Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
51


__ADS_3

Elang melihat ke sekitarnya, dia belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya.


Walaupun tempat itu begitu indah dan luas tapi sangat terasa asing baginya.


Elang kebingungan karena tak ada seorang pun di sekitarnya, ia bingung harus bertanya pada siapa untuk keluar dari tempat itu.


Hingga Elang memutuskan untuk terus berjalan, mencari siapapun yang bisa menunjukkan arah jalan pulang padanya.


Dia juga tidak tau kenapa bisa sampai di tempat itu dengan sendirinya.


Dari kejauhan Elang bisa melihat seseorang yang sedang duduk membelakanginya. Dari rambutnya yang hitam dan panjang, Elang bisa mengenali siapa dia walau Elang belum melihat wajahnya.


"Bella??"


Elang mengerjabkan matanya beberapa kali. Seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.


Wanita yang sedang duduk di bangku taman dengan bunga-bunga indah yang mengelilinginya itu hanya tersenyum dengan lembut.


"Ini benar kamu sayang??" Elang berjongkok dengan satu kaki sebagai tumpuannya.


Bella mengangguk pelan tak melepaskan senyuman dibibirnya.


"Bella, aku rindu" Tangan Elang yang sedikit gemetar itu mengusap pipi Bella yang halus itu.


"Maafkan kesalahanku selama ini. Maafkan aku yang selalu kasar padamu" Ucap Elang dengan tulus


Bella meraih tangan Elang yang berada di pipinya. Melepaskannya dari sana, kemudian membawa tangan itu ke pangkuannya.


"Aku tidak pernah marah padamu. Jadi jangan minta maaf padaku"


Elang terpesona dengan Bella. Yang ia lihat kali ini adalah Bella yang berbeda jauh dari Bella yang dulu.


Bella yang dihadapannya ini adalah wanita yang lembut dengan tatapan mata penuh cinta. Sedangkan Elang terbiasa menghadapi Bella yang menatapnya datar dan ketus.


"Tapi aku banyak salah padamu. Salahku padamu sudah tak terhitung lagi"


"Aku tidak pernah menyalahkan mu. Karena itu bukan salahmu"


Bella mengusap air mata Elang dengan tangannya.


"Tapi ak___"


Bella menempelkan jarinya pada bibir Elang agar suaminya itu berhenti mengatakan maaf padanya.


"Baiklah jika itu bisa membuatmu lega, aku sudah memaafkan mu. Bahkan dari dulu aku sudah memaafkan mu"


Suara lembut Bella terdengar sangat merdu di telinga Elang.


"Benarkah??" Senyum Elang mulai mengembang meski matanya masih berair.


Bella hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kita perbaiki rumah tangga kita. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku tidak akan menyakitimu lagi, kita mulai semuanya dari awal lagi" Elang sudah bersiap akan berdiri tapi Bella masih menahannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa" Jawab Bella.


"Kenapa?? Kenapa tidak bisa?? Bukankah kamu mencintaiku??" Tanya Elang dengan alis yang menyatu.


"Itu benar, tapi aku tidak bisa bersamamu. Aku harus pergi" Bella melepaskan tangan Elang yang menyatu dengan tangannya.


"Pergi?? Pergi kemana?? Biar aku antar ya??"


"Tidak, kamu harus pulang Kak aku akan menepati janjiku untuk pergi??" Ucap Bella lagi.


"Janji??" Elang semakin bingung dengan Bella.


Bella mengangguk dengan pasti


"Aku sudah berjanji padamu untuk menuruti permintaanmu. Aku akan pergi sejauh mungkin sampai kamu tidak bisa melihatku lagi. Karena kamu akan semakin membenciku jika masih melihatku berada di sekitarmu"


Bella mengatakan itu dengan sebuah senyuman di akhir kalimatnya. Seperti tak ada beban di dalam hatinya.


"Tidak, tidak sayang. Maafkan aku pernah berkata seperti itu. Tapi sungguh di dalam lubuk hatiku aku tidak pernah menginginkan itu"


Elang kembali menarik tangan Bella ke genggamannya. Mempereratnya seolah tak ikhlas melepaskan Bella.


"Tapi aku sudah berjanji. Dan itu juga sesuai dengan permintaanmu"


"Aku tidak peduli, aku tidak akan melepaskan mu . Tidak akan, tidak akan pernah!!"


Mata Elang kembali memerah. Dia sungguh mengutuk mulutnya yang pernah kurang ajar mengatakan kalimat itu.


"Kenapa kamu tidak ingin melepaskan ku?? Bukankah ini kemauan mu sendiri??" Tanya Bella.


"Pulanglah bersamaku sayang, aku butuh kamu. Maafkan semua yang pernah aku lakukan. Kamu mau kan??"


Bella kembali tersenyum.


"Maaf Kak, aku harus pergi sekarang. Aku sudah menepati janjiku untuk pergi darimu. Jadi hiduplah dengan bahagia dengan orang yang kamu cintai sesuai dengan permintaanmu waktu itu. Aku pergi dulu. Selamat tinggal"


Elang tidak bisa mencegah kepergian Bella, karena tubuh itu begitu sudah di jangkau. Bella tiba-tiba saja sudah jauh dari jangkauannya. Berjalan dengan sesekali tersenyum meninggalkan Elang yang berusaha mengejarnya.


"BELLA!!"


"JANGAN PERGI SAYANG, AYO KITA PULANG!!


Elang terus berteriak menghentikan Bella yang semakin menjauh.


"SAYANG!!"


Tit.. Tit.. Tit.. Tit.. Tit..Tiiiiiiittttttttttt....


Elang terbangun karena dikagetkan dengan suara EKG yang berbunyi dengan cepat. Sedetik kemudian Elang merasakan tubuh Bella mulai bergetar.


"DOKTER!!!"


"DOKTER TOLONG!!"

__ADS_1


Elang semakin panik saat alat berbentuk persegi itu menampilkan gambar garis yang semakin lurus.


"Sayang, aku mohon jangan seperti ini" Ucap Elang dengan panik.


"Maaf Pak kami periksa dulu"


Dokter dan beberapa perawat langsung menyiapkan berbagai alat yang kemungkinan bisa menyelamatkan Bella.


Elang mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk para medis itu.


"Ya Allah. Selamatkan Bella, ijinkan aku untuk menebus kesalahanku padanya. Aku ingin membahagiakannya Ya Allah. Beri aku kesempatan sekali lagi" Ucap Elang dalam hati.


Elang memilih keluar dari ruangan itu. Dia tidak sanggup melihat Bella tersiksa dengan alat-alat medis itu. Berhari-hari melihat Bella terus di suntik dengan puluhan jarum saja membuat hati Elang teriris.


Dengan cemas Elang berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Bella.


Hatinya tak pernah berhenti berdoa untuk istrinya yang sedang berjuang di dalam sana.


"Bella, apa benar yang kamu katakan di dalam mimpi ku itu?? Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku sayang??"


"Apa kesalahanku sungguh tidak bisa di maafkan sehingga kamu lebih memilih pergi dariku??"


"Tapi kenapa kamu hanya menemui ku lewat mimpi?? Kenapa kamu tidak pernah membuka matamu untukku??"


Elang terus saja bermonolog dalam hatinya. Dia belum rela jika Bella pergi dari hidupnya saat ini.


"Aku tidak bisa membayangkan jika harus kehilanganmu. Melihatmu meninggalkanku di dalam mimpi saja sakitnya masih bisa aku rasakan sampai saat ini. Aku benar-benar tidak sanggup untuk kehilanganmu"


"Aku mohon bertahanlah sayang. Berikan aku kesempatan sekali lagi"


Elang hanya berharap dan terus memohon untuk keselamatan Bella, tapi bukan dialah yang menentukan. Semua kembali pada Sang Pemberi kehidupan.


"Dokter bagaimana istri saya??"


Elang langsung memburu dokter itu dengan kekhawatirannya, tanpa memberikan kesempatan Dokter itu untuk berbicara terlebih dahulu.


Dokter itu menarik nafas dengan dalam. Tampak sekali tatapan sendu dari mata tuanya itu.


"Apa yang terjadi Dokter?? Jangan membuat saya habis kesabaran!!" Tekan Elang karena Dokter itu tak kunjung bersuara.


Dokter itu hanya menggeleng lemah dengan tangannya yang menepuk bahu tegap milik Elang yang mulai lemah.


"Tidak, itu tidak mungkin!!"


-


-


-


-


-

__ADS_1


Sad banget nggak nih??😭😭😭


__ADS_2