
Mirna yang mendapatkan kabar keadaan Marisa saat ini yang semakin memburuk membuat hatinya merasa sangat bersalah.
Dialah penyebab putrinya itu menjadi seperti itu. Andai saja dia tidak menuntut Marisa untuk membalaskan dendamnya, pasti Marisa masih bisa hidup bebas di luar sana.
Apalagi penolakan Marisa untuk bertemu dengannya membuatnya semakin merasakan sakit.
Kini hidupnya sudah hancur, bukan hanya dirinya tapi juga putrinya sendiri hancur karena ulahnya. Rencananya yang dia rancang sejak dulu untuk hidup bahagia bergelimang harta di masa tua kini sudah hancur.
Tidak ada lagi kemewahan di hidupnya. Yang ada hanya matras tipis dengan bantal keras yang menemaninya tidur di balik jeruji besi.
Anak yang menjadi harta berharga baginya juga sudah hancur dengan depresinya. Tidak ada lagi harapan Mirna di dunia ini. Putus asa dan pasrah dengan hukuman yang diterimanya hanya menjadi jalan satu-satunya untuk berdamai dengan keadaannya saat ini.
-
-
Tiga bulan berlalu, dan ternyata dugaan Bella salah. Kemajuan pada kaki ternyata lebih cepat dari dugaannya. Sudah seminggu ini Bella berjalan menggunakan bantuan tongkat, meninggalkan kursi rodanya.
Tapi Bella belum kuat untuk berdiri terlalu lama. Hanya beberapa menit saja, tapi sungguh itu membuat Elang sangat bahagia.
"Kalau sudah tidak kuat kamu duduk saja sayang" Elang menatap khawatir Bella yang sedang berjalan berpegangan pada dinding.
"Sebentar lagi, aku masih kuat" Kekeh Bella walau merasa Kakinya agak sedikit kebas.
"Awwww.." Bella merasakan nyeri pada kakinya yang membuatnya limbung.
Untuk saja dengan sigap Elang menghampiri Bella dan menangkap Bella sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
"Sudah aku katakan berhenti, kenapa masih keras kepala!!" Kesal Elang karena terlalu khawatir.
"Iya maaf" Sesal Bella.
"Sudah, yang penting kamu tidak papa. Lain kali jangan terlalu di paksakan. Pelan-pelan saja" Nasehat Elang dengan wajahnya yang kesal.
"Iya sayang, kamu lucu kalau lagi marah-marah kaya gini" Bella mencubit pipi Elang dengan gemas.
"Jangan menggodaku!!" Elang sedikit melambung ke udara karena panggilan sayang dari Bella.
Bella hanya tertawa melihat Elang yang semakin menggemaskan itu.
Elang membantu Bella duduk di kursi rodanya lagi. Kemudian membawanya berhadapan dengan kursi gang Elang duduki.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" Ucap Elang.
"Kemana??" Tanya Bella penasaran. Karena Elang jarang sekali mengajak Bella untuk keluar rumah.
"Nanti kamu juga tau" Jawab Elang lalu berdiri mendorong kursi roda itu. Elang benar-benar mengajak Bella keluar.
"Sebenarnya mau kemana sih Kak??" Bella penasaran karena sudah agak lama Elang mengemudi dan mobil yang mereka tumpangi belum juga berhenti.
Tapi Bella sangat familiar dengan jalanan itu, karena Bella sering melewatinya.
Elang terus membawa mobilnya masuk ke dalam perkampungan kumuh. Seolah Elang sangat hafal dengan jalanan itu.
"Sudah samapi" Ucap Elang dengan senyum.
__ADS_1
Elang keluar mobilnya lalu memutar untuk membantu istrinya itu keluar dari mobil.
"Hati-hati, turunkan kakimu pelan-pelan" Bella dengan pelan mencoba turun dari mobil sendiri dengan menggenggam erat tangan Elang sebagai pegangannya.
Setelah berhasil duduk di kursi rodanya Elang mendorong Bella masuk ke dalam perkampungan itu.
"Kak aku semakin bingung deh, kamu mau bawa aku kemana??"
"Nanti kamu juga tau sayang" Hanya itu jawaban Elang dari tadi.
"Ih nyebelin deh!!" Gerutu Bella yang hanya di balas Elang dengan senyum jahilnya.
Semakin dalam Elang membawa Bella, dapat Bella lihat bangunan yang tampak baru di sana. Bella belum pernah melihat bangunan itu selama dia bersama anak jalanan di sana.
Di depan bangunan itu juga ada Siti dan juga anak-anak yang sering ditemuinya.
"KAK BELAAAAA!!"
Teriak anak-anak itu menghampiri Bella.
"Hay, apa kabar?? Kalian kenapa ada disini??" Tanya Bella pada anak-anak yang mengerumuninya itu.
"Kak Bella??" Siti juga ada di depan Bella saat ini.
"Siti, kenapa tempat kita jadi begini?? Bangunan apa ini??" Tanya Bella.
Siti tidak menjawab pertanyaan Bella, tapi malah menatap Elang yang berdiri di belakang Bella.
"Ini adalah impian kamu sayang. Kamu ingin membangun sekolah untuk mereka kan??" Ucap Elang menundukkan kepalanya agar sejajar dengan telinga Bella.
"Apa?? Se-sekolah??" Bella terkejut karena Elang tau impiannya selma ini.
"Kak" Lirih Bella yang sudah ingin menangis karena rasa harunya.
"Iyaa sayang, kenapa kamu menangis??" Elang bergeser ke samping Bella.
"Terimakasih" Elang mengulurkan kedua tangannya dan membukanya untuk memeluk Elang.
Elang tersenyum dan menyambut uluran tangan Bella itu dengan senang hati.
"Sama-sama sayang, ini hadiah untuk kamu. Aku tau kamu sayang sama mereka. Jadi aku mewujudkan satu keinginan mulia kamu ini" Ucap Elang dalam pelukan Bella.
"Sekarang hapus air mata kamu, kita resmikan sekolah ini ya??" Elang melepaskan pelukan Bella.
"Iyaa" Angguk Bella dengan senyum manisnya.
Betapa bahagianya hari ini bagi Bella. Melihat senyuman bahagia dari anak-anak jalanan itu menjadi kebahagiaan yang tak terkira bagi Bella.
"Terimakasih Kak Bella dan Pak Elang, karena sekarang Siti bisa mengajar adik-adik di tempat yang nyaman dan fasilitas yang bagus" Ucap Siti setelah acara peresmian itu selesai.
"Sama-sama Siti, aku mau kamu jaga sekolah ini dengan baik. Jangan sungkan untuk menghubungi ku kalau ada masalah. Dan nanti Kak Elang pasti akan mengirimkan tenaga pendidik yang mumpuni untuk membantu kamu. Iya kan Kak??" Bella mendongak untuk melihat Elang yang ada di belakang kursi rodanya.
"Iya Siti, nanti kamu tidak akan sendiri untuk mengajar di sini. Sekolah ini juga akan saya setarakan dengan sekolah-sekolah lainnya" Ucap Elang.
"Terimakasih, Siti senang sekali" Siti tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.
__ADS_1
"Kalau gitu aku pergi dulu ya Siti" Pamit Bella.
"Iya Kak, hati-hati di jalan"
Bella dan Elang akhirnya meninggalkan tempat kumuh yang di sulap Elang menjadi bangunan sekolah yang bersih itu.
Bella tidak bisa menghentikan senyumnya saat di dalam mobil, karena salah satu mimpinya sudah tercapai.
"Kenapa senyum-senyum terus kaya gitu?? Minta di cium ya?" Goda Elang.
"Apaan sih Kak" Bella melirik Elang dengan tajam.
"Ya habisnya kamu cantik banget kalau lagi senyum-senyum kaya gitu"
"Jadi kalau nggak senyum nggak cantik??" Bella menatap tajam Elang.
"Kamu cantik dalam kondisi apapun kok, bahkan dulu saat kamu menatapku dengan datar juga tetap cantik. Aku akui itu" Jujur Elang pada Bella.
"Jadi dulu kamu itu benci tapi mengakui kalau aku cantik??" Selidik Bella memiringkan tubuhnya untuk melihat Elang dengan jelas.
"Iya" jawab Elang dengan pelan dan membuang mukanya karena malu.
"Dasar plin plan. Kalau suka ya suka aja pakai benci-bencian segala" Gerutu Bella.
"Kamu juga sama, kalau kamu cinta ngapain ditutupi segala, munafik banget kamu itu" Elang mengacak rambut lurus milik Bella.
"Ya habisnya gimana lagi, kamu udah terlanjur nggak suka sama aku" Bella tiba-tiba menunduk sedih.
Elang gelagapan melihat Bella yang tiba-tiba diam begitu.
"Maaf sayang, aku dulu memang b*doh" Elang meraih tangan Bella dengan satu tangannya masih memegang kemudi.
"Iya kamu memang b*doh!!" Balas Bella sudah merubah ekspresinya lagi dengan wajah yang ketus.
Jika saja mereka sedang tidak di jalan, pasti Elang sudah menyerang Bella di ranjang karena terlalu gemas dengan istrinya itu.
"Iya-iya aku tau sayang, tapi ngomong-ngomong kejutan yang aku berikan tadi itu nggak gratis lho" Ucap Elang sembari memarkirkan mobilnya di depan rumah Bella.
"Hah?? Terus aku harus bayar?? Kalau kamu emang nggak ikhlas, sekolahnya nggak usah dulu nggak papa. Aku bakal bangun sendiri kok suatu saat nanti" Ucap Bella dengan kecewa.
Elang belum menjawab pertanyaan Bella itu. Dia justru keluar dan menggendong Bella. Elang kini tidak membiarkan Bella duduk di kursi rodanya.
"Iya memang kamu harus bayar" Bisik Elang di telinga Bella. Elang terus membawa Bella masuk ke dalam rumah.
"Iya aku pasti bayar Kak, kamu tenang saja. Aku ada uangnya kok" Jawab Bella dengan polos.
"Bukan dengan uang!!" Elang mendorong pintu kamar Bella yang sedikit terbuka itu dengan kakinya.
"Terus pakai apa??"
Elang membaringkan Bella di ranjang dengan tapi tidak menjauhkan tubuhnya.
"Dengan ini" Elang meraup bibir Bella dengan cepat. Sedikit memberikan lu***an di sana. Sedikit hanya sedikit saja lalu melepasnya lagi.
"Sekarang bolehkan?? Kakimu sudah bisa bergerak kan sayang??" Ucap Elang dengan suaranya yang parau penuh dengan gejolak yang membara.
__ADS_1
"Tapi aku belum bisa mengimbangi mu Kak" Wajah Bella bersemu merah karena secara tidak langsung dia tidak menolak.
"Tidak masalah, kamu hanya perlu diam dan nikmati saja. Aku yang akan memuaskan mu" Bisik Elang di telinga Bella yang membuat bulu kuduk Bella meremang seketika.