Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
55


__ADS_3

"Kenapa kamu bersikap seperti ini. Sikapmu, kata-katamu, kenapa semua berubah?? Lihatlah dengan benar, aku ini Bella. Aku wanita yang kamu benci"


"Sudah, bahkan sudah dari dulu aku melihatmu. Dan asal kamu tau, kamu memang wanita yang aku benci tapi kamu juga wanita yang sangat aku cintai!!" Tegas Elang di depan wajah Bella.


Deg..


Deg..


Deg..


Bella seakan menyalahkan pendengarannya yang mungkin saja salah. Namun jantungnya sudah berdetak tak terkendali mendengar sesuatu yang belum pasti kebenarannya itu.


"Aku mencintaimu Bella, maafkan aku yang selama ini menyangkal perasaan ini. Aku selalu menutupi semua itu dengan kebencian atas sesuatu yang baru saja tau kebenarannya"


Elang berusaha meraih tangan Bella namun wanita cantik itu justru menjauhkan tangannya. Elang tersenyum kecewa dengan reaksi Bella itu.


Bella tak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis milik Elang. Dia ingat betul cincin itu adalah cincin yang telah di buang oleh Elang.


"Tidak itu bukan cinta. Melihat sikap kamu yang berubah dengan cepat seperti ini. Aku yakin kamu sudah mengetahui semuanya saat aku tidak sadarkan diri. Jadi jangan salah menyimpulkan jika perasaanmu itu cinta. Itu hanya rasa kasihan mu saja"


"Atau mungkin hanya terimakasih kamu saja karena kamu pasti merasa hutang budi padaku"


Bella lagi-lagi tersenyum. Namun kali ini hanyalah senyuman miris yang terbit di bibirnya. Seolah dia menertawakan dirinya yang terlihat menyedihkan.


"Jangan pernah sok tau dengan perasaanku Bella. Hanya aku yang tau dengan perasaanku sendiri. Dan aku juga tau kalau hanya ada aku di dalam hatimu kan??"


Deg..


Pertanyaan Elang itu membuat Bella membuang mukanya. Dia tidak tau jika sudah sejauh itu Elang mengetahui tentang dirinya.


Reaksi Bella itu membuat Elang tersenyum. Memang benar yang mereka katakan jika Bella memang mencintainya.


"Aku akui kalau selama ini selaku bersikap buruk kepadamu karena kesalahpahaman diantara kita. Tapi aku jujur tentang perasanku ini. Aku sudah menyukai mu sejak dulu, tapi kejadian deni kejadian yang kita alami membuat aku mengubur semua perasaan itu"


"Kak" Panggilan itu yang sudah sangat Elang rindukan.


"Iya, kenapa?? Kamu butuh sesuatu?? Aoa ada yang sakit??" Tanya Elang karena Bella terlihat memegang kepalanya.


"Kepalaku pusing. Bisakah aku istirahat??"


"Apa mau aku panggilkan dokter??" Elang terlihat sangat khawatir.


"Tidak, aku hanya ingin tidur" Ucap Bella lirih.


"Baiklah, kalau begitu ayo berbaringlah" Elang membantu Bella berbaring. Kemudian tak lupa Elang menarik selimut itu hingga menutupi badan Bella hingga sebatas pinggang.


Bella memalingkan wajahnya kesamping yang berlawanan dengan Elang. Dia tidak mau Elang melihat air matanya yang masih menetes itu.


Bella memang berbohong pada Elang jika dirinya merasa pusing dan ingin istirahat. Dia hanya mencari cara untuk menghindari Elang membicarakan sesuatu yang masih sulit Bella terima.


Bella belum siap menghadapi Elang dengan segala perubahannya itu. Tak dapat di pungkiri jika sebenarnya hatinya sangat senang mendengar pernyataan cinta itu.


Tapi Bella takut jika semua itu hanyalah semu. Dia takut jika Elang hanya merasa hutang budi saja padanya sehingga dia bersikap manis seperti itu. Dan itulah yang Bella takutkan dari dulu.


Dia tidak ingin semua yang dilakukannya akan di balas hanya dengan rasa hutang budi.

__ADS_1


Elang juga tau jika sebenarnya Bella hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Tapi Elang paham akan semua itu. Dia tidak bisa memaksa Bella untuk menerimanya begitu saja. Jika dia di posisi Bella, pasti jiga akan merasa sulit.


"Aku keluar dulu, panggil saja jika butuh sesuatu" Elang memilih keluar untuk memberikan Bella kesempatan menenangkan hatinya.


Bella sama sekali tidak menyahut meski sangat jelas mendengar ucapan Elang itu.


Cup...


Elang meninggalkan sebuah kecupan yang cukup lama di dahi Bella.


Bella yang terus memejamkan matanya tentu saja tidak tau jika Elang akan melakukan itu. Tentu saja Bella merasakan dadanya bergemuruh. Meski kontak fisik itu pernah terjadi lebih dari sekedar kecupan tapi tetap saja hal itu membuat Bella seperti terbakar.


***


Elang keluar dari ruangan itu dengan wajah yang lesu. Pundaknya yang biasa tegap kini lunglai seperti tak ada tulang.


"Bagaimana Bella Lang??" Tanya Bunda yang sudah dari tadi berada di bangku panjang di depan ruangan Bella itu bersama dengan Mita.


Elang menggeleng lemah, dai duduk di samping Nadia dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Dia berusaha menghindari ku Bun" Jawab Elang..


"Kamu sabar ya. Berikan dia waktu, Bunda yakin dia tidak akan mengabaikan mu. Bunda tau betul bagaimana perasaanya padamu. Mungkin dia hanya belum siap dengan perubahan kamu yang tiba-tiba seperti ini"


Elang membenarkan ucapan Nadia. Dia tau Bella merasa asing dengannya. Bagaimana bisa, seseorang yang setiap hari selalu mengumpatnya kini berubah manis.


"Tapi Bella menganggap perasaan Elang ini hanya sebatas balas budi Bun"


"Itulah yang selalu Bella katakan, Bella tidak mau kamu bersikap baik padanya hanya karena balas budi"


"Teruslah berusaha meyakinkan Bella, dia pasti bisa menerimamu. Aku lihat sejauh ini cintanya pada mu tidak pernah berubah. Apalagi saat dia membuka matanya tadi. Orang yang pertama dia tanyakan hanya kamu" Jelas Mita pada Elang yang terlihat putus ada itu.


"Bella mencari ku??"


"Iya, dia mengkhawatirkan keadaanmu" Jawab Mita lagi.


Elang terkekeh " Lihatlah Bun, dia saat keadaannya seperti itu pun, dia tetap mengkhawatirkan orang lain"


"Bukan orang lain Lang, karena kamu adalah orang yang dia cintai" Balas Nadia.


Mereka bertiga masih tetap di luar ruangan itu. Mereka memberikan ruang agar Bella bisa beristirahat. Lebih tepatnya memberikan Bella waktu untuk menenangkan dirinya.


"Bunda, mita malam ini aku yang akan tetap menjaga Bella. Kalian pulang saja ya" Ucap Elang.


"Tapi bagaimana jika Bella tidak mau" Mita khawatir memikirkan kondisi sahabatnya itu. Bella pasti canggung jika harus berduaan dengan Elang setalah semuanya terungkap.


"Percaya padaku Mit, aku pasti bisa membujuknya"


Akhirnya Mita mengalah, dia juga ingin melihat sahabatnya itu bersama cintanya. Cinta yang selama ini membuatnya berkorban sekian banyak.


"Baiklah, aku titip Bella. Jangan paksakan sesuatu yang dia tidak mau. Pelan-pelan saja"


"Aku tau"


Tak berselang lama dari kepergian Nadia dan Mita, Elang masih ragu untuk masuk kembali ke dalam. Sebenarnya waktu yang Elang berikan untuk Bella sudah cukup lama. Tapi Elang takut jika Bella menolak kehadirannya lagi.

__ADS_1


Setelah berseteru dengan hatinya, akhirnya Elang membulatkan tekadnya utuk tetap masuk menemui istrinya.


Bella yang sudah terduduk bersandar itu mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara pintu terbuka.


Tanpa Elang duga, Bella tersenyum tipis menyambut kedatangannya.


Benar kata Bunda jika perasaan Bella memang hanya untuk Elang.


"Kamu sudah tidak pusing lagi?" Elang sudah duduk di samping Bella.


"Sudah agak mendingan" Jawab Bella dengan suara lembutnya.


"Bella" Kali ini Elang meraih tangan Bella dan tak mau lagi Bella menghindarinya.


Elang mengusap tangan lembut itu.


"Aku tau kamu pasti canggung dengan semua ini. Kamu merasa asing dengan sikapku yang berubah ini. Tapi mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan sikapku yang seperti ini. Karena selamanya aku akan tetap seperti ini"


Hanya dengan ucapan Elang yang seperti itu saja sudah mampu membuat Bella berkaca-kaca.


"Jangan menangis, jangan tunjukkan sikapmu yang seperti ini padaku. Ini justru akan membuatku semakin merasa bersalah padamu. Tetaplah bersikap seperti Bella yang biasanya. Bella yang munafik dengan menyembunyikan semua luka di hatinya"


Bella menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangisannya. Dai sudah tida tahan lagi dengan rasa sesak di dadanya yang semakin menekan.


Tak tahan lagi dengan apa yang dilihatnya. Elang berdiri dan meraih Bella ke dalam dekapannya.


Bella menumpahkan air matanya di dalam rengkuhan hangat Elang.


"Maafkan aku, maafkan aku sayang. Percaya atau tidak rasa di dalam hatiku ini bukan hanya rasa kasihan dan hutang budi. Aku yakin dengan perasanku sendiri. Aku mencintaimu, maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya"


Mereka berdua terhanyut dalam tangisan masing-masing.


"Terimakasih sudah mau bertahan. Terimakasih karena kamu masih mau kembali. Asal kamu tau, betapa hancurnya hati ini saat mendengar Dokter menyatakan kepergian mu. Rasanya aku ingin sekali menyusul mu"


Bella masih terisak di dekapan suaminya itu. Tapi tangan Bella tidak berniat sama sekali untuk berbalik melingkarkannya ke pinggang Elang.


Elang mengurai pelukannya saat merasa Bella sedikit lebih tenang.


"Jangan menangis!!" Elang mengusap air mata yang membasahi Bella.


Elang seakan tak berkaca jika dirinya sendiri juga basah oleh air mata.


Bella menundukkan kepalanya, dia tidak mampu berlama-lama menatap Elang yang seperti itu. Sebenarnya mereka sama-sama tidak siap dengan perubahan masing-masing.


-


-


-


-


-


Happy reading, maafkan othor ya kalau ceritanya masih kurang mengharu biru☺

__ADS_1


__ADS_2