melihat hubungan kalian yang tak pernah baik dan juga sikapnya yang tak pernah menghormatimu membuat aku ragu. Aku malah semakin yakin untuk memperjuangkan hubungan kita lagi Lang"
Dengan pintarnya Marisa memainkan lidahnya dengan berkata dengan manis untuk menarik simpati Elang lagi.
Elang masih tampak diam tak menyahuti apa yang Marisa katakan. Elang juga tidak tau kenapa dia tak merasakan apapun saat orang yang katanya ia cintai mengucapkan kata-kata manis untuknya.
"Elang, kamu tidak ingin terikat dengan pernikahan seperti ini terus kan? Kamu juga butuh kejelasan tentang rumah tanggamu, kamu butuh istri yang mencintai mu dan selalu ada untukmu. Kamu juga pasti ingin seorang anak dari sebuah pernikahan kan? Apa kamu yakin bisa mendapatkan itu semua dari Bella?" Hasutan demi hasutan terus Marisa masukan ke dalam otak Elang yang katanya pintar itu.
Elang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu memilih untuk kembali duduk diam di kursi kebesarannya itu. Untuk sejenak Elang memang membenarkan Marisa itu, tapi hatinya tidak seperti itu, terdapat banyak keraguan di dalamnya.
"Entahlah Ca, aku sedang tidak bisa berpikir. Lebih kamu lanjutkan pekerjaanmu. Masih banyak yang harus aku kerjakan" Elang mulai fokus kembali pada laptop dan kertas-kertas di depannya.
"Baiklah, kalau ada apa-apa jangan ragu panggil aku!!"
Cup..
__ADS_1
Marisa meninggalkan sebuah kecupan di pipi Elang. Ciuman singkat yang tidak bisa Elang hindari.
-
-
"Tumben lo masih ingat gue!!" Rayan menepuk bahu Elang dari belakang.
"Lo tetap temen gue walaupun kadang menyebalkan" Sinis Elang.
Rayan terkekeh pelan dia antara kerasnya suara musik yang menggema di sebuah club malam yang mulai terlihat ramai pengunjung itu.
"Apa yang membuat lo berakhir di tempat ini lagi? Lo nggak takut sama__"
"Bunda?? lagi nggak ada di rumah!!" Sergah Elang karena Rayan tau jika Elang di tempat seperti ini pasti Bunda akan marah berhari-hari pada Elang.
"So?"
"Nggak ada apa-apa. Lagi pingin aja" Elang meneguk minuman yang berwarna coklat terang dari dalam gelasnya.
Rayan tersenyum miring, dia tau jika sahabatnya itu tidak akan lari ke alkohol jika tidak ada masalah.
"Udah sejauh mana hubungan lo sama Bella??"
Bingo. Tebakan Rayan benar adanya. Tanpa di paksa sedikitpun oleh Rayan, pertanyaan itu keluar sendiri dari bibir Elang.
"Kenapa?? Lo mau narik kembali ucapan lo waktu itu?? Lo udah mulai luluh sama Bella?" Tanya Rayan dengan senyuman meremehkan Elang.
Elang menggeleng, menepis pertanyaan dari Rayan.
Lagi-lagi Elang menggeleng. Tangan kirinya memijat keningnya yang mulai pusing karena pengaruh alkohol yang ia minum.
"Gue nggak tau apa mau lo sebenarnya!! Kalau lo nggak suka ya udah lepasin dia. Kalau lo suka ya bilang aja. Bella tidak sekeras yang orang lain katakan!!"
Elang menatap Rayan dengan kerutan di keningnya. Kenapa Rayan berkata begitu jika dia mencintai Bella.
"Kenapa lo bilang kaya gitu sama gue? Udah nyerah lo?" Elang tersenyum sinis.
"Gue nggak pernah nyerah, tapi gue lihat sahabat gue lebih mencintai dia daripada gue" Sindir Rayan tepat mengenai jantung Elang sehingga membuatnya berdetak lebih cepat.
"Gue nggak ngerti maksud lo!!" Elang kembali meneguk minumannya hingga tandas. Menandakan pria itu sedang menutupi kegugupannya.
Rayan terkekeh melihat Elang yang berusaha menghindari tuduhannya itu.
"Ayolah Lang, gue tau semuanya. Gue tau apa yang ada dalam hati lo!!" Rayan menepuk-nepuk punggung Elang dengan sedikit keras.
"Apa maksud lo!!" Lirik Elang dengan tajam.
"Makanya jangan terlalu banyak minum kalau lo nggak kuat minum. Kebusukan lo jadi keluar semua kan!!" Ucap Rayan penuh arti.
Ingatan Rayan kembali saat Elang mabuk parah malam itu.
__ADS_1
FLASHBACK ON
"Gue benci sama Bella, gue benci sama dia!!" Elang bergumam tak jelas di dalam mobil Rayan.
"Kenapa gue harus terjebak dengan wanita s*alan itu!!" Rayan jelas tidak mampu menghentikan ocehan orang yang sedang dalam pengaruh alkohol itu.
"Lang, gue mau tanya sama lo!!" Rayan melirik Elang yang bersandar dan memejamkan matanya.
"Hemmm, apa. Tanya aja pakai ijin segala" Gumam Elang dengan suara yang tak cukup jelas.
"Bukannya orang mabuk biasanya berkata dengan jujur? Jadi nggak ada salahnya kan kalau gue coba?" Batin Rayan.
"Apa di hati lo benar-benar nggak ada rasa sama sekali sama dia? Secara Bella kan cantik dan pintar" Rayan masih fokus pada jalanan di depannya sambil menunggu jawaban dari Elang.
"Gue nggak tau, gue nggak suka lihat dia yang sekarang, dengan wajah datar dan sikapnya yang seperti batu. Dia keras kepala dan kejam sama orang lain. Gue nggak suka lihat perempuan kasar kaya dia. Tapi gue juga nggak suka dia cuekin gue, entah kenapa gue suka memakinya dengan kata-kata kasar hanya untuk mengajaknya berdebat. Hanya itu yang bisa buat dia beralih menatap gue"
"Jangan bilang lo suka sama dia?" Selidik Rayan lagi.
"Gue nggak yakin sama perasaan gue!!"
"Tapi kenapa lo benci Bella cuma gara-gara hal sepele kaya gitu? Ayolah men, itu nggak masuk akal!!" Rayan menggelengkan kepalanya karena cinta begitu membutakan mata hati sahabatnya itu.
"Bukan karena itu, ada hal lain yang buat gue benci dengan wanita jahat itu!!" Elang tiba- tiba saja membuka matanya dan melirik Rayan dengan tajam.
Rayan sempat tersentak dengan Elang yang menatapnya tajam. Rayan takut jika Elang hanya pura-pura mabuk saja, apalagi pertanyaan yang bari saja Rayan lontarkan pada Elang semakin membuat pria itu takut mendapat amukan dari sahabatnya itu.
"Lang sorry gue nggak bermaksud untuk ___"
"Lo bisa diem nggak sih gue pusing malah lo berisik banget!!" Elang kembali menyandarkan kepalanya dan terlelap begitu saja.
"Huffttt aman, aman" Rayan mengusap dadanya.
"Tapi apa yang buat lo benci banget sama Bella Lang? Gue masih penasaran" Batin Rayan.
FLASHBACK OFF
"S*alan lo!!" Elang memaki Rayan yang hanya cengar-cengir menghadapi kemarahan sahabatnya.
"Gue saranin lo cepat turunin ego lo yang ketinggian itu!!"
"Jadi lo beneran udah nyerah?" Tanya Elang sekali lagi.
"Gue nggak nyerah!! Gue kan pernah bilang, kalau gue nggak bakalan pernah menyerah sebelum Bella menentukan pilihannya sendiri. Gue kan cuma kasih saran sama lo, siapa tau Bella nanti lebih milih gue dari pada lo!!"
"B**ngsek!!" Umpat Elang yang di tanggapi Rayan dengan tawa kerasnya.
-
-
-
__ADS_1
-
Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak mu ya😊