Gadis Munafik Milik Elang

Gadis Munafik Milik Elang
70


__ADS_3

Nadia menyambut kedatangan Elang dan Bella yang baru saja pulang dari Dokter kandungan. Nadia sangat antusias mendengar kehamilan Bella. Jadi dia tidak sabar ingin tau kondisi Bella dan janinnya itu.


"Gimana Lang?? Kandungan Bella sehat kan??" Elang yang berjalan meninggalkan Bella di belakang tidak menjawab pertanyaaan Bundanya itu. Elang justru terus berjalan menuju kamarnya dengan wajah sedihnya.


Nadia kebingungan melihat sikap anaknya itu. Bukankah seharusnya dia bahagia menyambut kehamilan istrinya.


"Bella ada apa sebenarnya?? Kamu baik-baik saja kan??" Nadia beralih pada Bella yang tiba di sampingnya.


"Semuanya baik kok Bun, Alhamdulillah janinnya sudah 6 minggu"


"Tapi kenapa Elang aneh seperti itu??" Tanya Nadia.


"Nanti Bella jelaskan ya Bun, sekarang Bella susul Kak Elang dulu" Bella tersenyum tipis pada Nadia sebelum meninggalkannya dengan rasa penasaran.


Bella melihat Elang yang duduk di tepi ranjang dengan siku yang bertumpu pada kedua lututnya. Kepalanya Elang tundukkan dengan matanya yang terpejam.


Bella mendekati Elang dan duduk di samping suaminya itu. Mengusap lembut punggung tegap milik Elang.


"Kak, kamu percaya sama aku kan??" Tanya Bella dengan suara lembut.


Untuk sejenak Bella belum mendapatkan jawaban dari suaminya itu.


"Gimana aku bisa percaya setelah Dokter mengatakan segala kemungkinan itu!! Apa yang di katakan tadi?? Gangguan kehamilan, hipertensi, preeklampsia, eklampsia. Itu saja sudah membuatku takut" Ucap Elang dengan putus asa.


"Dengar aku Kak!!" Bella meraih pipi Elang untuk melihat ke arahnya. Lalu tangan yang satunya meraih tangan Elang dan membawa ke perutnya.


"Di dalam sini sudah tumbuh malaikat kecil yang di titipkan Allah untuk kita. Dia adalah darah daging mu sendiri. Apa kamu tega memilih aku daripada dia yang baru saja di berikan kesempatan untuk hidup di dunia ini??" Bella terus menatap mata Elang dengan dalam dan penuh perasaan.


"Tapi kamu juga harus pikirkan kesehatan kamu sayang, walaupun Dokter bilang keadaan kalian sehat meski kamu hanya punya satu ginjal. Tapi ingat segala kemungkinan itu" Balas Elang masih dengan ketakutannya.


"Itu hanya kemungkinan Kak, bisa saja semua itu tidak terjadi padaku. Dokter juga sudah mengatakan jika kondisiku sehat. Pasti mampu untuk melalui semua ini dengan baik-baik saja"

__ADS_1


"Ini berat sekali sayang, sungguh aku tidak mau melihatmu terbaring tak berdaya lagi" Ucap Elang masuk ke dalam pelukan Bella. Menjadikan bahu Bella sebagai sandaran kepalanya.


"Dulu saat aku putus asa dengan kakiku, kamu selalu memberiku semangat untuk sembuh. Selalu ada di sampingku sampai saat ini aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi. Tapi kenapa sekarang tidak??" Bella melembutkan suaranya, dia tau berbicara dengan sama-sama keras tidak akan menemukan titik temu.


"Itu berbeda sayang"


"Itu sama Kak, kamu melakukan semua itu demi orang yang kamu cintai kan??" Elang mengangguk memberikan Bella jawaban.


"Sekarang kamu juga harus melakukannya lagi demi orang yang kamu cintai. Tidak, sekarang bahkan ada dua yang butuh cinta dari kamu Kak. Dia di dalam sana sangat menantikan cinta darimu. Dia akan sangat bahagia memiliki Ayah sepertimu. Dan apa kamu tega untuk membuatnya pergi sebelum dia merasakan kasih sayang itu dari kamu??" Ucapan Bella itu sangat memukul hati Elang.


Sebenarnya Dokter mengatakan jika Bella dan janinnya dalam kondisi sehat dan kuat. Tapi Elang sudah terlanjur ketakutan mendengar kemungkinan yang terjadi bagi ibu hamil yang hanya mempunyai satu ginjal. Bahkan Dokter sudah menjelaskan jika kemungkinan besar Bella tidak akan mengalami itu semua. Tapi Elang memiliki ketakutannya sendiri.


"Ini berat sekali sayang, sebenarnya aku tidak mampu memilih salah satu dari kalian"


"Kalau gitu jangan pilih salah satu. Pertahankan keduanya!! Aku punya kamu yang pasti akan selalu melindungi dan menjagaku. Dan kita punya Allah yang pasti akan selalu memberikan mukjizat pada semua umatnya. Jadi jangan takut lagi"


Bella mengusap pipi Elang yang sudah basah dengan air mata.


"Kalau kamu ragu kaya gini, terus aku harus meminta perlindungan siapa lagi. Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu melindungi ku?? Sama siapa lagi aku harus bergantung?? Apa aku harus kembali seperti dulu?? Hidup dalam kesendirian sampai harus mengubah diriku agar bisa melindungi diriku sendiri??"


Lagi-lagi Bella berhasil menyentil hati Elang. Dialah yang seharusnya menjadi sandaran bagi istrinya itu tapi justru dialah yang lemah.


"Tidak, jangan seperti itu. Akulah yang akan melakukan semua itu. Kamu punya aku, jangan berpikir seperti itu lagi"


"Jadi apa keputusanmu Kak??" Bella menatap Elang penuh harap, semoga saja Elang tidak ragu lagi dengan keputusan untuk mempertahankan janinnya.


"Baiklah, kita jaga calon anak kita dengan baik. Jangan salahkan aku kalau aku over protektif kepadamu sayang, itu semua demi kebaikanmu dan janin dalam rahimmu" Ucap Elang dengan tegas.


"Siap Papa, selama itu demi anak kita aku akan menuruti semua perintah mu" Ucap Bella dengan nadanya yang manja.


Panggilan Papa dari Bella saja membuat hati Elang menghangat, apalagi jika kelak anaknya yang akan memanggilnya seperti itu. Elang sungguh tidak sabar ingin mendengarnya.

__ADS_1


-


-


Dan benar saja, Elang membuktikan ucapannya selama beberapa bulan ini. Dia begitu ketat menjaga Bella, mengatur segala yang masuk ke dalam perut Bella, harus bergizi dan bersih tidak boleh sembarangan. Elang tidak segan-segan mengerjakan pekerjaannya di rumah hanya untuk menemani Bella.


Elang benar-benar menjadi suami yang siaga. Dan Bella sama sekali tidak terganggu dengan apa yang Elang lakukan itu karena semua itu demi kebaikannya dan calon anaknya yang kurang dari satu bulan lagi akan hadir di dunia ini.


"Anak kita lagi apa ya di dalam sana??" Tanya Elang pada Bella. Elang berbaring mensejajarkan wajahnya pada perut Bella yang sudah sangat besar itu.


Bella terkekeh mendengar pertanyaan aneh suaminya itu.


"Ya mana aku tau Kak, coba kamu tanya sendiri sama dia" Bella mengusap dengan lembut rambut Elang.


"Kamu lagi apa di dalam sana sayang?? Cepetan keluar dong, Papa udah nggak sabar pingin ketemu kamu" Tangan Elang yang berada di perut Bella tiba-tiba saja merasakan gerakan dari dalam.


"Lihat sayang dia merespon ucapan ku" Ucap Elang dengan mata yang mencerminkan rasa bahagianya.


"Iya, dia tau Papanya sedang mengajaknya bicara" Bella merasa hangat di dalam hatinya melihat suaminya sebahagia itu.


"Kira-kira kapan dia lahir sayang, aku sudah tidak sabar lagi" Tiba-tiba Elang memasang wajah sedihnya.


"Sabar Kak, kan tinggal menghitung hari saja. Nggak lam__"


"Aduhhhhh" Bella meringis menahan rasa nyeri pada bagian bawah perutnya.


"Kamu kenapa sayang??" Elang ikut panik melihat Bella yang kesakitan.


"Nggak tau Kak, tapi perut bawahku rasanya sakit. Kayanya mau melahirkan deh"


"Apaaa??"

__ADS_1


__ADS_2