
Elang berhasil mencekal tangan seseorang yang sudah di incarnya sedari tadi. Elang sengaja bersembunyi dan menunggu Bella pergi dari restoran itu hanya untuk menemui pria yang bersama Bella tadi.
"Siapa kau!!" Geram Dito karena tiba-tiba ada yang menyeretnya ke tempat yang terlihat sepi.
"Harusnya aku yang bertanya siapa kau, apa hubunganmu dengan Bella??" Elang menahan Dito dengan mendesaknya ke dinding dan sikunya yang berada di dada Dito.
"Itu bukan urusanmu!!" Ucap Dito meremehkan Elang. Sebenarnya Dito juga sudah tau siapa pria yang sendang menginterogasinya ini. Tapi dia pura-pura tidak tau demi sahabatnya, Bella.
"Tentu saja itu menjadi urusanku karena Bella adalah istriku!!" Desis Elang dengan rahangnya yang sudah mulai mengeras.
"Ha ha ha ha..." Dito justru tertawa dengan keras mendengar pernyataan Elang itu.
"Kenap kau tertawa b**ngsek!!
" Kau yakin menyebut dirimu seorang suami? Sungguh itu membuatku ingin kencing di celana karena kau terlalu lucu di mataku!!" Ucapan Dito kali ini benar-benar membuat amarah Elang memuncak.
BUGGHHH...
Satu pukulan berhasil mendarat dengan sempurna di wajah Dito.
"Kurang ajar!! Beraninya kau menghinaku!!"
BUGHHH...
Kini giliran bagian perut dito yang menjadi sasaran empuk untuk Elang.
Elang mengangkat Dito yang sempat tersungkur dengan menarik kerah bajunya.
"Lalu aku harus menyebutmu apa? Suami yang sangat mencintai istrinya dan penuh tanggung jawab begitu??!!"
CUIIHHH...
Dito meludah tepat di samping Elang.
"Bagaimana kau bisa disebut seperti itu jika kau sendiri tidak tau apa yang di hadapi oleh istrimu itu!! Semua yang sudah dia perjuangkan kini telah sirna hanya karena dia memikirkan keselamatan suami t*lol sepertimu!!" Dito tersenyum miring melihat Elang yang diam tak berkutik.
"Apa maksudmu!!" Sentak Elang.
"Kau cari tau sendiri dengan otak dungu mu itu!!" Elang tidak habis pikir kenapa Bella dan pria di depannya ini sama-sama bermulut pedas.
Dito mulai melangkah pergi meninggalkan Elang yang kini sedang mencerna segala ucapan Dito.
"Tunggu dulu!!" Suara Elang menghentikan Dito yang sudah agak jauh darinya.
"Apa kau orang yang berinisial D di ponsel Bella?"
Pertanyaan itu membuat Dito berbalik dan menyeringai ke arah Elang.
__ADS_1
"Kau cari tau sendiri, aku tidak sudi memberitahumu!!" Dito kembali melangkah meninggalkan Elang.
"Apa yang di maksud pria itu?? Memangnya apa yang dilakukan Bella untukku?? Sungguh aku tak mengerti dengan semua ini. Terlalu banyak yang mereka sembunyikan. Apa aku memang dungu seperi yang dia katakan hingga aku tak tau apa-apa?"
-
-
-
Sementara itu dua wanita licik sedang tertawa puas karena ambisinya sudah tercapai. Ambisi untuk menguasai harta orang lain dengan cara yang licik.
"Mama, akhirnya kita nggak perlu capek-capek kerja lagi" Marisa memeluk pinggang Mirna dari samping.
"Tentu saja, ternyata usaha kita selama ini tidak sia-sia" Mirna tersenyum licik.
"Tapi masih ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan Ma!!" Marisa melepaskan pelukannya lalu menatap Mirna dengan penuh binar.
"Apa itu sayang?"
"Mama harus bantu aku untuk mendapatkan Elang kembali. Dengan begitu kita juga akan semaaaaaakin kaya raya dengan harta yang dimiliki Elang. Aku tidak rela mereka bersama untuk selamanya!!"
Marisa mengambil vas bunga uang ada di atas meja lalu melemparnya ke dinding hingga tepat mengenai foto Bella bersama kedua orang tuanya.
"Itu masalah kecil, Mama tidak hanya akan memisahkan mereka. Tapi, Mama juga akan membuat Elang semakin membenci Bella hingga ke tulang-tulangnya!!" Mirna meremas tangannya di depan dada seolah olah Bella ada dalam genggamannya yang akan remuk jika dia meremasnya.
****
Hari sudah berganti sejak Elang menemui Dito waktu itu. Tapi Elang belum juga bergerak mencari tau tentang Bella karena pekerjaannya di kantor sudah sangat menumpuk. Apa lagi di perusahaannya sedang terkendala suatu masalah yang membuat Elang sangat sibuk untuk beberapa hari ini.
"Halo Bunda?" Sungguh baru kali ini Bundanya itu menghubungi Elang setalah hampir satu bulan meninggalkan rumah.
"Apa kabar kamu sama Bella? Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Bunda Lang?"
"Kita baik-baik saja Bunda. Maaf Elang terlalu sibuk akhir-akhir ini jadi tidak bisa menghubungi Bunda" Elang sengaja berbohong karena pasti Nadia akan menceramahinya jika tau Bella sudah pulang ke rumah.
"Elang, jangan kamu pikir Bunda tidak tau apa yang terjadi ya!! Cepat selesaikan masalahmu dengan Bella. Awas kamu kalau sampai Bella kenapa-napa gara-gara kamu!!"
"Kenapa Bunda selalu membelanya dari dari pada aku? Kalau Bunda di suruh memilih antara aku dan Bella apa bunda akan memilihnya juga?"
"Tentu saja!!" Jawan Nadia tegas dari seberang sana.
"Astaga Bunda!! Apa hebatnya dia sehingga membuat Bunda seperti ini!!" Kesal Elang.
"Kelak kamu akan mengerti!!"
Tut...
__ADS_1
Elang mematikan sambungan teleponnya secara sepihak karena terlalu kesal dengan sang Bunda.
"Selalu saja seperti itu. Bahkan aku tidak ada harganya sebagai seorang anak!!"
BRAKKKKK
Alam memukul meja kerjanya dengan keras.
Tok.. Tok.. Tok..
"MASUK!!" Teriak Elang.
"Sayang, kenapa sih kamu teriak-teriak kaya gitu?" Marisa masuk ke ruangan Elang dengan wajah khawatirnya.
"Marisa ingat ini di kantor!!" Elang mengingatkan Elang yang memanggilnya sayang.
"Iya aku tau Pak Elang, tapi aku khawatir sama kamu!!" Marisa mendekati Elang yang masih mencoba mengatur napasnya yang memberubu karena rasa marahnya.
"Sebenarnya kamu kenapa? Kamu tenang ya, kamu bisa cerita sama aku" Marisa mengusap lembut dada Elang.
Elang mulai tenang dengan usapan lembut dari Marisa itu. Marisa yang melihat itu pun tersenyum penuh arti.
Tangannya yang semula berada di dada Elang kini berlahan mulai naik hingga bahu tegap milik Elang.
Dengan pelan menyusurinya hingga sampai ke leher dengan jakun yang terlihat menantang itu. Tangan dengan kuku palsu yang cukup panjang itu terus bergerak naik hingga sampailah pada rahang tegas namun bersih dari bulu itu.
Marisa seolah memaksa Elang untuk beradu pandangan dengannya. Mata Marisa yang penuh dengan rencana busuknya mulai menghipnotis Elang hingga pria itu hanya diam menerima sentuhan demi sentuhan dari Marisa.
"Elang, aku kangen sama kamu!!" Tanpa persetujuan dari Elang, Marisa sudah menyatukan bibir tebal penuh lipstik miliknya.
Dengan sangat ber**fsu Marisa memainkan bibirnya di atas bibir milik Elang. Marisa memejamkan matanya menikmati permainannya. Marisa seolah tak peduli ketika Elang belum juga membalas ciumannya. Elang juga tidak tau kenapa ia sama sekali tidak terpancing dengan tindakan gila Marisa itu.
"Hemmm!!"
Suara seseorang menghentikan keberingasan Marisa.
-
-
-
-
-
Happy reading, jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian untuk mendukung karya ini ya.. Terimakasih๐๐๐๐
__ADS_1