Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
59


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok.. Tok..


"Bi!! Bi Sumi buka pintunya!!" Teriak Elang di depan pintu rumah Bella.


Setelah mengetahui Bella telah pulang tanpa ada yang memberitahunya. Elang langsung melesat menuju rumah istrinya itu.


"Bi!!" Teriak Elang tak sabaran.


"Iya Den" Ucap Sumi setelah membuka pintu itu.


"Mana Bella Bi??" Elang menerobos masuk. Dia takut istrinya itu pergi jauh dari sisinya.


"Non Bella sudah tidur Den"


"Kalau gitu aku naik dulu Bi" Elang sudah ingin menaiki tangga jika Sumi tidak menghentikannya.


"Non Bella sekarang tidur di kamar bawah Den" Elang baru ingat jika saat ini istrinya itu tidak bisa berjalan. Jadi pasti kesusahan untuk naik turun tangga.


"Di mana kamarnya Bi, aku akan menyusulnya"


"Di sana Den"Sumi menunjuk sebuah kamar yang terletak di bagian depan.


"Tapi tadi Non Bella pesan dia tidak mau di ganggu siapapun Den" Ucap Sumi dengan takut-takut.


Sontak hati Elang mencelos mendengar itu. Dia tau Bella sengaja menghindarinya.


"Tidak papa Bi, biarkan dia istirahat. Aku tidak akan mengganggunya" Ucap Elang dengan raut kekecewaan di wajahnya.


"Kalau begitu, Bibi tinggal kebelakang ya Den. Permisi"


Elang hanya mengangguk lalu berjalan ke sofa yang letaknya tepat di depan pintu kamar yang di tempati Bella.


Dia duduk di sana dengan terus memandangi pintu kamar itu berharap istrinya bisa muncul dari sana. Tapi Elang tau itu hanyalah mimpi belaka jika itu terjadi. Karena kenyataannya istrinya itu hanya bisa berbaring di tempat tidur untuk saat ini.


Elang mulai merebahkan tubuhnya itu di sofa. Tanpa melepas sepatu yang masih melekat di kakinya. Badannya sebenarnya sudah meminta istirahat namun pikirannya tidak bisa.


Berusaha memejamkan mata meski tidak mengantuk justru menyiksa Elang, karena pikirannya akan melayang kemana-mana.


PRANGGG...


Suara benda pecah membuat Elang melonjak. Dia mendengar suara itu berasal dari kamar Bella.


"Bella" Gumam Elang langsung bangkit dari sofa dan berlari menerobos pintu yang tadi sempat terlarang untuknya itu.


"Bella, kamu kenapa??" Tanya Elang panik.


Bella juga terkejut karena tiba-tiba ada yang membuka pintunya dengan keras, dan ternyata itu Elang.


Mata Elang langsung tertuju pada pecahan gelas yang berceceran di lantai.


"Kamu mau minum??" Elang mencoba menebak karena posisi Bella yang setengah terduduk dengan sikunya sebagai tumpuan.


Bella hanya diam tak menjawab. Dia terlalu terkejut karena Elang ternyata ada di luar kamarnya.


"Tunggu sebentar!!"

__ADS_1


Elang melesat pergi tapi tak lama kemudian dia kembali membawa sebuah gelas berisi air putih.


"Ini minum dulu" Elang membantu Bella untuk duduk bersandar. Tanpa bantahan pula Bella menerima bantuan Elang. Bella juga meminum air itu sampai tandas.


Bella melihat Elang yang berjongkok di sampingnya. Memungut pecahan gelas yang berserakan itu.


Semua yang dilakukan Elang itu tak luput dari penglihatan Bella. Dan Bella juga melihat Elang yang tak bereaksi apapun saat jarinya terkena pecahan kaca.


Elang tak langsung membuang pecahan itu, dia hanya mengumpulkannya di sudut nakas. Bella membuang pandangannya ke depan karena Elang sudah mulai bangkit dari posisinya.


"Kamu mau berbaring lagi??" Tanya Elang dengan lembut. Dia duduk di tepi ranjang tepat di samping kaki Bella.


"Nanti saja" Jawab Bella singkat.


Sempat terjadi keheningan sesaat sebelum Bella mulai menunjukkan kepeduliannya.


"Obati dulu lukamu. Minimal di balut dengan plester. Jangan membuang-buang darahku yang berada di tubuhmu" Kalimat cukup panjang itu keluar dari mulut Balla tanpa melihat lawan bicaranya.


Walaupun terdengar ketus tapi itu justru membuat Elang tersenyum senang, karena ternyata Bella selalu memperhatikan hal sekecil apapun darinya.


"Tidak papa, ini hanya luka kecil. Kamu tenang saja ini tidak akan menghabiskan darahmu" Balas Elang dengan sedikit candaan.


"Nggak usah ngeyel deh!!" Geram Bella. Dia mulai menunjukkan sisi galaknya lagi.


"Iya, iya sayang. Dimana kamu meletakan kotak obatnya??" Panggilan sayang itu justru mendapat delikan tajam dari Bella.


"Di sana, laci nomor dua" Tunjuk Bella nakas kecil.


Elang tak melepaskan senyumnya karena Bella terlihat begitu menggemaskan di matanya.


Bella melirik Elang dengan ekor matanya. Dia melihat Elang kesusahan memasang plester dengan tangan kirinya.


Elang tersenyum senang, rencananya berhasil. Sebenarnya dia sengaja melakukan itu agar Bella membantunya.


Elang sudah duduk di depan Bella, menyodorkan tangan kanannya yang terluka itu.


Dengan telaten Bella membersihkan lukanya terlebih dahulu. Lalu membalutnya dengan plester berwarna coklat.


Elang terus memperhatikan wajah Bella dari jarak sedekat itu. Hidung mancungnya, garis rahangnya yang tirus, serta bibir mungil berwarna merah yang sudah pernah ia cicipi itu membuat wajah Bella begitu cantik.


"Kenapa pulangnya nggak kasih kabar ke aku dulu??" Tanya Elang dengan lembut.


"Nggak enak aja, takut ngerepotin" Jawab Bella tak mau menatap Elang.


"Aku nggak merasa direpotkan Bella, kamu istriku. Kamu tanggung jawabku. Seharian ini banyak sekali pekerjaanku jadi tidak sempat mengabari mu. Setalah selesai semuanya aku buru-buru ke rumah sakit dan kamu sudah tidak ada di sana"


Bella baru sadar ternyata Elang masih memakai setelan kerjanya. Bahkan masih lengkap dengan jas dan dasinya.


"Maka dari itu aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu" Jawab Bella tak kalah lembut. Kalimat Bella itu membuat Elang menarik nafas beratnya. Dia berhenti tak ingin mendebat Bella lagi.


"Ya sudah, tapi kapan jadwal terapi pertamanya??"


"Seminggu lagi"


"Aku akan mengantarmu. Aku akan menemanimu sampai sembuh" Ucap Elang dengan kesungguhan.

__ADS_1


"Kalau butuh waktu bertahun-tahun??"


"Aku akan tetap menemani kamu sampai kapanpun!!" Tegas Elang.


Bella justru tersenyum manis di waktu yang menunjukkan tengah malam itu.


"Sudahlah, aku bisa sendiri. Mita akan menemaniku"


Hati Elang terasa di cubit. Dia seperti tak di butuhkan oleh Bella.


"Tidak!! Kali ini aku memaksa, dan kamu tidak boleh menolak!!"


Bella diam tak menjawab apapun dengan kegigihan Elang itu.


"Sekarang kamu istirahat ya. Ayo aku bantu" Bella tak menolak karena jujur badannya masih terasa sakit apalagi bekas operasinya. Tapi Bella tidak menunjukkan itu di depan Elang.


Elang menarik selimut untuk menyelimuti Bella. Memastikan agar istrinya itu tidak kedinginan.


"Kalau ada apa-apa panggil saja. Aku tidur di depan" Ucap Elang memberikan usapan lembut pada pucuk kepala Bella.


"Jadi dia tidur di depan?? Pantas saja dia langsung masuk saat aku menjatuhkan gelas" Batin Bella.


"Tidurlah di sini saja. Karena aku tidak bisa berteriak untuk memanggilmu" Itu hanyalah alasan yang di keluarkan Bella karena tak tega membiarkan Elang tidur di luar.


"Benar boleh??" Elang memastikan dengan mata berbinar.


"Hemm" Angguk Bella dengan sedikit senyum di bibirnya.


Elang melepas jasnya lalu melemparnya begitu saja ke sofa. Tak lupa sepatu dan dasi yang masih melekat di tempatnya masing-masing.


Dengan cepat Elang susah membaringkan tubuhnya di samping Bella dengan posisi tengkurap.


"Ah rasanya enak sekali berjumpa dengan kasur setelah beberapa hari aku hanya tidur dengan posisi duduk" Gumam Elang dengan suara yang tertahan bantal.


Tapi Bella masih bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan Elang. Terbesit rasa bersalah di hatinya. Bella tau dari Nadia jika Elang tidak pernah meninggalkannya saat dia kritis.


"Maaf Bella aku tidak bermaksud menyinggung kamu, aku ikhlas menjaga kamu kok" Elang gelagapan karena merasa ucapannya akan menyinggung perasaan Bella.


"Tak apa, aku tau kamu lelah. Tidurlah, karena hari esok belum tentu berjalan seperti yang kamu inginkan" Ucap Bella melirik suaminya yang berada di samping kirinya.


"Maksud kamu??" Elang mengerutkan keningnya tipis.


"Tidak usah pikirkan, tidurlah" Bella memalingkan wajah lalu memejamkan matanya.


Tapi berbeda dengan Elang yang masih menatap Bella dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksud kamu Bella, aku harap kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh" Batin Elang yang merasakan hatinya ada sesuatu yang mengganjal.


-


-


-


-

__ADS_1


Sampai jumpa besok..


jangan lupa likenya yaa😊


__ADS_2