
"Mau apa kau kemari???!!" Sambut Elang dengan sengit.
Elang menatap tak suka pada seseorang yang haru saja masuk ruangan itu.
"Aku yang menyuruhnya kemari!!" Ucap Mita.
"Memangnya kenapa dia harus kesini?? Ada urusan apa dia??" Kini Elang ganti menatap Mita dengan tajam.
"Sudahlah lebih baik kamu ganti baju kamu dulu!!" Nadia menghentikan Elang yang sudah mulai terpancing emosi.
"Dito, berikan baju itu padanya!!" Ucap Nadia.
"Apa??? Jadi Bunda juga mengenalnya??" Elang begitu terkejut.
"Wooaahhh sekarang aku terlihat sangat bodoh yang tak tau apa-apa saat berada di antara kalian"
Elang memijat keningnya yang tak terasa pusing.
"Nanti kita jelaskan setelah kamu ganti baju" Nadia menatap Elang dengan rasa bersalahnya.
Tanpa protes lagi Elang merebut paper bag yang di bawa Dito, menatap pria itu dengan sengit sebelum meninggalkan orang-orang yang menyimpan begitu banyak rahasia.
"Apa kamu yakin ini murni kecelakaan Dit??" Tanya Mita setelah Elang sudah benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Aku sudah menyelidikinya Ta, dan itu benar murni kecelakaan. Supirnya mengaku jika dia mengantuk dan sekarang sudah menyerahkan diri ke kantor polisi. Aku juga sudah melihat cctv di sekitar sana, dan tidak ada hal yang mencurigakan"
Jelas Dito. Sejak Mita menghubunginya tentang Bella yang terlibat kecelakaan ia langsung melihat tempat kejadian itu dan bertemu dengan si penabrak.
Dito sempat curiga jika kecelakaan itu termasuk dalam rencana Mirna. Mengingat sudah beberapa kali Bella hampir saja celaka. Namun Dito sudah memastikan jika kecelakaan itu tak ada hubungannya sama sekali dengan Mirna.
"Kalau benar mereka terlibat. Maka kali ini Bunda tidak akan tinggal diam!!" Sahut Nadia dengan amarah.
"Bunda tenang saja, jika itu benar maka aku yang akan maju terlebih dahulu" Ucap Dito.
"Lalu bagaimana keadaan Bella sekarang, kenapa belum sadar juga??" Dito meminta penjelasan dari Mita.
"Bella masih kritis Dit, jika dalam 48 jam Bella belum sadar juga. Maka dia akan seperti ini seterusnya" Mita menatap Bella nanar.
Dito menggeleng mendengar hal itu dari Mita. Sahabat yang memperjuangkan keadilan bersamanya kini hanya terbaring tak berdaya.
Bella yang selalu menguatkan Dito, karena Bella juga Dito bisa menahan amarahnya pada Mirna. Jika bukan karena Bella, sudah pasti Dito akan berbuat nekat pada Mirna.
Ceklek..
Setelah beberapa menit berlalu. Keadaan Elang sudah tidak memperihatinkan lagi. Bajunya sudah berganti dengan pakaian yang lebih nyaman dan bersih.
Elang masih menatap sengit pada ketiga orang yang ada di sana. Ia meletakan paper bag yang kini isinya berganti dengan pakaian kotor penuh darah miliknya.
__ADS_1
Dengan tetap diam Elang kembali duduk di samping Bella.
Ketiga orang itu juga tetap diam tak ada yang membuka suaranya.
"Mita!!" Panggil Elang.
"Iya??"
"Ceritakan semua yang tak pernah aku tau!!" Pinta Elang tanpa menatap lawan bicaranya.
"Termasuk tentang dia!!" Mita tau dia yang dimaksud Elang adalah Dito.
Mita menatap Nadia dan Dito secara bergantian. Meminta pendapat hanya dengan tatapan matanya.
Setelah keduanya mengangguk Mita menarik nafasnya dalam. Bersiap membuka rahasia yang selama ini di sembunyikan dari Elang. Dia siap menerima amukan dari sahabatnya jika dia sadar nanti.
"Baiklah jika ini yang Kak Elang mau. Tanyakan apa saja yang ingin kamu tau tapi jangan pernah meminta aku berhenti sebelum ceritanya selesai!!" Tegas Mita.
Elang mengangguk setuju.
"Apa yang ingin Kak Elang tau lebih dulu??"
"Apa yang membuat Bella berubah seperti ini?? Dulu saat pertama kali bertemu dengannya, dia bukan gadis yang seperti ini. Dia bukan gadis batu dan angkuh. Bella yang dulu adalah Ara yang baik hati dan periang"
Elang kembali membawa tangan Bella ke dalam tangannya yang lebih besar dari tangan Bella itu.
"Bella tidak pernah berubah, dia tetap Ara yang dulu jika Kak Elang benar-benar mengenalnya" Ucap Mita dengan tatapan mata menusuk pada Elang.
"Apa maksudmu Mit, kamu lihat tau sendiri kan betapa angkuhnya dia. Keras kepala, tak pernah peduli pada siapapun dan apapun di sekitarnya. Bahkan kamu sendiri selalu jadi korbannya dari dulu??"
"Korban??" Heran Mita.
"Aku sering melihat Bella merundung mu. Memarahi mu dan menjambak rambutmu, menyuruhmu membawa buku-buku tebal untuknya, menyuruhmu membeli makanan kemudian kamu memakan sisanya. Dan itu membuatku semakin membencinya"
Elang mengingat sewaktu dulu sering kali melihat tingkah arogan Bella.
"Hahaha.. Sudah aku bilang Kak, jika semua yang kita lihat belum tentu sebuah kebenaran Kak!!" Mita tertawa sinis.
"Aku akan menjawab pertanyaan mu yang pernah kamu tanyakan padaku. Kenapa aku masih bertahan di sisi Bella sampai saat ini??"
"Jawabannya adalah, dia adalah malaikat penolong bagiku. Dia tidak pernah merundung ku seperti yang kau katakan tadi. Aku adalah seorang yatim piatu seperti Bella. Tapi bedanya dia di pertemukan dengan orang tua angkat yang menyayanginya. Sedangkan aku tak seberuntung itu"
"Aku harus mencari uang sendiri untuk hidupku, untuk sekolahku. Aku sering di runding sana sini hanya karena aku anak tak jelas. Sampai saat itu aku bertemu Bella. Gadis yang terlihat sangat keras dan tak tersentuh. Dialah satu-satunya yang sudi berteman denganku. Membantuku tanpa embel-embel kasihan"
"Apa yang Kak Elang katakan tadi?? Menjambak rambutku?? Kak Elang salah!! Bella memang memarahiku jika aku selalu menundukkan kepalaku di depan orang yang menghinaku. Bella menarik rambutku hanya untuk membuat aku mengangkat kepala, untuk menunjukkan pada mereka jika aku tak selemah itu!!"
Mita mengusap air matanya yang sudah menetes dengan sendirinya.
__ADS_1
"Lalu buku-buku tebal itu, ha..ha.." Mita tertawa di tengah tangisnya.
"Buku itu Bella berikan padaku hanya karena aku tak mampu membelinya. Bukan karena dia memintaku membawakannya. Dan masalah aku yang membelikan makanan untuknya juga kamu salah besar Kak!! Bella sebenarnya tak mau makan itu semua, dia dengan sengaja membeli makanan itu agar aku memakannya. Dia tau kalau aku akan menolak jika dia membelikan ku secara langsung"
"Bella juga sering membelikan aku baju baru dengan alasan tak muat di tubuhnya. Bahkan jika di lihat ukuran ku saja lebih besar, bagaimana tak muat di tubuhnya yang langsing. Itu semua juga dia lakukan karena tidak mau pertolongannya di anggap belas kasihan"
Kini Elang benar-benar merasa di pukuli tepat di ulu hatinya. Sakit namun tak mengeluarkan darah. Dia ingat semua kata-kata pedasnya yang terucap untuk Bella.
"Dasar tidak tau malu!!"
"Mana ada pria yang mau dengan wanita seperti mu!!"
"Gadis batu!!"
"Kau selamanya tak kan pernah merasakan bahagia di dalam hidupmu!!"
"Aku membencimu!!"
"Dasar j*lang!!"
"Wanita m*rahan!!"
"Materialistis!!"
Suara itu terus berbisik di telinganya.
"Dan yang Kak Elang perlu tau kalau Bella bukan tak mau menolong Marisa saat terjatuh di kolam renang waktu itu. Tapi Bella sendiri tak bisa berenang"
Deg..
Kenyataan yang terasa menyengat untuk Elang. Ternyata selama ini Marisa juga berbohong padanya. Dulu Marisa mengatakan jika Bella tidak mau menolongnya yang hampir tenggelam.
"Sudah Mita, aku tidak mau lagi mendengarnya. Aku tidak mampu. Aku takut jika selama ini yang aku lakukan ternyata penuh dengan kesalahan"
Elang menunduk, menempelkan keningnya pada tangan Bella yang terpasang selang infus itu.
"Tidak, sudah ku katakan jangan pernah menyuruhku berhenti!! Masih banyak yang harus kau dengarkan!!" Balas Mita dengan tenang.
-
-
-
-
Happy reading, jangan lupa like untuk selalu mendukung karya ini. Terimakasih😊
__ADS_1