
Mendengar ucapan Aldyanta, Julia langsung saja mengepalkan tangannya geram. Dia tidak terima dengan ucapan Aldyanta yang mengusirnya secara tidak langsung. Bagi Julia dia adalah nyonya besar di keluarga Kusuma karna bagaiamanpun dia adalah istri dari tuan besar keluarga Kusuma.
"Beraninya kau mengusirku. Lihat saja aku akan membalas perlakuanmu itu" ucap Julia kesal lalu mealngkahkan kakinya ke kamarnya dengan penuh kekesalan.
Sedangkan Aldyanta langsung saja pergi ke ruang kerjannya bersama kedua anak buahnya. Aldyanta langsung saja duduk di bangku kuasanya sambil menyilangkan kakinya. Dia menatap Dewa dan Fadli yang duduk di depannya.
"Apa kalian berpikir hal yang sama denganku?" ucap Aldyanta.
"Apa tentang pria yang bersama nenek lampir itu, Tuan?" ucap Dewa mengingat Frans yang dia temui saat masuk tadi.
"Ia, aku merasa pria itu tidak asing bagiku. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi, aku tidak bisa mengingatnya"
"Aku juga merasakan hal yang sama, Tuan. Tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas" ucap Fadli.
"Apa dia termasuk dalam kecelakaan Nyonya Besar?" tebak Dewa.
"Kita tidak bisa menuduhnya sembarangan. Kita harus mencari bukti yang kuat. Ervan di mana?" ucap Aldyanta yang tidak melihat keberadaan Ervan sedari tadi.
"Mungkin dia masih di kantor, Tuan" ucap Fadli.
"Ia, aku sampai lupa. Dia punya banyak tugas di kantor hari ini. Karna Ervan tidak ada maka aku serahkan masalah pria itu kepada kalian. Satu hal yang perlu kalian tau dia adalah putra tertua Ringgo kakak Vina. Jadi kalian harus hati hati dalam melakukan tugas ini" ucap Aldyanta waspada karna tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada kedua pengawalnya itu.
"Baik, Tuan" ucap Fadli dan Dewa serentak.
Mereka langsung saja menyusun rencana dengan begitu serius. Aldyanta mulai menyusun rencana untuk mengetahui siapa ketua geng gaster Lord yang sebenarnya. Dia mulai waspada karna mengetahui lawannya kali ini bukan orang sebarangan bahkan gengnya hampir sama kuat dengan klan mafia Aldyanta.
"Apa kalian sudah mengerti?" ucap Aldyanta ketika telah memberi tugas kepada Fadli dan Dewa.
"Sudah, Tuan" ucap Dewa dan Fadli serentak.
"Kalau begitu kalian bisa bergerak secepat ya" ucap Aldyanta.
"Baik, Tuan" ucap Dewa dan Fadli serentak. Namun mereka tetap merasa nyaman dengan posisi mereka. Aldyanta langsung saja menyipitkan matanya melihat kedua pengawalnya itu masih saja duduk dengan santainya.
__ADS_1
"Jika sudah kenapa kalian masih di sini?" ucap Aldyanta.
"Tuan muda menggusir kami?" ucap Dewa.
"Tidak! aku hanya menyuruh kalian untuk segera menjalankan tugas kalian" ucap Aldyanta santai.
"Kami akan melaksanakannya nanti. Tapi bagaimana dengan ide yang aku berikan?" ucap Dwwa penasaran dengan ide yang di berikannya kepada Aldyanta.
"Idemu sangat gila! aku hampir saja di tendang istriku dan harus tidur di luar" ucap Aldyanta penuh kekesalan.
"Bagaimana mungkin?" ucap Dewa tidak percaya jika rencana yang dia berikan gagal total.
"Bedak yang kamu oleskan luntur. Istriku melihatnya dan langsung saja marah besar karna aku telah membohonginya" ucap Aldyanta mengidik ngeri membayangkan kemarahan Delissa tadi.
"Bagaimana bisa luntur? apa tuan muda mandi?" ucap Dewa penasaran.
"Tidak! aku keringatan karna melakukan pergulatan panas dengan istriku" ucap Aldyanta santai.
Mendengar ucapan Aldyanta, Dewa dan Fadli langsung saja membulatkan matanya lalu terkekeh kecil.
"Kamu mah beda! tidak bisa melihat cewek bening sedikit saja. Langsung bangun tu anacondamu yang sedang bersemayam" ucap Fadli terkekeh mengingat kelakuan Dewa yang sangat suka keluar masuk lobang.
"Diam kamu! kamu juga sama" ucap Dewa membela diri.
"Aku pergi kesana hanya untuk mencari hiburan saja. Kalau ada yang bening yang sekalian" ucap Fadli santai.
"Apa bedanya?" ucap Dewa dan Aldyanta serentak hingga membuat Fadli kagum dengan kekompakan pengawal dan juga bos besarnya itu.
"Wah, sedang ngomongin apaan, sih?" ucap Ervan tiba tiba datang.
"Tidak apa apa. Bagaimana keadaan kantor?" ucap Aldyanta.
"Semua sudah aman, Tuan. Tapi, saya merasakan ada kejanggalan di perusahaan cabang yang sedang di kelola Tuan Heri" jelas Ervan.
__ADS_1
"Aku sudah tau itu" ucap Aldyanta santai.
"Apa! tuan mengetahuinya tapi kenapa tuan hanya diam saja?" ucap Ervan tidak mengerti dengan cara pikir Aldyanta.
"Kita akan segera menyelesaikannya sampai ke akar akarnya. Kamu atur saja jadwal saya untuk meninjau keadaan perusahaan itu secara langsung"
"Baik, Tuan. Saya akan mengatur jadwal anda agar segera bisa pergi ke perusahaan itu secepatnya"
"Baiklah. Aku mengandalkanmu"
"Kalau begitu kami pulang dulu, Tuan. Kami akan melakukan tugas yang tuan muda berikan malam ini" ucap Dewa dan Fadli langsung saja pamit undur diri.
Karna nanti malam mereka mendapatkan misi yang sangat penting. Dewa dan Fadli memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka terlebih dahulu.
"Baiklah. Aku harap kalian bisa menyelesaikan misi yang aku berikan dengan bersih" ucap Aldyanta.
"Baik, Tuan" ucap Dewa dan Fadli serentak lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aldyanta.
Sepeninggalan Dewa dan Fadli, Aldyanta dan Ervan langsung saja menyusun rencana untuk mengeluarkan Julia dan Heri dari istanannya secepat mungkin. Aldyanta sudah merasa muak dengan kelakuan Julia yang seenak jidatnya menghina kedua adik iparnya.
"Jika kita bisa mengungkap semua keburukan Heri yang mengelapkan dana perusahaan, maka kita dengan mudah memecatnya dan mengusirnya dari mension ini" ucap Aldyanta yang sudah mengetahui rencana licik Heri yang ingin mengambil alih perusahaan cabangnya.
"Saya sudah menyuruh salah satu pegawai terpercaya kita ke perusahaan cabang, Tuan. Dia akan mencari bukti secara langsung tentang kelicikan Heri selama menjadi CEO penganti di perusahaan cabang kita" jelas Ervan yang sudah mengatur semuanya terlebih dahulu.
"Bagus, aku mau cari buktinya secepat mungkin dan jangan ada yang ketinggalan sedikitpun" ucap Aldyanta tersenyum sinis.
"Baik, Tuan" ucap Ervan pantuh.
Setelah selesai mengatur rencana yang akan mereka lakukan Ervan langsung saja pamit undurkan diri. Aldyanta langsung saja tersenyum dan mengijinkan Ervan untuk pulang.
Sepeninggalan Ervan, Aldyanta langsung saja menatap foto Deddy dan Mommynya yang dia pajang di atas meja kerjanya. Dia mengelus lembut wajah sang Deddy dan juga Mommynya dengan penuh kerinduan.
Aldyanta sangat merindukan suasana keluarga mereka yang sangat hangat dan harmonis. Namun, keharmonisan itu hanyalah tinggal kenangan. Dia tidak bisa lagi melihat senyuman sang Mommya yang begitu indah. Dia juga tidak bisa lagi mendengarkan semangat uang selalu di salurkan oleh sang Deddy.
__ADS_1
Berlahan air mata Aldyanta jatuh membasahi wajah tampannya. Dia langsung saja menghapusnya lalu meletakkan kembali foto itu di tempatnya semula lalu melangkahkan kakinya untuk menemui masa depannya.
Bersambung.....