
"MAMA!!"
Teriak Marisa dari bawah.
"MAMA!! MAMA DIMANA??" Teriakan Marisa menggema di seluruh ruangan.
"Astaga Marisa, ada apa denganmu??" Mirna yang berniat memarahi Marisa karena berteriak di malam hari mengurungkan niatnya karena melihat keadaan Marisa yang berantakan.
Mirna menuruni anak tangga dengan cepat untuk menghampiri anaknya itu. Marisa tampak seperti orang yang tidak waras dengan rambut berantakan dan riasannya yang luntur karena air mata.
"Kenapa kamu seperti ini Marisa??" Mirna merapihkan rambut Marisa yang sudah tak berbentuk itu.
"Elang Mah, Elang!!"
"Iya kenapa dia??"
"Elang tau semuanya tentang ku Mah, bahkan dia tau kalau aku yang memalsukan surat pengalihan harta itu" Ucap Marisa dengan tangisannya.
"Apaa??"
"Aku rasa dia juga mulai menyelidiki tentang Mama, karena sikapnya aneh Ma. Dia bahkan sudah mengusirku dari perusahaannya"
Wajah Mirna mulai tegang.
"Apa jangan-jangan hilangnya Papa mu ada hubungannya dengan Elang??" Ucap Mirna mulai panik.
"Aku tidak peduli tentang dia!! Yang aku pedulikan hanya hubunganku dengan Elang. Aku tidak mau yang lain. Hanya Elang yang aku inginkan. Aku tidak mau semua ini berakhir sia-sia!!" Ucap Marisa dengan frustasi.
"Hey kamu jangan b*doh Marisa!!" Mirna mengguncangkan badan Marisa dengan memegang kedua lengannya.
"Kalau sampai Papamu buka mulut maka kita juga habis. Mama akan berakhir di penjara, kamu juga hancur!!" Ucap Mirna ingin menyadarkan anaknya itu.
Marisa terdiam dengan tatapan yang kosong.
"Sekarang kita pikirkan bagaimana caranya menemukan Papamu. Jangan sampai Elang ikut-ikutan mencari tau tentang peristiwa itu!!"
Marisa melepaskan tangan Mirna dari lengannya dengan kasar.
"Ini semua gara-gara Mama!! Kalau bukan karena keserakahan Mama, semua ini tidak akan terjadi!!"
PLAKKK...
Untuk pertama kalinya Mirna melayangkan tangannya untuk anak kesayangannya itu.
Wajah Marisa masih menoleh ke samping akibat tamparan keras dari tangan Mirna.
"Jangan menyalahkan Mama, karena semua ini Mama lakukan demi kebahagiaan kamu. Dulu kamu selalu iri melihat teman-teman kamu yang hidup dengan kemewahan. Sehingga Mama nekat memakai segala cara untuk memenuhi semua keinginan kamu!!" Ucap Mirna dengan menunjuk wajah Marisa dengan telunjuknya.
"TAPI AKU TIDAK MINTA SEMUA ITU DENGAN CARA KOTOR SEPERTI INI!!" Teriak Marisa di depan wajah ibunya itu.
PLAKKK...
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Marisa. Rasa pedih dari yang pertama belum hilang kini sudah di susul yang ke dua.
"Jangan munafik kamu!! Kamu juga menikmati semua ini. Dan sekarang kamu berani meneriaki Mama hanya karena hubunganmu dengan Elang hancur??"
__ADS_1
"Ingat Marisa, ini juga karena sifat mu yang tak pernah puas dengan satu pria. Mama sudah memperingatkan kamu untuk berhenti. Cukup kuasai Elang dan hartanya. Bukan menguasai banyak pria dengan semua isi dompetnya!!"
Marisa tak percaya, hinaan itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Dan itu amat sangat pedih di dalam hatinya.
"Mama menghinaku?? Anakmu sendiri??" Marisa menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
"Mama tidak pernah punya anak yang berani berteriak di depan muka Mama. Mama sudah lelah hidup seperti ini hanya demi kamu. Tapi apa yang kamu lakukan?? Tidak tau berterimakasih!!" Ucap Marisa dengan suara yang pelan namun sangat dalam menusuk-nusuk hati Marisa.
"Aku memang orang yang tidak tau berterimakasih tapi Mama adalah orang paling kejam di dunia ini. Melihat Mama yang seperti ini membuat aku takut jika nasibku akan berakhir seperti mereka" Marisa memundurkan langkahnya menjauhi Mirna.
"Apa maksud kamu?? Kamu pikir Mama akan melukai mu seperti saat Mama menaruh racun di makanan Bella??" Mirna menyeringai karena terkejut dengan tuduhan anaknya itu.
"Aku tidak tau, tapi semua itu bisa saja terjadi saat Mama merasa aku menjadi penghalang obsesi Mama untuk mendapatkan kekayaan orang lain"
"MARISA!!" Bentak Mirna. Dia merasa anaknya itu sudah keterlaluan.
Marisa berlari keluar meninggalkan Mirna dengan air mata yang kembali berlinang. Saat ini rasanya tidak ada lagi tempatnya untuk kembali. Rasanya ingin pergi jauh dari sana.
"MARISA KEMBALI KAMU!!" Teriak Mirna yang mengejar kepergian Marisa.
Tapi Marisa seolah tuli. Dia terus berlari menjauhi rumah barunya itu. Dia tak ingin melihat Mirna untuk saat ini.
-
-
Elang mulai menggerakkan tubuhnya untuk merubah posisi tidurnya. Pagi ini dia merasa lebih segar karena tidurnya sangat nyenyak walau tanpa mengganti bajunya sekalipun.
Tentu saja Elang merasakan itu karena hatinya mulai tenang karena bisa dekat dengan istrinya lagi. Bahkan Bella mengizinkannya tidur di sampingnya.
"Bella??" Elang terkejut karena Bella sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Elang langsung melempar selimutnya dan berlari mencari keberadaan istrinya itu. Dia amat ketakutan jika Bella pergi meninggalkannya.
"Bella!!" Panggil Elang dengan lantang sembari mencari-cari Bella di setiap sudut ruangan.
"Bella!! Bi Sumi!!" Suara Elang semakin keras.
"Ada apa Den kok teriak-teriak??" Bi Sumi turun dari lantai atas.
"Bella di mana Bi??" Tanya Elang.
"Oh, Non Bella ada di taman belakang sama Non Mi__"
Elang sudah berlari meninggalkan Sumi sebelum asisten rumah tangga itu selesai dengan ucapannya.
"Ta__" Lanjut Sumi.
"Dasar orang aneh" Gerutu Sumi kembali ke lantai atas.
"Bella" Dua wanita yang sedang menikmati sinar matahari pagi itu menoleh bersamaan.
"Aku tinggal dulu ya, kalau butuh aku panggil aja" Ucap Mita.
Mita meninggalkan pasangan suami istri itu berdua saja. Dia tak ingin menjadi nyamuk di antara mereka.
__ADS_1
Elang berjongkok di depan Bella setelah melihat Mita mulai menjauh.
"Kamu sudah bangun dari tadi?? Kamu sudah mandi juga, tapi kenapa nggak bangunin aku??" Tanya Elang dengan lembut.
Bella tersenyum dulu sebelum menjawab pertanyaan Elang. Hati Elang berdesir mendapat senyuman cantik itu di pagi hari.
"Aku memang sengaja, kamu tidur sangat nyenyak, sampai tidak dengar Bi Sumi dan Mita masuk ke dalam kamar"
"Maaf, badanku rasanya lelah sekali" Ucap Elang dengan raut wajah menyesalnya.
"Tidak papa, aku tau kamu pasti kelelahan menjagaku di rumah sakit kan??" Bella tidak memudarkan senyuman di wajahnya. Bahkan mata jernihnya itu terlihat ikut tersenyum.
"Bella, kamu tau?? Hatiku justru sakit melihat kamu yang lembut seperti ini. Tidak bisakah kamu menjadi gadis munafik seperti dulu agar rasa bersalah di hatiku ini tidak semakin besar??" Tatap Elang dengan sendu.
"Tapi aku bukan gadis lagi" Bella justru melemparkan candaannya yang membuat Elang sedikit terkekeh.
"Iya aku tau itu. Karena aku yang mengambilnya" Jawaban Alam itu membuat pipi Bella sedikit memerah. Aneh, dia sediri yang memulai tapi saat mendapat balasan dia sendiri yang tersipu.
"Kak Bella!!" Panggil seseorang dari belakang.
"Siti, Sintia??" Bella senang melihat ke dua orang itu datang menjenguknya. Kedua wanita itu berjalan mendekati Bella.
"Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya. Sepertinya hari ini kamu tidak akan kesepian" Elang senang karena banyak yang menyayangi istrinya.
"Iya" Jawab Bella dengan singkat.
"Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya??" Bella hanya mengangguk saja.
Elang tersenyum kepada dua wanita yang kini sudah berada tepat di samping Bella sebelum Elang melangkah pergi.
"Kak!!" Panggilan Bella membuat Elang berhenti melangkah.
"Apa nanti kamu sibuk di kantor??" Tanya Bella menatap mata milik Elang dalam meski dengan jarak lumayan jauh.
"Pagi ini aku ada rapat. Tapi nanti siang sampai sore agak senggang. Ada apa memangnya??" Tanya Elang.
"Nanti siang akan ada seseorang yang akan datang ke kantor untuk bertemu denganmu" Ucap Bella belum membuang tatapannya.
"Siapa??"
"Nanti kamu juga tau" Ucap Bella misterius.
"Kalian datang naik apa??" Bella sudah beralih pada Sintia dan Siti. Dia tidak memperhatikan Elang yang masih diam seperti patung.
"Sebenarnya apa yang akan kamu lakukan sayang?? Kenapa aku merasa sangat ketakutan" Batin Elang masih dengan posisinya yang tak bergerak mantap Bella yang sudah bersenda gurau dengan temannya itu.
-
-
-
-
Siapa yang dikirim Bella untuk menemui Elang ya...🤔
__ADS_1