Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
65# Mengambil keputusan


__ADS_3

"Jay kamu perkuat pertahanan kita di perbatasan bagian barat. Ervan kamu di bagian timur. Fadli kamu awasi kedua adikku. Aku yakin para musuh akan mengincar mereka. Dewa kamu bawa pasukan kita yang tersisa untuk menyelamatkan istriku" ucap Aldyanta langsung saja membuat keputusan.


"Baik, Tuan" ucap mereka serentak lalu melaksanakan tugas mereka masing masing.


"Dew, bawa semua teknologi perang yang kamu ciptakan. Aku mau kita membawa istriku pulang tanpa ada luka lecet sedikitpun" ucap Aldyanta lebih mementingkan keadaan istrinya saat ini.


"Baik, Tuan. Saya aka bejuang sekuat tenaga saya untuk menyelamatkan Nyonya Muda" ucap Dewa dengan penuh keyakinan.


Dewa terus saja merasa bersalah karna tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Karna keteledorannya nyawa Delissa kini berada dalam bahaya. Jika terjadi sesuatu pada Delissa sudah di pastikan Dewa tidak akan dapat memaafkan dirinya.


Setelah memberikan perintah kepada seluruh angotanya, Aldyanta langsung saja berjalan keruangan Ayu untuk memastikan keadaan kedua adiknya. Adyanta tidak mau jika kedua adiknya juga mengalami hal yang sama seperti yang di alami istrinya saat ini.


"Kakak! Kak Delissa baik baik saja'kan?" ucap Nana langsung saja berlari ke arah Aldyanta.


"Kakakmu pasti baik baik saja, Sayang. Kakak janji akan segera membawanya kemari" ucap Aldyanta langsung saja menghapus air mata Nana yang membasahi wajah gembulnya.


"Kak! Ini semua salah Ayu. Ayu yang meminta Kak Delissa untuk membeli minum. Jika Ayu tidak menyuruk Kak Delissa sudah pasti Kak Delissa tidak akan mengalami ini" ucap Ayu merasa bersalah.


"Ini bukan salah kamu, Sayang. Ini adalah takdir. Kita tidak bisa menghindari dari takdir yang akan datang menghapiri kita" ucap Aldyanta langsung saja menenangkan Ayu.


"Kakak kapan menjemput Kak Delissa?"


"Malam ini! Kakak akan pergi persama Kak Dewa. Jadi kalian tidak boleh keluar dari kamar tanpa ada pengawasan. Jika perlu sesuatu panggil saja Kak Fadli mengunakan ini" ucap Aldyanta langsung saja memberikan ponsel kepada Ayu dan Nana.


"Baik, Kak. Kakak hati hati ya. Kami tidak mempunyai siapa siapa lagi selain kakak dan Kak Delissa. Kami tidak mau melihat kakak terluka"

__ADS_1


"Ia, sayang. Kakak janji kakak akan pulang dengan Kak Delissa dengan selamat. Kalian bantu saja kakak dengan doa. Karna doa anak yang sholeha pasti akan di dengar Allah" ucap Aldyanta langsung saja mencium lembut kening Ayu dan Nana secara bergantian.


"Ia, Kak. Jika ada sesuatu jangan luoa hubungi kami ya, Kak. Kami pasti akan membantu kakak. Kami'kan sudah belajar ilmu bela diri dan juga memakai beberapa senjata" ucap Nana dengan polosnya.


"Ia, Sayang. Kakak pergi dulu ya. Ingat jangan kemana mana" ucap Aldyanta memperingatkan kedua adiknya.


"Siap, Kak" ucap Ayu dan Nana patuh.


Setelah memperkuat penjagaan terhadap kedua adiknya Aldyanta langsung saja membawa pasukannya yang telah di siapkan Dewa untuk mencari lokasi Delissa. Selama di perjalanan Aldyanta terus saja pokus pada leptopnya yang dia gunakan untuk melacak keberadaan Delissa.


Hingga akhirnya dia menemukan titik lokasi Delissa saat ini. Melihat lokasi keberadaan Delissa yang sangat jauh bahkan berada di hutan berantara Aldyanta langsung saja mengerutkan keningnya binggung. Dia terus saja berpikir kenapa Delissa berada di tengah hutan berantara yang tidak ada penghuninya itu.


"Dew, kamu coba lihat ini. Titik lokasi Delissa ada di sebuah hutan belantara" ucap Aldyanta kepada Dewa yang kini duduk di sampingnya.


"Sini saya periksa, Tuan" ucap Dewa langsung saja mengambil leptop Aldyanta. Cukup lama Dewa memeriksa lokasi itu. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah petunjuk.


"Apa! Kenapa ada Villa di hutan belantara seperti itu?" ucap Aldyanta mengerutkan keningnya binggung.


"Saya akan menyuruh Ervan untuk memeriksanya" ucap Dewa langsung saja mengirimkan denah lokasi itu kepada Ervan.


Tak menunggu lama Ervan langsung saja menghubungi mereka. Dengan keahlian ITnya Ervan dengan mudah mengetahui imformasi tentang lokasi itu.


"Hallo, apa kamu sudah mengetahui tempat apa itu?" ucap Aldyanta datar.


"Itu adalah salah satu aset tersembunyi keluarga Dirgantara, Tuan. Di sana ada bangunan Villa yang sangat mewah dengan penjagaan yang sangat ketat. Setelah saya cari tau tidak ada satupun orang yang bisa menyelinap masuk ke Villa itu bahkan polisi, Tuan" jelas Ervan.

__ADS_1


"Itu tidak berpengaruh kepadaku. Akan aku pastikan mereka akan mati mengenaskan di tanganku" ucap Aldyanta penuh amarah.


"Aku yakin Tuan bisa menyelamatkan Nyonya Muda. Kami juga akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kekuasaan kita, Tuan. Jika tuan butuh bantuan kabari saja kami. Kami akan mengirim angota tambahan ke sana"


"Tidak perlu. Kamu tangani saja masalah yang di sana. Jangan beri ampun sedikitpun kepada orang yang berani mengusik kita"


"Baik, Tuan" ucap Ervan langsung saja mematikan ponselnya.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan kini rombongan Aldyanta telah memasuki area hutan belantara itu. Tiba tiba Dewa menyuruh supir untuk berhenti. Melihat mobil tuan besar mereka berhenti semua angota Aldyanta yang berada di belakang langsung saja menghentikan mobilnya.


"Ada apa?" ucap Aldyanta binggung.


"Tiga ratus meter dari sini sudah ada penembak jitu yang sedang mengawasi wilayah ini. Kita tidak akan aman jika kita mengunakan mobil ke sana" ucap Dewa memperhatikan komuter yang telah terhubung dengan sebuah robot serangga yang telah dia terbangkan terlebih dahulu.


Aldyanta langsung saja menatap layar leptop itu dan benar saja di sana terlihat jelas ada banyak penjaga yang sedang mengawasi area itu dari ketinggian. Tak banyak pikir Dewa juga mengirim robotnya lebih banyak lagi agar bisa lebih leluasa memantau daerah itu.


Dengan bantuan robot robot kirimannya Dewa dengan mudahnya bisa mengetahui bagaimana situasi penjagaan di dalam Villa itu. Aldyanta dan Dewa terus saja pokus menatap layar leptop itu agar bisa mengatur strategi menyerang agar tidak memakan banyak korban.


"Kamu cari keberadaan istriku" ucap Aldyanta mulai mencemaskan keadaan Delissa.


Mereka sangat beruntung karna robot yang di ciptakan Dewa masih bisa di kedalikan walaupun menempuh jarak yang cukup jauh. Dewa langsung saja mengirim salah satu robotnya memasuki area villa itu. Hingga akhirnya mata Aldyanta tertuju kepada sebuah kamar yang berada di lantai atas.


Dia melihat Delissa sedang tertidur di dalam kamar itu. Aldyanta langsung saja tersenyum lega karna melihat istrinya baik baik saja. Namun, senyumannya langsung saja menghilang ketika melihat Frans keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati Delissa.


Melihat itu Aldyanta langsung saja murka. Dia langsung saja mengatur strategi agar bisa langsung menyusup ke kamar itu secepatnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2