
Ketegangan terlihat jelas di wajah Elang dan Mita. Pasalnya sudah lebih dari 1 jam dokter belum juga keluar dari ruangan itu.
"Permisi, keluarga pasien atas nama Arabella!"
Seorang perawat keluar dari ruangan itu membawa sebuah kertas di tangannya.
"Saya suaminya" Elang dengan cepat menghampiri perawat itu.
"Kalau begitu silahkan Bapak tanda tangan di sini. Ini adalah surat persetujuan tindakan operasi yang akan di lakukan pada pasien. Karena keadaannya yang sangat darurat maka operasi harus segera di lakukan" Jelasnya.
"Baik dimana saya harus tanda tangan? Lakukan yang terbaik untuk istri saya!"
"Baik Pak, silahkan tanda tangan disini!" Perawat itu menunjukkan tempat dimana Elang harus membubuhkan tanda tangannya.
"Terima kasih Pak, saya permisi dulu" Perawat itu kembali masuk ke dalam ruangan berpintu kaca itu.
Rasanya Elang sudah tidak mampu lagi untuk menahan perih di dadanya. Melihat Bella dengan keadaan tak sadarkan diri saja sudah membuat hati Elang tak tenang. Apalagi mendengar jika Bella harus di operasi darurat membuat Elang seperti ingin menyusul Bella ke dalam sana, menemani istri yang selalu di caci makinya.
"Sudahlah, lebih baik kamu duduk Kak. Lebih baik kita terus berdoa untuk Bella. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini!!"
Tegur Mita karena dia jengah melihat Elang yang terus berdiri dan menangis menatap pintu IGD itu.
Elang kemudian bejalan duduk kemabli ke posisinya semula. Elang juga tidak peduli lagi dengan bau anyir dari tubuhnya karena banyaknya darah Bella yang telah mengering di sana.
"Apa sebaiknya Kak Elang pulang dulu untuk mengganti bajumu. Aku akan terus menunggu Bella di sini"
Ucap Mita yang tak tega melihat kondisi Elang saat ini.
"Tidak, aku akan tetap disini!!" Ucap Elang tegas.
"Dasar keras kepala, kalian memang cocok!!" Tentu saja Mita hanya mengumpat dalam hati.
-
-
Elang mondar mandir ke sana kemari membuat Mita yang melihatnya merasa pusing.
Mereka berdua saat ini sedang menunggu di depan ruang operasi. Sudah 4 jam yang lalu Bella masuk ke dalam sana.
Rasa khawatir semakin menggerayangi Elang. Entah kenapa hatinya merasa sangat ketakutan akan kehilangan Bella.
Tiba-tiba dua orang dokter keluar keluar daei ruangan tempat bertaruh nyawa itu.
"Keluarga pasien!!"
"Kami Dok"
Kali ini Mita yang cepat menghampiri dokter itu karena Elang diam dengan tatapannya yang kosong.
"Saya suaminya Dok, bagaimana keadaan istri saya? Operasinya berjalan dengan lancar kan Dok?"
Elang sudah gusar melihat dua orang dokter yang kini di hadapannya.
"Begini Pak, akan kami jelaskan"
Dokter yang sudah tergolong tua dengan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya itu menghela napasnya kasar.
"Saat ini operasi yang kami lakukan berjalan lancar" Dokter itu sedikit menggantung ucapannya.
"Karena benturan yang keras itu mengakibatkan pendarahan otak dan cidera tulang belakang. Kami tidak melakukan operasi pada kepala karena pendarahan otak yang di alami pasien masih tergolong ringan, sehingga kami hanya menguras darah yang mengelilingi otak sehingga darah yang menggenang tidak merusak sel-sel pada otak"
"Kemudian kami harus melakukan operasi pada tulang belakangnya yang akan berakibat lemahnya anggota tubuh dalam hal ini termasuk tangan dan kaki. Tapi kami hanya bisa memastikan hal itu setelah pasien sadarkan diri"
__ADS_1
Penjelasan yang sangat panjang dari dokter tua itu.
Elang tersentak dengan kemungkinan Bella akan menjadi lumpuh itu.
"Lalu bagaimana kondisi istri saya saat ini dokter?"
Elang sedikit gemas karena dokter itu tak kunjung memberitahu kondisi Bella saat ini.
"Maaf Pak, pasien saat ini masih dalam kondisi kritis" Dengan berat hati akhirnya kabar tidak mengenakkan itu terucap untuk Elang.
"Apa Dok? Kritis??"
Mita limbung mendengar pernyataan itu.
"Benar, tapi kalau boleh saya bertanya. Apa pasien termasuk penerima donor atau pemberi donor ginjal? Karena ginjal pasien hanya ada satu"
Tanya dokter yang satunya lagi.
"Maksud Dokter?" Elang sungguh tidak mengerti apa yang di maksud dokter itu.
"Dari hasil pemeriksaan kami, pasien hanya memiliki satu ginjal dan untung saja benturan itu tidak menyebabkan kerusakan pada ginjal tersebut"
Jelas dokter wanita itu.
Mita terbelalak mendengar penjelasan dokter itu. Ia sesungguhnya tau apa yang di sembunyikan Bella tentang hal itu. Tapi Mita rasa ini bukan saatnya ia membahas masalah itu
Sementara Elang sangat kebingungan karena ia baru tahu jika dia dan Bella sama-sama hanya memiliki satu ginjal.
"Dan ada satu hal lagi yang harus kami sampaikan Pak!!"
"Apa lagi dokter?"
Sebenarnya Elang sudah tidak sanggup lagi menjelaskan penjelasan dokter yang begitu mengerikan itu.
"Dengan berat harti kami harus menguras rahim pasien karena janin yang ada di dalam kandungannya sudah tidak bisa di pertahankan lagi"
Bagaikan di sambar petir, Elang harus mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan itu.
"Ap apa Dok? Ja janin? Istri saya hamil?" Tanya Elang dengan terbata.
"Benar Pak, istri anda tengah mengandung 4 minggu"
Jawaban lugas itu membuat Elang luruh ke lantai. Air matanya sudah mengalir membanjiri pipinya.
Kabar bahagia yang belum sempat ia ketahui kini sudah berganti menjadi kabar duka.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Pak. Kami harap Bapak tetap sabar demi istri Bapak yang sedang berjuang di dalam" Dokter wanita itu mencoba menenangkan Elang.
"Lalu kapan Bella bisa sadarkan diri dokter?" Tanya Mita.
"Kami masih menunggu 48 jam dari sekarang. Jika pasien bisa melewati masa kritisnya dalam jangka waktu itu maka bisa di pastikan pasien akan segera mendapatkan kesadarannya. Namun jika pasien belum sadarkan diri juga maka pasien akan berada dalam kondisi Vegetatif"
Deg...
Jantung Elang berhenti beberapa detik, tak bisa mencerna kenyataan apa lagi yang baru saja di terimanya.
Elang menangis tergugu dengan bersimpuh di lantai. Tak ada Elang yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas lagi. Kini hanya Elang yang penuh dnegan penyesalan dengan air mata yang terus beranak sungai di pipinya.
Mita meraih dinding di sebelahnya. Rasanya lemas saat mendengar kenyataan itu.
"Sementara ini dulu yang bisa kamu sampaikan. Untuk perkembangannya akan kami sampaikan setelah melakukan observasi lebih lanjut. Kami permisi"
Keduanya masih diam dalam pikirannya masing-masing. Elang yang belum juga bangkit dari lantai yang dingin itu. Dan Mita yang masih bersandar di dinding dengan tatapannya yang kosong.
__ADS_1
Mita masih mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat Bella terus saja memuntahkan isi perutnya.
Mita baru menyadari jika Bella sebenarnya mengalami gejala kehamilan setelah mendengar pernyataan dokter tadi.
Mita memejamkan matanya seiring dengan air matanya yang kembali menetes.
"Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada Bella? Aku tidak sanggup ya Allah"
"Maafkan Papa Nak, maafkan Papa yang tidak bisa memberikan kesempatan padamu untuk hadir di dunia ini. Semua ini memang salah Papa, maafkan Papamu yang keji ini"
Segala penyesalan itu hanya terungkap di dalam hatinya. Dan yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk seseorang di dalam sana.
Seseorang yang tidak pernah ia sangka akan mengorbankan nyawa untuknya.
-
-
Tak.. Tak.. Tak.. Tak..
Suara hells yang beradu dengan lantai dengan sangat cepat mulai mendekat, seperti pemilik hells itu sedang berlari di atas lantai.
"Bagaimana keadaan putriku?"
Suara yang sudah parau karena terus menangis itu menggema di depan ruang ICU itu.
"Bunda"
Gumam Elang. Ia bahkan lupa mengabari Nadia. Tapi entah darimana Bundanya itu tau sehingga sekarang sudah berada di depannya.
"Dimana Bella Lang, dimana dia??"
Tanya Bunda dengan panik.
"Maafkan Elang Bun"
Elang justru menangis memohon maaf pada Nadia, bukannya menjawab apa yang Bundanya itu tanyakan.
"Kenapa kamu minta maaf, memangnya apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nadia dengan tangisnya.
"Elang minta maaf Bun"
Lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari bibir Elang.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi ELANG!!"
Geram Nadia pada putranya itu.
Elang masih membisu, ia tak sanggup mengatakan semuanya pada Nadia.
"ELANG!!" Bentak Nadia.
Dengan memejamkan matanya akhirnya Elang mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia murka.
PLAAAKKK....
-
-
-
-
__ADS_1
Happy reading, jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang membangun untuk selalu mendukung karya ini.
semoga kalian suka, terimakasih readersđŸ˜˜