Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
69


__ADS_3

Dua bulan kemudian, kini pengadilan sudah memutuskan jika Mirna dan santoso akan mendekam di dalam penjara seumur hidup. Tidak ada perlawanan dari pihak Mirna termasuk mengajukan naik banding.


Mirna sudah sadar atas kesalahannya setelah melihat kondisi Marisa yang harus berada di rumah sakit jiwa. Masa depan anaknya hancur karena kesalahannya, hal itu membuat Mirna menerima semua hukuman yang jatuh kepadanya.


Tuhan menyadarkan dirinya di saat semuanya sudah hancur seperti itu. Mungkin sudah terlalu besar kesalahannya sehingga membuat Tuhan tidak tanggung-tanggung memberikan pelajaran untuknya.


Masa tua yang harusnya dia lewati dengan anak semata wayangnya kini justru harus menghabiskan sisa umurnya di balik jeruji besi yang dingin dan pengap itu.


"Marisa, Maafkan Mama yang serakah ini sayang. Mama menyesal, menyeret kamu ke dalam pusaran kejahatan Mama. Semoga saat kamu sembuh nanti kamu masih mau memaafkan Mama" Batin Mirna dengan tatapannya yang kosong seperti tak bernyawa.


-


-


"Huekkk.. Huekkk.."


"Kamu kenapa sayang??" Elang berlari menghampiri Bella yang menunduk di wastafel. Menyingkirkan rambut panjang Bella yang terurai menutupi wajahnya.


"Kamu sakit??" Elang tampak khawatir melihat istrinya yang terlihat pucat dan lemas.


"Aku nggak papa kok. Kayaknya masuk angin deh" Jawab Bella mengusap bibirnya dengan tisu, membersihkan sisa air yang ada di sana.


"Kita ke dokter ya??" Bella menggeleng menolak ajakan Elang itu.


Elang memapah Bella kembali ke meja makan, walau kini Bella sudah bisa berjalan normal lagi. Tapi melihat kondisi Bella yang kemah seperti itu membuat Elang tidak tega.


"Loh kamu kenapa Bella?? Kok pucat begitu??" Nadia yang baru sampai di meja makan langsung menghampiri dan mengusap kening Bella.


"Enggak panas kok" Ucap Nadia.


"Tapi Bella mual terus Bun" Jelas Elang dengan wajahnya yang cemas.


"Mual??" Ulang Nadia yang diangguki oleh Elang.


Tiba-tiba Bella menutup mulutnya, merasakan perutnya kembali bergejolak. Dengan cepat Bella berdiri dan kembali menghampiri wastafel lagi.


"Huekk..." Bella ingin memuntahkan sesuatu yang mendesak dari dalam perutnya, tapi sama sekali tidak ada yang keluar dari sana.


"Sayang, udah deh pokoknya kita ke rumah sakit sekarang!!" Elang tidak tega melihat Bella harus bolak- balik seperti itu padahal dia bari saja berjalan dengan normal lagi sekitar seminggu yang lalu.


"Nggak mau Kak, nanti juga sembuh kok kalau udah di kasih minyak angin" Ucap Bella dengan manja.


"Bella sebenarnya kamu kenapa sih Nak??" Nadia memberikan minyak angin pada Bella.


"Nggak tau Bun, tapi Bella kaya cium bawang goreng dari masakan yang Bunda bawa. Tiba-tiba mual gitu aja" Ucap Bella dengan lemas setelah duduk kembali di meja makan.


Nadia tersenyum penuh arti mendengar penuturan menantunya itu. Dia langsung menyingkirkan rantang yang berisi soto itu dari hadapan Bella.

__ADS_1


"Kenapa Bunda malah senyum-senyum begitu??" Tanya Elang keheranan, Bundanya malah tersenyum saat menantunya sendiri sedang tidak enak badan.


"Bella, kamu nggak telat kan?? Kamu udah coba cek??" Tanya Nadia membuat Bella kebingungan.


Namun beberapa detik kemudian Bella membelalakkan matanya, melihat tanggal hari ini pada ponselnya.


"Telat, cek?? Apa sih maksud Bunda??" Elang kebingungan tidak tau apa-apa.


"Sudah kamu diam dulu!!" Ketus Nadia.


Elang mendengus pelan, ada-ada saja Bundanya itu. Elang di suruh diam sedangkan yang sakit saat ini adalah istrinya sendiri.


"Bentar Bunda" Bella bangkit dari meja makan dan meninggalkan Elang dan Nadia di sana.


"Mau kemana sayang??" Bella tak menghiraukan pertanyaan Elang itu, dia terus berjalan memasuki kamarnya.


Elang semakin kebingungan dengan kedua wanita di hidupnya itu. Bella yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan Nadia yang hanya tersenyum dengan lebar itu membuat Elang semakin kebingungan.


Akhirnya Elang memilih menyusul Bella ke kamar daripada bingung sendiri dengan pertanyaannya.


"Bella, sayang?? Kamu di dalam?? Kamu mual lagi??" Elang mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup itu. Dia takut istrinya itu pingsan di dalam sana.


"Sayang buka pintunya!! Kenapa di kunci segala?? Kamu nggak papa kan??" Elang semakin tak sabaran karena Bella tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


"Bella buka pintunya atau aku do__"


Bella muncul dari balik pintu itu sebelum Elang benar-benar membuka pintu itu dengan paksa.


"Sayang kamu nggak papa kan?? Kalau kamu sakit kita ke rumah sakit aja ya??" Elang melihat Bella keluar dengan berlinang air mata sudah membuatnya gusar.


"Kayaknya emang kita harus ke rumah sakit deh Kak" Lirih Bella dengan isakan kecil.


"Apanya yang sakit sayang, ayo katakan. Kita periksa sekarang!!" Elang menarik tangan Bella tapi Bella menahannya.


"Apalagi sayang??" Elang sudah terlibat frustasi dengan keras kepalanya Bella.


"Tapi aku nggak sakit!!" Ucap Bella membuat Elang menepuk jidatnya.


"Gimana kamu nggak sakit, dari tadi kamu mual terus-terusan!! Aku nggak mau kamu kenapa-napa!!" Ucap Elang dengan tegas membuat Bella sedikit ketakutan.


"Iya tapi aku mual bukan karena sakit, tapi karena ini" Bella memberikan dua buah benda pipih pajang kepada Elang.


"Ini apa?" Elang tidak tau sama sekali yang di berikan istrinya itu apa.


"Ihhhh gemes banget deh sama Papa, kaya gitu aja nggak ngerti"


"Memangnya ini apa, aku benar-benar nggak tau sayang" Elang masih penasaran tingkat tinggi.

__ADS_1


"Tunggu!! apa tadi?? Kamu panggil aku apa sayang??" Tanya Elang setelah menyadari sesuatu.


"Papa" Jawab Bella dengan manja.


"Maksudnya??" Elang semakin di buat memutar otak sejak tadi.


"Iyaa, kamu sebentar lagi akan jadi PA-PA" Akhirnya penjelasan Bella keluar juga setelah sejak tadi membuatnya kebingungan.


"A-apa?? Papa?? Ka-kamu hamil??" Tanya Elang tidak percaya.


"Iya Papa" Jawab Bella dengan senyum haru.


Elang melihat lagi dua benda yang di genggamnya, yang ternyata adalah alat tes kehamilan.


Elang tidak bisa menahan rasa bahagianya lagi sampai-sampai air matanya menetes begitu saja.


"Sayang, ini beneran kan??" Elang memastikan sekali lagi. Dan Bella memberikan jawaban dengan anggukan antusias.


Elang langsung memeluk Bella dengan erat dan membawanya berputar-putar saking bahagianya mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya itu.


"Makasih sayang, aku seneng banget. Kita akan jadi orang tua" Ucap Elang dengan wajah berbinar setelah melepaskan pelukannya.


"Iya, aku juga seneng banget" Bella memeluk Elang lagi sekilas.


Elang tiba-tiba berjongkok di hadapan Bella. Meraba perut yang masih rata itu.


"Sayang, apa benar kamu sudah ada di salam sana?? Kamu dengar Papa kan??" Bella terharu melihat betapa senangnya Elang tentang kehamilannya itu.


"Kak, tapi kita harus pastikan dulu ke Dokter. Apa aku benar-benar hamil atau tidak" Ucap Bella, sebenarnya dia yakin jika dirinya hamil tapi hanya ingin memastikan.


Tapi Elang tiba-tiba Elang terhenyak dan langsung berdiri memeluk Bella.


"Benar kita harus periksa ke Dokter sekarang juga, aku takut sayang" Ucap Elang dengan suara bergetar menahan tangis.


"Takut kenapa Kak?? Aku tidak papa" Bella mengisap punggung Elang yang mulai bergetar.


"Sayang, kamu hanya punya satu ginjal. Dan itu sangat beresiko bagi ibu hamil. Dan aku baru tau kemarin saat tak sengaja melihat artikel di media sosial" Ucap Elang dengan tangisnya.


"Jadi ini sebabnya beberapa hari ini kamu nggak mau keluar di dalam??" Bella ingat jika saat berhubungan Elang akan memilih mengeluarkannya di luar tanpa Bella tau alasannya.


Elang mengangguk di pundak Bella.


"Ya udah kita periksa dulu aja yuk. Kita cek semuanya. Aku yakin kok, kalau aku dan anak kita pasti akan sehat sampai melahirkan nantinya" Ucap Bella menenangkan Elang.


"Ayo kita ke Dokter sekarang juga. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kalian. Kalian adalah segalanya bagiku" Ucap Elang memberikan kecupan singkat pada bibir Bella.


Bella mengangguk lalu menautkan jarinya pada tangan Elang. Mereka berjalan keluar kamar dengan perasaan bahagia dan cemas menjadi satu. Bahagia akhirnya akan hadir anggota baru dalam keluarga kecil itu. Dan cemas karena kondisi istrinya yang tidak memungkinkan utuk mengandung.

__ADS_1


Jika Elang tau lebih awal, dia pasti lebih memilih untuk memendam keinginannya untuk memiliki anak. Baginya kesehatan Bella lebih penting, bukan berarti anak tidak penting baginya. Tapi saat ini kesehatan Bella adalah yang utama baginya.


__ADS_2