
Frans memasuki mension Aldyanta dengan senyuman yang terus mengukir di wajahnya. Pesona Delissa terus saja menghinotis dirinya hingga selalu tersenyum.
"Kakak kesambet setan apa tadi di perjalanan?" ucap Vina mengerutkan keningnya binggung melihat Frans yang terus saja memancarkan senyuman.
"Kakak hanya kesambet bidadari yang sangat cantik" ucap Frans tersenyum sambil mencubit hidung mancung Vina.
Vina hanya memutar bola matanya ke atas sambil memayunkan bibirnya sehingga membuat Frans semakin terkekeh.
"Eh, ada Nak Frans. Ayo duduk" ucap Julia tersenyum ramah lalu mempersilahkan Frans untuk duduk. Mereka langsung saja bercengkrama di ruang tamu. Frans terus saja tersenyum hingga membuat Julia dan Vina terus kebinggungan.
Sedangkan di dalam ruang kerja Aldyanta. Aldyanta sedang fokus dengan beberapa dokumentnya. Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya Aldyanta langsung saja membereskan mejanya lalu keluar untuk mencari penyemangatnya.
Namun, saat menelusuri ruang tamu dia melihat Vina dan Julia sedang mengobrol dengan seorang pria. Aldyanta menatap pria yang sepertinya tidak asing baginya itu.
"Al, sini! Ini kakaknya Vina, Frans. Kamu belum pernah bertemu dengannya kan?" ucap Julia memperkenalkan Frans.
Frans dan Aldyanta memang belum pernah bertemu. Tapi, Aldyanta merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Aldyanta berusaha untuk mengingatnya tapi dia tidak bisa.
"Hai... senang bertemu dengan anda" ucap Frans ramah sambil mengulurkan tangannya kepada Aldyanta. Aldyanta hanya tersenyum sambil menyambut uluran tanggan Frans.
"Maaf! saya ada urusan. Saya tinggal ya" ucap Aldyanta ramah karna dia sudah sangat merindukan sang istri tercinta.
Walaupun baru dua jam dia tidak melihat Delissa tapi Aldyanta sudah begitu merindukannya.
"Ya, tidak masalah" ucap Frans tersenyum.
"Kamu mau kemana Al? bukannya kamu lagi sakit?" ucap Julia heran melihat wajah Aldyanta kembali segar. Padahal tadi pagi wajahnya sangat pucat. Tapi, pucat karna bedak riasan Dewa.
"Aku sudah mendingan. Aku mau mencari keberadaan istriku" ucap Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya pergi mencari keberadaan Delissa.
Mendengar sebutan istri dari Aldyanta, Frans langsung saja mengerutkan keningnya binggung. Frans memang sudah tau jika Aldyanta sudah menikah. Tapi, dia tidak tau bagaimana sosok wanita yang berhasil meluluhkan hati pria dinggin seperti Aldyanta.
Sedangkan Vina langsung saja merasa kesal karna Aldyanta terlihat sangat nencintai Delissa. Dia ingin sekali menghentikan Aldyanta dan merayunya agar kembali ke pelukannya. Namun, dengan kejadian tadi pagi Vina tidak berani lagi menyapa Aldyanta.
Dia takut jika Aldyanta kembali membentaknya tanpa rasa iba sedikitpun. Di tambah lagi dengan Delissa yang bisa berbicara dengan lantang kepadanya seperti tadi pagi.
Vina hanya mampu mengepalkan tangannya geram sambil menyusun rencana agar Delissa dan Aldyanta terpisahkan.
__ADS_1
"Sayang! Kenapa pakaianmu basah?" ucap Aldyanta ketika melihat pakaian Delissa basah karna terkena air tadi.
"Tidak apa apa, Kak. Hanya kecipratan air tadi" ucap Delissa tersenyum sambil terus menyirami bunga bunga yang ada di taman depan.
"Ayo ganti pakaianmu dulu. Nanti kamu kedinginan"
"Tunggu sebentar lagi, Kak"
"Sudah! ayo biar tukang kebun yang melanjutkannya" ucap Aldyanta menarik tangan Delissa.
"Tapi, Kak" ucap Delissa tetap bersikeras ingin menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku selalu menuruti keinginanmu. Tapi, yang kali ini tidak. Aku tidak mau kamu sakit. Lihat pakaianmu basah seperti ini tapi, kamu masih saja membiarkannya" oceh Aldyanta membuang napasnya kasar.
Mendengar ocehan Aldyanta, Delissa hanya memayunkan bibirnya sambil menatap Aldyanta kesal.
"Jangan buat aku melahap bibirmu itu di area terbuka seperti ini" ucap Aldyanta menatap gemas bibir Delissa.
Mendengar ucapan Aldyanta, Delissa langsung saja refleks menutup bibirnya. Melihat tingkah Delissa, Aldyanta langsung saja terkekeh kecil.
"Lewat belakang saja. Nanti lantainya kotor. Kasihan para pelayan sudah capek membersihkannya" ucap Delissa.
"Baiklah" Aldyanta langsung saja membawa Delissa melewati pintu belakang. Walaupun semakin jauh berjalan tapi, Aldyanta merasa sangat senang karna bisa menghabiskan waktu berjalan sambil bergandengan tangan bersama sang istri.
*****
Dewa dan Fadli sedang sibuk mengajari Ayu dan Nana bela diri. Mereka menatap kagum kedua Nona Kecil mereka yang langsung bisa melakukan beberapa jurus yang mereka ajari bersama pelatih yang mereka sewa untuk mendampingi mereka.
"Nona istirahat dulu. Nanti kita lanjutkan lagi" ucap Dewa melihat Ayu dan Nana yang terus saja berlatih.
"Siap, Kak" ucap Ayu dan Nana serentak lalu duduk dan meminum air mineral yang di berikan Fadli.
"Dew, kamu kira rencana kita berhasil tidak ya?" ucap Fadli mulai memikirkan Aldyanta.
"Pasti berhasil. Aku yakin seratus persen" ucap Dewa dengan bangganya.
"Dew, kamu kira ketua geng ganster Lord itu siapa?" ucap Fadli masih penasaran dengan siapa ketua geng yang berani mengusik mereka.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Lebih baik kita mencari taunya secepat mungkin sebelum mereka menyakiti Nyonya Muda dan Nona Kecil kita" ucap Dewa waspada.
"Kamu benar? kita harus memecahkan masalah ini secepatnya. Aku juga tidak mau kehilangan Nyonya Muda dan juga Nona kecil seperti kita kehilangan Tuan dan Nyonya besar" ucap Fadli mengingat mendiang Tuan dan Nyonya besarnya.
Dewa hanya tersenyum kecut lalu menengak air mineral yang ada di tangannya. Dia juga merasa sangat kehilangan setelah kepergian Tuan dan Nyonya besar mereka. Karna Tuan dan Nyonya besarnya lah yang selalu memberikan kasih sayang orang tua kepada Dewa.
Mommy dan Deddy Aldyanta adalah sosok yang berhati lembut dan juga suka menolong. Sehingga setelah mereka meninggal seluruh karyawannya baik itu pelayan, karyawan kantor dan juga pengawal pengawalnya merasa sangat kehilangan.
"Kakak, ayo kita berlatih lagi" ucap Ayu dan Nana semangat.
Dewa dan Fadli langsung saja kembali melatih Ayu dan Nana dengan sangat serius. Tak terasa hari sudah sore. Fadli dan Dewa langsung saja mengajak Ayu dan Nana untuk pulang.
"Nona! ayo kita pulang. Hari sudah mau malam" ucap Dewa membereskan barang barang Ayu dan Nana.
"Siap, Kak. Besok kita berlatih lagikan?" ucap Nana semangat.
"Ia, Nona. Besok kita akan berlatih lagi. Kita akan terus berlatih sampai kalian benar benar bisa menguasai berbagai jenis ilmu bela diri" ucap Dewa.
"Tapi, aku jug ingin mempelajari cara mengunakan senjata" ucap Ayu.
Dewa dan Fadli langsung saja saling lempar pandang. Mereka langsung saja binggung bagaimana cara mengajari bocah seperti Ayu mengunakan berbagai jenis senjata.
"Baiklah, kakak akan mengajarimu" ucap Dewa tersenyum sambil mengusap puncak kepala Ayu.
"Benarkah?" ucap Ayu langsung saja semangat.
"Ia! memangnya tampang kakak ada tampang pembohongnya apa?" ucap Dewa tersenyum
"Yeach... akhirnya aku bisa belajar mengunakan senjata" ucap Ayu bersorak gembira.
"Nona kecil kenapa diam?" ucap Fadli melihat Nana hanya diam saja.
"Aku juga mau di ajari ilmu IT"
Mendengar ucapan Nana Dewa dan Fadli langsung sana terkejut sambil saling lempar pandang. Mereka tidak menyangkan jika Ayu dan Nana memiliki keinginan sangat besar. Bahkan sangat berbeda jauh dengan anak anak seusia mereka yang ingin menghabiskan waktu untuk bermain.
Bersambung....
__ADS_1