
"Nggak mungkin.. Itu nggak mungkin. Enggak!!"Lirih Elang di tengah air matanya yang mukai menganak sungai.
"Bella tidak mungkin mencintaiku kan Bunda??" Elang meminta jawaban pada Nadia dengan suaranya yang tercekat.
"Mana ada orang yang rela mengorbankan segalanya pada seseorang kalau dia tidak mencintainya!! Dasar b**ngsek!!" Maita masih saja mengucapkan kata-kata pedasnya.
"Kenapa kau memakiku?? Aku akui aku salah selama ini bersikap kasar dan membenci Bella. Tapi aku sungguh tidak tau apa-apa. Jika kalian memberitahu yang sebenarnya, aku pasti tidak akan pernah menyakiti Bella sedalam ini"
Elang tertunduk lagi. Bukan hanya matanya yang menangis, hatinya juga ikut menangis. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, terbesit setitik rasa bahagia.
Elang tidak menyangka jika Bella mencintainya. Ternyata rasa cintanya yang tertutup kebencian itu sebenarnya telah bersambut.
Elang ingat betul jika Bella tidak pernah mengatakan jika dia membenci Elang. Bella juga lebih banyak diam ketika Elang mencacinya.
"Bunda minta maaf Lang, Bunda sebenarnya ingin sekali memberitahumu dari dulu. Tapi Bella yang melarangnya. Bella tidak mau kamu bersikap baik padanya hanya karena hutang budi"
Nadia mendekati putranya yang tengah rapuh. Tangannya yang lembut meraih kepala Elang. Mengusapnya dengan lembut.
"Bella mengikatmu dalam sebuah pernikahan bukan hanya karena ingin menyelamatkanmu dari Marisa. Tapi Bella juga ingin menjadikanmu tempat berlindung. Menurutnya hanya kamu dan Bunda yang bisa melindunginya Lang. Karena jika kamu menikah dengan Marisa, sudah pasti Bella akan kehilangan kita" Nadia memeluk putranya yang sedang terisak itu.
"Bella selalu yakin kalau kamu akan merubah sikap kasar mu itu seiring berjalannya waktu. Dia selalu berdoa agar kamu lambat laun menerima pernikahan kalian"
Rasanya hati Elang semakin tersayat-sayat mendengar penuturan Nadia.
"Elang malu Bun. Elang malu bertemu Bella saat dia sadar nanti. Elang takut dia tidak akan memaafkan Elang"
Tangis Elang di pelukan Madia. Ada kalanya seorang laki-laki menangis saat hatinya benar-benar hancur.
"Bella tidak akan pernah seperti itu. Bella sangat mencintaimu. Walaupun Kak Elang selalu memakinya. Dia tidak pernah membencimu" Ucap Mita di belakang Elang.
Tok..tok..tok..
"Permisi" Seorang suster masuk ke dalam dengan senyum ramahnya.
Elang buru-buru menghapus air matanya. Tak ingin dirinya yang lemah di lihat orang lain.
"Bapak Ibu, maaf mengganggu. Ini barang-barang Nona Arabella yang kami lepas saat operasi. Coba di periksa dulu"
Mita menerima sebuah kantung plastik bening yang berisi perhiasan milik Bella.
"Terimakasih Sus, ini sudah benar" Ucap Mita setelah memeriksa isinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu"
Mita membuka plastik itu lagi. Mengeluarkan sebuah kalung di dari dalamnya.
Kalung panjang dengan liontin sebuah cincin menggantung di depan wajah Elang. Mita sengaja menggantung kalung itu di jarinya.
"Kakak masih ingat ini apa?"
Elang mengangguk, ia ingat dengan jelas cincin itu milik siapa. Cincin yang harusnya di pasangkan Marisa pada jari manis Elang.
"Lalu kenapa cincin ini ada pada Bella?? Memangnya, dimana Kakak menaruhnya??" Tanya Mita dengan halus sembari memainkan kalung di jarinya.
Seketika itu Elang membelalakkan matanya. Mengingat sesuatu yang pernah ia lakukan.
"Ke-kenapa cincin itu bisa ada pada Bella?? Waktu itu aku sudah membuangnya ke danau" Elang terlihat sedikit gusar.
"Waktu itu aku ke rumah Bella untuk mengambil baju milik klien yang di bawa pulang oleh Bella. Tapi saat aku tiba di sana, aku melihat Kak Elang menarik Bella dengan kasar. Aku diam-diam mengikuti kalian hingga sampai ke danau buatan di dekat rumah kalian itu"
__ADS_1
FLASHBACK ON
Mita bersembunyi di balik pohon tanpa Bella dan Elang sadari.
"Satu hal yang perlu kau ingat di dalam otakmu jika hatimu sudah kau buang. Bukannya kau lebih suka berpikir menggunakan otakmu yang licik itu daripada hati batu mu?"
Mita bisa dengan jelas apa yang Elang ucapkan itu. Jika Mita yang menjadi Bella, sudah pasti dia akan menangis dengan sangat keras karena tak kuat menahan sakitnya di hina oleh orang yang kita cintai.
"Aku tidak peduli dengan pernikahan ini dan aku tidak akan pernah menerima dirimu dalam hidupku!!"
Mita bisa merasakan pedih di hatinya mendengar kata demi kata yang tidak di tujukan untuknya itu.
"Walau di dunia ini hanya tersisa satu wanita, aku tetap tidak sudi mencintai gadis angkuh dan sombong sepertimu!!"
Mita memejamkan matanya, jantungnya berdetak begitu keras. Rasanya ingi melempar kepala Elang dengan batu yang ada di dekatnya. Agar pria itu sadar jika dia telah ucapannya itu akan dia sesali suatu saat nanti.
"Aku juga tidak mengharapkan itu!!"
Setelah Mita mendengar langkah kaki menjauh, Mita muncul dari balik pohon itu. Dia bisa melihat Bella yang masih diam mematung dengan pandangan lurus ke depan.
"Bella!!" Panggil Mita mendekati Bella.
"Mita, pegang ini Mit. Aku masih bisa melihat dia membuangnya di sana"
Bella menyerahkan kertas yangs sedari tadi ia bawa itu pada Mita. Dia juga melepas heelsnya dengan tatapannya masih fokus pada air di depannya.
"Apa yang kau maksud Bella?? Apa yang dia buang??"
Bella tak menjawab justru berjalan masuk ke dalam air yang tingginya sebatas pahanya.
"Bella apa yang kau lakukan!!" Mita berusaha mengejar Bella namun Bella sudah terlanjur jauh daei jangkauannya.
"Mita, apa kau lihat dia membuangnya ke sini?? Aku pasti bisa menemukannya kan Mit??"
"Bella katakan padaku apa yang sebenarnya kau cari, aku akan membantumu!!"
Mita meletakkan kertas itu di rumput lalu menindihnya dengan batu kecil agar tidak tertiup angin.
"Jangan Mita!!" Teriak Bella saat Mita sudah bersiap masuk ke dalam air menyusul Bella.
"Biarkan aku yang mencarinya sendiri. Aku takut kalau cincin itu malah hilang karena pergerakan kita"
Mita sekarang baru paham apa yang Bella cari.
"Cincin?? Apa Kak Elang membuang cincinnya??"
Bella diam saja masih terus meraba-raba lumpur di bawah kakinya. Badan dan rambutnya yang panjang sudah basah terkena air kotor.
"Bella sudahlah, biarkan saja cincin itu. Untuk apa mencarinya, biarkan dia menyesal karena telah membuangnya. Ayo naik nanti kamu sakit!!" Teriak Mita.
Bella tetaplah Bella yang keras kepala, dia tak mengindahkan ucapan Mita.
Mita ingin sekali membantu Bella, tapi dia berpikir jika ikut membantunya pasti akan semakin sulit menemukan cincin itu karena pasti letaknya akan berubah.
Sudah lebih dari dua jam Bella berendam di sana. Mungkin tangan dan kakinya sudah berkerut karena terus terendam air.
"Bella ayo naiklah, ini sudah gelap!! Biarkan cincin itu, besok kita cari lagi!!" Mita sangat khawatir dengan keadaan Bella saat ini.
"Sebentar lagi Mita, aku yakin bisa menemukannya!!" Balas Bella tak putus asa.
__ADS_1
"Tapi ini sudah malam, lebih baik be__"
"Aku menemukannya Mit, lihat ini!! Aku sudah menemukannya!!"
Bella mengangkat cincin itu untuk memperlihatkannya pada Mita. Bella berjalan cepat menghampiri Mita dengan senyumannya yang lebar.
"Mit lihatlah, aku bisa menemukannya!!" Girang Bella memeluk Mita. Mita pun membalas pelukan Bella dengan erat. Tak peduli sahabatnya itu sudah basah kuyup.
Namun tiba-tiba Bella melepaskan pelukan itu. Wajahnya berubah sendu, tak lama kemudian tampak mendung di matanya. Isakan-isakan kecil mulai terdengar dari bibirnya.
"Mita, apa aku sungguh tidak pantas untuk dicintai?? Apa aku sehina itu sampai Kak Elang mengatakan tidak akan pernah mencintaiku?? Apa kamu mendengarnya Mita??"
Mita ikut menangis melihat Bella yang hancur seperti ini. Baru kali ini Bella menangis si depan Mita. Karena Bella selalu menutupi kesedihannya dengan wajah datar itu.
Tubuh Bella merosot ke tanah, tangannya memukul-mukul dadanya dengan pelan.
"Rasanya sakit sekali disini Mit. Aku tidak kuat lagi, rasanya sungguh periihhh hiks ... hikss"
Mita meraih Bella dalam pelukannya dalan posisi saling terduduk di tanah dengan langit yang sudah gelap.
"Kenapa mencintai seseorang harus sesakit ini Mita. Aku rasa sampai kapanpun aku tidak bisa meraih hatinya. Dia terlalu tinggi untuk aku yang jatuh tertunduk"
Dan untuk pertama kalinya juga Bella mengungkapkan isi hatinya. Sejak dulu Mita hanya tau jika Bella mencintai Elang. Namun Bella tidak pernah bercerita tentang apa yang dirasakannya.
"Sudahlah Bella. Jangan seperti ini!! Aku yakin suatu saat nanti dia akan menyesal karena tidak menyadari adanya cinta yang besar darimu"
"Hiksss.. hiksss..."
Mita melepaskan pelukan Bella, mengusap air mata yang membasahi pipi Bella yang mulus itu.
"Sekarang ganti bajumu dulu, aku akan menghubungi Bi Sumi untuk mengambilkan bajumu dari belakang agar mereka tidak ada yang tau"
Bella mengangguk lemah. Menahan rasa sakit karena luka yang berdarah ternyata tak ada apa-apanya di banding harus menahan luka di dalam hatinya yang tak berdarah, namun rasa melebihi rasa sakit apapun di dunia ini.
FLASHBACK OFF
Tes..
Air mata yang tadi sempat berhenti kini mengalir lagi di pipi Elang.
Ia tak menyangka Bella berbuat senekat itu hanya untuk mencari cincin yang telah di buangnya.
"Hari itu adalah pertama kalinya aku melihat Bella benar-benar hancur. Bella selalu memperlihatkan sikapnya yang dingin dan kuat di depanku. Tapi saat itu dia menangis dengan pilu di pelukanku. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas ucapan mu waktu itu Kak"
Mita menyerahkan kalung yang berliontin cincin itu pada Alam. Juga plastik yang berisi perhiasan milik Bella dari suster tadi.
Elang menyentuh cincin itu dengan tatapan nanar.
"Ara" Lirih Elang dalam hatinya.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Maaf ya kalau cerita ini terlalu muter-muter, membingungkan dan nggak sesuai sama harapan kalian, tapi terimakasih banyak untuk kalian yang sudah selalu mendukung dan memberikan banyak masukan ☺
Happy reading readers 😘