
"Apa! Bagaimana mungkin itu terjadi? Kenapa kalian bisa tidak becus seperti ini?" teriak Aldyanta frustasi ketika mendengar jika Ayu terluka karna terjadi penyerangan dari musuhnya.
"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bisa menjalankan tugas kami dengan baik. Kami akan terima hukumana apapun yang tuan berikan" ucap Dewa dari sebrang sana.
"Sudahlah. Pastikan adikku mendapatkan penaganan terbaik. Satu lagi jangan coba beritau kepada istriku terlebih dahulu. Biar aku yang memberitaunya sendiri" ucap Aldyanta cemas jika Delissa akan merasa khawatir dengan keadaan Ayu.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya ingin melihat keadaan nona kecil terlebih dahulu" ucap Dewa langsung saja mematikan ponselnya.
Memang perlakuan yang terbalik. Bukannya bos yang terpebih dahulu mematikan sambungannya tapi, mereka malah anak buah yang secara langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Dasar anak buah gak ada etika" gumam Aldyanta kesal lalu kembali meletakkan ponselnya di saku jasnya.
"Kita kembali ke mensiom secepatnya" perintah Aldyanta langsung saja memijit pelipisnya.
"Baik, Tuan" ucap Ervan langsung saja menganguk patuh lalu melajukan mobilnya ke mension utama.
Sesampainya di mension utama Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya mencari keberadaan Delissa. Namun, saat melewati ruang tamu Julia langsung saja menghampirinya.
"Mana Heri, Al?" ucap Julia menatap tajam Aldyanta dengan mata memerahnya.
"Jika mama ingin mengetahui di mana ke beradaan putra mama maka mama harus memberitau siapa yang membantu mama selama ini. Jika tidak, maka aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" ucap Aldyanta menatap Julia tajam lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Jika terjadi sesuatu pada putraku maka akan ku pastikan kau akan menyesal" teriak Julia sambil mengepalkan tangannya geram.
Mendengar ucapan Julia, Aldyanta langsung saja menghentikan langkahnya lalu menatap Julia dengan tatapan tajamnya.
"Silahkan saja! Aku akan menunggu kau bertindak kembali. Tapi, akan ku pastikan kau akan menyesali semua perbuatanmu sampai akhir hidupmu" ucap Aldyanta tersenyum sinis lalu kembali melangkahkan kakinya.
Melihat Aldyanta yang sama sekali tidak takut kepadanya Julia langsung saja mengepalkan tangannya geram. Dia langsung saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan penuh kekesalan.
Di saat Aldyanta sedang menaiki anak tangga tidak sengaja ia kembali bertemu dengan Vina.Terlihat Vina menatap Aldyanta dengan tatapan penuh rayuan. Vina juga tidak ada rasa malu menghalangi jalan Aldyanta lalu memancarkan senyuman termanisnya. Aldyanta yang merasa muak dengan kelakuan Vina langsung saja melemparkan tatapan membunuhnya.
Melihat tatapan Aldyanta yang tidak bersahabat Vina memilih untuk mengambil langkah mundur. Dia langsung saja memberi jalan untuk Aldyanta lalu menatap Aldyanta dengan tatapan penuh kelicikan.
__ADS_1
"Jangan coba coba mendekati tuan muda, jika kau masih ingin hidup dengan tenang" ancam Ervan sambil menatap tajam Vina.
Melihat tatapan Ervan yang tidak seperti biasanya Vina langsung saja mengidik ngeri. Dia memang sering menghina dan merendahkan Ervan tapi, dia tidak pernah melihat tatapan dan raut wajah Ervan semengerikan itu.
Melihat Vina hanya diam tak menjawab Ervan langsung saja tersenyum sinis lalu kembali melangkahkan kakinya. Dia menatap Aldyanta yang masih betah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tuan"
"Hem"
"Apa tuan akan tetap di sini?"
"Tidak! aku akan segera masuk"
"Tuan" ucap Ervan kembali hingga membuat Aldyanta menghentikan langkahnya lalu menatap Ervan dengan penuh tanya.
"Apa aku perlu membereskan kedua wanita itu?" ucap Ervan mulai resah dengan keberadaan Julia dan Vina yang berkeliaran seenaknya saja di mension.
"Tidak perlu. Aku sendiri yang akan membereskan mereka"
Aldyanta langsung saja membuka pintu kamarnya. Dia langsung saja melingkarkan senyumannya ketika melihat Delissa sedang tertidur dengan pulasnya. Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya mendekati Delissa lalu duduk di tepi ranjang.
Aldyanta langsung saja membelai wajah teduh Delissa sambil tersenyum. Melihat wajah polos sang istri berlahan kecemasan Aldyanta langsung saja menghilang seketika.
Delissa yang merasa terusik langsung saja membuka matanya. Dia langsung saja melingkarkan senyumannya ketika melihat sang suami sedang duduk di sampingnya sambil membelai wajahnya.
"Kakak terlihat sangat lelah. Apa kakak mau langsung mandi?" ucap Delissa langsung saja bangkit dari tidurnya.
"Tidak! ayo ikut aku" ucap Aldyanta langsung saja menarik tangan Delissa.
"Kemana?" ucap Delissa binggung.
Mendengar ucapan Delissa, Aldyanta langsung saja membuang napasnya kasar lalu duduk di samping Delissa. Dia mencoba menatap wajah polos sang istri sambil berpikir bagaimana cara menjelaskannya kepada istrinya.
__ADS_1
"A... Ayu masuk rumah sakit" ucap Aldyanta menunduk.
"Apa! kenapa bisa terjadi? bagaimana keadaannya? ayo cepat kita ke rumah sakit sekarang" ucap Delissa langsung saja panik sambil menitikkan air matanya.
"Kamu tenang saja dulu, Sayang. Ayu tidak apa apa. Dia hanya mengalami luka ringan saja" ucap Aldyanta langsung saja menenangkan Delissa.
"Dia baik baik saja kan? dia tidak terluka parah?" ucap Delissa sambil menitikkan air matanya.
"Dia baik baik saja. Lebih baik kamu tenang dulu. Kita akan melihatnya"
"Kalau begitu ayo cepat. Untuk apa kita terus berada di sini" ucap Delissa langsung saja menarik tangan Aldyanta lalu melangkahkan kakinya keluar.
Aldyanta langsung saja menurut. Dia langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti Delissa. Karna berjalan secara tergesa gesa mereka sampai tidak sadar jika Julia sedang menatap mereka sambil tersenyum sinis.
Setelah sampai di mobil Ervan langsung saja melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Selama di perjalanan Delissa terus saja meremas tangannya menghawatirkan keadaan adiknya. Aldyanta yang melihat kecemasan sang istri terus saja menenangkan istrinya.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Delissa langsung saja berlari menuju ke ruang rawat Ayu. Sesampainya di ruang rawat inap yang Ayu tempati Delissa langsung saja mendekati adiknya lalu memeluk sang adik dengan erat.
"Hiks... hiks... kamu tidak apa apa? apa mu yang terluka?" ucap Ayu memeriksa seluruh tubuh adiknya.
"Aku tidak apa apa, Kak. Hanya kepalaku yang terluka sedikit karna terbentur" jelas Ayu menengangkan Delissa.
"Kenapa ini bisa terjadi? Apa yang membuatmu terluka seperti ini?" ucap Delissa menatap sang adik dengan mata berkaca kaca.
Mendengar ucapan Delissa, semua yang ada di sana langsung saja saling lempar pandang. Mereka langsung saja memikirkan alasan apa yang akan mereka berikan kepada Delissa.
"Kami mengalami kecelakaan, Kak. Terus kepalaku terbentur lalu terluka" ucap Ayu tersenyum.
Mendengar penjelasan Ayu, semua orang yang ada di ruangan itu langsung saja membuang napas lega. Terlebih lagi Delissa yang langsung percaya dengan penjelasan yang Ayu berikan.
Sedangkan Aldyanta langsung saja melempar tatapan tajamnya kepada Dewa dan Fadli.
"Kalian ikut denganku" ucap Aldyanta dingin.
__ADS_1
"Baik, Tuan" ucap Dewa dan Fadli langsung saja mengikuti langkah Aldyanta keluar dari ruangan itu.
Bersambung.....