Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
72# Pembalasan Yang Setimpal


__ADS_3

Saat mendengar kabar tentang kekalahan Frans dan juga terbongkarnya bisnis ilegalnya. Ringgo langsung saja mencoba kabur ke luar negeri bersama Vina. Tapi, sayang angota Aldyanta dan polisi bergerak cepat. Mereka langsung saja menutup semua bandara dan langsung saja mengepung bandara kota yang ingin di jadikan Ringgo untuk kabur.


Melihat dia telah di kepung Ringgo langsung saja panik. Dia mencoba mencari perlindungan namun, semua anak buahnya bahkan semu pejabat yang telah terlibat dalam bisnis ilegalnya tepah di tangkap oleh polisi.


"Ded, bagaimana ini? Aku tidak mau masuk penjara" ucap Vina ketakutan.


"Sudah! Diam! bukannya mencari solusi kamu malah semakin membuat Deddy pusing" ucap Ringgo frustasi.


"Lebih baik kamu sekarang menyerah! Atau kamu mau mati konyol di sini" ucap Aldyanta datang sambil membawa senjata api di tangannya.


"Tidak! Aku tidak akan menyerah. Lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan diri" ucap Ringgo langsung saja mencoba untuk kabur.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan" ucap Aldyanta langsung saja membidik ke arah Ringgo.


Dorrr...


"Tuan! Jangan bunuh dia" ucap Ervan langsung saja memperingatkan Aldyanta.


"Deddy" ucap Vina dengan isak tangisnya ketika melihat Ringgo terjatuh karna Aldyanta telah menembak kakinya.


"Aku tidak akan membunuhnya begitu saja. Jika aku langsung membunuhnya dia tidak aka mendapatkan pembalasan yang setimpal" ucap Aldyanta sambil melangkahkan kakinya mendekati Ringgo dan Vina.


"Apa yang kau inginkan?" ucap Ringgo menatap tajam Aldyanta yang berdiri dengan angkuh di depannya.


"Aku ingin kau mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu. Kamu salah memilih lawanmu" ucap Aldyanta langsung saja memperlihatkan tatapan iblisnya.


Melihat tatapan Aldyanta yang begitu menyeramkan Ringgo pangsung saja mencoba mundur sambil menelan ludahnya kasar.


"Katakan apa kau yang merencanakan kematian kedua orang tuaku?" ucap Aldyanta sambil menatap tajam Ringgo yang telah keringat dingin di depannya.


"Katakan!" bentak Aldyanta hingga membuat Ringgo langsung saja semakin ketakutan.


"Maafkan aku! Aku telah buta akan harta sehingga membuatku gelap mata" ucap Ringgo gemetar ketakutan.


"Jadi dugaanku selama ini benar"


Dorr....

__ADS_1


"Tuan" ucap Ervan menatap Aldyanta dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


"Kamu tenang saja hanya dua tembakan tidak akan membuatnya langsung mati" ucap Aldyanta santai lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Ringgo yang meringis kesakitan karna luka tembakan yang Aldyanta buat.


Melihat sikap Aldyanta, Ervan hanya mampu membuang napasnya kasar lalu menyuruh polisi untuk menyeret Vina dan juga Ringgo kedalam penjara.


"Semuanya sudah selesai Deddy, Mommy. Aku sudah membalaskan kematian kalian. Aku berharap kalian tenang di atas sana" gumam Aldyanta menatap ke atas langit yang gelap karna sudah malam.


Setelah menyelesaikan tugasnya Aldyanta langsung saja melajukan mobilnya ke rumah sakit. Dia ingin melihat kondisi istrinya yang belum sadar dari pingsan. Aldyanta langsung saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di rumah sakit Aldyanta langsung saja berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan begitu arogantnya.


"Apa istriku sudah sadar?" ucap Aldyanta ketika melihat Dewa dan Fadli sedang menunggu di depan ruangan Delissa.


"Belum, Tuan. Nyonya muda belum sadar" ucap Dewa.


Mendengar ucapan Dewa, Aldyanta langsung saja masuk dan menatap Delissa yang masih tergeletak lemah di atas bangsal. Dia langsung saja mendekati Delissa lalu membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Kak, kapan kak Delissa akan bangun?" ucap Nana langsung saja mendekati Aldyanta.


"Kami mau tidur di sini saja. Kami mau menunggu Kak Delissa sembuh" ucap Ayu dan Nana serentak.


"Baiklah! Kalian tidur di sini ya" ucap Aldyanta langsung saja membaringkan tubuh kedua adiknya di atas bangsal kosong di samping bangsal Delissa.


"Kalian tidur ya. Jangan lupa doakan kakak kalian agar cepat sembuh" ucap Aldyanta langsung saja mencium kening Ayu dan Nana dengan lembut.


"Kakak juga istirahat ya" ucap Ayu dan Nana.


"Ia, Sayang. Kakak juga akan istirahat" ucap Aldyanta tersenyum menganguk.


Setelah menidurkan Ayu dan Nana, Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya mendekati Delissa. Aldyanta langsung saja membelai lembut perut datar Delissa lalu menciuminya dengan lembut. Setelah itu Aldyanta naik ke atas bangsal Delissa dan membaringkan tubuhnya di sana.


"Maafkan aku sayang. Karna aku kamu harus mengalami ini" ucap Aldyanta mencium lembut kening Delissa.


Aldyanta langsung saja memeluk tubuh istrinya lalu memejamkan matanya. Karna merasa lelah Aldyanta langsung saja larut dalam tidurnya. Mereka langsung saja tertidur dengan lelapnya sambl memeluk erat tubuh istrinya. Rasanya Aldyanta tidak mau berpisah lagi dengan istrinya walaupun sebentar saja.


Ke esokan paginya Delissa yang sadar dari pingsannya langsung saja tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang tertidur di sampingnya. Delissa menatap ketampanan suaminya dengan penuh kekaguman. Rasanya Delissa tidak ingin menyiayiakan moment indah itu.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun, Sayang?" ucap Aldyanta tersenyum ketika melihat Delissa terus saja memandangi wajahnya.


"Kakak tidak apa apa?" ucap Delissa langsung saja memeriksa luka Aldyanta.


"Kamu jangan terlalu bergerak dulu sayang. Kasihan bayi kita" ucap Aldyanta langsung saja menyuruh Delissa untuk kembali berbaring.


"Maksud kakak bayi apa?" ucap Delissa binggung.


"Di sini ada buah cinta kita, Sayang. Hasil dari cinta kasih kita" ucap Aldyanta tersenyum sambil memegang perut Delissa.


"Maksud kaka apa? buah cinta apa? Memangnya cinta berbuah ya kak?" ucap Delissa dengan polosnya.


Mendengar ucapan Delissa, Aldyanta langsung saja memukul keningnya pelan sambil menahan tawanya. Aldyanta terus saja mengelenkan kepalanya kecil sambil terkekeh geli mengingat ucapan Delissa.


"Kakak kenapa tertawa. Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" ucap Delissa kembali.


"Tidak sayang. Tidak ada yang salah dengan ucapanmu. Hanya kakak saja yang salah menyampaikannya" ucap Aldyanta mencoba menahan tawanya.


"Jadi maksud kakak tadi apa?" ucap Delissa penasaran.


"Kamu hamil, Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" ucap Aldyanta tersenyum bahagia.


"Apa! Jadi aku hamil, Kak?" ucap Delissa langsung saja tersenyum bahagia.


"Ia, Sayang. Kamu hamil! Terima kasih. Kamu memberikan hadiah yang sangat istimewa untukku" ucap Aldyanta langsung saja menciumi wajah Delissa.


"Nyonya muda sudah sadar?" ucap Dewa, Ervan, Jay dan Fadli yang tiba tiba masuk ke ruangan Delissa dan mengangu moment romantis mereka.


Melihat angotanya yang terus saja datang tidak tepat waktu Aldyanta langsung saja mrngacak acak rambutnya frustasi. Dia langsung saja menatap tajam ke empat anggotanya yang terus saja tersenyum tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Apa kalian tau apa sebenarnya pekerjaan kalian di sini?" ucap Aldyanta kesal.


"Apa?" ucap Dewa dengan polosnya.


"Pekerjaan kalian hanya satu yaitu selalu mengacaukan moment romantisku dengan istriku" ucap Aldyanta dengan penuh penekanan di setiap kata katanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2