
"Kenapa para pemegang saham belum datang juga??" Tanya Mirna pada asisten barunya itu.
Dengan gayanya yang angkuh, wanita yang tak bisa lagi di sebut muda itu duduk di kursi pemimpin rapat.
"Maaf Bu, tapi dari info yang baru saja saya dapat. Hanya akan ada satu pemegang saham yang akan datang" Ucap asisten itu.
"Hah?? Apa maksud kamu?? Kenapa bisa seperti itu??" Tanya Mirna dengan sikapnya yang keras.
"Tentu saja bisa Nyonya Mirna yang terhormat"
Suara itu membuat Mirna beralih ke pintu besar yang terbuka dengan lebar.
"Elang??" Ucap Mirna dengan kaget. Tapi tak berselang lama Mirna memakai topengnya kembali dan mulai tersenyum dengan ramah.
"Elang, kenapa kamu ada di sini??" Mirna berdiri menyambut kedatangan Elang.
Elang menghentikan langkahnya tepat di hadapan Mirna. Menatap mantan calon mertuanya itu dengan tajam.
"Tentu saja saya ada di sini karena saya menghadiri rapat ini" Jawab Elang dengan suara rendahnya.
"Ba-bagaimana bisa kamu mengikuti rapat ini. Peserta rapat hanya pemegang saham perusahaan ini saja" Ucap Mirna dengan heran.
Elang melirik pria yang menjadi sekretaris dadakannya itu. Memberikan kode padanya untuk mengatakan sesuatu pada Mirna.
"Maaf Nyonya, saat ini Bapak Elang adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Karena beliau sudah membeli semuanya dari para pemegang saham sebelumnya"
"A-apaa??" Mirna tampak syok hingga memegang dadanya yabg terasa nyeri.
"Benar, Nyonya. Jadi mulai saat ini Pak Elang yang Akan memimpin perusahaan ini karena sahamnya lebih tinggi dari milik anda Nyonya" Jelas sekretaris Elang lagi.
"Tidak!! Tidak bisa!! Semua itu harus melalui prosedur lebih dulu. Harus melalui rapat dan sebagainya" Kini Mirna tidak mau lagi bersikap ramah kepada Elang. Dia sudah hampir terkena serangan jantung gara-gara Elang.
"Keputusan itu sudah telak Nyonya. Dan untuk apa lagi ada rapat karena pemilik saham saat ini hanya anda dan Pak Elang. Dan pemilik terbesar adalah Tuan Elang jadi sudah tidak perlu di bicarakan lagi" Elang tidak perlu repot-repot menjelaskan semuanya, karena sekretarisnya itu ternyata bisa di andalkan.
Mirna masih diam. Dia sudah kehilangan kata-kata lagi untuk melawan.
"Saya rasa waktu saya sudah banyak terbuang. Jadi sebaiknya kita akhiri rapat yang tidak penting ini sekarang juga" Ucap Elang dengan malas.
"Untuk apa??" Tanya Mirna tiba-tiba.
"Untuk apa kau membeli saham di perusahaan ini dan merampas hak saya untuk menjadi pemimpin di sini??"
"Tentu saja saya melakukan hal yang sama dengan anda. Saya hanya mengambil kembali hak istri saya yang sudah anda rampas" Elang dengan mudah membalikkan perkataan Mirna.
"Ha.. Ha.. ha.. Istri?? Sekarang ku mengakuinya sebagai istri?? Aku masih ingat saat kau lebih memilih anakku daripada dia. Tapi sekarang kau berlagak seperti suami yang baik" Ucap Mirna.
"Benar, dan saat ini aku sudah sadar. Dulu aku seperti itu karena ulah anakmu!!" Balas Elang dengan cepat.
"Jangan menyalahkan anakku Tuan Elang. Tapi salahkan dirimu sendiri, karena dirimu hanya seorang pria yang mudah di hasut" Mirna memperlihatkan senyum miring di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Aku juga sadar akan hal itu. Aku adalah pria yang mudah di hasut sehingga kebaikanku di manfaatkan anakmu!!"
Elang justru tidak tersulut pancingan Mirna. Menurutnya hinaan yang keluar dari mulut orang lain sudah tidak mampu lagi membuat dirinya terpancing amarah. Namun berbeda lagi jika Bella yang melakukannya. Pasti hatinya langsung merasa tersentil.
"Oh ya Nyonya, aku lupa. Kedatanganku kesini tidak dengan tangan kosong. Tentu saja aku membawa buah tangan untukmu" Ucap Elang membuat Mirna penasaran.
"Maksud mu??"
"Panggil mereka masuk!!" Titah Elang pada sekretarisnya.
"Baik Pak"
Begitu pintu ruang rapat itu di buka, Mirna langsung berkeringat dingin hanya dengan melihat warna seragam yang di kenakan beberapa orang itu.
"Lakukan tugas kalian!!" Elang menyingkir dari hadapan Mirna untuk memberi ruang para petugas itu membawa Mirna.
"Apa maksudnya ini??" Mirna mendelikkan matanya pada seorang petugas kepolisian yang mulai mendekatinya.
Polisi itu hanya diam dan menunjukkan sebuah surat penangkapan untuk Mirna.
"Saudara Mirna, anda kami tahan atas tuduhan pemb *nuhan berencana dan tindak pemerasan. Untuk lebih jelasnya anda bisa ikut kami ke kantor"
"Tidak!! Saya tidak pernah melakukan semua itu!!" Tegas Mirna.
"Anda punya hak pembelaan melalui pengacara anda. Jadi silahkan ikut kami!!" Polisi itu juga tidak kalah tegas dengan wanita paruh baya di depannya.
"Saya tidak mau!!" Kekeh Mirna berusaha menolak.
Tanpa mempedulikan Mirna yang terus menolak, mereka tetap membawa Mirna dengan paksa.
Mirna yang terus di giring keluar ruangan itu hanya mampu menatap Elang dengan sengit. Seolah menyimpan dendam yang membawa di dalam hatinya.
Berbeda dengan Elang, dia justru memberikan senyuman manisnya pada Mirna sebagai bekal masuk ke dalam jeruji besi.
-
-
-
Elang sudah kembali ke kantornya. Wajahnya berseri karena hal yang di impikan Bella telah dia wujudkan. Ingin sekali dia pulang saat ini hanya untuk memberi tahu istrinya itu. Bahwa wanita kejam itu sudah berhasil di jebloskan ke penjara.
Elang mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi istrinya. Nama Bella sudah ada di depan matanya. Tidak nama kontak itu bukan lagi Bella. Namun kini sudah berganti menjadi "My wife" dengan emoticon hati berwarna merah di belakangnya.
Namun niat Elang harus terhenti saat suara ketukan pintu terdengar beberapa kali.
"Masuk!!"
Sekretarisnya masuk bersama seorang pria berkumis dan berperut buncit. Elang mengernyitkan keningnya karena merasa tidak mengenal pria itu.
__ADS_1
"Maaf Pak Elang, Beliau adalah pengacara Nyonya Bella yang ingin bertemu dengan anda" Jelas sekretarisnya itu.
"Pengacara??" Tanya Elang dengan kebingungan.
"Betul Pak"
"Baiklah kau keluar dulu" Perintah Elang pada pria yang masih berumur di bawahnya itu.
"Silahkan duduk" Elang mendekat ke sofa dan mempersilahkan pengacara itu duduk.
"Terimakasih Pak, sebelumya perkenalkan saya Bambang, pengacara keluarga Pak Satya" Elang menyambut uluran tangan itu.
"Lalu untuk apa Pak Bambang datang kemari??"
"Jadi begini Pak, kedatangan saya ke sini hanya untuk mendapatkan tanda tangan Bapak untuk surat gugatan yang telah di ajukan Nona Bella"
Bambang menyodorkan sebuah map besar ke depan Elang.
"Gugatan??" Batin Elang.
Elang membuka map itu untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Dengan membaca kepala surat itu saja Elang sudah tau apa yang di maksud gugatan oleh pengacara Bella itu.
Walau Bella tidak ada di hadapannya saat ini, rasanya Bella seperti melempar Elang dengan sebuah batu yang sangat besar dan tepat mengenai dadanya.
Karena dada Elang tiba-tiba merasakan sakit dan sesak secara bersamaan.
"Jadi ini yang kamu maksud tadi malam?? Dan pengacara ini yang kamu maksud seseorang yang akan menemui ku?? Kenapa kamu begitu tega melakukan ini Bella?? Kenapa kamu tidak mau memberiku kesempatan??" Hati Elang terus berteriak di dalam sana.
Untuk sejenak Elang tidak dapat mengeluarkan suaranya. Lehernya seperti tercekat seutas tali.
Tapi tangannya justru bergerak menyobek kertas yang berada di dalam map itu.
"Pak Elang apa yang anda lakukan??" Ucap Bambang Panik.
"Saya tidak akan pernah menandatangani surat s*alan ini walaupun anda mengirimkannya puluhan kali!!" Geram Elang membuat Bambang ketakutan.
Elang bangkit dan kemudian menyambar jas dan ponselnya. Meninggalkan Bambang yang kebingungan di ruangan itu.
"Kamu tidak bisa seenaknya seperti ini sayang, aku bukan barang yang bisa kamu permainkan!!" Gumam Elang terus berjalan keluar dari kantornya. Matanya sudah mengkilap menyimpan api di dalamnya.
-
-
-
-
__ADS_1
Jagan lupa beri like dan votenya ya, terimakasih☺