
Sudah Kak, kamu harus ikhlas" Ucap Mita menghentikan Elang yang semakin terlihat tak terkontrol.
"Tidak Mit, aku yakin Bella kan kembali demi aku"
"Tapi Pak"
Tit.. Ti.. Tit.. Tit.. Tit..
Elang merasakan jari Bella bergerak di tangannya.
"Detak jantung pasien kembali, cepat panggil Dokter!!" Ucap salah satu suster itu kepada temannya.
Sontak kejadian itu membuat Elang merasa tak percaya. Rasa haru langsung menyeruak ke dalam hatinya.
"Sayang, kamu kembali sayang" Elang menghujani kenong Bella dengan kecupan-kecupan kecil.
"Bella!! Bella kamu dengar aku kan??" Mita mencoba mengajak Bella bicara padahal sahabatnya itu belum juga membuka mata.
"Maaf Pak, Bu sebaiknya anda tunggu di luar. Dokter akan memeriksa pasien kembali" Suster itu menggiring Elang dan Mita keluar ruangan.
"Tolong selamatkan istri saya"
"Itu pasti Pak, jadi babak harap tenang dan terus berdoa ya" Suster itu kemudian menutup pintu dengan rapat. Dia sama sekali tak mengijinkan Elang untuk mengintip sedikitpun.
"Benar apa yang aku bilang kan Mit. Bella pasti kembali, dia tidak mungkin meninggalkan kita" Ucap Elang dengan senyum di bibirnya namun matanya masih terus berair. Dia tidak tau bagaimana mengekspresikan perasaannya, yang jelas dia sangat bahagia.
"Iya benar, Bella memang wanita yang kuat" Balas Mita.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya dokter keluar juga dari ruangan itu.
"Dokter??"
"Alhamdulillah Pak. Pasien bisa di selamatkan, sepertinya mukjizat Tuhan sungguh besar pada istri bapak. Istri anda berhasil kembali dan telah melewati masa kritisnya" Jelas Dokter tua itu dengan wajah sumringah.
"Alhamdulillah" Ucap Elang dan Mita bersamaan. Mereka sama-sama mengucap syukur untuk keselamatan orang yang mereka sayangi.
"Terimakasih Dokter" Elang tersenyum dengan haru.
"Sama-sama Pak, ini semua juga berkat doa dari anda dan keluarga pastinya. Namun untuk sekarang ini biarkan pasien beristirahat terlebih dahulu. Dan untuk kondisi kakinya kita belum tau, kita tunggu sampai pasien sadar dulu baru kita periksa lebih lanjut"
"Terimakasih Dokter" Ucap Elang dengan penuh rasa bahagia.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Terimakasih ya Allah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau berikan ini" Tak henti-hentinya Elang bersyukur di dalam hatinya.
-
-
Kali ini Elang berada di samping Bella bukan lagi dengan air matanya. Melainkan dengan hati yang bahagia, pasalnya istrinya itu akan segera membuka matanya setelah beberapa hari terbaring di ranjang kecil itu.
Elang mengamati wajah yang terlelap itu. Lebam di wajahnya sudah mulai pudar. Wajah pucatnya juga sudah berganti putih kemerahan.
Kini Elang hanya menyiapkan hatinya saja untuk berhadapan dengan Bella.
"Halo??" Elang mengangkat panggilan di ponselnya.
"Tuan, kita berhasil menangkap target" Ucap lelaki di seberang telepon itu.
"Bagus, kirim lokasinya. Aku segera ke sana"
Elang langsung berdiri dari duduknya. Ia sudah sangat geram seperti Elang yang akan memangsa targetnya.
"Mita, aku titip Bella. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku" Ucap Elang yang sudah di ambang pintu.
__ADS_1
"Iya Kak"
"Oh ya, tolong hubungi Bunda juga. Minta Bunda datang kesini untuk menemani Bella" Elang kemudian pergi setelah mengatakan itu.
-
-
-
BRAKKK...
Elang menendang pintu ruangan hitu hingga menimbulkan bunyi yang keras.
"Wow ternyata calon menantuku yang membawaku sini" Sindir Santoso dengan wajah sinisnya.
"Benar, dan aku rasa kau sudah tau apa tujuanku melakukan itu" Tatap Elang tajam.
Elang berjalan mendekati Santoso di ikuti dua anak buahnya. Sedangkan di belakang Santoso juga ada beberapa orang yang menjaganya.
"Aku tidak suka basa basi. Berapa yang kau mau??"
"Ha.. Ha.. Ha.." Santoso malah tertawa dengan apa yang Elang katakan.
"Jadi kau ingin membeli ku??"
Elang memutari Santoso dengan tatapannya yang tak pernah lepas dari Pria tua yang haus kekayaan itu.
"Tentu tidak" Elang kemudian mencondongkan wajahnya ke telinga Santoso.
"Aku hanya memberimu kompensasi" Seringai licik Elang tepat di wajah Santoso.
"Kompensasi??" Bingung Santoso.
"Aku akan memberikan berapapun yang kau minta dan tidak hanya itu, aku bisa membuatmu kaya raya tanpa harus meminta pada istrimu yang pelit itu" Elang mulai melancarkan aksinya untuk menghasut Santoso.
"Kenapa kau ingin memberiku banyak uang??" Selidik Santoso.
"Jangan berpura-pura b*doh!! Aku yakin kau sudah tau apa yang aku mau" Geram Elang.
"Kau hanya tinggal menyerahkan bukti yang kau punya. Lalu nikmatilah uang dariku. Apa kau yakin istrimu itu akan memberikan uang yang banyak dengan harta Bella yang tak seberapa itu??" Elang semakin menyulut api di dalam hati Santoso.
Si pria tua itu tampak mulai berpikir.
"Kau tau sendiri kan siapa aku?? Berapa harta kekayaanku?? Bahkan perusahaan milik Bella pun hanya seujung kuku ku bagiku"
Tangan Elang terulur pada salah satu anak buahnya. Meminta sesuatu pada mereka.
"Lepaskan tangannya!!" Perintah Elang pada salah satu anak buahnya.
"Akkhhh.." Santoso mengibaskan tangannya yang pegal karena ikatan itu.
Elang melemparkan sebuah cek kosong ke pangkuan Santoso.
"Tulis berapapun yang kau mau, dan berikan yang aku mau!!" Elang mengulurkan bolpoin pada Santoso.
Seketika mata Santoso menjadi berbinar. Dia terlihat sangat kehausan dengan yang namanya uang.
"Katakan dulu dimana bukti itu" Elang menarik kembali bolpoin di tangannya itu saat Santoso ingin meraihnya.
Dengan cepat dan tak mau kehilangan kesempatan Emas, Santoso meraih kalung di dalam bajunya. Kemudian menariknya hingga terputus.
"Ambilah, semuanya ada di dalam sini"
Santoso memberikan kalung yang berliontin sebuah persegi berukuran kecil itu.
__ADS_1
Elang melempar liontin itu pada anak buahnya.
"Periksa dulu apa yang ada di dalamnya" Perintahnya.
Elang masih terus mengamati Santoso sembari menunggu anak buahnya membuka isi dari kalung itu.
"Cih.. dasar mata duitan!!" Batin Elang dalam hatinya.
"Ini Bos!!"
Dari dalam laptop itu Elang bisa melihat rekaman cctv saat Santoso memutus rem mobil milik kedua orang tua Kania. Kemudian sebuah rekaman suara perempuan, yang Elang yakini itu adalah suara Mira.
Suara itu dengan jelas memerintahkan Santoso untuk melakukan tidak kejahatan pada seorang polisi yaitu orang tua Dito.
Kemudian sebuah rekaman cctv di sekitar jalanan tempat kejadian kecelakaan itu, jika ada sebuah mobil yang sengaja mengikuti mobil milik orang tua Bella. Kemudian mobil itu dengan sengaja merecoki mobil di depannya itu agar hilang kendali.
Di dalam memory card yang tersimpan di dalam kalung itu juga terdapat file semua bukti yang telah di usut Ayah Dito waktu itu.
"Siapa orang yang berada di dalam mobil putih ini??" Maksud Elang adalah mobil yang mengikuti mobil milik orang tua Bella.
"Aku dan Mirna" Elang ingin sekali mendaratkan satu buah tinjuan di wajah penuh dosa itu namun Elang masih bisa menahannya.
"Apa lagi yang kau punya selain ini??" Elang mencoba menggali lebih dalam lagi.
"Tidak ada lagi" Ucap Santoso dengan serius.
"Baiklah aku rasa bukti ini sudah cukup" Elang menyeringai dengan licik.
"Silahkan tulis berapapun yang kau mau" Elang akhirnya memberikan bolpoin di tangannya itu.
"Tapi kau harus tetap di sini sampai aku berhasil menangkap Mirna" Lanjut Elang.
"Bagaimana bisa?? Aku sudah memberikan bukti yang kau mau. Aku tidak ingin di sini. Lepaskan aku!!" Santoso merasa di bodohi oleh Elang.
"Aku tidak pernah berkata ingin melepaskan mu setelah aku mendapatkan bukti ini" Ucap Elang dengan senyum kemenangan.
"Beraninya kau menipuku!!" Geram Santoso.
"Aku tidak menipumu. Aku hanya ingin kau tetap disini dulu" Balas Elang dengan alasan yang di buatnya.
Elang tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Awas saja kau, aku pasti akan keluar dari sini meski tanpa bantuannya mu!!" Geram Santoso.
Elang hanya menertawakan tingkah Santoso itu tanpa mau menanggapinya.
Elang menghentikan tawanya saat merasakan ponsel di sakunya bergetar.
"Halo Bunda??" Elang mengangkat telepon itu sambil menjauh dari ruangan pengap itu.
"......."
"Apa Bunda?? Elang ke sana sekarang!!"
-
-
-
-
Kira-kira apa yang di katakan Nadia sama Elang ya??
Tunggu episode selanjutnya ya😊
__ADS_1