Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
57


__ADS_3

"Ada apa sih Ma?? Kenapa suruh aku buru-buru pulang kaya gini??"


Marisa melemparkan tasnya ke sofa. Dia kesal karena Mirna menyuruhnya pulang saat masih banyak pekerjaan menumpuk di kantornya.


"Ca, Papa kamu Ca, dia hilang nggak ada kabar. Mama takut dia sudah di tangkap mereka" Cemas Mirna dengan menggoyangkan badan Marisa karena terlalu panik.


"Mama udah yakin?? Siapa tau dia cuma pergi sebentar"


"Mama sudah pastikan Ca, kalau dia cuma keluar sebentar nggak mungkin dia tinggalin perempuan simpanannya ini" Lirik Mirna pada Firda yang malah asik bermain ponsel.


"Coba di hubungi lagi" Marisa masih mencoba berpikiran positif.


"Nggak bisa Ca, ponselnya mati"


"Tunggu!!" Miran melirik Marisa tajam.


"Kamu nggak ceroboh kan Ca??"Selidik Marisa.


" Maksud Mama??"


"Kamu datang kesini sudah pastikan nggak ada orang yang ngikutin kamu kan?? Nggak ada yang tau rumah kita di sini kan Ca??"


"Ya nggak tau dong Ma, mana tau Marisa kalau ada yang buntuti atau enggak. Kan banyak yang jalan di belakang Marisa" Jawab Marisa dengan polos.


Miran sedikit lemas kemudian menepuk jidatnya.


"Astaga" Mirna heran kenapa anaknya bisa sepintar itu.


Sementara terdengar kikikan dari Firda yang asik duduk selonjoran di sofa. Dia geli melihat tingkah ibu dan anak yang sama-sama jahat itu.


"DIAM!!" Teriak Ibu dan anak itu.


Firda hanya mengerlingkan matanya saja, tidak takut sama sekali dengan bentakan Mirna.


"Heh, kenapa kau tak khawatir pacarmu hilang tanpa kabar seperti ini. Malah enak-enakan selonjoran kaya Nyonya besar" Sindir Mirna di depan orangnya.


"Maaf Nyonya, saya hanya khawatir kalau uang saya sudah habis saja. Kalau dia urusan anda lah, kan dia masih suami anda" Ucap Firda dengan entengnya.


"Jaga ucapan kamu sama Mama ya!! Kamu cuma numpang di sini!!" Bentak Marisa.


"Sudah jangan urus dia, sebaiknya kita cari papa kamu. Mama takut dia tertangkap anak polisi itu lagi" Mirna menarik Marisa untuk menjauh dari Firda.


Mirna begitu ketakutan karena kunci kejahatannya adalah Santoso. Jika pria itu tertangkap maka habis sudah riwayat Mirna. Dia tidak rela semua yang dia miliki saat ini hilang sia-sia.


***


***


***


"Aku akan membantumu. Aku juga akan merebut kembali apa yang sudah menjadi hak mu!!" Ucap Elang dengan tegas.


"Apa??"

__ADS_1


"Iya Bella, aku akan mengambil semua yang telah di ambil tante Mirna" Jelas Elang sekali lagi.


"Tapi dia___"


"Kamu nggak usah khawatir tentang aku dan Bunda. Kenapa sih kamu dengan mudahnya menyerahkan itu semua hanya karena ancaman recehan dia??" Tanya Elang.


"Recehan kamu bilang??" kamu nggak tau siapa dia"


Kini Bella mengeluarkan kekesalannya. Dia kesal dengan sikap Elang yang meremehkan Mirna.


"Dan kamu lupa siapa aku??" Balas Elang santai menunjukkan kekuasaannya.


Bella lupa siapa Elang. Buktinya hanya dengan sekejap saja, Santoso sudah ada di tangannya.


"Bella, percaya sama aku. Tujuan kamu selama ini pasti akan tercapai. Aku akan membantumu mewujudkannya" Ucap Elang dengan yakin.


Bella hanya diam, dia bingung harus menjawab apa. Menolak pun rasanya sia-sia. Dia sudah terlalu kenyang mengetahui sikap Elang.


"Apa Dito sudah tau tentang hal ini??"


"Sudah, aku sudah menghubunginya. Dia sudah ada di tempat Santoso berada saat ini"


"Terimakasih, kamu sudah membantuku dan Dito" Ucap Bella dengan senyum di wajahnya.


Hati Elang rasanya menghangat melihat senyuman cantik itu. Elang sudah bilang kan kalau Bella itu begitu cantik di matanya.


"Sama-sama, aku juga terimakasih untuk kesempatan hidup yang kamu berikan" Ucap Elang.


"Iya aku tau itu. Sekarang kamu istirahat dulu, ini sudah malam" Elang membetulkan selimut Bella hingga sebatas dada.


"Hemmm, kamu pulanglah" Bukan bermaksud mengusir tapi Bella merasa tidak enak karena pasti Elang dengan terpaksa menemaninya di rumah sakit.


"Tidak, aku akan tidur di sini!!" Kekeh Elang.


"Aku bisa jaga diriku sendiri. Pulanglah!! Tidur di sini tidak nyaman" Bella juga kekeh tak mau Elang tetap tinggal menemaninya.


Elang tak mengindahkan ucapan Bella. Dia justru meninggalkan Bella menuju sofa. Dia merebahkan tubuh tingginya di sofa yang tak mampu menopang panjang tubuhnya itu.


"Huffttt..." Bella mengembang nafasnya, dia menyerah menyuruh Elang untuk pulang.


Di saat Elang sudah terlelap di sofa itu dengan mudah, berbeda dengan Bella. Dia tak merasakan kantuk sedikitpun, meski obat sudah masuk ke dalam tubuhnya tapi itu sama sekali tak berpengaruh.


Berlahan air matanya menetes saat tangannya kembali mengusap perutnya. Bella merasa begitu ceroboh, dia tidak menuruti apa kata Mita yang memintanya untuk memeriksakan kondisinya ke rumah sakit.


Bella ingat betul pagi itu dia merasakan mual yang begitu hebat untuk pertama kalinya. Dan Bella tidak menyangka itu juga terakhir kali dia merasakan kehadiran calon buah hatinya yang telah pergi.


Dia tidak menyalahkan siapapun, hanya dirinyalah yang salah dalam hal ini. Tubuhnya terhantam mobil dengan keras dan terpental jauh juga karena salahnya sendiri karena menyelamatkan orang yang dicintainya. Jadi orang pertama yang patut di salahkan hanya dirinya sendiri.


"Maafkan Mama sayang. Tunggu Mama di sana ya, kamu sama Kakek dan Nenek dulu. Nanti Mama pasti menyusul mu" Tangis hati Bella.


Seketika Bella teringat anak kecil yang di tuntun Mamanya dalam mimpi.


"Apa itu kamu sayang?? Kamu cantik sekali. Kamu mirip sekali sama Papamu"

__ADS_1


Bella menggigit bibirnya agar Elang tak terganggu dengan suara tangisannya. Air matanya terus saja keluar tanpa dapat ia hentikan. Rasa sakit karena kehilangan calon anaknya begitu menggerogoti hatinya.


-


-


-


Elang membuka matanya karena terusik dengan suara di sekitarnya. Berlahan dia duduk mengumpulkan kesadarannya, lalu melihat beberapa orang yang sudah berkumpul mengerumuni ranjang Bella.


Elang yang terkejut langsung berdiri menghampiri dokter dan para perawat itu. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Dokter, kenapa dengan istri saya??" Elang melihat Bella sekilas. Wanita itu hanya diam dengan tatapan kosongnya. Akhirnya Elang bisa melihat lagi Bella yang seperti biasa. Bella yang munafik seperti dulu.


"Begini Pak, saya sudah melakukan pemeriksaan kepada istri anda. Dengan berat saya sampaikan istri Bapak mengalami kelumpuhan akibat cidera pada tulang belakangnya. Tapi ini hanya sementara, dan masih bisa di sembuhkan dengan melakukan terapi rutin"


JEDERRR...


"A-apa Dokter?? Lumpuh??" Tanya Elang dengan mata yang memerah.


"Betul Pak, tapi bapak jangan khawatir. Karena ini hanya sementara dan masih bisa di sembuhkan" Imbuh Dokter itu lagi.


Elang sudah tidak menyahut ucapan dokter itu lagi. Dia hanya menatap Bella dengan penuh kepedihan. Istrinya itu kini lumpuh hanya karena menyelamatkan dirinya.


Elang mendekati Bella, sudah tidak mempedulikan lagi Dokter yang berpamitan pergi dari ruangan itu. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah istrinya.


"Bella" Panggil Elang dengan lembut.


Tidak ada jeritan atau tangisan histeris seperti orang lain yang dinyatakan lumpuh meski hanya sementara. Bella tetap tenang dengan tatapannya yang kosong lurus ke depan.


"Bella, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku. Aku janji aku kan selalu ada di sampingmu. Aku akan menjadi kakimu. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh" Elang justru tidak kuat melihat Bella yang hanya diam seperti itu.


Elang lebih suka Bella yang marah dan membalas semua ucapannya. Tidak dengan Bella yang hanya diam seperti patung ini.


"Tidak papa, aku tidak pernah menyesali apa yang telah aku lakukan. Tapi jangan melihatku seperti itu. Aku tidak suka di tatap dengan menyedihkan seperti itu" Ucap Bella dengan lirih namun terkesan dingin di telinga Elang.


Elang bingung harus bagaimana. Dia memang benar-benar sedih, bukan hanya karena merasa kasihan.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu Bella, sedangkan aku begitu mencintaimu. Mana ada pria yang tega melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan terpuruk seperti dirimu. Harus bagaimana lagi aku membuktikan padamu kalau aku memang benar-benar peduli padamu, bukan hanya karena kasihan atau balas budi seperti yang kamu katakan itu"


Namun sayang, semua itu hanya mampu Elang utarakan di dalam hatinya saja. Kalimat panjang itu tidak mampu lolos dari bibirnya.


-


-


-


-


Happy reading..


Jangan lupa like dan komennya ya😊

__ADS_1


__ADS_2