Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
41


__ADS_3

PLAAKKKKK...


Tangan itu untuk pertama kalinya mendarat di pipi Elang.


Elang tak menyangka jika Bundanya bisa melepaskan sebuah tamparan untuknya demi Bella.


"Bunda sudah peringatkan puluhan kali padamu Elang!! Jaga Bella dan jangan sakiti dia!!"


Baru kali ini Elang melihat Nadia membentaknya dengan jari yang mengarah ke wajah Elang.


Elang hanya diam tak mampu menanggapi kemarahan Bundanya.


"Ya Allah putriku"


Nadia merasakan badannya limbung hingga ingin mencari sandaran.


Beruntung Mita sigap meraih badan Nadia sehingga tubuh yang sudah lebih dari setengah abad itu tak jadi bersentuhan dengan dinginnya lantai.


"Kita duduk dulu Bunda"


Mita memapah Nadia membawanya untuk duduk.


"Mita sebenarnya apa yang terjadi? Ceritakan semuanya pada Bunda"


Nadia menatap Mita dengan sendu.


Elang yang mendengar permintaan Nadia itu merasa tak kuat. Ia tak sanggup jika harus mendengar kejadian itu sekali lagi. Elang lebih memilih menyingkir. Mencari tau dimana sekarang Bella berada.


Dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya, Mita mulai menceritakan rentetan kejadian yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Itu yang telah terjadi Bunda, hingga saat ini Bella berakhir di dalam sana"


Nadia menyandarkan kepalanya pada dinding di belakangnya. Rasanya sudah lemas dan matanya berkunang-kunang. Jika dia tidak ingat dengan Bella yang tengah berjuang di dalam sana, pasti mata Nadia sudah terpejam dalam ketidaksadaran.


-


-


Elang kembali menghampiri Nadia dan Mita setelah mengetahui jika sudah di izinkan untuk menjenguk Bella.


"Bunda!!"


"Kita sudah bisa melihat keadaan Bella, ayo Bunda" Ajak Elang antusias.


"Benarkan Elang? Ayo bawa bunda ke sana!!"


Seakan rasa pusing di kepala Nadia hilang begitu saja. Nadia bergegas menuju ruangan yang di tunjukkan Elang diikuti Mita di belakangnya.


"Tunggu dulu!!"


Sura Nadia menghentikan langkah mereka.


"Ada apa Bunda?" Heran Elang.


"Apa tidak sebaiknya kamu ganti dulu baju yang sudah berganti warna itu?"


Kemeja Elang yang berwarna biru muda sekarang sudah berganti menjadi warna merah karena darah Bella.

__ADS_1


Nadia sebenarnya merasa kasihan melihat putranya yang terlihat amburadul, tak seperti Elang yang biasanya, rapi dan wangi.


"Mita sudah menyuruh orang untuk membawakan baju ganti untuk Kak Elang Bun, jadi Bunda tenang saja" Ucap Mita.


"Ya sudah, ayo jalan lagi!!" Nadia berjalan mendahului Elang.


-


-


Tit.. Tit.. Tit..


Suara alat yang Elang tidak tau apa namanya itu memenuhi ruangan yang sangat sunyi itu. Elang hanya tau alat itu untuk mengukur aktivitas jantung saja.


Hatinya sudah lemah hanya dengan mendengar suara itu. Elang mendekati ranjang pesakitan itu.


Hatinya remuk seperti tertimpa berat ratusan ton melihat kondisi istrinya saat ini.


Kepala Bella yang di lapisi perban, dengan mata dan separuh wajahnya yang membiru karena lebam. Juga mulutnya yang sedikit terbuka karena terpasang ventilator sebagai alat bantu nafasnya.


Bella yang biasanya tampak cantik dengan aura dinginnya sudah tak ada lagi, kini hanya tinggal Bella si wanita lemah dan tak berdaya..


"Bella"


Nadia mendekati putri kesayangannya itu. Tangan lembutnya mengusap kepala yang tertutup perban itu dengan lembut.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan Bunda Nak?? Bunda sudah peringatkan jika sudah cukup pengorbanan yang kamu lakukan. Bunda tidak tau lagi apa yang harus Bunda lakukan untuk membalas semua yang kamu lakukan untuk Bunda"


Nadia berucap dengan suaranya yang lirih di antara tangisannya.


"Bunda yakin kamu kuat Nak, berjuanglah!! Bunda akan selalu berdoa untukmu"


Elang semakin tak mengerti dengan ucapan Nadia pada Bella itu.


Elang duduk di kursi tepat di samping Bella. Masker yang dikenakannya tak mampu menutupi tangisnya.


Seperti tak ada gunanya lagi pria itu menangis. Semua sudah terjadi, celaka sudah menimpa Bella dan calon bayinya.


Tapi apa lagi yang bisa pria itu lakukan jika tidak menangis, lebih tepatnya menangisi kebodohannya selama ini.


"Bella, bangunlah. Kami semua menunggumu" Bisik Elang.


Mita mengusap lembut Kaki Bella yang tertutup selimut berwarna putih itu.


"Bella, sudah cukup kamu korbankan dirimu. Aku harap ini yang terakhir" Banti Mita.


"Bunda?"


Elang menatap Bunda dengan sorot matanya yang sendu.


"Setelah Bella sadar, apa yang harus Elang katakan padannya?? Bagaimana jika Bella tau dia kehilangan janinnya??"


"Bunda tidak tau Lang, Bunda juga takut menghadapi itu semua" Nadia menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya Bella juga belum tau tentang adanya janin di dalam perutnya" Celetuk Mita.


Elang menatap Mita penuh tanya.

__ADS_1


"Tadi pagi sebelum Kak Elang datang, Bella sempat muntah berkali-kali. Bahkan hingga isi dalam perutnya habis Bella belum juga berhenti bolak balik ke kamar mandi. Aku sedang membujuknya untuk pergi ke dokter, tapi dia sangat keras kepala. Sampai dimana Kak Elang datang langsung melemparkan kertas-kertas yang tak tau asalnya darimana itu"


Mita kembali menangis teringat saat-saat Bella mencoba membela dirinya atas kesalahan yang tak ia lakukan.


"Kemudian aku terkejut saat tadi dokter mengatakan jika Bella sudah mengandung selama 4 minggu. Dan aku baru sadar jika yang Bella alami tadi pagi itu adalah gejala awal kehamilan hiks.. hikss.."


Elang menutup wajahnya dengan ke dua tangannya setelah mendengar pernyataan Mita itu.


Kenyataan menyakitkan satu per satu mulai menyerang Elang.


"Kamu dengar itu Elang?? Bunda dari dulu sudah memintamu untuk berhenti membenci Bella. Kamu mau tau kenapa Bunda sangat menyayanginya dibanding kamu anak Bunda sendiri??"


Elang menggeleng, menolak apa yang akan di ucapkan Nadia.


Sebenarnya Elang takut jika ia akan menerima sebuah kenyataan yang selama ini tidak ia ketahui.


SREETTT..


Nadia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh lemah Bella. Kemudian Nadia juga menyingkap baju yang di kenakan Bella hingga memperlihatkan perutnya yang rata.


"Apa yang Bunda lakukan?" Kaget Elang.


"Diam kamu!! Bukannya kamu ingin tau kenapa Bunda sangat menyayanginya?? Bukankah pertanyaan itu selalu keluar dari mulutmu?? Sekarang Bunda tidak akan menutupinya lagi. Tidak peduli jika Bella akan marah pada Bunda karena membuka semua rahasia ini!!"


Nadia juga membiarkan baju Bella tersingkap, toh di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga, dan Elang juga suaminya Bella jadi tak ada dosanya jika Elang melihatnya.


"Rahasia apa yang Bunda maksud?"


Tanya Elang masih kebingungan dengan wajahnya yang tampan namun tampak bodoh.


Sementara Mita hanya mampu membekap mulutnya untuk menahan tangisnya. Ia sudah tau semua apa yang akan Nadia katakan.


"Bukalah matamu dan lihat dengan baik!! Apa yang bisa kamu tangkap dengan bekas-bekas luka ini?" Desis Nadia. Suaranya pelan namun menekan.


Elang melihat ada dua luka di sana, satu sayatan kecil di bagian perut bawahnya serta satu lagi dengan panjang dan letak yang sama seperti miliknya. Yaitu di bagian pinggang sebelah kanan menjulur ke depan hingga mendekati pusar.


Elang mengerutkan keningnya. Ingatannya kembali pada saat malam yang akhirnya menghadirkan janin itu.


Dimana saat malam itu Elang sama sekali tidak melihat bekas luka yang panjang itu, yang ia lihat hanya yang berukuran kecil di bagian bawah itu.


Mungkin karena luka milik Bella itu sudah terlihat samar tidak sejelas seperti miliknya.


"Bunda, jangan bilang??"


Tubuh Elang mulai gemetar.


-


-


-


-


Haduh, kenyataan apa lagi yang bakalan Elang terima ya??


Setelah ini, Elang bakalan tau semua rahasia yang selama ini Bella sembunyikan bersama Nadia.. Jadi besok jangan sampai ketinggalan ya, tungguin uploadnya.

__ADS_1


Setelah itu jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian. Terimakasih😊


__ADS_2