
"Heyyy kita ketemu lagi pria tua!!" Seru Dito di hadapan Santoso.
Santoso hanya diam namun terlihat tidak suka dengan kehadiran Dito di sana.
"Kau pikir bisa melarikan diri lagi?? Sebentar lagi kau akan mendekam di penjara untuk selama-lamanya"
Kini kalimat Dito terdengar begitu menyeramkan bagi Santoso. Entah itu benar atau hanya ancaman belaka, yang jelas Santoso sudah mulai ketakutan. Apalagi semua bukti sudah ia serahkan pada Elang.
"Itu tidak akan terjadi" Jawab Santoso mencoba tenang untuk menutupi kecemasannya.
"Benarkah??" Dito meremehkan Santoso yang masih percaya diri itu.
"Bahkan istrimu sebentar lagi tidak akan menghirup udara bebas" .
"A-apa??" Kaget Santoso.
"Kali kalian benar-benar habis. Tidak akan aku biarkan kalian lolos lagi" Ucap Dito dengan mencondongkan wajahnya hingga sejajar dengan Santoso.
"Bawa dia!!" Perintah Dito pada anak buah Elang yang terus menjaga Santoso.
"Kalian akan membawaku kemana??" Santoso mulai panik saat ikatan di badannya mulai di buka.
"Sudah, ikut saja!!" Ucap salah satu penjaga yang mempunyai otot besar di lengannya.
Santoso hanya pasrah mengikuti mereka dengan lengan yang terus di cengkeram dengan kuat. Melawan pun hanya sia-sia saja bagi Santoso.
Dia terus di giring keluar dari gudang pengap itu, dengan Dito yang terus berada di depannya.
Saat pintu besar itu di buka, cahaya matahari yang beberapa hari ini tidak dilihat oleh Santoso tampak menyilaukan di matanya.
"Bawa dia Pak. Jangan sampai lepas, kalau tidak kalian tau sendiri apa yang bisa di lakukan oleh Elang pada kalian" Ucap Dito pada beberapa orang petugas berseragam coklat.
Santoso baru sadar jika di depannya sudah menunggu orang-orang yang selama ini dihindarinya.
"Jangan bawa saya Pak, saya tidak bersalah!!" Santoso mencoba memberontak.
Apapun yang Santoso katakan mereka seolah tuli dan tak peduli. Tugas mereka hanya satu yaitu menjebloskan Santoso ke penjara.
"Awas kau Dito!!" Ucap Santoso dengan bengis.
Tapi Dito hanya menanggapi ancaman Santoso itu dengan senyuman miring di bibirnya. Dia tidak menyangka, dengan bantuan Elang semua terasa begitu mudah. Tidak seperti usahanya selama ini.
"Uang memang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin" Batin Dito.
-
-
__ADS_1
-
Sejak pagi tadi Elang sibuk dengan pekerjaannya di kantor yang telah beberapa hari ini ia tinggalkan. Bahkan untuk sekedar makan siang pun dia tida sempat. Yang ada di pikirannya hanya ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan sesegera mungkin menemui Bella kembali.
"Masuk!!" Ucap Elang setelah mendengar pintunya di ketuk.
Dari sana munculah sosok Marisa yang sejak tadi dilupakannya. Bahkan dia juga lupa dengan sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Marisa.
"Pak Elang, apa pekerjaannya masih banyak?? Ada yang bisa saya bantu??" Ucap Marisa dengan manis semanis gula.
"Tidak perlu" Ucap Elang singkat.
Jangan kira Marisa tidak merasakan perubahan dalam diri Elang. Sejak Elang menikah dengan Bella pun Marisa sudah merasakannya. Tapi Marisa rasa semakin hari Elang semakin terlihat menghindarinya.
"Elang" Panggil Marisa tanpa embel-embel Bapak. Itu tandanya Marisa ingin membicarakan sesuatu di luar pekerjaannya.
"Ada apa?" Tanya Elang dengan malas, sungguh kali ini dia benar-benar tidak bisa di ganggu.
"Kenapa sekarang kamu berubah sama aku?? Kamu udah nggak cinta sama aku lagi?? Kamu jatuh cinta sama Bella kan??" Ucap Marisa dengan menggebu-gebu karena amarah di dadanya.
"Kalau iya kenapa?? Dia istriku jadi tidak ada salahnya" Jawab Elang dengan enteng.
Marisa terkejut dengan jawaban Elang itu.
"Kamu tega Lang!! Setelah pernikahan kita hancur, kamu tidak menepati janjimu untuk meninggalkan Bella. Kamu justru terperangkap olehnya" Marisa mulai mengeluarkan air matanya. Entah air mata karena kesedihannya atau hanya pura-pura belaka.
"Sudahlah Marisa, tidak usah berpura-pura seperti itu. Sebenarnya sekarang aku malas membahas masalah ini. Tapi karena kamu yang memulai duluan ya sudah akan aku jelaskan"
"Lihatlah ini" Elang menyerahkan amplop coklat yang berukuran cukup besar pada Marisa.
"Apa ini Lang??" Marisa tampak kebingungan. Wajah sedihnya tadi sudah hilang entah kemana.
"Buka saja. Setelah ini kamu pasti paham kenapa sikapku berubah seperti ini" Ucap Elang kembali fokus pada pekerjaannya. Tanpa melihat Marisa yang sudah mulai ketar-ketir.
Tangan Marisa sedikit gemetar, dia merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya.
Marisa membelalakkan matanya, mulutnya di yang terbuka karena terkejut di bekap sendiri dengan tangan kirinya.
"Lang, in-ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ak-aku hanya, hanya. Mereka bukan__"
"Jangan mengelak Marisa, dari kegugupan mu saja aku sudah tau kalau kau bohong" Elang menatap Marisa datar.
Marisa tidak bisa berkutik lagi. Ditangannya sudah ada bukti tentang perilakunya di luar sana. Marisa merasa kecolongan karena Elang bisa mendapatkan begitu banyak fotonya dengan pria yang menjadi ATM berjalannya selain Elang.
"Mau kasih pembelaan apa?? Tapi apapun itu aku sudah tidak peduli!! Dan satu lagi, kenapa kau menemui pengacaraku?? Kau yang sudah memalsukan surat pengalihan harta itu kan?? Kau yang mengadu domba aku dan istriku sendiri kan??" Gertak Elang.
Marisa tak dapat berkutik. Rahasianya sudah terbongkar satu demi satu.
__ADS_1
"Setelah ini jika aku tidak menerima surat pengunduran dirimu berarti kau memang tidak tau malu!!" Ucap Elang dengan aura dinginnya yang sudah keluar.
Elang merasa heran dengan dirinya. Dia sama sekali tidak sakit hati dengan pengkhianatan Marisa itu. Tapi dia sangat marah mengetahui fakta bahwa, sumber pertengkarannya dengan Bella hingga membuat kecelakaan itu terjadi adalah ulah Marisa.
"Aku minta maaf Lang, tolong beri aku kesempatan. Aku janji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Dan untuk masalah Bella aku benar-benar minta maaf. Itu semua ku lakukan karena aku ingin segera kembali bersamamu" Bujuk Marisa.
Elang tersenyum sinis kepada Marisa "Benar-benar tidak tau malu kamu Marisa. Kamu dengan beraninya mengkhianati aku. Menyamakan aku dengan pria-pria di luar sana dan sekarang dengan beraninya kau meminta aku kembali?? Jangan mimpi. Bahkan Bella seribu kali lebih baik darimu!!"
Ternyata orang yang di perintahkan Elang untuk mengikuti Marisa waktu itu memberikan fakta yang sungguh mengejutkan. Betapa liarnya Marisa di luar sana selama ini. Ternyata benar apa yang dikatakan Nadia dan Mita, jika Maris mengkhianatinya.
"Jangan samakan aku sama Bella Lang!!"
"Tentu saja tidak, karena kalian sungguh berbeda. Ternyata selama ini kalian bertukar topeng. Kau dengan topeng sok baikmu dan Bella dengan topeng kejamnya!!" Sengit Elang pada wanita tak tau malu di depannya itu.
Marisa semakin geram dengan ucapan yang dilontarkan Elang untuknya.
"Aku sibuk, sebaiknya tinggalkan aku sendiri!!" Perintah Elang tak bisa di bantah. Dia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Marisa.
Dengan hati yang seperti terhimpit batu, Marisa melangkah keluar. Impiannya untuk menjadi Nyonya Elang yang kaya raya musnah sudah.
-
-
-
Elang tiba di rumah sakit sudah hampir jam delapan malam. Pria jangkung itu berjalan cepat dengan hati yang berdebar. Rasanya sudah sangat rindu setelah seharian tidak bertemu dengan istrinya itu.
Tapi rasa senang kala ingin bertemu pujaan hati itu berganti dengan rasa bingung saat Elang sudah membuka pintu ruang rawat Bella. Tak ada siapapun di dalam sana. Ranjangnya pun sudah rapi dan bersih.
"Suster!!" Elang memanggil seorang suster yang kebetulan lewat di belakangnya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu??"
"Kemana istri saya, kenapa tidak ada di sini??" Elang menunjuk ke ruangan Bella yang terbuka itu.
"Maaf Pak, setau saya pasien di ruangan ini sudah di izinkan pulang tadi siang" Jawab suster itu dengan ramah.
"Apa?? Pulang??" Kaget Elang tak percaya.
-
-
-
-
__ADS_1
-
Happy reading, jangan lupa like dan komennya untuk mendukung karya ini.. Terimakasih😊