
Akhirnya Elang menuruti apa yang di katakan Dito. Dia kembali bekerja seperti biasa, dengan sikapnya yang sebisa mungkin tidak menimbulkan kecurigaan pada Marisa.
Hingga detik ini sudah satu minggu sejak kecelakaan itu, dan Bella masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang masih sama. Belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
"Elang, kamu mau kemana kok buru-buru??"
Marisa menghentikan Elang yang terlihat berjalan cepat mendahuluinya. Saat ini mereka baru saja keluar adi kantor.
"Mau ke rumah sakit" Jujur Elang.
"Ohh.. Pasti Bunda ya yang paksa kamu ke sana??" Tebak Kania.
"Iya" Elang hanya mengiyakan saja pertanyaan Marisa itu. Ia sudah berjanji jika ingin membuat usaha Bella selama ini tidak sia-sia.
"Kamu sama Tante Miran kok belun jenguk dia??" Kini Elang mencoba memancing Marisa. Menunggu alasan apa yang akan di berikan.
"Emm itu anu, Mama lagi sakit. Iya Mama sakit, nanti kalau udah sembuh pasti jenguk Bella kok" Jawab Marisa dengan gugup.
"Benar-benar b*doh kamu Lang. Dari tingkahnya saja sudah jelas kalau dia bohong. Lalu kemana saja kamu Lang?? Kenapa baru sadar sekarang??" Bisik hati Elang.
"Sekarang kamu tinggal di mana Ca?? Aku antar ya??"
Sebisa mungkin Elang tetap bersikap mania pada Marisa.
"Nggak udah Lang, nggak usah. Aku bisa pulang sendiri ko"
Tolak Marisa dengan panik. Bola matanya terus bergerak tidak tenang. Itu membuat Elang makin sadar jika Marisa tidak sebaik itu.
"Nggak papa Ca, sekalian aku mau lihat rumah baru kalian. Aku kan belum tau alamat baru kamu" Elang terus mendesak Marisa.
"Kapan-kapan aja gimana Lang?? Soalnya aku ada janji sama teman. Maaf ya??" Ucap Marisa dengan wajah menyesalnya.
Elang mendengus karena merasa jijik dengan sikap Marisa itu
"Ya sudah, kalau gitu aku duluan ya" Elang memberikan senyum manis penuh kepura-puraan itu pada Marisa.
"Iya Lang. Hati-hati ya" Marisa melambaikan tangannya pada suami orang itu.
Elang berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Sekarang dia benar-benar muak dengan Marisa. Kenapa dulu dia begitu percaya dengan Marisa padahal jika di pikir-pikir cintanya pada wanita licik itu pun tak seberapa.
Elang menempelkan ponsel pada telinganya sambil terus berjalan menuju mobil mahalnya.
"Halo Tuan??" Sahut seseorang yang Elang hubungi.
"Ikuti wanita itu kemanapun dia pergi. Laporkan apa saja yang dia lakukan!!"
"Baik Tuan"
Tut...
-
-
__ADS_1
-
Elang menyusuri lorong rumah sakit dengan doa yang selalu ia ucapkan dalam hatinya. Semoga saat dia sampai di ruangan Bella, istrinya itu sudah menunjukkan kemajuan.
Elang dapat melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana tampak ada beberapa orang sedang berbincang.
"Hay Lang??" Suara Rayan menyambut Elang yang tiba-tiba membuka pintu ruangan milik Bella itu.
Elang tak menyahut hanya memberikan lirikan tak suka pada sahabatnya itu. Dia masih ingat jika Rayan menyukai istrinya itu.
"Santai dong bro, kaya mau ngajak gelut aja lo" Sindir Rayan yang menangkap aura tidak mengenakkan dari Elang.
"Ngapain lo di sini??" Tanya Elang.
Dia mengambil alih posisi Rayan yang berdiri di samping Bella.
"Nengokin Bella lah, kenapa?? Nggak boleh??" Canda Rayan namun Elang tak mengartikan yang sama dengan Rayan.
"Serah lo!!" Ketus Elang.
"Yang sabar ya Lang, gue yakin Bella pasti kuat. Dia wanita yang hebat, dia nggak mungkin meninggalkan orang yang dia cintai begitu saja tanpa pamit"
"Maksud lo Yan??" Elang bingung dengan perkataan Rayan itu.
Bukankah Rayan mengejar cinta Bella dan tidak akan menyerah sebelum Bella mengatakan sendiri siapa yang dia cintai.
"Apa Rayan sudah tau jika Bella mencintaiku??" Batin Elang.
"Jadi lo udah tau dari dulu??" Heran Elang.
"Iyalah, walaupun Bella suka bersikap semaunya sama lo. Tapi gue bisa lihat dari tatapan matanya. Dia diam tapi sering memperhatikan lo, saat sama gue pun sama. Hanya lo yang ada di pikirannya" Jelas Rayan.
Memang hanya Elang si manusia paling b*doh. Ucapan Rayan barusa semakin menyadarkannya akan hal itu. Sudah berapa kali Elang merutuki dirinya sendiri dengan kata itu. Tapi kali ini Elang benar-benar semakin yakin jika dirinya memang b*doh.
"Terus, lo udah ungkapin perasaan lo sama Bella??"
Rayan menggeleng dengan cepat.
"Kenapa?? Lo nyerah sebelum perang?? Lo sendiri yang bilang lo nggak bakalan nyerah sampai kapan pun"
"Ha.. Ha.. Ha..."
"Itu cuma buat ngerjain lo aja kali" Rayan dan Mita yang sedari tadi diam kembali menertawakan Elang.
"Apa maksud kalian??"
"Gue sebenarnya udah nyerah dari awal. Karena gue udah yakin Bella nggak bakalan mau buka hatinya buat gue. Dan di balik itu semua gue jadi dapat hadiah dari tuhan deh"
Rayan mendekat ke arah Mita kemudian meraih tangan mita ke dalam genggamannya. Rayan mengangkat tangannya dengan Mita itu agar Elang melihat dengan jelas.
"Ingat Lang, sesuatu gang lo anggap buruk bisa saja itu yang terbaik buat kita. Tuhan tidak akan keliru menentukan sesuatu yang sudah menjadi takdir kita"
"B**ngsek lo!! Jadi selama ini lo cuma mempermainkan gue aja!!" Umpat Elang.
__ADS_1
"Sorry Lang. gue sama Mita cuma mau buat lo sadar aja. gue udah menemukan Mita sebagai pemilik hati gue. Jadi gue berusaha buat lo menyadari perasaan lo sendiri. Lo terlalu gengsi untuk mengakui perasaan lo Lang"
"Hati-hati Mit, dia itu penjajah wanita. Playboy kelas kakap" Ucap Elang pada Mita karena terlalu kesal dengan Raya.
"Jangan hasut pacar gue Lang. Gue udah tobat" Ucap Rayan dengan tatapan matanya yang menajam.
"Tenang aja Kak Elang. Kalau sampai dia macam-macam lagi ya tinggalin aja. Aku nggak rugi kok kehilangan buaya kaya dia" Sahut Mita yang langsung membuat Rayan memelototkan matanya.
"Jangan doang Mita, aku udah tobat beneran kok" Ucap Rayan dengan manja membuat Elang bergidik karena jijik.
"Mendingan kalian pergi sana. Gue eneg lihat kalian berdua kaya gitu. Gue mau berduaan sama istri gue. Nggak mau di ganggu!!" Usir Elang secara terang-terangan.
"Bilang aja iri" Cibir Rayan membawa Mita berjalan keluar. Rayan tau Elang juga butuh waktu berdua denhan Bella.
Wajah Elang berubah sendu setelah kepergian sahabatnya itu.
Sudah beberapa hari ini Elang hanya di hadapkan dengan Bella yang tak bisa menyahuti ceritanya.
Sejak kecelakaan itu terjadi, Elang juga tidak pernah tidur di rumah. Dia menghabiskan waktunya untuk menemani Bella di rumah sakit.
Elang kembali meraih tangan putih yang terlihat pucat itu. Sudah berapa kali pula Elang mengusapnya lembut, menciumnya berharap jemari lentik itu menunjukkan sebuah gerakan.
"Ayo bangun sayang, aku rindu tatapan mu yang selalu menatapku datar. Aku rindu suara lembut namun dingin milikmu itu. Aku juga rindu tatapan tajam mu. Aku rindu semua semua yang ada pada dirimu"
Mungkin kalian sudah bosan jika aku menuliskan air mata Elang kembali terjatuh.
Tapi itu memang kenyataannya. Elang tak bisa menahan gejolak di hatinya saat melihat wanita yang baru sadar ia cintai itu terbaring tak berdaya seperti itu.
"Sayang, aku mohon. Bukalah matamu, lihatlah pria b**ngsek ini menunggu mu kembali" Air mata itu mengalir melewati hidung mancung Elang. Hingga sampai di pucuk hidung mancungnya baru terjatuh tepat di punggung tangan Bella.
"Apa kamu tidak mau membuka matamu di depan pria cengeng seperti ku?? Apa kamu sungguh tidak ingin melihatku??" Elang terus saja mengoceh.
Mungkin di depan Rayan dan Mita tadi dia sempat bercanda. Tapi di saat sendiri seperti ini, mana bisa dia menahan semua perih di dadanya.
Elang menyandarkan kepalanya pada lengan Bella. Memejamkan matanya walau dia tidak berniat untuk tidur sama sekali.
Tit.. Tit.. Tit.. Tit.. Tit..Tiiiiiiittttttttttt....
Elang terbangun karena dikagetkan dengan suara EKG yang berbunyi dengan cepat. Sedetik kemudian Elang merasakan tubuh Bella mulai bergetar.
"DOKTER!!!"
-
-
-
-
Haduh kira-kira Bella kenapa ya?? Apa yang terjadi sama Bella setelah ini??
Tunggu up episode besok pagi yaa.. 😊
__ADS_1