
"BELLA AWAS!!"
Semua orang terkejut dengan suara teriakan Elang itu. Tapi tidak ada yang tau apa maksud Elang itu.
DORRRR.....
"ELANG!!!" Nadia berteriak melihat darah yang mengalir menembus baju yang di kenakan Elang.
Bella masih terdiam terpaku, masih syok dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Berbeda dengan Rayan dan Dito yang spontan berlari mengejar seseorang yang dilihatnya dari kejauhan.
"Ka-mu ti-dak papa sayang??" Ucap Elang dengan terbata-bata menahan sakit di punggungnya.
"Apa yang kamu lakukan hah?? Kenapa kamu seperti ini?? Kenapa kamu menyia-nyiakan pengorbananku selam ini??" Bella marah tapi dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.
Elang berhasil melindungi Bella dari serangan orang tak di kenal itu. Begitu Elang melihat orang itu menarik pelatuk pistol di tangannya. Elang berlari memeluk Bella dari depan. Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Bella.
"Bangun Kak, jangan pejamkan matamu" Tangis Bella dengan menepuk pelan pipi Elang yang berada di pangkuannya. Elang berlahan mulai kehilangan kesadarannya.
"Sebentar lagi ambulance datang, jadi bertahanlah!!" Ucap Mita terlihat panik.
"Elang, bertahan sayang. Kamu pasti kuat!!" Nadia bersimpuh di samping Elang. Dia tidak kuat melihat putranya dengan keadaan seperti ini.
"Kak, jangan buat aku takut. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku mencintaimu Kak" Bella menciumi pucuk kepala Elang yang bersandar lemah itu.
Walau mata Elang sudah mulai terpejam tapi dia masih mendapatkan kesadarannya. Dia dengan jelas mendengar Bella mengucapkan kata cinta itu. Elang merasakan bahagia yang tak terkira lagi di dalam dadanya yang mulai sesak itu.
Tangan Elang terulur dengan lemah meraih tangan Bella. Mata Bella yang menangkap pergerakan tangan Elang langsung menyambut dengan cepat. Elang menggenggam tangan Bella dengan kuat seakan meminta kekuatan pada istrinya itu.
-
"HEY JANGAN LARI!!" Teriak Dito mengejar pelaku penembakan itu dengan beberapa orang penjaga yang ada di rumah Bella.
Mereka semua lengah hingga kedatangan Marisa sama sekali tidak di sadari mereka.
Orang berpakaian hitam itu terus berlari sekuat mungkin. Namun kecepatannya kalah dengan Dito dan Rayan di belakangnya.
Tangan seorang penjaga meraih lengan yang menurutnya kecil untuk ukuran seorang pria.
"Siapa kau??" Geram Rayan menarik topi yang di kenakan orang itu.
Sreettt...
Topi yang di tarik Rayan itu terjatuh dan menampakkan rambut panjang orang itu yang berwarna sedikit kecoklatan.
"Kau wanita?" Kaget Dito tak percaya.
Dengan cepat Dito juga melepas masker yang di kenakan orang itu. Dia tidak peduli akan kasar pada wanita mengingat perbuatan wanita ini.
"Marisa??" Seakan jantung Rayan ingin keluar dari tepatnya, mengetahui kenyataan bahwa Marisa yang tega mencelakai sahabatnya itu.
"Iya ini aku!!" Ucap Marisa tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak ingin tau apa yang membuatmu tega melakukan ini. Yang jelas aku akan menyerahkan mu ke kantor polisi!!" Ucap Rayan tanpa ekspresi di wajahnya. Dia sebenarnya kaget, marah dan juga kecewa pada sosok yang di kenalnya sejak bangku sekolah itu.
"Aku sudah menghubungi polisi, sebentar lagi pasti datang. Ayo kita bawa dia ke rumah Bella, kita belum melihat keadaan Elang" Ucap Dito pada para penjaga itu.
-
-
__ADS_1
Bella marah pada dirinya sendirinya sendiri, karena dalan keadaan segenting ini dia tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasannya. Dia terus menangis karena tidak bisa mendampingi Elang yang telah di bawa ambulance ke rumah sakit. Hanya Nadia yang ikut di dalam ambulance itu.
"Tenangkan dirimu Bella, kita susul Elang ke rumah sakit. Tapi ganti bajumu dulu, tidak mungkin kita menyusulnya dengan bajumu yang terkena darah itu" Mita membantu Bella mengganti pakaiannya dengan telaten.
Kemudian Mita mulai mendorong kursi roda itu keluar kamar stelah selesai mengganti pakaian Bella dengan yang lebih manusiawi.
Bella dan Mita terkejut saat keluar kamar sudah banyak polisi di rumahnya. Dan yang membuat Bella lebih terkejut lagi adalah, Marisa yang telah berada di antara polisi itu dengan kedua tangannya yang telah di borgol.
"Kenapa Marisa ada disini Dito??" Tanya Bella.
"Dia yang telah melepaskan peluru itu" Jawab Dito di benarkan oleh Rayan.
"Apaa??" Kejut Bella dan Mita.
"Benar itu Marisa?? Kenapa kamu tega melakukan semua ini??" Bella menatap Marisa dengan nyalang.
Tak ada satu jawaban pun yang keluar dari bibir Marisa. Tatapannya kosong seperti tak ada nyawa lagi di dalam tubuhnya.
"Silahkan bawa dia Pak!!" Ucap Rayan pada para polisi itu.
"Baik Pak, untuk kejadian ini kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada korban dan para saksi" Jelas salah satu polisi itu sebelum pergi.
"Baik Pak"
-
-
Nadia langsung memeluk Bella begitu menantunya itu tuba di rumah sakit. Mereka berdua menangis dengan pilu dalam pelukan masing-masing. Orang yang mereka cintai sedang berjuang di dalam sana.
"Bunda, Kak Elang akan baik-baik saja kan??" Lirih Bella mencoba menahan tangisnya.
"Kita berdoa terus ya Nak. Berikan kekuatan pada Elang melakui doa-doa kita" Ucap Nadia berusaha setegar mungkin.
Bella mengangguk mendengarkan ucapan Mita itu. Matanya terus melhat ke arah tuang operasi, lampu di atas pintu itu masih berwarna merah. Itu tandanya Elang belum selesai di operasi.
Mereka berlima yang menunggu di depan ruang operasi itu saling berdiam diri. Namun di dalam hati mereka terus berdoa untuk keselamatan Elang.
Setelah begitu lama menunggu, lampu itu berubah hijau di iringi dengan keluarnya dokter yang masih berjubah itu.
"Keluarga pasien??"
"Bagaimana keadaan anak saya dokter??" Tanya Nadia dengan panik. Karena pikiran buruk selalu melintas di otaknya.
"Alhamdulillah, operasi pengeluaran peluru berjalan dengan lancar. Peluru yang menembus punggungnya tidak mengenai organ vitalnya sama sekali. Jadi pasien dalam keadaan baik dan stabil" Jelas dokter itu.
"Alhamdulillah" Ucapan syukur itu terucap dari semua yang ada di sana. Tak terkecuali Bella hang merasakan di dalam hatinya begitu ringan, setelah tadi merasakan batu yang menghimpit di dalam sana.
"Setelah ini pasien akan kita pindahkan ke ruang rawat agar bisa beristirahat. Saya permisi" Ucap Dokter itu kemudian berlalu pergi.
"Bunda, Kak Elang selamat Bunda" Ucap Bella dengan haru.
"Iya sayang ini berkat doa kita semua" Nadia memeluk Bella sekali lagi.
"Ini pasangan suami istri kayanya banyak banget nyawanya" Bisik Rayan pada Dito yang ternyata di dengar oleh Mita.
Sontak saja Rayan menciut mendapat tatapan tajam dari kekasihnya itu.
-
__ADS_1
-
Bella mendorong roda pada kursinya untuk mendekati Elang yang masih terlelap dengan posisi menyamping. Punggungnya yang tak tertutup selimut itu menampakkan lukanya yang terbalut perban.
Jika kemarin Elang yang ada di posisinya saat ini maka sekarang Bella yang menggantikannya. Duduk di samping ranjang rumah sakit menunggu kesadaran orang yang berarti di hidupnya.
Bella meraih tangan Elang yang tidak tertancap jarum infus. Menggenggam dengan kedua tangannya.
"Cepatlah bangun Kak, aku ingin berterimakasih padamu" Ucap Bella dengan lembut.
Hanya ada Bella dan Nadia di ruangan itu yang menemani Elang, karena yang lainya sudah pamit pulang setelah operasi Elang selesai.
Nadia hanya duduk di sofa memperhatikan kedua anaknya yang semakin dekat dan tak canggung mengungkapkan cintanya masing-masing.
Bella memastikan sekali lagi jiak dia merasakan pergerakan tangan Elang. Dan benar saja, tak lama kemudian Elang terlihat mengerutkan alisnya. Lalu meringis menahan sakit.
"Ssstttt aahhh" Berlahan Elang membuka matanya. Dia terbangun karena merasakan nyeri pada punggungnya.
"Kak, apanya yang sakit?? Aku panggilkan Dokter ya??" Ucap Bella dengan panik.
"Tidak usah" Elang menahan tangan Bella yang menggenggamnya itu.
"Aku lebih butuh kamu" Ucap Elang dengan lirih. Katakanlah saat ini Bella tidak tau diri, karena dalam keadaan seperti ini masih mampu tersipu hanya karena ucapan Elang itu.
"Kamu manis sekali kalau seperti ini" Elang terkekeh pelan lalu mencubit pipi Bella pelan.
"Ada apa Bella, Elang sudah bangun??" Nadia menghampiri Elang dan Bella. Nadia penasaran kenapa kedua anaknya itu berbicara dengan bisik-bisik.
"Tidak papa Bunda, Elang hanya haus" Jawan Elang pada Nadia.
"Ya sudah kalau begitu Bunda beli minum dulu. Kamu nggak papa kan Bunda tinggal sebentar??" Tanya Nadia pada Bella.
"Tidak papa Bunda"
"Kamu sengaja kan, buat Bunda keluar dari sini??" Tanya Bella setelah Nadia tidak terlihat lagi.
Elang hanya tersenyum malu karena akal bulusnya bisa di tebak oleh Bella.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu sama kamu sayang" Ucap Elang.
Bella diam tapi menatap Elang penuh tanya.
"Entah itu hanya halusinasi ku atau memang benar aku mendengarnya. Soalnya tadi aku antara sadar dan tidak saat mendengar bisikan itu. Apa kamu mengatakan tidak ingin kehilanganku dan kamu mencintaiku??"
Bella hanya mengangguk mengiyakan.
"Jika itu benar apa kamu sudah yakin dengan cintaku?? Kamu sudah tidak ragu lagi untuk menjalani rumah tangga kita??"
Lagi-lagi Bella hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia terlalu malu untuk bersuara.
Elang ingin sekali melompat kegirangan jika tidak ingat punggungnya sedang sakit.
"Terimakasih sayang" Ucap Elang dengan binar di matanya.
"Aku yang terimakasih karena kamu sudah menyelamatkanku" Ucap Bella.
"Itu tidak seberapa dibandingkan dengan dengan dirimu" Balas Elang.
"Aku tidak suka kalimat perbandingan itu lagi"
__ADS_1
"Baiklah, aku mencintaimu sayang" Elang menarik tangan Bella dan mencium punggung tangannya.
"Aku juga mencintaimu Kak"