
Setelah Elang memberitahunya tentang penangkapan Mirna, Elang dengan tegas melarang Bella untuk menemui Mirna di kantor polisi.
Padahal itulah yang dinanti-nanti Bella sejak dulu, melihat Mirna yang menderita di dalam penjara. Tapi apa daya sekarang ini Bella hanya bisa duduk di kursi roda. Dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur jika tidak ada yang membantunya.
Bahkan Mita, Rayan dan Dito saja lebih memilih menjadi sekutu Elang. Mereka mendukung Elang untuk tidak membawa Bella bertemu dengan Mirna.
Bella belum boleh pergi jauh oleh Elang. Dia begitu protektif menjaga istrinya itu. Bella hanya di perbolehkan keluar rumah sebatas halamannya saja, tidak lebih dari itu.
Elang melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Dia takut terjadi sesuatu dengan Bella lagi. Mirna memang sudah di dalam penjara, tapi bukan berarti dia tidak bisa mencelakai Bella. Oleh sebab itu Elang berusaha tetap menahan Bella untuk di rumah.
Dia meminta beberapa orang untuk berjaga di sekitar rumah Bella, karena dia tidak mau kecolongan saat meninggalkan Bella ke kantor. Elang akan pulang saat jam makan siang hanya untuk memastikan keadaan Bella.
"Bella, Elang belum pulang??" Nadia menghampiri Bella yang sedang berada di taman samping rumahnya.
"Belum Bun, biasanya sebentar lagi. Ini sudah hampir jam makan siang" Jawab Bella melihat jam di ponselnya.
"Bunda sudah masak makanan kesukaan kalian berdua. Nanti kalian makan di rumah Bunda ya??" Kini Nadia hanya tinggal seorang diri setelah Elang memilih ikut tinggal di rumah Bella..
Walaupun jarak rumah mereka hanya terpisah sebuah taman saja, tapi Nadia begitu merasa kesepian. Hanya Wati yang berada di rumah itu menemani Nadia.
"Iya Bunda, terimakasih karena Bunda selalu menyayangi Bella" Ucap Bella dengan haru.
"Kamu anak Bunda, jadi sudah sepantasnya Bunda sayang sama kamu" Senyuman yang selalu meneduhkan bagi Bella di berikan Nadia untuknya.
"Hay Bella!!" Suara cempreng yang sangat di kenal Bella.
"Kalian disini??" Bella beralih mencari sumber suara itu. Ternyata Mita, bersama Rayan dan Dito datang bersamaan.
"Apa kabar Bella. Maaf aku baru datang sekarang, setelah melihat kamu koma waktu itu aku ada pekerjaan ke luar negeri yang tidak bisa ku tinggalkan" Jelas Rayan merasa sungkan karena baru bisa menjenguk Bella.
"Tidak papa Rayan, Mita sudah cerita kok" Jawab Bella dengan santai. Membuat Rayan menggaruk tengkuknya karena canggung.
"Sekarang gimana keadaan kamu Bella??" Kini giliran Dito yang membuka suara.
__ADS_1
"Sudah lebih baik Dito, kakiku sudah bisa di gerakkan walau belum maksimal. Tapi aku juga belum bisa bangun sendiri dari tempat tidur" Ucap Bella dengan sendu. Dia malu dengan keadaannya saat ini
"Pelan-pelan Bella, kamu pasti bisa sembuh. Lagi pula Elang juga berusaha mencari terapis terbaik buat kamu, jadi jangan pernah putus asa" Mita tidak mau melihat sahabatnya kehilangan semangat untuk sembuh.
"Betul Bella, semangat Elang untuk membantumu sembuh sangat besar. Jadi kamu jangan mudah menyerah" Ucap Dito.
Mereka semua bisa melihat ketulusan Elang merawat Bella. Maka dari itu mereka mendukung apapun keputusan Elang untuk menjaga Bella termasuk menjaga Bella dengan beberapa bodyguard yang selalu siap 24 jam di sekitar rumahnya.
"Iya Dito, aku tau itu" Bella juga bisa merasakan ketulusan Elang beberapa hari ini. Pria itu benar-benar membuktikan perkataannya untuk meyakinkan Bella.
"Dito, apa kamu sudah melihat tante Mirna??" Bella tiba-tiba teringat dengan masalah itu.
"Sudah, kasusnya sudah naik ke persidangan. Tinggal menunggu jadwal sidang pertama saja. Dan Elang juga sudah menyiapkan pengacara terbaik untuk kita"
Hati Bella rasanya lega mendengarnya, apalagi saat mendengar Dito menceritakan itu semua. Terlihat jelas rasa bahagia yang tergambar di wajahnya. Bella senang akhirnya kasus ini akan segera selesai. Dan mereka yang berbuat kejahatan segera mendapatkan ganjarannya.
"Tapi sekarang Marisa bagaimana?? Dia pasti sendirian" Celetuk Bella membuat Mita dan lainnya mengernyit bingung.
"Apa Bell?? Nggak salah dengar nih?? Ngapain kamu nanyain si Markisa itu??"
"Kenapa memangnya?? Nggak terima ku ubah nama teman kamu itu?? Kamu suka sama dia?? Mau gantiin Kak Elang sama dia??" Cerocos Mita pada Rayan. Membuat mantan playboy itu gelagapan.
"Apaan sih, enggak dong. Aku cuma mau sama kamu" Ucap Rayan seperti anak kecil yang manja.
"Udah deh nggak usah kaya gitu di depan gue. Jijik tau" Ucap Dito pada pasangan bucin itu.
"Bilang aja iri" Sindir Rayan.
"Sudah, kalian itu seperti anak kecil saja" Sela Nadia yang sebenarnya geli dengan anak-anak muda itu.
"Hehe maaf Bunda" Ucap Rayan dengan cengiran tak berdosa.
"Memangnya kenapa Bell, kok kamu tiba-tiba ingat Marisa??" Tanya Mita lagi setelah pertanyaan Bella tadi yang sempat terlupakan.
__ADS_1
"Kasihan aja sama dia Mit. Dia bakalan hidup sebatang kara" Jawab Bella dengan jujur.
"Masih bisa ya Bell, kamu mikirin orang lain. Padahal dia orang yang selalu menyakiti kamu" Ucap Mita tidak percaya dengan pemikiran Bella itu.
"Bukan begitu Mita"
"Sudahlah Bella, tidak usah pikirkan lagi. Dia sudah Dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri"
Akhirnya Bella tak menjawab lagi. Dia juga merasa aneh pada dirinya sendiri. Mana ada orang yang mengkhawatirkan keadaan orang yang sedari dulu telah berbuat jahat padanya.
Sementara itu, Elang terus tersenyum di dalam mobilnya. Dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan istrinya itu.
Dia merasa dirinya seperti remaja yang sedang di mabuk asmara. Karena baru beberapa jam yang lalu meninggalkan Bella untuk bekerja, kini sudah merindukannya lagi.
Apalagi melihat sikap Bella yang berlahan mulai menerima Elang. Tidak menunjukkan penolakannya lagi tentu saja membuat Elang semakin bahagia.
Elang memarkirkan mobilnya di halaman rumah Bella. Dia sudah melihat dua mobil yang tak asing baginya juga terparkir di sana. Sekarang hubungan Elang dengan para sahabat istrinya itu juga sudah mulai dekat. Dia belajar untuk menerima apapun yang membuat Bella bahagia. Baginya itu juga langkah untuk membuat Bella percaya padanya.
Elang memasuki rumah yang menjadi tempat kenangan sang istri bersama orang tua angkatnya itu. Tapi tidak terdengar suara satu orang pun di dalam sana. Seharusnya jika ada orang-orang itu pasti terdengar suara mereka.
Elang juga melihat ke kamar istrinya, tapi juga nihil. Kemudian Elang melangkahkan kakinya ke pintu samping, mencari mereka ke taman samping.
Dan seluas senyum kembali terlihat di bibir Elang karena melihat Bella yang tersenyum bahagia bersama sahabatnya itu. Bahkan Elang juga melihat Nadia yang ikut nimbrung di sana. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Elang selain melihat Bella bisa tertawa lepas seperti itu.
Elang berjalan mendekat ke arah mereka. Tapi Elang melihat sesuatu yang mencurigakan dari balik pohon di seberang jalan.
Ada seseorang di sana yang terus menatap ke arah mereka. Dan Elang mulai melihat orang itu menggerakkan tangannya ke atas, Elang tau betul benda apa yang sedang di pegang orang bermasker itu.
Dengan secepat mungkin Elang berlari menghampiri Bella. Dia tau apa yang akan di lakukan orang itu.
"BELLA AWAS!!"
Semua orang terkejut dengan suara teriakan Elang itu. Tapi tidak ada yang tau apa maksud Elang itu.
__ADS_1
DORRRR.....