Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
62


__ADS_3

"Loh Kok Den Elang sudah pu___" Ucapan Sumi terhenti saat Elang terus berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kenapa lagi mereka ya??" Sumi bingung melihat majikannya yang selalu saja tidak bisa akur.


"Bella!!" Elang membuka kamar Bella dengan kencang membuat si pemilik kamar sedikit melonjak kaget.


Bella sudah tau jika Elang akan menemuinya. Karena Bambang sudah memberitahunya jika Elang menolak surat gugatannya.


"Kenapa kamu mengirimkan surat itu?? Apa benar-benar ingin kita berpisah?? Kenapa selalu bertindak sesuka hatimu Bella?? Kamu menarik ku ke dalam pernikahan ini. Dan sekarang kamu yang ingin melempar ku begitu saja??"


Elang tidak bisa lagi menahan semua amarah di dalam hatinya. Elang yang sekarang ini adalah Elang sama seperti sebelum kecelakaan itu terjadi.


"KENAPA DIAM!!" Bentak Elang pada Bella yang duduk bersandar pada ranjang.


"Kamu keras kepala Bella!! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, kamu tidak tau rasanya jadi aku!! Aku yang selama di bohongi tanpa tau apapun tapi seolah aku yang jahat disini. Sampai-sampai untuk memperbaiki rumah tangga kita saja kamu tidak mau!!"


"Kenapa kamu marah?? Aku hanya menuruti permintaanmu. Saat di butik itu, kamu yang akan mengirimkan aku surat perceraian kan??" Ucap Bella tanpa mau melihat mata Elang. Dia yakin jika sekali saja tatapan mereka bertemu pasti Bella akan runtuh saat itu juga.


Elang mengusap wajahnya dengan kasar, dia berjalan ke arah jendela. Sedikit menjauhi Bella, rasanya ingin mencari sesuatu sebagai pelampiasan kemarahannya.


"Aku minta maaf soal itu. Aku menarik semua kata-kataku. Jadi jangan pernah mengirimkan surat itu lagi padaku!!" Ucap Elang dengan raut putus asanya.


"Aku tetap ingin kita berpisah" Lirih Bella yang sangat jelas di dengar Elang.


"BELLA!! Jangan ucapkan kata itu lagi!! Sebenarnya apa mau mu. Kamu mencintaiku tapi tidak ingin bersamaku!! Kamu masih mau menjadi munafik seperti dulu, iya??" Suara keras Elang menggema di kamar besar itu.


"Cinta tidak harus bersama kan?? Aku juga tidak mau memaksamu menjalani pernikahan karena keterpaksaan. Sebelum kamu meminta untuk melanjutkan pernikahan kita, lebih baik kamu yakinkan hati kamu dulu Kak" Jawab Bella dengan menundukkan kepalanya. Dia malu mengeluarkan air matanya di depan Elang.


"Sudah aku katakan aku mencintaimu!! Perasaan ku ini sungguh nyata dan bukan karena terpaksa atau rasa hutang budi seperti yang selalu kamu ucapakan itu. AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU BELLA!!" Urat leher Elang sampai terlihat menonjol saat suara yang memekikkan telinga itu keluar.


"Sekarang terserah apa yang ingin kamu lakukan aku tidak peduli lagi. Yang jelas aku tidak akan pernah melepaskan kamu!!"


BLAMMM....


Suara bantingan pintu itu mengiringi kepergian Elang. Elang meninggalkan Bella yang mulai terisak. Bella menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis sepuasnya setelah menahan sesak di dadanya saat bersama Elang tadi.


Elang membentaknya seperti dulu lagi. Bella ketakutan melihat Elang yang kembali berubah. Perubahan sikap Elang yang halus beberapa hari ini hanyalah semu belaka. Itulah yang membuat Bella semakin ragu dengan Elang. Jiak benar Elang mencintainya tidak mungkin pria itu membentaknya, mengatakan keras kepala dan memakinya.


"Hikss.. hikss.." Bella masih terisak dengan kedua tangannya menutup wajahnya.


GREPPP.....


"Maafkan aku sayang"


Bella tidak tau kapan Elang kembali lagi. Jelas-jelas dia melihat Elang keluar dengan membanting pintu. Tapi kenapa kini Elang sudah memeluknya.


Bella menggelengkan kepalanya di pelukan Elang.


"Maaf sayang, maafkan aku. Aku lepas kendali, aku terlalu kecewa saat tiba-tiba pengacara kamu datang membawa surat ter***uk itu. percayalah padaku, cintaku ini tulus. Aku akan buktikan sama kamu. Jangan pernah lakukan itu lagi ya??"


Elang melepas pelukannya. Melepaskan tangan Bella yang masih menutupi wajahnya itu.


"Lihat aku!!" Perintah Elang tak ingin di bantah.


Elang menyentuk dagu Bella untuk mengangkat wajahnya yang sembab itu.


"Sayang, lihat mataku!! Lihatlah dengan benar, apa ada kebohongan di sana?? Apa kamu benar-benar tidak bisa melihat cinta di dalam sana??"


Bola mata Bella bergerak ke kiri dan kanan melihat satu persatu mata Elang yang memerah menahan air mata itu.


Benar kata Elang, Bella tidak menemukan kebohongan di sana. Entah apa yang salah pada diri Bella tapi dia tetap ingin menampiknya.


"Apa yang kamu dapatkan??" Tanya Elang setelah Bella puas menelisik matanya.


"Aku tidak tau, aku__"

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang membuatmu ragu?? Katakan padaku dengan jujur" Elang mengusap pipi Bella yang basah. Lupa jika pipinya sendiri juga basah.


"Kamu tidak percaya diri dengan keadaanmu saat ini??" Elang menebak apa yang ada di pikiran Bella.


Wanita cantik itu menunduk dan terdiam.


"Aku anggap diam mu sebagai jawaban"


Elang kembali meraih dagu Bella, dia tidak ingin melihat Bella yang lemah. Dia hanya ingin melihat Bella yang mengangkat kepalanya seperti dulu.


Elang menarik nafasnya sebelum mengucapkan kalimat panjangnya.


"Dengar kan aku!! Aku tidak peduli bagaimanapun kondisimu saat ini. Bahkan jika kakimu seperti ini selamanya juga tidak masalah bagiku. Yang aku mau hanya kamu selalu ada di sampingku. Berada di sisiku apapun yang terjadi. Aku mau hidup berdua sama kamu, sama anak-anak kita nanti" Elang kembali menitikkan air matanya kala menyampaikan keinginannya bersama Bella.


"Tapi aku tidak mau kamu hidup dengan wanita cacat sepertiku. Kamu tampan, kaya dan kamu sempurna pasti banyak perempuan yang lebih baik di luar sana. Carilah istri yang sehat yang bisa mengurus mu dan mengurus anak-anak kamu" Ucap Bella dengan senyum miris di bibirnya.


"Apa kamu rela melihat aku bahagia dengan orang lain??" Tanya Elang tak bermaksud serius dengan pertanyaannya itu.


Bella mengangguk, dia tersenyum walau hatinya merasa berdenyut membayangkan hal itu.


"Tentu saja, aku bahagia selama kamu bahagia bersama wanita yang tepat"


"Wanita yang tepat itu kamu sayang. Aku tidak sempurna tanpa kamu. Kamu adalah kesempurnaan bagiku. Kamu istri terbaik buat aku. Dan aku yakin kamu pasti bisa sembuh, aku janji akan mencari pengobatan paling bagus untuk kamu. Kita wujudkan impian itu bersama-sama. Ya??" Elang mempererat genggaman tangannya pada Kania.


"Kalau aku tidak bisa sembuh, dan tetap seperti ini selama hidupku??" Bibir Kania bergetar menahan tangisnya.


"Sudah aku katakan aku tidak peduli. Apapun keadaanmu aku tidak akan pernah mau pergi dari sisimu. Walaupun kamu memaksaku!!" Bella memang keras kepala tapi Elang lebih dari sekedar itu.


"Dasar keras kepala. Hiks.. hiks"


Bella menangis dengan memberikan pukulan kecil di dada berotot milik Elang itu.


Tapi Elang tidak merasa kesakitan sama sekali, dia justru terkekeh pelan di tengah tangis harunya.


"Kamu juga" Balas Elang yang tidak terima di sebut keras kepala.


"Kamu juga" Jawab Kania menirukan Elang.


"Apa sekarang kamu masih berniat mengakhiri pernikahan kita?? Apa benar-benar kamu tidak ingin memberiku kesempatan?? Aku sudah mengungkapkan semua isi hatiku, apa semua itu sama sekali tidak menyentuh hatimu??" Kini mereka berdua kembali dalam ketegangan. Elang masih menangi keputusan Bella agar tidak menolak untuk bersama lagi.


"Sejujurnya aku takut perasaan kamu hanyalah semu belaka. Aku takut jika mengambil keputusan yang salah" Jawab Bella dengan suara lembut gang jarang sekali Elang dengar.


"Kalau begitu ajari aku cara mencintai yang kekal sepertimu. Ajari aku agar bisa mencintai sebesar kamu mencintai ku" Bella menatap Elang yang begitu gigih mempertahankan pernikahan mereka.


"Aku tidak tau bagaimana caranya" Jawab Bella sendu.


"Caranya hanya dengan kamu selalu bersamaku sayang, jangan pernah menuntut perpisahan. Kita jalani semua takdir ini sama-sama ya??" Bujuk rayu terus Elang berikan pada Bella. Dia sungguh tidak mau kehilangan istrinya itu.


Bella kembali mencari kebohongan di mata Elang namun tidak menemukannya sama sekali. Berlahan Bella menurunkan egonya, dia mengangguk meski agak ragu.


"Terimakasih sayang" Elang langsung merengkuh Bella ke dalam dekapannya yang hangat dan sangat nyaman bagi Bella itu.


"Aku janji akan selalu melindungi mu apapun yang terjadi. Kamu istriku, kamu milikku, dan selamanya akan seperti itu"


Mereka berdua tidak sadar jika sedari tadi pembicaraan mereka di dengar Nadia dari balik pintu. Nadia melihat semuanya dari celah pintu yang terbuka sedikit. Nadia ikut terharu melihat anak dan menantunya itu.


Setelah melihat Bella dalam pelukan Elang, Nadia memilih untuk pergi dari tempatnya berdiri sejak tadi itu. Rasa bahagia ada di dalam hatinya. Itulah yang dia inginkan dari dulu. Melihat mereka bersama tanpa rasa benci. Dia tau dari dulu anak-anaknya itu saling mencintai tapi di kuasai oleh ego masing-masing.


-


-


-


-

__ADS_1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


BLAMMM...


Elang menutup pintu kamar Bella dengan keras. Dia mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia tidak tau lagi harus bagaimana menyikapi Bella yang masih keras kepala ingin berpisah dengannya.


Dengan langkahnya yang panjang Elang ingin pergi menenangkan dirinya. Daripada harus membentak dan meneriaki Bella terus-terusan.


"Mau kemana kamu Lang??" Elang menolah ke belakang, ternyata Nadia ada di sana sejak tadi namun Elang tidak menyadarinya.


"Jangan pergi saat ada masalah seperti ini. Jangan gunakan amarahmu sebagai jalan keluar. Bunda tau kamu marah, tapi tidak seharusnya kamu meneriaki Bella seperti itu" Ucap Nadia dengan dingin. Dia tidak ingin mereka berdua kembali dalam ketegangan lagi.


"Tapi Bunda lihat sendiri kan bagaimana Bella?? Dia keras kepala Bunda, dia tidak bisa menerima kejujuran Elang. Dia tetap ingin berpisah dengan Elang" Jelas Elang putus asa.


"Tidak, dia hanya sedang ragu dengan perasaannya. Kalau Bunda jadi dia, Bunda jiga akan melakukan hal yang sama karena takut jika kamu mengatakan cinta hanya untuk menghiburnya saja"


"Lalu aku harus bagaimana Bunda??"


"Masuklah, Bunda yakin Bella sedang menangis di dalam. Dia tidak suka kamu membentaknya. Tenangkan dia, bujuk dia dengan kepala dingin. Jangan gunakan amarah, buktikan padanya kalau kamu tulus mencintainya"


Elang baru sadar jika dirinya kembali menyakiti istrinya dengan suara kerasnya tadi.


"Masuklah!!" Titah Nadia lagi.


Tanpa pikir panjang Elang kembali ke depan pintu itu. Dengan sedikit ragu membuka pintu itu dengan berlahan.


Deg...


Hati Elang berdenyut seketika. Benar apa yang dikatakan Bundanya jika Bella pasti sedang menangis di dalam.


Bella bahkan tidak menyadari jika Elang sudah berada di dekatnya lagi, karena Bella terus terisak dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.


Elang tidak kuat menahan perih di dalam dadanya saat mendengar tangisan pilu itu. Dia menyesal telah kembali menyakiti hati istrinya.


GREEPPP....


Elang merengkuh Bella ke dalam pelukannya.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya ya terimakasih😊


__ADS_2