Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
41# Kecemasan


__ADS_3

Ayu dan Nana berlatih dengan sangat seriusnya. Bukan hanya Fadli dan Dewa, Aldyanta juga menyewa pelatih ternama untuk mengajari kedua adik iparnya itu.


Walaupun lelah dan keringat mereka sudah bercucuran membasahi tubuh mereka. Tapi Ayu dan Nana terus saja berlatih tanpa mengenal lelah sedikit pun.


"Nona, silahkan minum dulu. Nona kelihatan sangat lelah" ucap Dewa memberikan air mineral kepada Ayu dan Nana.


"Terima kasih, Kak" ucap Ayu dan Nan langsung saja menerima air mineral pemberian Dewa lalu menenggaknya sampai habis.


Ayu dan Nana langsung saja duduk di lantai untuk menghilangkan lelahnya. Melihat keringat Ayu yang terus bercucuran Dewa langsung saja mengelpnya mengunakan sarung tangannya.


Dewa menatap lekat wajah imut Ayu yang begitu mengemaskan. Ingin rasanya dia mencium wajah chubby Ayu yang sangat mengemaskan itu. Namun, Dewa langsung saja menepis pikiran pikiran kotornya. Sebab jika itu terjadi sudah di jamin nyawanya akan melayang di saat itu juga di tangan Aldyanta.


"Apa latihannya sudah selesai?" ucap Ervan tiba tiba datang.


"Sudah! memangnya ada masalah?" ucap Dewa menatap lekat wajah Ervan penuh kewaspadaan.


"Tidak ada. Tuan muda menyuruh kita untuk segera kembali ke mension" ucap Ervam.


"Memangnya ada apa? tidak biasanya Tuan muda menyuruh kita ke mension" ucap Fadli.


"Mana aku tau! sudahlah ayo kita kembali sekarang juga" ucap Ervan langsung saja melangkahkan kakinya keluar.


Dewa dan Fadli langsung saja membereskan barang barang Ayu dan Nana lalu membawa mereka keluar dari ruang latihan itu.


Dewa langsung saja duduk di bangku belakang bersama Ayu dan Nana sedangkan Fadli duduk di samping Ervan yang memegang kemudi.


Setelah melihat semuanya telah duduk dengan nyaman Ervan langsung saja mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Tak menunggu lama akhirnya mereka memasuki perkaranga area mension Adyanta.


"Kita sudah sampai" ucap Dewa langsung saja menurunkan Ayu dan Nana secara bergantian.


Fadli langsung saja mengambil barang barang Ayu dan Nana di bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam mension Aldyanta.

__ADS_1


Melihat kedatangan ketiga kepercayaan Aldyanta, Juli dan Vina langsung saja menatap sinis mereka. Namun, Dewa, Fadli dan Ervan sama sekali tidak memperdulikan tatapan Juli dan Vina. Bahkan mereka tidak mengangap keberadaan kedua nenek sihir itu.


"Kalian antarkan Nona kecil ke kamar mereka. Aku akan menemui Tuan muda terlebih dahulu" ucap Ervan langsung saja berjalan ke arah ruang kerja Aldyanta.


"Ayo Nona. Kita ke kamar Nona saja. Di sini auranya sangat berbeda tidak baik untuk kalian berdua" ucap Dewa terkekeh kecil sambil melirik Julia dan Vina yang sedang duduk di sofa sambil menatap mereka.


"Baik, Kak" ucap Ayu dan Nana langsung saja berlari ke kamar mereka.


Melihat kelakuan ketiga anak buah Aldyanta, Julia hanya mampu mengepalkan tangannya geram sambil menatap ketiganya dengan penuh kebenciaan. Bagaimana Julia tidak membenci ketiga kepercayaan Aldyanta itu. Sebab setiap cara yang dia lakukan untuk menyingkirkan Aldyanta selalu di gagalkan oleh mereka.


"Aku merasa heran. Kenapa Tuan muda betah tinggal di mension ini. Padahal di sini banyak orang orang yang sangat menyeramkan. Bahkan lebih menakutkan dari iblis" ucap Dewa terkekeh sambil menatap seluruh sudut ruangan itu.


Mendengar sindiran Dewa, Julia langsung saja berdiri dari duduknya. Dia langsung saja menatap tajam Dewa dan ingin sekali mencakar mulut Dewa yang sangat menjengkelkan.


Melihat kekesalan Julia Dewa langsung saja berlari secepat kilat mengejar Fadli yang telah berjalan terlebih dahulu bersama Ayu dan Nana.


Sedangkan Ervan langsung saja pergi ke ruang kerja Aldyanta. Benar saja Aldyanta ada di sana. Aldyanta sedang duduk di bangku kuasanya sambil membaca seberkas dokumen yang ada di tangannya.


"Apa Dewa dan Fadli ikut bersamamu?"


"Ia, Tuan. Mereka sedang mengantarkan kedua Nona kecil ke kamar mereka"


"Baguslah. Aku mau kamu memperketat penjagaan istri dan juga kedua adikku selama aku tidak ada bersama mereka. Baik itu di dalam ataupun di luar mension ini"


"Baik, Tuan. Saya juga telah memasang beberapa cctv mini yang di buat oleh Dewa. Saya memasangnya secara diam diam dan hanya saya yang tau di mana letaknya, Tuan" jelas Ervan siap siaga terlebih dahulu sebelum ada perintah dari Aldyanta.


Hal itulah yang membuat Aldyanta selalu membagakan kenikerja ketiga anak buahnya itu. Mereka langsung tau apa yang harus mereka lakukan sebelum ada perintah dari Aldyanta.


"Bagus. Kamu memang karyawan terbaikku beserta kedua bocah tengil itu"


"Itu sudah menjadi tugasku, Tuan. Tuan, saya telah menemukan alamat gadis yang menjadi dalang penculikan Nona kecil. Dewa juga nanti malam akan menyelinap kerumahnya untuk mencari tau tentang identitasnya" jelas Ervan.

__ADS_1


"Baiklah. Kita harus membereskan dalang masalah ini secepat mungkin. Aku tidak mau jika istri dan kedua adikku mengalami hal yang sama seperti yang di alami Momny dan Deddy"


"Baik, Tuan. Kami akan bekerja sebaik mungkin untuk menemukan siapa saja dalamg dari masalah ini"


"Selamat siang, Tuan" ucap Dewa langsung saja menyelonong masuk ke ruang kerja Aldyanta tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu di ikuti Fadli yang berjalan di belakangnya.


Melihat tinggak anak buahnya yang satu itu Aldyanta hanya mampu mengelengkan kepalanya pelan. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun Dewa langsung saja duduk santai di samping Ervan.


"Ada apa Tuan memanggil kami? apa ada hal penting?" ucap Fadli tidak memperdulikan Dewa yang sedang bersantai di sampingnya.


"Oh ia. Aku sedang ada masalah. Masalah yang sangat besar" ucap Aldyanta begitu serius sehingha membuat ketiga angotanya langsung saja menatapnya dengan penuh keseriusan.


Aldyanta langsung saja berdiri dari duduknya lalu berjalan mondar mandir memikirkan bagaimana cara menjelaskan masalahnya kepada ketiga anggotanya itu.


Dewa, Fadli dan Ervan terus saja menatap tingkah Aldyanta dengan begitu serius. Berlahan Aldyanta langsung saja kembali duduk di bangku kuasanya sambil membuang napasnya kasar.


Aldyanta langsung saja menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. Aldyanta langsung saja menatap ketiga anak buahnya dengan penuh kecemasan.


Dewa, Fadli dan juga Ervan langsung saja menatap Aldyanta dengan penuh keseriusan. Mereka langsung saja siap siaga untuk mendengarkan cerita Tuan muda mereka.


"Begini, aku binggung harus memulainya dari mana" ucap Adyanta frustasi.


"Katakan saja, Tuan. Mungkin kami bisa membantu" ucap Ervan dengan serius.


"Baiklah. Begini istri saya mau pergi ke kampung halamannya. Kalian tau sendirikan, jika aku tidak bisa membiarkan istriku pergi tanpa pengawasan dariku? Tapi aku tidaj bisa menolaknya begitu saja karna aku melihat kebahagiaan di wajah istriku. Tapi, hal yang paling aku cemaskan adalah..." ucap Aldyanta langsung saja mengusap napasnya kasar.


"Istriku akan pergi bersama Heri" ucap Aldyanta menarik napasnya pelan.


"Apa!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2