Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
47


__ADS_3

"Dokter!! Dokter tolong!!"


Teriak Elang dengan panik ketika Elang melihat kondisi Bella sudah kejang dengan selang ventilator yang terlepas dari mulutnya.


Tak lama kemudian seorang dokter di ikuti beberapa perawat menyerbu ruangan Bella. Mereka langsung memberikan tindakan untuk Bella.


Tubuh Elang lemas bersandar pada dinding di damping pintu kamar Bella. Baru saja ia mendapat kabar dari dokter jika kondisi Bella belum menunjukkan perkembangan, sekarang justru di hadapkan dengan keadaan seperti ini.


Pikiran Elang semakin kalut, ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya itu.


"Sebenarnya siapa orang itu?? Kenapa dia mencoba mencelakai Bella yang sudah dalam kondisi lemah seperti itu?? Apa dia orang suruhan tante Mirna?? Aku harus menyelidiki semua ini!!"


Batin Elang dengan tangannya yang mengepal kuat. Mulai saat ini ia tidak akan membiarkan seorangpun berani menyakiti Bella.


"Kalian tidak akan aku lepaskan, sekalipun itu kamu Marisa!!"


Elang masih menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Bella dengan sangat cemas. Di dalam hatinya tak hentinya dia berdoa untuk keselamatan Bella.


Dia sudah kehilangan calon anaknya. Jadi dia juga tidak ingin kehilangan Bella juga.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya??" Elang langsung menyerang dokter itu dengan kekhawatirannya.


"Untung saja keadaan ini cepat di ketahui Pak, jika terlambat satu menit saja mungkin pasien sudah tidak bisa di selamatkan" Dokter itu menggelengkan kepalanya.


"Apa Dok?? Lalu bagaimana keadaan istri saya sekarang ini??"


Mata Elang sudah memerah, ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.


"Pasien berhasil kami selamatkan, namun dengan berat hati kami sampaikan jika saat ini pasien dalam kondisi koma"


JEDERRR...


Penjelasan Dokter itu justru terdengar seperti petir yang menyambar tepat di hati Elang.


"Ap-apa dokter, kenapa bisa Dok?? Kenapa istri saya justru semakin parah dan tidak menunjukkan kemajuan!!" Ucap Elang dengan frustasi.


"Elang!!"


Nadia yang baru saja datang tidak tau apa penyebab Elang berkata sedikit keras kepada Dokter di hadapannya itu.


"Maaf Dokter" Ucap Nadia mewakili anaknya.


"Tidak papa saya mengerti Bu. Kalau begitu saya permisi" Ucap Dokter itu dengan sopan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Lang??" Tanya Nadia setelah kepergian Dokter dan para perawatnya.


Elang menatap Nadia dengan wajah sendu penuh keputusasaan.


"Bella Bun" Ucap Elang lirih dengan badannya yang kembali bersandar pada tembok. Rasanya dia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri dengan tegak.


"Apa yang terjadi sama Bella Lang?? Bella kenapa??" Kini muncul kepanikan pada diri Nadia


"Tadi......" Elang menceritakan apa yang terjadi pada Bundanya itu.


"Apa mungkin dia orang suruhan Mirna Lang??"


"Aku juga berpikir begitu Bun, tapi saat ini Elang belum punya bukti. Elang akan cari bukti dan juga membicarakan semua ini dengan Dito"

__ADS_1


"Baiklah, Bunda akan hubungi Mita dulu. Agar dia memberitahu Dito. Sebaiknya kamu masuk dulu. Temani istrimu" Nadia mengusap bahu tegap milik Elang.


Elang hanya mengangguk dengan wajahnya yang sayu.


Elang kembali menutup pintu setelah ia berada di kamar rawat Bella.


Istrinya itu masih terbaring tenang seperti tadi pagi sebelum kejadian itu terjadi. Rasanya jantung ingin terlepas saat melihat Bella dalam keadaan kejang seperti tadi.


Elang sudah duduk di tempat favoritnya sejak kemarin, yaitu duduk di kursi tepat di samping Bella.


"Terimakasih sudah bertahan Ara. Maafkan aku yang lalai menjagamu. Aku tidak tau jika mereka senekat ini" Elang kembali mengusap jemari Bella yang tersemat cincin itu.


"Berjuanglah sayang, aku menunggumu kembali"


Mulai saat ini sudah tidak ada lagi kata-kata pedas yang Elang ucapkan untuk Bella. Yang ada hanya kata lembut penuh cinta gang selalu terdengar.


Dreettt drettt...


Ponsel Elang bergetar di sakunya. Elang sudah tau siapa si penelpon itu, karena sejak tadi pagi dia terus mendapatkan panggilan itu. Tapi seolah sudah tak peduli lagi, Elang memilih untuk mengabaikannya.


Namun sepertinya si penelepon itu tidak menyerah, ponsel Elang kembali bergetar. Dan untuk kali ini Elang mengalah. Dia dengan terpaksa mengangkat panggilan itu.


"Halo Ca??"


"Elang kamu dimana?? Kenapa dari kemarin sudah banget di hubungi??" Tanya Marisa.


"Aku sibuk" Ketus Elang.


"Sibuk kenapa?? Hari ini kamu juga nggak datang ke kantor"


Tut...


Elang mematikan telepon dari Marisa secara sepihak. Ia sedang tidak mau berurusan dengan kekasihnya itu. Entah karena sudah tau perangai buruknya atau karena Marisa sudah tidak ada lagi di hatinya Elang juga tidak tau. Yang jelas saat ini ia hanya ingin menemani istrinya tanpa gangguan dari siapapun.


Ia juga tak ingin memikirkan hal lain termasuk pekerjaannya.Apalagi Marisa, nama itu sudah Elang hempaskan entah kemana.


Sebenarnya Elang juga bingung dengan perasaannya pada Marisa. Dia selalu mengatakan jika dirinya mencintai Marisa. Namun stelah pernikahannya dengan Bella, nama gadis itu seolah tergeser oleh Bella.


Memang pada dasarnya di hati Elang tertulis nama Bella. Namun otaknya selalu mengatakan tidak pada hatinya.


Elang mendaratkan tangannya di perut rata milik Bella.


"Sayang, seharusnya di dalam sini sudah tumbuh anak kita. Buah cinta kita"


"Bohong jika waktu itu aku melakukan semuanya tanpa rasa cinta. Dan memang itu yang selalu aku lakukan padamu, selalu berbohong dan menyangkal perasaanku sendiri"


"Aku ingat betul saat itu aku marah besar karena kamu membohongiku. Ternyata malam itu adalah malam pertama kita melakukan itu. Dengan kata-kata kasar aku memaki mu.Mengatakan jika aku tidak bangga karena telah menjadi laki-laki pertama untukmu. Tapi itu bohong, itu bohong sayang"


"Sebenarnya aku bahagia, aku bangga karena mendapatkan kesucian mu. Aku hanya marah pada diriku sendiri karena sebelumnya aku dengan keji menghinamu seperti *******. Dan karena rasa egoku yang tinggi, aku malah melampiaskan kekesalan ku padamu"


Lagi-lagi Elang menangis, sejak Bella terbaring seperti itu Elang telah berubah menjadi laki-laki yang cengeng. Apalagi jika mengingat tentang perdebatannya dengan Bella yang selalu berakhir dengan umpatan kasar. Pasti tanpa sadar air mata itu jatuh dengan sendirinya.


"Sayang, aku minta maaf karena telah merendahkan mu sebagai wanita seperti itu"


Elang meringis tergugu dalam tangisnya. Merasakan sakit yang amat perih di dalam hatinya karena kalimatnya waktu itu masih sangat jelas di ingatannya.


"Kamu bukan perempuan seperti itu, kamu perempuan terhormat. Kamu istriku, terimakasih karena telah memberikan mahkotamu untukku, suami yang selalu mengatakan jika dia membencimu"

__ADS_1


Tak tahan lagi akhirnya Elang merengkuh tubuh yang berbaring itu. Menangis sesenggukan di sana, menumpahkan segala perasaannya di pelukan Bella.


-


-


-


"Aku sudah memeriksa cctv di rumah sakit ini. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali" Ucap Dito pada Elang dan Mita.


Dito sudah tau apa yang terjadi pada Bella dari cerita Nadia. Kemudian dengan berbagai cara Dito menyelinap ke ruang cctv untuk mencari orang misterius itu.


Dan kini Dito sudah berada di ruangan Bella tanpa membawa petunjuk sama sekali.


"Lalu bagaimana kita bisa mencari orang itu kalau wajah saja tidak bisa terlihat??" Kesal Elang.


"Aku juga belum tau, yang jelas orang itu masuk ke rumah sakit ini tanpa mobil atau sepeda motor jadi itu semakin mempersulit kita. Tapi ada satu hal yang bisa menjadi titik terang bagi kita"


"Apa??" Tanya Elang penasaran.


"Dari yang aku lihat, dari postur dan cara berjalannya, sepertinya dia seorang perempuan. Apa yang kau lihat seperti itu Lang??" Tanya Dito.


"Aku tidak terlalu memperhatikan, karena watu itu aku sangat panik. Tapi yang aku lihat tinggi badannya jauh di bawahku" Elang mencoba mengingat-ingat kilasan orang misterius itu.


"Baiklah kalau begitu untuk sementara target kita adalah wanita. Yaitu Mirna s*alan dan anaknya itu" Ucap Dito dengan sengit.


Sementara Nadia dan Mita hanya menjadi pendengar untuk kedua pria itu.


"Tidak!! Ada satu lagi" Ralat Dito.


"Siapa??" Kaget Elang.


"Wanita simpanan Santoso yang pernah aku tangkap bersama Santoso sebelum mereka berhasil melarikan diri!!" Jelas Dito.


Dito mengepalkan tangannya dengan kuat karena mengingat rencananya yang berantakan.


"Jadi kalian sempat menangkap ayahnya Marisa??"


Elang baru tau satu fakta lagi.


"Iya, tapi dia berhasil kabur. Dan Bella juga memilih menyerah setelah itu. Dia tidak mau melanjutkan rencana kita karena memikirkan keselamatanmu b*doh!!"


Dito menatap Elang dengan sengit.


"Hanya karena cinta butanya, Bella rela melepaskan semuanya demi pria sepertimu!!" Dito memandang Elang dengan remeh.


"Apa maksudmu?? Apa lagi yang tidak aku tau sehingga kau kembali mengatakan itu padaku??"


-


-


-


-


Happy reading, berikan like dan komentar kalian untuk karya ini ya readers tercinta.. Terimakasih😚

__ADS_1


__ADS_2