Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
39


__ADS_3

"AWAAASSSS!!!"


Teriak semua orang yang berada di sana.


Elang berhasil meraih bocah laki-laki itu di dekapannya namun naas.


BRAAAKKKKKK....


AAAAAAA....


Semua orang yang berada di sisi jalan itu berteriak histeris ketika melihat seseorang yang terlempar beberapa meter setelah tubuhnya terhantam mobil dengan keras.


Elang merasakan tubuhnya melayang, merasakan nyeri di bagian sikunya karena menjadi tumpuannya saat tubuhnya menyentuh aspal.


"CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!"


Teriak beberapa orang di sana. Elang memeriksa tubuhnya. Penasaran, apa separah itu hingga mereka meminta ambulance untuk datang menjemputnya.


Elang tersadar dengan suara rengekan dari bocah yang berada di dekapannya.


"Kamu tidak papa kan nak?"


Elang memutar tubuh bocah itu. Memastikan jika tidak ada bagian tubuh kecil itu yang lecet.


"Ninoo!!"


Seorang wanita muda mendekati bocah bernama Nino itu. Menangis histeris memeluk bocah yang hampir saja tertabrak mobil jika saja Elang tidak menyelamatkannya.


"Kamu tidak papa kan Nak? Maafkan Ibu yang lalai ya?"


Wanita tadi kembali memeluk bocah laku-laku itu, yang ternyata adalah anaknya.


"Mas terimakasih sudah menyelamatkan anak saya, kalau tidak ada Mas, saya nggak tau apa yang akan terjadi dengan anak saya"


"Tidak papa, lain kali lebih hati-hati jaga anaknya!!"


"Kenapa ambulance lama sekali datangnya?? Dia sudah sekarat!!"


Suara panik dari seseorang membuat Elang kembali tersadar jika di sekelilingnya berseliweran orang-orang di tengah jalan.


Elang kebingungan dengan apa yang terjadi. Hingga Elang melihat kerumunan yang berjarak beberapa meter darinya.


Dikerumuni banyak orang di sekitarnya membuat Elang tidak tau apa yang menjadi sumber kepanikan di sana.


Bukankah Elang dan bocah itu sudah selamat, tapi kenapa orang-orang itu tidak peduli dengan Elang yang telah bertaruh nyawa menyelamatkan nyawa Nino.


"Siapa yang sekarat?" Batin Elang.


Elang yang penasaran dan perasaannya yang tiba-tiba tidak nyaman mulai mendekati kerumunan itu.


Langkah kaki Elang semakin dekat dan jantungnya mulai berdetak tak karuan saat matanya tak sengaja menangkap kilasan warna baju yang sangat ia kenali.


Elang mempercepat langkahnya, membuka kerumunan itu dengan paksa.


"Hikss.. Hiks... Bella"


Tangis Mita di samping Bella yang terkapar tak berdaya di tengah jalan dengan darah yang melumuri seluruh tubuhnya.


Deg..


Elang merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Kepalanya mendadak pening hingga membuat pandangannya kabur untuk sesaat.


Lutut Elang terasa lemas hingga terjatuh begitu saja di sisi mita.


"Be-lla??"

__ADS_1


"Apa yang terjadi Mit?? Kenapa Bella bisa seperti ini??"


Tanya Elang terbata, tangannya yang bergetar menyentuh wajah Bella yang penuh darah dengan mata yang sudah terpejam.


"Hikss. Hikss Bella bangun, jangan seperti ini!!"


Mita sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Elang.


Dengan tangannya itu Elang bisa merasakan tubuh Bella yang terasa dingin tanpa pergerakan sama sekali.


"Bella bertahan Bella!!"


Bisik Elang dengan air matanya yang mulai tidak bisa di tahan lagi.


"HEY KENAPA AMBULANCE LAMA SEKALI?? SEBENARNYA KALIAN MENGHUBUNGINYA ATAU TIDAK!!"


Teriak Elang di tengah orang yang sibuk menonton dan mengambil video keadaan Bella yang mengenaskan itu.


"Sebentar lagi datang Pak" Sahut seorang pemuda yang sedang menempelkan ponsel pada telinganya itu.


Elang kembali melihat keadaan Bella. Dirinya merasa hancur melihat darah yang terus mengalir dari hidung dan kepala Bella.


"Uhuk uhuk"


Tiba-tiba Bella terbatuk kemudian memuntahkan darah dari mulutnya.


"Bella bertahanlah!!"


Bella membuka matanya yang lemah itu.


Yang pertama kali Bella tangkap dari netranya adalah seorang pria yang berhasil dia selamatkan nyawanya satu kali lagi.


Dengan matanya yang sudah terlihat lemah, bella tersenyum tipis pada Elang.


Suara Bella yang lemah dan hampir tak terdengar membuat Elang terhenyak. Bagaimana mungkin istrinya itu mengkhawatirkan orang lain di saat dirinya sendiri meregang nyawa.


Elang tak mampu bersuara hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.


"Bertahan Bella, kamu harus bertahan!!"


"Bella hiks.. hiks.."


Mita hanya bisa menangis dan memanggil-manggil nama sahabat satu-satunya itu. Berharap jika Bella masih terus dalam kesadarannya.


Mata Bella kembali tertutup bertepatan dengan suara sirine ambulance yang mulai terdengar mendekat.


-


-


-


Elang terus mengikuti tim medis mendorong bangkar Bella yang ternyata sudah menunggu kedatangan Bella di depan IGD.


Tak peduli dengan bajunya yang sudah penuh dengan darah milik Bella, Elang ingin terus berada di sisi Bella. Hingga seorang perawat menghentikan Elang yang ingin mengikuti Bella masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Bapak tunggu di sini saja!!"


Ucap perawat itu tidak ingin di bantah.


Elang dengan pasrah menuruti perintah itu dan membiarkan Bella di telan pintu kaca itu. Elang membiarkan Bella berjuang seorang diri di dalam sana.


"Hikss.. Hikss.. Bella dimana?? Bella dimana Kak??"


Mita yang menyusul Bella menggunankan taksi kebingungan karena hanya melihat Elang seorang diri.

__ADS_1


"Sedang di tangani dokter"


Jawab Elang lemah. Pria itu berjalan lesu, mendudukkan bokongnya di kursi besi panjang yang terasa dingin di kulitnya.


"Ya Alla lindungilah Bella, berikanlah kekuatan padanya ya Allah" Gumam Mita dengan isak tangisnya.


"Mita!!"


Panggil Elang dengan suara paraunya.


"Kenapa Bella bisa seperti ini??"


Elang hanya memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin di dengarnya. Elang hanya ingin mematahkan dugaan di dalam hatinya saja. Karena sepertinya Elang tidak akan mampu menerima kenyataan itu.


Mita mendekati Elang, ikut duduk di sisa kursi yang di duduki Elang. Mita duduk dengan dua kursi sebagai jarak di antara mereka.


"Kenapa Kak Elang begitu tega pada Bella?"


Pertanyaan Elang justru di balas kembali dengan sebuah pertanyaan oleh Mita.


Gadis itu sudah berhenti menangis, tapi tatapannya kosong lurus ke depan. Hanya bibirnya saja yang berucap.


"Tidak semua yang ada di depan mata kita adalah kebenaran Kak. Butuh mata dan hati yang tajam untuk melihat dengan benar semua hal di dunia ini"


Elang semakin tidak mengerti dengan apa yang Mita ucapkan.


"Tadi Bella mengejar mu hanya untuk sebuah penjelasan yang mungkin tidak akan kamu percaya Kak"


"Bahkan kamu juga tidak menghiraukan panggilannya. Bella mengejar mu sampai ke depan"


Mita menatap Elang dengan tajam.


"HINGGA KAMU MELAKUKAN HAL BODOH YANG MEMBUAT BELLA MENGORBANKAN NYAWANYA HANYA UNTUK PRIA YANG TERUS MENYAKITI HATINYA SEPERTI DIRIMU!!!"


Mita meneriaki Elang di lorong yang sepi itu. Emosi yang sudah ia tahan kini tak bisa ia bendung lagi.


"Bella yang mendorongmu ke sisi jalan, tapi Bella sudah tidak punya waktu lagi untuk menghindar. Dan itu semua terjadi di depan mataku!!"


Suara Mita kembali sendu dengan butiran air mata yang kembali membasahi pipinya.


Deg..


Deg..


Deg..


Elang merasakan dunianya berhenti berputar saat itu juga. Rasa kebencian yang baru saja ia luapkan di depan wanita yang kini sedang memperjuangkan hidupnya di dalam sana kini menguap sudah.


Elang meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis dalam diamnya seakan mengutuk dirinya sendiri yang mudah sekali terbakar amarah.


"Maafkan aku Bella, berjuanglah di dalam sana. Aku menunggumu disini. Aku rela kamu membenciku seumur hidupmu asal aku tetap bisa melihatmu" Batin Elang.


"Ya Allah aku mohon selamatkan Bella!! Aku rela menukar nyawaku dengannya asal dia selamat Ya Allah. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memohon maaf darinya. Amin"


-


-


-


Happy reading, jangan lupa like untuk terus mendukung karya ini.


Baca juga karyaku yang lain ya.


Semoga kalian suka, terimakasih😊

__ADS_1


__ADS_2