
"Bunda, jangan bilang??"
Tubuh Elang mulai gemetar. Tentu saja sebuah dugaan sudah ada di dalam pikirannya.
"Benar, apa yang ada di dalam pikiranmu itu benar Lang!!" Nadia menatap putranya itu dengan penuh keyakinan.
Elang menggeleng, seakan tidak menerima kenyataan yang baru diketahuinya.
"Bella yang mendonorkan ginjalnya untukmu. Bahkan dia juga yang mendonorkan berkantung-kantung darah saat kamu menjalani cuci darah sebelum operasi itu di lakukan!!"
"Bagaimana?? Apa kamu puas dengan apa yang kamu dengar Elang??"
Nadia seolah-olah bukanlah ibu kandung Elang, dia dengan gencar mencerca Elang dengan berbagai ucapannya.
Ingatan Elang berputar pada 5 tahun yang lalu, saat Elang menjalan operasi transplantasi ginjal.
Ia sempat kesal karena selama Elang menjalani operasi hingga masa penyembuhan Bella tak pernah menapakkan diri untuk sekedar menjenguknya.
Kini Elang mendapat jawabannya, kemana Bella saat itu.
Elang meraih tangan Bella yang terpasang infus di punggung tangannya. Mengangkat dengan pelan, membawanya pada sisi pipinya. Kemudian menciumnya berkali-kali.
"Maafkan aku Bella, terimakasih kamu sudah berulang kali menyelamatkan nyawaku. Seharusnya aku tak pantas mendapatkan semua itu darimu" Lirih Elang karena tangisannya semakin tergugu.
"Bukan hanya nyawamu yang dia selamatkan Lang, tapi juga Bunda!!"
Nadia ternyata belum juga selesai memberikan kejutan pada Elang.
"Lihat luka ini Lang?" Nadia menunjuk pada luka sekitar 5 cm itu.
"Kamu ingat saat Bunda hampir di lecehkan oleh preman-preman dulu?? Saat Bunda pergi bersama Bella waktu kalian masih sekolah?? Dan Bunda tau itu puncak dimana kamu mulai membenci Bella kan??"
Elang berpikir sejenak lalu mengangguk
"Sekarang Bunda tanya dengan pasti apa yang membuat kamu membencinya??"
"Elang, Elang sangat kesal karena dia meninggalkan Bunda di tengah preman-preman itu. Sementara dia melarikan diri tanpa membantu Bunda. Padahal sudah jelas kalian pergi berdua tapi kenapa Bella harus meninggalkan Bunda sendiri" Jelas Elang.
"Kamu salah besar Elang!!" Sergah Elang.
"Waktu itu, Benda yang menyuruh Bella untuk bersembunyi dan mencari pertolongan. Tapi dengan nekat Bella mengalihkan perhatian preman-preman itu agar mengejarnya. Setelah itu Bunda bisa lepas tapi mereka semua mengejar Bella"
"Bunda mulai mencari bantuan untuk mencari keberadaan Bella. Dan kamu tau apa yang terjadi Lang?" Nadia merasakan ketegangan di dalam hatinya saat mengingat kejadian.
"Bunda menemukan Bella dalam keadaan terkapar di tanah dengan luka tusukan di perutnya. Beruntung pisau itu tidak mengenai organ vitalnya sehingga dia bisa selamat"
Nadia kembali mengusap air matanya menggunakan tisu yang sedari tadi di genggamnya.
"Sekarang kamu paham kenapa Bunda sangat menyayanginya?" Nadia menatap Elang dalam.
"Tapi kenapa Bunda menyembunyikan ini semua dari Elang?"
__ADS_1
Elang juga tak paham pada sang Bunda. Kenapa masalah sebesar ini tak ada yang memberi tahu Elang. Bahkan membiarkan Elang berlarut-larut membenci Bella.
"Karena Bella yang memintanya. Dia tidak ingin kamu tau. Kamu membencinya bukan?? Maka dari itu Bella lebih memilih menyembunyikan semuanya dari kamu. Dan jika pada saat itu kamu tau, apa kamu mau mendapatkan donor ginjal dari seseorang yang kamu benci??"
Cep..
Mulut Elang terkunci rapat. Benar apa yang Nadia katakan. Jika saat itu Elang tau Bella adalah orang yang dengan suka rela mendonorkan ginjalnya, maka sudah di pastikan Elang akan menolak dengan keras.
"Lalu masalah preman-preman itu, kenapa Bunda juga tidak cerita sama Elang? Semuanya membuat Elang salah paham dan semakin membencinya Bun"
Ucap Elang putus asa. Dia sangat malu untuk menapakkan dirinya di depan Bella jika istrinya itu susah siuman.
"Itu juga kemauan Bella. Sia tidak ingin kamu berubah baik padanya hanya karena hutang budi" Kini suara Mita yang menyahut Elang.
Elang menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang terus keluar.
Tangannya mengusap perut rata milik Bella yang sidah Nadia tutup kembali.
"Seharusnya di dalan sini ada anak kita Ara, tapi hanya demi menyelamatkanku kamu mengorbankan dirimu sendiri dan calon anak kita yang kamu bawa tanpa sepengetahuan mu"
Elang seakan tak mau melepaskan tangan Bella dari genggamannya.
"Elang, sebenarnya ada banyak hal yang tidak kamu ketahui dari Bella. Bahkan sangat banyak"
Elang kembali menatap Nadia yang berada di depannya.
"Apa yang tidak Elang tau lagi Bunda?? Dua kenyataan ini saja sudah cukup memukul keras hatiku Bun, lalu apa lagi yang masih kalian sembunyikan dariku?"
"Selama ini kalian menyembunyikan semua ini dariku, apa kalian puas melihatku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa?"
Nadia dan Mita hanya diam melihat Elang yang begitu kesal. Mereka semua kembali diam dengan pikirannya masing-masing.
-
-
-
Sementara itu di tempat lain, di rumah yang baru saja di beli. Empat orang sedang berpesta ria menyambut kemenangan mereka.
"Cheers..." Teriak Marisa.
TRIINGGGG...
Suara empat gelas yang saling berbenturan pertanda dimulainya kegembiraan mereka di malam ini.
"Akhirnya tanpa kita mengotori tangan kita, anak pungut itu sudah sekarat dengan sendirinya!!"
"Ha.. Ha..Ha.."
Ucapan Mirna di sambut tawa bahagia dari merela bertiga, yaitu Marisa, santoso serta Firda wanita selingkuhan Santoso.
__ADS_1
"Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada kita!" Oceh Santoso.
"Tentu, mereka memang pantas untuk lenyap satu per satu" Mirna tertawa licik.
"Kalau begitu jangan lupa kau harus memberiku uang yang banyak. Aku tidak terima jika kau membohongiku, aku bisa saja memberikan bukti kejahatan mu Mirna!!" Ancam Santoso.
"Kau berani mengancam ku??" Mirna menatap Santoso dengan nyalang.
"Aku tidak mengancam, tapi hanya memberimu sebuah penawaran"
Santoso tak kalah licik dari Mirna. Sekarang tau sendiri kan darimana jiwa licik yang di miliki Marisa, tentu saja dari kedua orang tuanya.
"Tenang saja, kau tetap akan mendapatkan uang. Tapi tidak sekarang, aku masih ada hal yang harus ku selesaikan" Ucap Mirna.
"Memang apa lagi yang akan kita lakukan Ma?" Tanya anaknya dengan penasaran.
"Mama tidak akan membiarkan mereka tersisa satu pun, walau sudah dalam keadaan sekarat sekalipun. Karena jika kita membiarkan itu, maka bisa saja dia menghambat kita di masa depan"
Mirna memicingkan matanya dengan senyum penuh kelicikan si bibirnya.
Marisa merasakan kengerian dari ucapan Mamanya itu. Dia tau jika Mamanya adalah orang yang ambisius dan tak pernah main-main dengan ucapannya.
-
-
-
Elang masih terdiam memandangi wajah Bella yang tampak damai dalam tidur panjangnya itu.
Wajahnya masih tampak cantik walau lebam menghiasi di berbagai bagian wajah itu. Entah apa yang sedang Elang pikirkan, hingga dia sama sekali tak pernah mengalihkan perhatiannya dari istrinya itu. Hingga...
Tok.. Tok..
Ceklek....
Suara pintu terbuka membuat perhatiannya teralihkan. Seseorang muncul dari pintu itu dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.
Elang sontak berdiri dari duduknya. Menatap nyalang pada orang itu.
"Mau apa kau kemari???!!" Sambut Elang dengan sengit.
-
-
-
-
Jangan lupa berikan like dan komentar kalian untuk karya ini ya..
__ADS_1
Semoga kalian suka dan happy reading😊