
"Untuk apa kamu datang kesini?? Bukankah kamu membenci Mama??" Mirna tersenyum kecut melihat putrinya yang menangis tertunduk di depannya.
"Mama maafin aku kemarin aku hanya terbawa emosi dan menjadikan Mama sebagai pelampiasan ku" Sesal Marisa.
"Kamu memang selalu begitu dari dulu. Hanya mementingkan perasaanmu saja tidak pernah memikirkan Mama sekalipun!"
Geram Mirna di ruangan untuk menjenguk narapidana itu.
Marisa hanya menunduk tak bisa membantah apa yang dikatakan Mamanya.
Dia datang ke kantor polisi karena mendapat telepon dari pengacara Mamanya beberapa hari yang lalu. Dan baru hari ini dia berani menemui Mirna setelah mengumpulkan keberaniannya, mengingat setelah pertengkaran itu Marisa tidak pulang ke rumah.
Disaat seperti inilah Marisa merasakan pengorbanan Mamanya untuk membahagiakannya begitu terasa.
Dia sedih dan bingung harus melakukan apa agar Mirna bebas dari tuntutan itu. Sementara semua bukti sudah jelas mengarah pada Mirna.
"Sekarang apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Mama??" Marisa mengangkat kepalanya.
"Memangnya kamu akan menuruti semua perintah Mama??" Tanya Mirna dengan senyuman mengejek karena tidak yakin dengan ucapan anaknya itu.
"Aku pasti akan berusaha Ma" Ucap Marisa dengan yakin.
Mirna melirik kiri dan kanannya memastikan tidak ada seorang pun di dekat mereka. Lalu berlahan mencondongkan kepalanya agar lebih dekat dengan anak satu-satunya itu.
"Dengar Marisa!! Mama sudah berada di dalam sini dengan bukti yang sangat kuat dan tidak bisa di bantah. Mungkin Mama akan selamanya disini, atau mereka akan menuntut Mama dengan hukuman yang lebih kejam. Jadi Mama minta sama kamu, balaskan dendam Mama pada Bella" Kalimat terakhir Mirna mampu membuat Marisa membungkam mulutnya sendiri dengan tangan karena terlalu terkejut.
"Ap-apa.Ma??" Bella tergagap ketakutan.
"Sudah Mama duga kalau kamu tidak akan mampu melakukan itu. Hanya Mama yang berkorban untuk kebahagiaanmu. Tapi tidak dengan kamu" Ucap Mirna dengan sendu.
Sementara Marisa masih diam belum menyahut permintaan konyol Mamanya itu. Dia memang jahat pada Bella, menghina, membully dan memfitnahnya. Tapi kalau harus mencelakai Bella, Marisa masih mampu berpikir tentang hal itu.
"Sudahlah tidak udah kamu pikirkan. Lebih baik kamu pulang dan jangan pernah datang kesini lagi. Memang benar apa kata orang-orang, jika seorang ibu mampu melakukan segala cara demi kebahagiaan anaknya.Tapi tidak dengan anaknya, untuk membuat ibunya tersenyum saja seorang anak masih harus berpikir" Sindir Mirna untuk Marisa itu.
Mirna berdiri lalu meninggalkan Marisa yang masib duduk memainkan jarinya karena terlalu bingung dengan permintaan aneh itu.
"Tunggu Ma!!" Mirna tersenyum miring mendengar Marisa menghentikannya.
"Aku akan melakukan itu, asal itu bisa membuat Mama bahagia" Ucap Marisa dengan yakin tak ada keraguan di setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Mirna berbalik lalu memeluk Marisa dengan senyuman licik di balik punggung Marisa.
"Kamu memang anak yang berbakti sayang" Ucap Mirna di pelukan anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Mama harus mengorbankan mu Ca, mama tidak bisa membiarkan Bella hidup bahagia sementara Mama menderita di dalam sini!!" Batin Mirna dengan sengit.
-
-
-
Hari ini adalah jadwal Bella untuk terapi yang sudah di jadwalkan oleh dokter yang menanganinya waktu itu.
Dan Elang menepati janjinya untuk selalu di samping Bella saat melakukan terapi di rumah sakit. Bahkan Elang adalah orang yang paling antusias dibandingkan Bella sendiri.
Apalagi setelah keluar dari ruang terapi itu Bella kembali diam dan tak bersuara. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Elang mendorong kursi roda itu ke taman rumah sakit, dan menghentikannya di bawah pohon yang terlihat sangat rindang dan mampu menutupi apapun di bawahnya dari terik sinar matahari.
"Kenapa kita kesini?? Bukannya mau pulang??" Tanya Bella dengan suara lembutnya yang kini menjadi candu bagi Elang.
Elang duduk di bangku taman dan berhadapan dengan Bella yang duduk di kursi roda.
"Lalu kenapa dari tadi kamu terus melamun??" Pertanyaan Bella justru di jawab pertanyaan juga oleh Elang.
"Aku rasa melakukan terapi seperti tadi tidak akan membuahkan hasil. Aku sudah ikhlas menerima nasibku seperti ini. Jadi tidak usah di lanjutkan saja" Ucap Bella dengan menunduk sedih.
"Ini baru satu kali kenapa kamu sudah menyerah?? Untuk sembuh itu butuh proses, tahap demi tahap, aku yakin kamu bisa sembuh. Dan ingat kata dokter tadi, semangat dari dalam hatimu yang akan menuntun mu lebih cepat sembuh. Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini. Jadi hilangkan rasa putus asa itu, kamu harus tetap semangat. Aku akan selalu ada buat kamu. Mengerti??"
"Tap___"
"Tidak ada kata tapi, kamu harus tetap menjalani terapi ini. Jangan mudah menyerah seperti saat kamu mencari keadilan untuk orang tua kamu" Elang melepas tangannya dari pipi Bella. Beralih mengusap buliran air mata yang sudah turun itu.
"Tapi nyatanya aku gagal kan??" Bella tersenyum miris.
"Tidak, kamu tidak gagal sayang. Kamu sudah berhasil membuat mereka berada di penjara" Ucap Elang dengan senyum manisnya. Dia lupa memberitahu Bella tentang hal ini. Dia terlalu bahagia beberapa hari ini karena Bella sudah mulai membuka hatinya lagi.
"Maksud kamu??" Tanya Bella.
"Maafkan aku karena lupa memberitahumu kalau Tante kamu yang jahat itu sudah mendekam di penjara beserta suaminya"
"Ka-kamu serius??"
"Apa aku terlihat bercanda??"
"Terimakasih, terimakasih banyak. Aku tidak tau lagi harus berkata apa, aku sungguh berterimakasih padamu. Aku sangat bahagia" Bella meraih kedua tangan Elang. Tanpa sadar dia menggenggam tangan itu begitu erat.
__ADS_1
"Jangan berterimakasih padaku sayang, ini tidak seberapa di bandingkan pengorbanan mu untukku"
"Apapun itu yang jelas aku sangat berterimakasih untuk itu" Jangan lupa jika mereka berdua sama-sama keras kepala.
"Dan ada satu lagi, sebentar lagi perusahaan Papa kamu akan segera kembali kepadamu. Bahkan semua saham juga atas nama kamu" Dua hal itu yang seharusnya Elang katakan dari kemarin.
"Hiks.. Hiks.." Bella justru terisak mendengar penurunan Elang itu.
"Kenapa menangis lagi??" Tanya Elang kebingungan.
"Aku tidak tau lagi harus membalas bantuan mu dengan cara apa. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak"
"Sudah aku katakan itu tidak seberapa jika di bandingkan dengan pengorbanan mu selama ini" Jawab Elang dengan kekeh.
"Jadi kamu ingin hitung-hitungan denganku??" Bella menatap Elang dengan dalam.
"Boleh juga. Tapi kalau soal hatiku tidak akan aku hitung karena perasaanku ini bukan sesuatu yang bisa membalas semua kebaikanmu sayang. Aku tau kamu masih ragu dengan cintaku ini tapi jangan pernah menolak untuk melihat pembuktiannya kepadamu" Tiba-tiba pembicaraan mereka mengarah pada sesuatu yang sangat sensitif, yaitu menyangkut perasaan.
"Bisa tidak jangan panggil aku seperti itu??" Bella mencoba mengalihkan pembicaraan itu.
"Memangnya kenapa??"
"Aku tidak terbiasa mendengarnya, dari kemarin begitu aneh di telingaku" Sebenarnya bukan ditelinga Bella namun di jantungnya yang berdebar semakin kuat saat mendengar kata mesra itu.
"Kalau begitu aku akan terus melakukannya agar kamu terbiasa" Elang justru menggoda Bella.
Elang tersenyum melihat pipi Bella yang mengeluarkan semburat merah. Dia tau istrinya itu sedang tersipu.
Elang meraih kursi roda Bella, kemudian berdiri dan mulai mendorongnya.
"Ayo kita pulang, SAYANG" Elang menekan kata sayang itu tepat di telinga Bella setelah dia mendekatkan wajahnya di sana.
Kata yang sudah di katakan asing oleh Bella itu mampu membuatnya diam tak berkutik. Suara Elang yang rendah dan berat itu justru terdengar sangat menggelitik telinga Bella hingga sampai ke tenggorokannya, membuatnya tercekat tak dapat mengeluarkan kata-kata, dan terus kebawah sampai ke dadanya hingga rasanya sesak, kemudian turun lagi dan menghujam jantungnya sampai Bella menyalahkan dokter yang tidak becus memeriksa keadaan organ dalamnya. Untung saja tidak turun sampai usus yang akan membuatnya merasa mulas. Dan semua itu hanya karena panggilan SAYANG yang begitu s**si di telinga Bella.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya ya☺☺