
Nana dan Ayu terbangun dari tidur mereka ketika merasakan cahaya matahari menyinari wajah mereka. Mereka melihat Dewa sedang membuka tirai jendela kamar mereka.
"Kak Dewa" ucap Ayu langsung saja duduk sambil menatap wajah tampan Dewa.
"Nona kecil sudah bangun? Ayo cepat mandi. Kita akan sarapan di bawah"
"Baik, Kak. Tapi kak Delissa ke mana? kenapa bukan dia yang bangunin kami?" ucap Nana heran.
Biasanya Delissa atau Aldyanta yang membanhunkan mereka. Tapi kali ini tiba tiba Dewa yang membangunkan mereka. Sedangkan Dewa langsung saja mengaruk kepalaya yang tidak gatal. Dewa bingung bagaiman menjelaskan nya kepada bocah seperti mereka.
"Mungkin Nyonya dan Tuan Muda masih tidur karna mereka kelelahan. Nona kecil kan tau sendiri jiia Tuan dan Nyonya Muda semalam harus menyambut tamu yang begitu banyak" jelas Dewa.
"Gitu ya, Kak. Kami ke kamar kakak dulu ya" ucap Ayu dan Nana turun dari kamar mereka.
"Jangan" ucap Dewa langsung panik.
"Kenapa?" ucap Ayu dan Nana binggung dengan reaksi Dewa.
"Lebih baik Nona kecil mandi dulu. Setelah itu kita sarapan. Nanti Tuan dan Nyonya muda akan turun sarapan bersama kita" ucap Dewa langsung saja membujuk Ayu dan Nana agar tidak pergi ke kamar Aldyanta dan Dewa.
Jika sampai itu terjadi bisa bisa dia akan di hukum oleh Aldyanta karna mengangu pegulatan panasnya dengan Delissa. Sedangkan Ayu dan Nana terus saja berdiri sambil menatap Dewa yang panik.
"Ayo Nona kecil. Kalian mandi dulu ya" ucap Dewa langsung saja membawa Ayu dan Nana kedalam kamar mandi.
"Kalian mandi sendiri ya. Kakak akan pangil pelayan wanita untuk membantu kalian" ucap Dewa langsung saja melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
Dewa langsung saja memangil pelayan wanita yang dia percaya untuk mengurus keperluan kedua Nona kecilnya. Setelah itu dia langsung saja menemui Fadli yang sedang mengawasi area sekitar hotel takut kejadian penculikan Ayu dan Nana terjadi lagi.
"Woi!"
"Astaga naga!"
Fadli langsung saja loncat terkaget kaget ketika Dewa mengejutkannya. Fadli yang tadinya sedang fokur menatap layar cctv langsung saja menggelus dadanya pelan.
__ADS_1
"Buaha..hhaa... ternyata lho sangat lucu jika terkejut ha..hahah..."
Dewa langsung saja tertawa terbahak bahak melihat elspresi wajah Fadli yang begitu lucu. Geram dengan tingkah Dewa, Fadli langsung saja melingkarkan tangannya yang satu ke leher Dewa sehingga Dewa sulit untuk bergerak. Sedangkan tangannya yang satu lagi langsung saja menjitak kepala Dewa.
"Dasar bocah tenggil. Semakin besar semakin kurang ajar kau kepadaku ya. Apa kau lupa jika dulu aku yang selalu menjagamu" ucap Fadli geram sambil terus menjitak kepala Dewa.
"Ampun, Kak Fad. Maafkan adikmu yang tidak punya perasaan ini" ucap Dewa langsung saja mengeluarkan jurus ampuhnya.
Dewa langsung saja mengeluarkan wajah sedihnya sambil terus meminta maaf kepada Fadli. Bahkan Dewa memangil Fadli dengan sebutan Kakak. Sebutan yang paling sulit untuk dia katakan jika sedang tidak di situasi terpaksa seperti ini.
"Jika sedang terpojok saja! Baru kau pangil aku dengan sebutan Kakak" ucap Fadli langsung saja melepaskan Dewa dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
"He..he usiamu memang beda jauh denganku. Tapi, cara pikir kita sama saja" ucap Dewa kembali menunjukkan gaya coolnya.
"Nona kecil dimana?"
"Mereka sedang di mandikan oleh pelayan" ucap Dewa langsung saja duduk santai di kursi samping Fadli.
Mendengar ucapan Dewa, Fadli langsung saja melihat cctv yang tepan di depan pintu kamar Ayu dan Nana.
"Dia sedang mengorek imformasi dari para bedebah itu. Tapi, bukankah gadis itu?" ucap Fadli mulai mengingat jika Gress adalah salah satu dari fans panatik Dewa.
"Ya, dia adalah gadis yang terus mencoba mengodaku di club haritu. Dari awal dia mendekatiku aku mulai mencurigainya. Bahkan aku menyelidiki identitasnya secara sembunyi sembunyi"
"Apa kau mendapatkannya?"
"Itulah yang jadi masalahnya. Aku tidak bisa menemukan sedikit pun imformasi tentangnya"
"Itu sudah kutebak. Kau tidak ahli dalam dunia IT. Keahlianmu hanya menjadi pengganti malaikat pencabut nyawa. Sebab kau tidak pernah mengunakan ini" ucap Fadli tersenyum sambil menunjuk kepalanya.
"Enak saja! siapa bilang aku gak pernah pakai otak? kamu tu yang gak pernah pakai otak" ucap Dewa tidak terima.
"Enak saja! yang selalu mendapatkan imformasi tentang lawan siapa? yang mengatur strategi menyerang siapa? yang selalu mencari kelemahan lawan siapa? kau pikir itu semua gak pakai otak apa?"
__ADS_1
"Ok! yang menciptakan senjata senjata kita siapa? yang menciptakan semua teknologi kita siapa? yang membantumu mengatur strategi siapa? sekarang siapa yang lebih memakai otaknya?"
"Sudahlah! kalian berdua sama saja. Sama sama tidak memakai ini" ucap Ervan santai sambil menunjuk ke kepalanya.
Mendengar ucapan Ervan, Fadli dan Dewa langsung saja melemparkan tatapan elangnya. Melihat itu Ervan langsung saja mengambil posisi pura pura tidak melihat wajah menyeramkan kedua rekan kerjanya sekaligus sahabatnya itu.
"Aku sudah mendapatkan satu imformasi dari gadis itu" ucap Ervan mengalihkan pembicaraan.
"Apa! kau bisa membuka mulut wanita gila itu?" ucap Dewa dan Fadli terkejut karna akhirnya Ervan bisa mendapatkan imformasi dari Gress. padahal semalam mereka sama sekali tidak bisa mendapatkan satu imformasi pun.
"Aku tidak berhasil membuka mulutnya. Akhirnya aku memilih mencari tau imformasi tentangnya. Tapi, hasilnya nihil. Aku tidak mendapatkan apapun kecuali alamatnya"
"Kan sudah aku bilang! wanita itu sangat licik. Ervan saja yang ahli dalam dunia hacker tidak bisa mendapatkan imformasi tentangnya. Tapi, kau saja yang keras kepala" ucap Dewa langsung saja memojokkan Fadli.
"Sudahlah! sekarang bukan waktunya bertengkar. Sekarang kita pikirkan bagaimana caranya kita menyusup ke rumah gadis itu" ucap Ervan menengahi kedua sahabatnya itu yang selalu saja bertengkar.
"Apa dia tinggal di apartemen?" ucap Dewa.
"Tidak. Dia tinggal seorang diri di sebuah perumahan " Ervan.
"Kalau itu gampang. Serahkan saja padaku" ucap Dewa langsung saja percaya diri.
"Baiklah. Nanti malam penjagaan di sekitar perumahan itu sedikit lenggah. Fad, kamu bantu bocah ini. Tapi ingat kalian harus hati hati. Jangan sampai kalian ketahuan dan tertangkap cctv" Ervan memperingati.
"Baiklah. Tapi Nona kecil di mana sekarang?" ucap Fadli tiba tiba mengingat Ayu dan Nana yang sedari tadi mereka lupakan.
Mereka bertiga langsung saja berlari ke arah layar cctv dan memeriksa keberadaan Ayu dan Nana.
"Apa kau menemukan mereka?" ucap Fadli yang tidak melihat Ayu dan Nana di kamar mereka lagi.
"Mereka ada di kantin" ucap Dewa melihat ke arah cctv kantin.
Mereka bertiga langsung saja berlari ke arah kantin karna takut Ayu dan Nana tersesat di hotel yang sangat besar itu. Apa lagi mengingat jika tidak ada satupun pengawal yang mengikuti Ayu dan Nana karna semua pengawal pokus berjaga di luar hotel.
__ADS_1
Bersambung.....