
"Ara" Lirih Elang di dalam hatinya.
Elang melepas cincin yang ada pada kalung itu. Menatap cincin yang di buangnya itu dengan nanar.
Dia dapat merasakan sakitnya Bella saat mencari cincin itu. Kemudian Elang memakainya kembali di jari manisnya. Hal yang sama juga ia lakukan pada cincin milik Bella. Elang memasangkan kembali pada jari yang lentik itu.
Elang mengusap cincin yang berada di jari Bella, lalu menatap kedua cincin yang sudah pada tempatnya itu dengan sendu.
"Sebaiknya kalian pulang dulu, biar aku yang jaga Bella di sini" Ucap Mita setelah terjadi keheningan beberapa saat.
"Tidak!! Aku yang akan menjaganya. Kalian saja yang pulang!!" Tolak Elang.
"Benar Mita, biar Elang saja yang di sini menjaga istrinya" Sahut Nadia.
"Baiklah kalau begitu, aku titip Bella. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Jaga dia dengan baik, karena dia adalah segalanya bagiku" Ucap Mita dengan sungguh-sungguh.
"Aku mengerti"
"Oh ya ini ponsel milik Bella" Mita memberikan ponsel yang baru ia ambil dari tasnya. Saat Bella mengejar Elang, dia meninggalkan ponsel itu di ruangannya.
"Kita pulang dulu, ayo Dit" Dito segera bangkit menyusul Mita yang mulai berjalan keluar.
"Kamu baik-baik di sini Lang, jaga dia baik-baik" Pesan Nadia sebelum menyusul Mita.
"Iya Bunda"
Setelah kepergian mereka bertiga, suasana kembali hening. Hanya suara alat medis yang menemani Elang di ruangan itu.
Bibir Elang tersenyum dengan matanya yang terlihat sendu.
"Ara, apa selama ini kamu menertawakan aku saat aku menuduh sesuatu yang tidak kamu lakukan?? Pasti kamu mengejek di belakangku kan??"
Elang terkekeh tapi dengan matanya yang mengembun.
"Kenapa kamu harus menutupi semua luka di hatimu dengan bersikap seperti ini?? Kenapa tidak pernah mengatakan yang sejujurnya padaku??"
Elang mengusap lembut pipi Bella yang lebam itu.
"Pasti kamu tau kan kalau aku tidak akan percaya dengan ucapan mu?? Makanya kamu lebih memilih menutupi semuanya"
Elang terus berbicara pada Bella, seolah-olah wanita yang terbaring tak berdaya itu bisa menjawabnya.
"Kamu tau tidak?? Saat tadi Mita mengatakan jika kamu mencintaiku. Ada perasaan membuncah dari hatiku. Perasaan yang sudah aku kubur dalam-dalan dan aku tutup dengan kebencian seakan tergali kembali"
"Kamu pasti kaget kan mendengarnya??"
Elang menarik nafasnya dengan dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Matanya mengerjab agar air matanya tidak jatuh.
__ADS_1
"Aku memang mencintaimu Ara, tapi aku selalu menyangkalnya. Bahkan aku berdebat dengan hatiku sendiri. Aku menanam kebencian hanya untuk membunuh rasa itu"
Isakan mulai terdengar dari seorang laki-laki yang biasanya terlihat garang itu. Nafasnya menjadi berat dan cepat.
"Tapi rasa itu justru telah mengalahkan aku lebih dulu. Padahal otakku selalu meracuni hatiku dengan bibit-bibit kebencian"
"Itulah alasannya kenapa aku menerima ancaman kamu untuk menikah. Sebenarnya bisa saja aku menghancurkan video itu dengan mudah. Bisa juga aku menculik mu agar kamu tidak muncul di pernikahan ku dan Marisa. Tapi hatiku tidak ingin melakukan itu, entah kenapa hatiku melawan. Sehingga aku menerima begitu saja permintaan Bunda untuk menikahi mu"
"Ternyata tanpa ku sangka cintaku padamu tak bertepuk sebelah tangan. Tapi kenapa kamu harus menjadi semunafik ini?? Kamu selalu memperlihatkan sikap buruk mu padaku, kamu dingin dan acuh. Itu yang membuatku sangat ingin membunuh rasa cintaku itu.
Elang meraih tangan Bella, menariknya kemudian menempelkannya pada pipi Elang. Dengan sesekali Elang menciumi telapak tangan itu.
"Aku baru sadar ternyata di balik sikap dingin mu padaku kamu selalu peduli padaku. Memang dasarnya aku yang tidak peka atau aku yang terlalu bodoh sehingga tidak tau maksud perhatianmu itu"
Elang teringat ketika mereka makan siang di tempat ikan bakar kesukaan Rayan. Di sana Elang sudah sangat malas karena dia tidak menyukai ikan karena terlalu banyak duri.
Jika bukan karena tak suka Rayan berduaan dengan istrinya maka Elang juga tidak ingin ikut.
Tapi di sana Bella dengan caranya yang angkuh menukar piringnya dengan milik Elang. Mengatakan jika ikan miliknya sangat pahit dan meminta punya Elang yang masih utuh.
Tapi tidak ada di antara Marisa dan Rayan yang tau kalau ternyata Bella sudah memisahkan duri di ikan yang ia tukar dengan milik Rayan.
Di saat itu Elang merasakan hatinya berbunga karena baru ada satu orang selain Nadia yang melakukan hal seperti itu.
Lalu saat Bella tau jika Elang lebih suka telur setengah matang dari pada yang matang.
Hingga saat Bella memasak untuknya tapi Elang malah lebih memilih masakan Marisa.
Elang bangkit dari duduknya. Mencondongkan badannya ke arah wajah Bella.
"Terimakasih karena kamu sudah banyak berkorban demi laki-laki sepertiku"
"Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita seperti kamu lagi di hidupku"
"Cepatlah bangun dan lihat aku berjuang untuk keluarga kecil kita"
Cup...
Elang mencium kening Bella yang terlilit perban itu dengan cukup lama. Kemudian Elang mendekatkan bibirnya ke telinga Bella.
"Cepatlah bangun sayang, aku mencintaimu"
Tes..
Air mata mengalir dari sudut mata yang terpejam itu. Dan dengan sangat jelas Elang melihat itu, wajahnya berubah cerah seketika.
Elang mengusap air mata itu dengan lembut.
__ADS_1
"Apa kamu mendengar semua yang aku ucapkan?? Apa kamu dengar jika aku mencintaimu??"
Elang merasa ada setitik harapan dalan diri Bella, Elang yakin tak lama lagi pasti istrinya itu akan membuka matanya.
"Baiklah, aku akan beri waktu kamu untuk istirahat dulu. Tapi kamu harus janji jika besok kamu harus sudah bangun dari tidur cantikmu ini"
Elang mencoba menghibur dirinya sendiri walau hatinya sangat pedih saat mengatakan semua itu.
Malam semakin larut tapi Elang masih setia di samping Bella. Memandangi wajah cantik milik istrinya. Wajah yang sering di pujinya itu.
Tanpa terasa mata Elang semakin berat, semakin berat dan akhirnya Elang menyerah. Pria tampan itu menjadikan tangan Bella sebagai bantalan kepalanya. Tak lama kemudian Elang sudah terlelap di sisi Bella, ia tak mau sekalipun meninggalkan istrinya itu meski hanya tidur di sofa.
-
-
-
Elang baru saja kembali dari ruang dokter saat tadi pagi seorang suster membangunkannya dan meminta bertemu dengan dokter yang menangani Bella kemarin.
Wajah sendu tergambar jelas di wajah tampannya itu. Elang berjalan kembali ke kamar Bella dengan lesu.
"HEY SIAPA KAU!!"
Teriak Elang saat melihat seseorang yang mencurigakan keluar dari kamar Bella.
Orang itu berlari dengan cepat saat mendengar teriakan Elang.
"JANGAN LARI KAU!!"
Elang ingin sekali mengejar orang itu namun dia teringat dengan Bella. Ia takut orang itu melakukan sesuatu pada Bella.
Elang bergegas kembali ke kamar Bella, membuka pintu dengan cepat.
"Bella!!"
Elang panik melihat keadaan Bella.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Happy reading readers..
Semoga kalian suka, jangan lupa beri like dan komentar yang membangun untuk katya ini ya.. Terimakasih😊